
Di atap gedung perusahaan terlihat Iyaz tengah berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Pandangannya jauh ke depan seolah ingin menembus langit. Sesekali Iyaz nampak menghela nafas panjang untuk mengurai beban di hatinya. Izar yang merasakan kegelisahan Iyaz pun datang menghampiri.
“ Pantesan perasaanku ga enak. Ga taunya kembaranku lagi galau toh. Ada apa Yaz...?” tanya Izar sambil menepuk punggung kembarannya itu.
Iyaz menoleh kearah Izar kemudian menggeleng untuk menyembunyikan perasaannya.
“ Jangan bohong Yaz...,” sergah Izar tak percaya.
“ Kalo Aku melamar Nuara kira-kira Ayah sama Bunda setuju ga Zar...?” tanya Iyaz lirih.
Izar terkejut mendengar pertanyaan Iyaz lalu menatap lekat kembarannya itu.
“ Kamu serius Yaz...?” tanya Izar.
“ Insya Allah Aku serius Zar...,” sahut Iyaz mantap.
“ Kok mendadak banget...?” tanya Izar.
“ Aku ga mau keduluan sama laki-laki lain Zar...,” sahut Iyaz.
“ Siapa...?” tanya Izar tak mengerti.
Iyaz menoleh kearah Izar kemudian menceritakan apa yang didengarnya tadi dan Izar mendengarkan dengan seksama.
“ Tapi apa Nuara juga suka sama Kamu Yaz. Kan ga enak kalo melamar tapi Kamu ditolak nanti...,” kata Izar gusar.
“ Aku bakal mastiin siang ini Zar. Kalo Nuara bersedia nikah sama Aku, ntar sore Aku bakal datang melamar ke rumahnya lebih dulu sebelum cowok itu datang...,” sahut Iyaz.
“ Jangan gila Kamu Yaz. Melamar itu ada aturannya, masa Kamu melamar anak orang tanpa persiapan...,” kata Izar.
“ Aku melamar secara pribadi dulu Zar, lamaran keluarga bisa menyusul nanti...,” sahut Iyaz.
“ Aku ga nyangka Kamu yang kalem gini bisa keras kepala juga kalo soal cewek Yaz...,” kata Izar tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“ Ini darurat Zar. Jadi Aku harus cepat...,” sahut Iyaz.
“ Ok, Aku dukung Kamu Yaz...,” kata Izar antusias.
“ Aku juga...!” kata Hanako tiba-tiba hingga membuat si kembar terkejut lalu menoleh kearah Hanako.
“ Cici...!” panggil Iyaz dan Izar bersamaan.
“ Aku udah denger semuanya dan Aku setuju kalo Iyaz melamar Nuara siang ini...,” kata Hanako sambil meletakkan sebuah kotak kecil berisi cincin ke tangan Iyaz.
__ADS_1
“ Ini apa Ci...?” tanya Iyaz.
“ Cincin. Aku mau Kamu lamar Nuara pake cincin ini Yaz. Jangan malu-maluin Aku, masa ngelamar gadis pake tangan kosong...,” sahut Hanako sambil mencibir.
Iyaz pun tertawa bahagia lalu memeluk Hanako erat. Izar pun ikut tertawa bahagia.
“ Makasih Ci...,” kata Iyaz sambil mengecup kepala Hanako dengan sayang.
“ Sama-sama...,” sahut Hanako sambil menepuk punggung Iyaz dengan lembut.
\=====
Siang itu Iyaz menjalankan niatnya untuk melamar Nuara. Ia menghampiri Nuara yang sedang makan siang bersama Linda di sebuah kafe tak jauh dari kantor.
“ Ehm, permisi. Apa Saya mengganggu...?” sapa Iyaz mengejutkan Nuara dan Linda.
“ Ga ganggu kok Pak. Mari silakan duduk...,” sahut Linda dengan ramah.
“ Makasih. Tapi Saya mau bicara dengan Nuara berdua aja, boleh ga...?” tanya Iyaz sambil menatap Nuara dan Linda bergantian.
Nuara dan Linda saling menatap sejenak kemudian mengangguk. Linda pun berdiri lalu pindah ke meja lain.
“ Silakan, biar Saya duduk di sana aja...,” sahut Linda sambil tersenyum.
“ Makasih Linda...,” kata Iyaz.
Iyaz pun duduk di hadapan Nuara yang nampak bingung. Untuk sesaat keduanya terdiam karena gugup. Lalu Iyaz memberanikan diri membuka percakapan.
“ Kamu udah pesen makan siangnya...?” tanya Iyaz.
“ Udah Pak...,” sahut Nuara gugup
“ Ok. Begini Nuara, Saya Langsung aja ya. Saya ga sengaja denger obrolan Kamu sama Linda di pantry tadi pagi. Jujur Saya kaget dan ga nyangka kalo orangtuamu mengatur perjodohan Kamu dengan laki-laki yang ga Kamu kenal. Saya cuma mau bilang kalo Saya keberatan Kamu nerima perjodohan itu Nuara...,” kata Iyaz sambil menatap Nuara dengan tajam.
Nuara nampak salah tingkah. Ia senang karena akhirnya Iyaz mau bicara dengan kalimat yang panjang kali ini. Hanya saja Nuara bingung dengan isi pembicaraan Iyaz.
“ Maaf, tapi Saya ga ngerti maksud Pak Iyaz...,” kata Nuara sambil memberanikan diri menatap Iyaz.
Iyaz pun tersenyum lalu mencondongkan tubuhnya untuk bisa bicara lebih dekat dengan Nuara.
“ Saya ga mau Kamu menikah dengan pria lain karena Saya yang akan menikahi Kamu Nuara...,” kata Iyaz tegas hingga membuat kedua mata Nuara membulat saking terkejutnya.
Untuk sesaat keduanya saling menatap. Nuara yang tersadar segera mengerjapkan matanya dengan wajah yang merona karena malu.
__ADS_1
“ Gimana Nuara, apa Kamu bersedia menikah dengan Saya...?” tanya Iyaz.
Nuara nampak meremas jemari tangannya sendiri. Satu sisi ia bahagia mendengar ucapan Iyaz, namun sisi hatinya yang lain ragu akan keseriusan Iyaz mengingat sikapnya yang tak bersahabat selama ini.
“ Pak Iyaz bercanda ya. Saya ga ngerti kenapa mendadak Pak Iyaz ngomong tentang pernikahan padahal diantara Kita ga ada hubungan apa pun sebelumnya. Tolong jangan jadiin ini lelucon karena untuk sebagian orang pernikahan itu adalah hal yang sensitif Pak Iyaz...,” kata Nuara mengingatkan.
“ Saya ga lagi bercanda Nuara. Demi Allah Saya serius ingin menikah dengan Kamu...,” sahut Iyaz sungguh-sungguh hingga membuat Nuara tersedak.
Iyaz pun menyodorkan segelas air putih kearah Nuara yang langsung meneguknya hingga tandas. Setelahnya Nuara nampak berusaha tenang meski pun tatapan Iyaz membuatnya salah tingkah.
“ Pak Iyaz mau menikahi Saya...?” tanya Nuara ragu.
“ Iya...,” sahut Iyaz tegas.
“ Kenapa harus Saya...?” tanya Nuara lagi.
“ Karena Saya mencintai Kamu Nuara, Saya mencintai kekuranganmu dan kelebihan Kamu. Saya maklum kalo Kamu ga percaya karena selama ini Saya ga pernah memperlihatkan perasaan Saya di depan Kamu. Untuk saat ini Saya ga bisa nunjukin sebesar apa cinta Saya ini ke Kamu. Tapi percaya lah kalo Saya serius ingin menikahi Kamu...,” sahut Iyaz sambil menatap Nuara lekat.
Kedua mata Nuara pun berkaca-kaca. Ia nampak terharu mendengar ungkapan perasaan Iyaz yang selama ini bagaikan mimpi untuk Nuara. Entah mengapa Nuara percaya dengan ucapan Iyaz dan perlahan ia menganggukkan kepalanya.
“ Iya, Saya percaya...,” kata Nuara lirih hingga membuat Iyaz tersenyum.
“ Jadi apa itu artinya Kamu menerima lamaran Saya...?” tanya Iyaz hati-hati.
Nuara termenung sesaat lalu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
“ Iya...,” sahut Nuara malu-malu.
“ Alhamdulillah..., makasih Nuara...,” kata Iyaz dengan wajah berbinar bahagia.
“ Sama-sama...,” sahut Nuara sambil tersenyum.
Kemudian Iyaz mengeluarkan kotak berisi cincin pemberian Hanako tadi lalu meyerahkannya kepada Nuara.
“ Cincin ini hadiah dari Bu Hanako untuk Kamu. Saya harap Kamu mau memakainya sebagai bukti kalo Kamu menerima lamaran Saya tadi...,” kata Iyaz yang memang menahan diri untuk tak menyentuh Nuara selama mereka belum menikah.
“ Ok...,” sahut Nuara lalu memasukkan cincin itu ke jarinya.
Kemudian Nuara memperlihatkan cincin pemberian Iyaz tadi sambil tersenyum manis. Iyaz pun tersenyum sambil
memuji.
“ Cantik seperti Kamu...,” kata Iyaz hingga membuat wajah Nuara kembali merona.
__ADS_1
Linda yang duduk tak jauh dari Iyaz dan Nuara pun mendengar semuanya. Ia menjadi saksi bersatunya hati Iyaz dan Nuara . Linda terus tersenyum sambil berdoa semoga cinta Iyaz dan Nuara langgeng hingga maut memisahkan.
\=====