
Setelah mengatakan ikatan ghaib diantara dirinya dan Pieter, hantu Malini menerobos masuk ke dalam ruangan. Faiq dan kedua anaknya pun menyusul masuk karena khawati hantu Malini akan menyakiti Pieter.
Melihat apa yang dilakukan Faiq dan si kembar membuat pendeta Xavier dan Fatur pun ikut masuk ke dalam ruangan. Di sana mereka melihat hantu Malini tengah berdiri di dekat kepala Pieter sambil menatapnya lekat. Sedangkan Pieter nampak gelisah ditemani Thalia yang juga masih menangis.
“ Jangan lakukan itu Malini...,” kata Faiq sambil menggelengkan kepalanya.
Thalia yang mendengar Faiq menyebut nama Malini pun terkejut dan menoleh kearah Faiq. Ia melihat Faiq tengah menatap ke samping kanannya dan nampak meggelengkan kepala sedangkan Thalia tak melihat apa pun di sampingnya.
Kemudian Thalia menatap wajah Pieter yang berkeringat dan nampak gelisah. Thalia pun mengulurkan tangannya untuk mengusap kening Pieter yang berkeringat. Namun Thalia terkejut karena merasa ada sesuatu yang menepis tangannya dengan kasar seolah menghalanginya untuk menyentuh Pieter.
Thalia mengerutkan keningnya dan menganggap itu hanya halusinasi saja. Namun saat Thalia mengulang melakukan yang sama, kejadian tadi terulang kembali dan itu membuat Thalia terkejut bukan kepalang.
Thalia terlonjak dari duduknya sambil menatap semua orang yang ada di ruangan itu secara bergantian untuk memastikan mereka melihat apa yang ia alami tadi.
“ Kalian liat kan apa yang terjadi barusan, Kalian liat kan...?” tanya Thalia gusar.
“ Iya Nak...,” sahut pendeta Xavier mewakili semuanya.
“ Ada apa ini sebenarnya, tolong bilang sama Aku...,” kata Thalia hampir menangis.
Pendeta Xavier nampak menghela nafas panjang lalu menoleh kearah Fatur dan Faiq seolah minta ijin pada mereka untuk menyampaikan apa yang dialami Pieter kepada Thalia. Setelah melihat Fatur dan Faiq menganggukkan kepalanya, pendeta Xavier pun mengajak Thalia menjauh dari Pieter.
“ Saya harap Kamu bisa bersabar dan ga kaget mendengar ceritaku ini...,” kata pendeta Xavier.
“ Saya kuat Pendeta, tolong katakan...,” pinta Thalia tak sabar.
“ Baik. Apa Kau pernah dengar nama Malini...?” tanya pendeta Xavier.
“ Pernah. Bukannya itu perawat Neneknya Pieter. Nek Uli selalu memanggil nama Malini sebelum meninggal dunia. Kata Nek Uli, Malini itu gadis yang baik. Tapi dia pergi karena keluarga mereka telah menyakitinya. Nek Uli bilang dia menyesal karena ga bisa memperjuangkan nasib Malini. Sebenarnya apa yang terjadi Pendeta...?” tanya Thalia.
Pendeta Xavier menoleh kearah Faiq dan memintanya untuk menceritakan apa yang terjadi.
__ADS_1
“ Jauh sebelum Kamu menikahi Pieter, Nek Uli dirawat oleh Malini. Tapi sesuatu terjadi. Karena tinggal di rumah yang sama dan sering berinteraksi, akhirnya Malini dan Pieter saling menyukai dan menjalin hubungan tanpa sepengetahuan keluarga. Hingga akhirnya Malini hamil. Sayangnya Pieter ga mau bertanggung jawab. Pieter bahkan memusuhi Malini dan selalu menyiksa Malini termasuk memaksa Malini untuk mengugurkan kandungannya. Orangtua Pieter sudah berusaha membujuk tapi selalu gagal dan membuat Pieter mengamuk. Mungkin itu yang dimaksud Nek Uli kalo dia gagal memperjuangkan nasib Malini...,” kata Faiq hingga membuat Thalia terkejut.
Faiq sengaja melewatkan cerita tentang Pieter yang hampir menikahi adik iparnya sendiri yaitu Lizara karena Faiq tak ingin membuat rumah tangga Thalia dan Pieter berantakan nanti.
“ Sekarang Malini dimana...?” tanya Thalia.
“ Malini udah meninggal dunia tepat di hari pernikahan Kalian...,” sahut Faiq cepat.
“ Lalu kenapa Om manggil-manggil nama Malini tadi...?” tanya Thalia tak mengerti.
“ Karena Aku melihat arwah Malini datang. Dia ingin menjemput Pieter dan membawanya pergi...,” sahut Faiq.
“ Apa, ga bisa dong. Malini udah beda alam sama Pieter. Sekarang Pieter Suamiku dan hanya Aku yang berhak memilikinya...,” kata Thalia tak suka.
“ Tapi Malini dan Pieter terikat sumpah Nak, dan itu bikin mereka terikat sampe mati...,” sahut pendeta Xavier.
“ Ga boleh, Pieter ga boleh pergi...!” kata Thalia mulai menangis.
Mendengar ucapan pendeta Xavier membuat Thalia histeris. Ia akhirnya mengerti mengapa tiap kali berobat ke dokter mereka selalu mendapat jawaban yang sama. Semua dokter mengatakan jika Pieter normal, mungkin hanya kelelahan sehingga Pieter tak bisa menjalankan tugasnya. Rupanya ada hal ghaib yang menyertai Pieter sehingga selalu gagal menunaikan tugasnya itu.
“ Kamu jahat Pieter, Kamu membohongi Aku. Kamu bilang Aku satu-satunya wanita yang Kamu cintai setelah Mama Kamu. Tapi nyatanya apa. Meski pun Aku wanita yang Kamu cintai, tapi Kamu telah memberikan dirimu pada wanita lain sebelum Aku. Kamu jahat Pieter...!” kata Thalia histeris.
“ Kendalikan dirimu Nak. Bukannya Kamu janji akan bersabar tadi...,”’’ kata pendeta Xavier mengingatkan.
“ Aku sakit hati Pendeta, Aku dibohongi oleh Suamiku sendiri...,” sahut Thalia di sela isak tangisnya.
“ Maafkan dia Thalia. Jika Kamu memang mencintainya, lepaskan dia...,” kata Faiq.
“ Aku ga mau Om, Aku ga rela...!” sahut Thalia lantang.
“ Jangan serakah Thalia. Bukannya Kamu sudah menjalin hubungan dengan laki-laki lain, kenapa masih bersikeras menahan Pieter di sisimu...?” tanya Faiq kesal.
__ADS_1
“ Aku tak menjalin hubungan apa pun sama dia Om, Aku hanya mau bikin Pieter cemburu...,” sahut Thalia.
“ Dan Kamu berhasil. Sekarang lepaskan dia Thalia, jangan siksa Pieter dengan air matamu itu...,” kata Faiq lagi.
“ Ga mau, Pieter ga boleh pergi...!” sahut Thalia sambil memeluk Pieter dengan possesif.
Melihat sikap Thalia membuat hantu Malini kesal. Ia mendorong tubuh Thalia agar menjauh dari Pieter. Hanya dorongan ringan saja tapi mampu membuat Thalia jatuh tersungkur. Sadar jika ia jatuh karena ulah Malini, Thalia pun bangkit dengan marah dan langsung memaki hantu Malini.
“ Berhenti mengganggu Suamiku Malini. Dia milikku karena hanya Aku yang dia nikahi bukan Kamu...!” kata Thalia lantang.
Malini pun menggeram marah mendengar ucapan Thalia. Ia melemparkan semua benda yang ada di dekatnya ke lantai hingga menimbulkan suara berisik. Thalia menjerit ketakutan saat melihat benda-benda di sekitarnya beterbangan tanpa disentuh oleh siapa pun. Dengan tubuh gemetar Thalia menggenggam erat tangan Pieter seolah ingin mengatakan bahwa Pieter miliknya.
Hantu Malini yang marah pun melakukan hal yang sama. Ia menarik tali merah yang mengikat dirinya dan Pieter. Sentakan yang kuat membuat tangan Pieter yang ada dalam genggaman Thalia pun terlepas. Setelahnya hantu
Malini menggerakkan tali merah itu hingga membuat tubuh Pieter yang berbaring itu tersentak bangun dengan posisi duduk.
Thalia terkejut dan mundur ke belakang melihat tubuh Pieter yang terduduk tegak dengan mata terpejam itu. Lalu keanehan pun terjadi. Perut Pieter yang semula mengecil itu kembali membesar dan membuat Pieter yang memejamkan mata itu nampak menyeringai kesakitan sambil memegangi perutnya.
Perlahan Pieter membuka matanya sambil melenguh pelan. Ia juga menatap Thalia dengan tatapan yang sedih.
“ Maafkan Aku Thalia..., maaf...,” kata Pieter lirih.
“ Aku maafin Kamu Pieter tapi bertahan lah. Bertahan lah untukku Pieter, ayo Kamu pasti bisa...,” sahut Thalia dengan suara serak.
“ Aku ga kuat Talia, ini sakit banget...,” kata Pieter sambil menitikkan air mata.
“ Jangan pergi Pieter, tolong bertahan lah. Maafin Aku karena bikin Kamu cemburu, maaf. Tapi Aku ga ada hubungan apa pun sama dia. Percaya sama Aku Pieter, sekarang tolong bertahan lah Sayang...,” sahut Thalia sambil memeluk Pieter.
Mendengar ucapan Thalia membuat Pieter tersenyum. Urat nampak menyembul di wajah dan seluruh permukaan kulit Pieter pertanda ia sangat kesakitan. Sedangkan hantu Malini tak mau mengendurkan tarikannya. Ia terus menarik tali merah itu hingga membuat sukma Pieter tersiksa karena harus memilih, mengikuti Malini atau bertahan bersama Thalia.
\=====
__ADS_1