
Di dalam ruangan Rumah Sakit tubuh Rusdi nampak terbaring lemah. Rusdi nampak gelisah. Sesekali ia merintih karena rasa sakit yang menguar dari luka di kedua kakinya akibat gigitan hantu kepala yang ditemuinya tem[o hari.
Team medis yang mencoba mengobatinya hanya tersenyum saat mendengar Rusdi menceritakan bagaimana ia bisa terluka.
“ Hantu kepala itu ngejar Saya Sus...,” racau Rusdi.
“ Kenapa Pak Rusdi ga lari...?” tanya sang perawat mencoba menanggapi.
“ Udah Sus, tapi kalah cepet. Dia nyerang dan gigit kaki Saya. Suster liat kan kalo lukanya parah banget...?” tanya Rusdi.
“ Kaki Pak Rusdi emang terluka, tapi luka biasa aja kok. Ini cuma luka goresan akibat terkena kawat pembatas yang ada di taman kota...,” sahut sang perawat dengan santai.
“ Luka gores, Suster buta ya. Apa ga ngeliat luka sebesar dan separah ini. Liat dong Sus, darahnya aja sampe berember-ember gini saking banyaknya. Mana ada luka gores tapi darahnya sampe beberapa ember kaya gini...!” kata Rusdi kesal.
Sang perawat dan rekannya pun tak dapat menahan tawa mendengar ucapan Rusdi. Setelah selesai mengecek infus di lengan Rusdi, kedua perawat itu pun keluar dari kamar rawat inap Rusdi sambil meninggalkan Rusdi yang menatap kesal kearah pintu yang baru saja tertutup.
“ Luka segede gini dibilang kecil, dasar perawat aneh...,” gumam Rusdi sambil menggaruk lehernya yang tiba-tiba terasa gatal.
Rusdi terus menggaruk hingga lehernya memerah. Dan warna kemerahan itu merembet hingga ke pangkal leher. Rusdi pun terkejut saat melihat kuku jari tangan yang ia gunakan menggaruk nampak berwarna kemerahan. Rusdi mengendus kuku tangannya untuk memastikan benda apa yang terselip di sana.
Rusdi memundurkan kepalanya karena terkejut dengan bau busuk yang menguar dari kuku tangannya itu.
“ Bau banget, apaan sih ini...?” tanya Rusdi sambil meraba lehernya.
Rusdi merasa ada cairan yang melingkari lehernya. Cairan itu terasa berlendir, lengket dan beraroma busuk. Selain itu ada rasa perih dan gatal yang merayapi lehernya hingga membuat Rusdi meringis.
Lama kelamaan warna kemerahan di leher Rusdi pun melebar. Dalam waktu singkat warna merah itu berubah menjadi ruam-ruam yang menyerupai penyakit eksim yang melingkari lehernya. Rusdi pun menggeram menahan gatal dan sakit bersamaan.
Saat dokter mengecek kondisi semua pasien sore itu, kondisi Rusdi telah memburuk. Bahkan nafasnya pun tersengal-sengal seolah usai berlari jauh. Dokter pun memarahi para perawat yang dianggap lalai mengawasi Rusdi.
“ Kalian gimana sih, masa pasien sampe kaya gini Kalian tenang-tenang aja...,” kata dokter.
“ Maaf dok. Tapi saat Kami tinggalkan tadi pasien dalam keadaan baik-baik aja dok...,” sahut salah seorang perawat.
__ADS_1
“ Kalo baik-baik aja kenapa bisa kaya gini. Udah jangan banyak ngelak, Saya ga suka sama perawat yang suka cari alasan...,” kata sang dokter ketus hingga membuat kedua perawat itu terdiam.
Setelah berhasil ‘menyelamatkan’ Rusdi, dokter pun meninggalkan ruang rawat inap Rusdi dan meminta salah satu perawat untuk stand by di samping Rusdi.
“ Ini pasien titipan Polisi. Kalian tau kan artinya. Kalo pasien sampe meninggal dunia sebelum kasusnya disidangkan, bisa-bisa Kita semua kena semprot...,” kata sang dokter.
“ Iya dok...,” sahut sang perawat.
“ Sekarang awasi dia, jangan kemana-mana. Laporkan jika ada hal yang mencurigakan...,” kata sang dokter sambil berlalu.
\=====
Heru datang menjenguk Rusdi ke Rumah Sakit bersama beberapa anak buahnya. Saat itu Heru juga mengajak Faiq dan Fatur.
Saat tiba di dalam ruangan rawat inap, nampak seorang perawat sedang duduk di samping Rusdi sambil mengibaskan tangannya di depan hidung. Rupanya sang perawat cukup terganggu dengan bau busuk yang menguar dari luka di leher dan kaki Rusdi. Karena iba, Heru pun memintanya keluar dan memanggilkan dokter.
“ Gimana Om...?” tanya Heru.
Saat itu Fatur dan Faiq melihat Rusdi dikelilingi oleh arwah-arwah orang yang telah ia penggal kepalanya. Hal itu terlihat jelas karena masing-masing arwah nampak menenteng kepalanya masing-masing. Mereka berdiri mengelilingi Rusdi dengan seringai mengejek.
“ Gimana rasanya Pak...?” tanya salah satu arwah sambil mendekatkan kepalanya ke wajah Rusdi.
“ Nnggg..., nnggg...,” sahut Rusdi dengan mata setengah terpejam dan mulut menganga.
“ Itu belum seberapa Pak. Bapak akan merasa sangat tersiksa saat kepala Bapak lepas dari badan...,” kata arwah lainnya sambil tersenyum.
Rusdi namak menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seolah ingin melepaskan diri dari rasa sakit. Namun sayangnya gerakannya itu malah membuat luka di lehernya bertambah lebar dan sakit. Rusdi sulit bicara karena luka itu kini mencapai pita suaranya, mengoyaknya dan membuatnya berdarah. Rusdi hanya bisa mengulurkan tangannya seolah ingin menjangkau sesuatu.
Tak lama kemudian dokter pun masuk dan membelalakkan matanya melihat kondisi Rusdi. Ia tak percaya melihat Rusdi yang terlihat makin payah padahal baru setengah jam ia tinggalkan. Mengerti arti tatapan sang dokter, Heru pun menepuk pundak sang dokter untuk menenangkannya.
“ Ini di luar kuasa Kita sebagai manusia biasa dok. Ada hal ghaib yang bekerja di balik ini semua. Kerjakan saja tugasmu, sisanya serahkan padaku...,” kata Heru,
“ Baik Pak. Saya mengerti maksud Anda. Dengan kehadiran Anda di sini, Saya punya saksi bahwa Rumah Sakit tidak menelantarkan pasien ini...,” sahut sang dokter.
__ADS_1
Setelah membalut luka di leher Rusdi dan memberinya obat, dokter pun pamit meninggalkan ruangan. Tinggal Faiq, Fatur, Heru dan Rusdi di dalam ruangan itu. Ketiganya mendekati Rusdi lalu mulai membaca beberapa ayat ruqyah. Mendengar lantunan dzikir dan ayat Al Qur’an membuat Rusdi membuka matanya. Dari kedua matanya nampak mengalir air mata pertanda Rusdi sangat terbantu dengan apa yang dilakukan Faiq, Fatur dan Heru saat itu.
“ Apa ada yang ingin Kau sampaikan Rusdi...?” tanya Faiq.
“ Ma..., aaaff...,” sahut Rusdi dengan susah payah.
“ Kau terlalu serakah Rusdi, keserakahanmu itu membuatmu buta. Hingga Kau mengabaikan hati nuranimu dan menghalalkan segala cara agar bisa memenuhi ambisimu...,” kata Fatur yang diangguki Rusdi.
“ Aku... menye...sal..., To... long... beri Aku... ke... sem... pa... tan...,” kata Rusdi terbata-bata.
“ Kami juga minta hal yang sama dulu padamu Rusdi. Tapi Kau terlalu sombong. Bahkan sebelum Kami menyelesaikan permohonan Kami, Kau telah memenggal leher Kami...!” kata salah satu arwah dengan marah.
Rusdi membulatkan matanya saat arwah para korban kekejamannya mendekat kearahnya. Rusdi menjerit parau saat tangan para arwah tanpa kepala itu terulur mencekik leher dan sebagian lain memegangi kepala dan rambutnya. Lalu dengan bengis mereka menarik kuat kepala Rusdi hingga terdengar suara berderak dari leher Rusdi menandakan jika tulang lehernya patah.
Darah muncrat kemana-mana, membasahi sprei dan bantal. Kepala Rusdi pun terlepas dari lehernya persis di bagian luka melingkar yang sebelumnya ada di leher Rusdi. Kemudian para arwah itu melemparkan kepala Rusdi yang berlumuran darah itu ke lantai begitu saja.
Bahkan Fatur, Faiq dan Heru harus memalingkan wajah mereka karena tak sanggup melihat kepala Rusdi jatuh menggelinding ke lantai dengan mata membelalak dan darah yang mengalir deras di pangkal lehernya.
“ Pembalasan dendam yang sempurna...,” kata salah satu arwah sambil menyeringai.
Lalu dengan santainya para arwah meletakkan kembali kepala mereka di atas leher masing-masing. Dan setelahnya mereka menghilang dengan cepat setelah mengucapkan terima kasih kepada Faiq dan Fatur.
“ Terima kasih...,” kata para arwah itu bersamaan sambil tersenyum.
“ Sama-sama...,” sahut Fatur dan Faiq lalu membacakan doa untuk para arwah agar kembali ke haribaan Allah dengan tenang.
“ Jadi Rusdi mati setelah tersiksa beberapa waktu di dunia...,” gumam Heru sambil menatap nanar jasad Rusdi dan
kepalanya itu bergantian.
Faiq dan Fatur pun hanya bisa mengangguk tanpa bisa berkata apa-apa.
Bersambung
__ADS_1