
Heru sedang ada di ruangannya saat ponselnya berdering. Ia tersenyum saat melihat foto dan video proses ijab kabul antara dia dan Pandu yang dikirimkan Wira via WA. Kemudian Heru pun menelephon Wira.
“ Makasih Wira, tolong jaga Pandu ya. Kabari Saya apa pun tentang dia...,” kata Heru.
“ Sama-sama, siap Pak...!” sahut Wira lantang hingga membuat Heru tersenyum.
“ Sekarang Pandu lagi ngapain...?” tanya Heru.
“ Kami baru selesai apel pagi Pak. Semalam Pandu bertingkah aneh, tapi cuma sebentar. Kalo lagi tugas siang kaya gini Pandu tetap normal dan kondisinya prima. Tapi kalo udah di atas Maghrib, dia mulai keliatan beda Pak. Saya kasian sama dia...,” keluh Wira.
“ Gitu ya, ingatkan Pandu untuk sholat berjamaah ya Wir...,” kata Heru lagi.
“ Siap Pak. Maaf, Saya harus berangkat sekarang. Assalamualaikum...,” kata Wira lalu segera berlari menuju truk yan akan membawanya ke suatu tempat.
“ Wa alaikumsalam...,” gumam Heru sambil menatap layar ponselnya.
\=====
Hari itu Pandu dan teamnya bekerja sama dengan polisi berhasil meringkus para pemberontak. Namun sangat disayangkan, mereka gagal menangkap pipmpinan pemberontak bernama Buana yang melarikan diri ke hutan bersama beberapa anggota lainnya.
Para pemberontak diberi pengarahan oleh para petinggi TNI dan Polri agar kembali ke negara kesatuan RI.
“ Selama Kalian ada dalam wilayah negara Republik Indonesia, maka selama itu Kalian harus patuh pada semua aturan yang diterapkan di negara ini...,” kata Panglima TNI tegas.
Para pemberontak yang memang penduduk asli provinsi Maluku itu nampak menundukkan kepala sambil mendengarkan pidato Panglima TNI. Nampaknya mereka sadar dengan kesalahan yang telah mereka lakukan selama ini.
“ Bodohnya Kita, kenapa Kita mau dihasut oleh si Buana itu...,” kata salah satu eks pemberontak itu.
“ Betul. Sekarang giliran Kita ketangkep dia raib entah kemana. Mana janjinya yang katanya hidup mati bersama...,” kata yang lainnya.
“ Kita mati, dia yang hidup...,” gerutu beberapa eks pemberontak.
__ADS_1
Panglima TNI melanjutkan ucapannya hingga membuat pikiran para eks pemberontak itu makin terbuka.
“ Kalian lihat sendiri pimpinan yang Kalian pilih dan banggakan itu. Kemana dia saat Anak buahnya ditangkap ?. Jangankan menyerahkan diri, mengirim sinyal tentang keberadaannya aja ga dilakukan. Apakah begitu sikap pimpinan sejati. Belum jadi pimpinan sebuah negara aja dia udah lupa sama orang-orang yang selama ini setia mendukungnya. Bayangkan kalo dia terpilih jadi Presiden nanti. Bisa-bisa dia juga ga ingat bahwa Kalian udah berkorban harta benda untuk kebahagiaannya. Yang lebih parah bahkan dia juga ga ingat pernah makan satu piring dengan Kalian...,” kata panglima TNI sambil mencibir.
Para anggota pemberontak itu kembali menundukkan kepalanya karena malu disindir oleh panglima TNI. Mereka merasa kesal karena dimanfaatkan oleh Buana. Ambisi Buana yang ingin menjadi pemimpin membuatnya melakukan banyak cara termasuk menghasut warga untuk membuat kekacauan dan memusuhi pemerintah yang berdaulat. Kini para pemberontak sadar dan berniat kembali ke jalan yang benar dan menjadi warga yang baik.
“ Negara masih memberi kesempatan kepada Kalian semua untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Jadi lah warga yang baik. Komunikasikan keluhan Kalian dengan baik. Negara menyediakan jalur resmi untuk menampung keluhan warga melalui wakil-wakilnya yang duduk di DPRD. Jika keluhan Kalian belum direspon, bersabar lah. Karena negara Kita sangat luas dan pemerintah ga akan sanggup menyelesaikan tiap masalah dalam sekejap...,” kata panglima TNI lagi.
Para eks pemberontak nampak saling menatap kemudian menganggukkan kepalanya.
“ Iya, Kami mau bertobat Pak. Kami berjanji ga mengulangi kesalahan Kami lagi...,” kata salah seorang eks pemberontak.
“ Bagus. Apa masih ada yang lain...?” tanya panglima TNI sambil menatap eks pemberontak di hadapannya bergantian.
Para eks pemberontak pun mengacungkan jarinya satu per satu. Hingga akhirnya bisa dilihat jika mereka semua memilih kembali bergabung dengan negara kesatuan RI.
“ Prosesnya sedikit sulit, tapi jalani dengan sabar. Negara pasti akan mengadakan sedikit tes untuk menguji keseriusan Kalian. Tapi itu wajar. Bagaimana pun Kalian pernah berkhianat, dan negara perlu berjaga-jaga untuk menghindari hal yang tak diinginkan...,” kata panglima TNI sambil tersenyum puas.
Kemudian para eks pemberontak itu dibawa ke sebuah tempat untuk mendapat arahan dan pembinaan. Mereka juga mengikuti ‘pendalaman materi’ tentang Pancasila dan negara kesatuan RI. Selama beberapa hari mereka mengikuti semua pelajaran dengan sabar dan santai.
\=====
Pandu dan team diberi tugas mengawasi keadaan kampung di sekitar barak militer hingga Buana tertangkap. Mereka dibagi dalam beberapa kelompok kecil yang bekerja tiga shift secara bergantian.
Kali ini Pandu sedang patroli bersama tiga rekannya. Tiba-tiba Pandu memegangi perutnya yang kembali terasa sakit. Pandu memilih berhenti untuk istirahat di sebuah warung kopi dan meminta teman-temannya melanjutkan perjalanan.
“ Lanjutkan perjalanan Kalian, Aku tunggu di sini...,” kata Pandu.
“ Siap Pak...,” sahut rekan-rekan Pandu.
Sesekali mereka menoleh ke belakang untuk memastikan kondisi Pandu. Namun saat Pandu mengacungkan jempolnya pertanda ia baik-baik saja, ketiga temannya itu pun merasa lega lalu kembali melangkah.
__ADS_1
Paulus yang kebetulan melintas di depan warung kopi itu pun mencoba menawarkan bantuan.
“ Rumah Saya ga jauh dari sini. Pak Pandu bisa berbaring sebentar sambil menunggu teman-temannya kembali nanti...,” kata Paulus.
“ Ga usah, terima kasih Pak...,” sahut Pandu sambil tersenyum.
“ Tapi wajah Pak Pandu pucat banget. Kami khawatir Pak Pandu pingsan di sini nanti...,” kata pemilik warung..
“ Betul, biar Saya sampaikan sama teman-teman Pak Pandu kalo Pak Pandu menunggu di rumah Pak Paulus ya...,” kata istri pemilik warung.
Pandu menimbang sejenak kemudian mengangguk. Ia merasa tubuhnya sangat lemah dan hampir tak bisa berjalan lagi. Paulus pun memapah Pandu berjalan ke rumahnya yang memang letaknya tak jauh dari warung kopi itu. Saat tiba di rumah mereka disambut oleh Mirva.
“ Ada apa Papa, kenapa Pak Pandu, sakit kah...?” tanya Mirva pura-pura tak tahu.
“ Iya. Tolong Kamu siapkan tempat untuk Pak Pandu istirahat ya Nak...,” sahut Paulus.
“ Baik Papa...,” sahut Mirva sambil bergegas masuk ke kamar.
Di dalam kamar Mirva tampak tersenyum puas. Kemudian Mirva mengganti sprei dan sarung bantal dengan yang baru. Ia juga menyusun bantal sedemikian rupa sambil menepuknya perlahan. Saat menepuk bantal itu mulut Mirva berkomat-kamit seperti sedang membaca mantra.
“ Saya di sini aja Pak...,” kata Pandu karena merasa tak nyaman dengan sikap Mirva tadi.
Pandu ingat jika ia pernah menolak Mirva dan sejak saat itu ia sering merasa sakit yang amat sangat di perutnya. Pandu curiga jika Paulus atau Mirva telah mengguna-gunai dirinya.
“ Baik lah, biar Saya suruh Mirva bawa bantal dan selimut keluar...,” sahut Paulus lalu melangkah ke kamar dan meninggalkan Pandu seorang diri.
Tak lama kemudian Paulus kembali dengan bantal dan selimut di tangannya. Paulus meletakkan bantal di atas tikar pandan lalu mempersilakan Pandu berbaring di sana.
“ Maaf merepotkan ya Pak...,” kata Pandu tak enak hati.
“ Gapapa Pak. Yang keluarga Saya lakukan ini ga seberapa dibandingkan jasa Pak Pandu dan teman-teman yang udah berhasil meringkus para pemberontak itu...,” sahut Paulus dengan tulus sambil membentangkan selimut di atas kaki Pandu.
__ADS_1
Pandu tersenyum dan sesaat kemudian ia nampak memejamkan matanya. Melihat Pandu yang tertidur, Paulus pun keluar dari rumah dan duduk menunggu di teras depan rumah.
\=====