Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
335. Mengingatmu


__ADS_3

Setelah mendengar ‘curahan hati’ Sukun dan temannya, Faiq dan Shera pun pamit dengan membawa Ratih bersama mereka. Memed hanya pasrah melihat kepergian Ratih yang merupakan  penghuni terlama di rumah kost itu.


Memed kembali teringat saat ia mengenal Ratih pertama kali. Saat itu ia melihat Ratih tengah menyeret kopernya di jalan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri seolah sedang mencari sesuatu. Memed yang kebetulan berdiri di depan rumah pun menyapanya.


“ Cari alamat rumah siapa Mbak...?” tanya Memed dengan ramah.


“ Oh, bukan nyari alamat Pak. Saya lagi nyari rumah kost...,” sahut Ratih sambil mengusap peluh di wajahnya.


“ Rumah kost, emangnya Mbak bukan orang sini...?” tanya Memed sambil mengamati Ratih dari ujung kepala hingga ujung kaki.


“ Iya Pak, Saya bukan orang sini. Saya merantau dan kerja di sebuah perusahaan ga jauh dari sini. Makanya Saya nyari rumah kost yang deket dari kantor biar ga ngongkos lagi...,” sahut Ratih sambil tersenyum malu-malu.


“ Oh gitu. Rumah ini sebenernya juga kosong Mbak. Lagi nyari penyewa. Tapi kalo Mbak cuma butuh satu kamar aja mungkin Saya bisa siapkan...,” kata Memed kala itu.


“ Beneran Pak. Makasih kalo gitu...,” sahut Ratih senang sambil mengamati rumah di belakang Memed.


“ Sama-sama Mbak. Mari silakan masuk...,” ajak Memed sambil membuka pintu gerbang.


Ratih pun mengikuti Memed sambil menyeret koper besarnya. Ratih nampak kagum dengan rumah yang bakal


ditempatinya itu.


Rumah itu terlihat sangat besar, memiliki warna-warni mencolok, halaman luas dengan taman kecil yang asri. Hanya bangunannya sedikit tak beraturan bentuknya seperti tambal sulam. Tapi secara keseluruhan rumah itu sangat layak untuk ditempati karena cukup besar dan bersih.


“ Gimana Mbak, apa berminat tinggal di sini...?” tanya Memed setelah selesai memperlihatkan kondisi rumah kepada Ratih.


“ Insya Allah Saya mau di sini Pak. Tapi harganya jangan mahal-mahal ya Pak...,” pinta Ratih.

__ADS_1


“ Mbak tenang aja, khusus untuk Mbak Ratih harganya dikasih murah. Karena Mbak Ratih kan orang pertama yang mau kost di sini. Ntar ajak juga teman lainnya supaya mau kost di sini ya Mbak...,” sahut Memed.


“ Siap Pak Memed...,” kata Ratih sambil mengacungkan jempolnya hingga membuat Memed tersenyum.


Kemudian Memed memperlihatkan kamar yang akan ditempati Ratih. Setelah meletakkan tas di dalam kamar, Ratih pun keluar kamar untuk menemui Memed.


“ Kalo rumah segede gini ga laku disewain, kenapa ga bikin kost-kost an aja Pak. Kan lumayan buat pemasukan tiap bulannya. Selain itu nolong orang juga yang kesulitan tempat tinggal di Jakarta kaya Saya gini...,” kata Ratih.


“ Iya Mbak. Saya setuju sama usul Mbak Ratih. Saya bakal bikin pengumuman secepatnya biar Saya tenang. Sekedar info ya Mbak, Saya ga tinggal di sini. Saya hanya datang dua kali sehari yaitu pagi dan sore hari untuk ngecek kondisi rumah. Jadi kalo ada masalah kaya kran mati, pintu rusak dan sebagainya, Mbak Ratih bisa bilang langsung sama Saya...,” kata Memed menjelaskan.


“ Terus Saya sendirian nih Pak...?” tanya Ratih.


“ Iya Mbak. Kenapa emangnya...?” tanya Memed.


“ Kalo tinggal sendirian di rumah segede gini Saya ga mau Pak, Saya takut. Lebih baik Saya cari rumah kost lain aja deh...,” sahut Ratih sambil bersiap kembali ke kamar yang baru saja ia tempati untuk mengambil tas yang ia letakkan di sana.


“ Ok deal. Saya setuju...,” sahut Ratih sambil tersenyum.


Dan sejak saat itu Ratih membantu mempromosikan rumah kost itu kepada teman-temannya. Ratih juga membantu Memed memasang spanduk di pintu gerbang agar mudah diketahui orang. Dalam waktu seminggu rumah kost itu pun menjadi lebih ramai. Semua kamar di dalam rumah telah terisi. Hal itu membuat Memed senang karena akhirnya rumah yang dipercayakan padanya kini berhasil menghasilkan uang.


“ Semua karena kerja keras Mbak Ratih...,” kata Memed sambil tersenyum.


“ Saya ga ngelakuin apa-apa Pak. Saya cuma bantu promosiin aja ke temen-temen di kantor. Karena deket dari kantor dan harganya murah, makanya rumah ini banyak peminatnya...,” sahut Ratih merendah.


“ Iya deh, tapi makasih ya Mbak Ratih udah bantuin Saya promosiin rumah ini. Sekarang rumah jadi rame dan hangat...,” kata Memed yang diangguki Ratih.


Memed mengusap wajahnya karena sedih mengingat kebersamaannya dengan Ratih selama di rumah itu. Karena diantara sekian banyak penghuni kost, hanya Ratih lah yang akrab dengannya dan mau berbagi dengannya.

__ADS_1


Memed juga ingat saat Ratih mengadu jika ia diganggu oleh makhluk halus penunggu rumah itu. Semula Memed tak percaya dan mencoba menghibur Ratih. Namun saat Ratih hampir menangis menceritakan semuanya Memed pun mencoba mengalihkan perhatian.


“ Mungkin Mbak Ratih salah liat...,” kata Memed kala itu.


“ Saya ga mungkin salah liat Pak. Kan Saya belum tidur waktu bayangan dan suara itu melintas di kamar Saya...,” sahut Ratih gusar.


“ Tapi kok yang lain santai aja Mbak. Masa iya hantunya milih-milih. Bukannya hantu itu nakutin siapa aja ya. Aneh aja kedengerannya, masa dari tiga belas penghuni kost cuma Mbak Ratih yang ngerasa diganggu sama hantu...,” kata Memed sambil menggelengkan kepalanya.


Ucapan Memed membuat Ratih tersinggung, tapi ia tak bisa memaksa Memed mempercayainya karena teman sekostnya pun tak ada yang percaya ucapannya.


“ Terserah Pak Memed mau percaya atau ga. Tapi kalo terus menerus diganggu kaya gini lebih baik Saya pindah aja ke tempat lain Pak...,” kata Ratih sambil menghapus air mata yang menitik di wajahnya.


“ Jangan Mbak. Tolong sabar ya, biar Saya cariin orang pinter buat ngusir hantu itu...,” kata Memed.


“ Beneran ya Pak...?” tanya Ratih yang diangguki Memed.


“ Iya Mbak...,” sahut Memed meyakinkan Ratih.


Namun sayangnya Memed hanya berjanji dan tak pernah serius mencari ‘orang pinter’ yang ia maksud tadi. Sedangkan Ratih masih terus bercerita tentang gangguan mistis yang dialaminya selama tinggal di rumah kost itu. Tapi kemudian Ratih tak lagi bercerita apa pun. Setelahnya Memed tak pernah lagi mendengar keluhan Ratih.


Tanpa diketahui siapa pun termasuk Memed, saat itu Ratih ketakutan karena ancaman yang diberikan makhluk tak kasat mata saat ia ingin keluar dari rumah itu. Sesungguhnya Ratih terpaksa menuruti keinginan makhluk itu untuk tetap tinggal di rumah kost itu karena takut makhluk itu akan menyakiti dirinya dan keluarganya.


“ Andai ada yang bisa Aku lakukan  untuk menolong Kamu, pasti Aku lakukan. Tapi Aku juga ga mau Anak Istriku terlantar hanya karena membela kepentinganmu Ratih...,” gumam Memed sambil menutup pintu gerbang rumah kost setelah mobil Faiq melaju meninggalkan tempat itu.


Memed tahu jika hantu yang mengganggu Ratih adalah hantu penunggu rumah itu. Memed tak berdaya karena ia


juga butuh uang untuk membiayai hidupnya dan keluarganya. Selama ini Memed dipercaya mengurus rumah besar itu dengan gaji yang sangat besar hingga Memed bisa menghidupi keluarganya dengan lebih baik. Memed khawatir akan kehilangan pekerjaan jika ia membantu Ratih menjauh dari hantu penunggu rumah yang merupakan ‘peliharaan’ sang pemilik rumah.

__ADS_1


\=====


__ADS_2