
Malam itu Iyaz dan Izar sedang berbincang dengan Erik. Iyaz sengaja menginap di rumah sang opa karena harus
membahas hal penting dengan keluarganya itu.
“ Jadi siapa yang bakal berangkat ke sana...?” tanya Faiq tiba-tiba sambil duduk di samping sang papa.
“ Papa sih udah ga bisa pergi jauh-jauh Nak. Sekarang Papa gampang lelah...,” sahut Erik.
“ Jangan Papa lah yang berangkat. Kan ada Anak-anak...,” kata Faiq sambil memijit pundak Erik dengan lembut.
“ Iya Pa, Kami aja yang berangkat...,” kata Iyaz.
“ Kamu yakin mau pergi Yaz, gimana sama Nuara...?” tanya Izar.
“ Nuara itu orangnya pengertian Zar. Dia pasti ngerti dan ngijinin Aku berangkat. Apalagi ini kan urusan perusahaan dan perginya sama Kamu...,” sahut Iyaz santai.
“ Biar Nuara nginep di sini aja kalo iseng sendirian di rumah...,” kata Shera sambil meletakkan empat cangkir kopi di atas meja.
“ Iya Bun. Terserah dia mau nginep di sini atau di rumah orangtuanya Aku sih ga keberatan...,” sahut Iyaz.
Shera dan Faiq tersenyum karena Iyaz bisa dengan santai menerapkan aturan dalam rumah tangganya, persis seperti Faiq dulu.
\=====
Ternyata Nuara dengan senang hati menginap di rumah Erik. Alasan utamanya adalah karena letak rumah Erik yang tak terlalu jauh dari kantor hingga Nuara tak perlu tergesa-gesa pergi ke kantor.
Shera dan Farah pun menyambut gembira kehadiran Nuara di rumah. Mereka merencanakan berbagai hal yang akan mereka lakukan bersama saat Nuara menginap nanti. Sedangkan Iyaz terlihat lebih tenang saat meninggalkan Nuara di rumah sang opa.
Bada Subuh Iyaz sudah bersiap di kamarnya karena harus bergegas ke bandara.
“ Aku pergi dulu ya Sayang. Baik-baik di rumah dan jangan pulang kesorean dari kantor...,” kata Iyaz sambil mengecup kening Nuara dengan sayang.
“ Iya Mas. Kamu juga hati-hati dan jangan lupa dzikirnya ya...,” sahut Nuara sambil memeluk Iyaz dengan erat.
“ Gapapa kan Kamu di sini sebentar...?” tanya Iyaz.
“ Gapapa Mas. Malah Oma sama Bunda udah punya rencana ngajakin Aku bikin sesuatu sambil nunggu Kamu pulang nanti...,” sahut Nuara sambil tersenyum.
“ Iya deh. Kalian tuh kalo udah kumpul pasti bisa lupa segalanya...,” kata Iyaz.
“ Tapi Aku ga lupa kok kalo Kamu Suamiku...,” sergah Nuara manja hingga membuat Iyaz gemas lalu mengecup bibir Nuara dengan cepat.
Nuara pun tertawa sambil membenamkan dirinya di dalam pelukan Iyaz. Setelah saling memeluk sesaat, mereka saling mengurai pelukan dan bergegas menuju pintu kamar.
Kemudian Iyaz pun keluar dari kamarnya untuk menemui Izar di teras. Setelah berpamitan pada keluarganya Iyaz
dan Izar masuk ke dalam Taxi on line yang telah terparkir di halaman rumah. Sesaat kemudian Taxi pun melaju cepat menuju bandara.
Tujuan Iyaz dan Izar kali ini adalah ke daerah Jawa Timur. Mereka janji bertemu di sebuah penginapan siang
itu untuk membahas kerja sama perusahaan mereka. Saat tiba di penginapan yang dimaksud, keduanya langsung masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
“ Janji ketemu jam berapa sih sama Pak Makmur itu Yaz...?” tanya Izar saat keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
“ Insya Allah bada Dzuhur Zar. Lumayan lah Kita masih sempet istirahat sebentar...,” sahut Iyaz sambil menguap.
“ Kamu ngantuk Yaz, ini kan baru jam sepuluh...,” kata Izar sambil menggelengkan kepalanya.
“ Aku capek Zar, makanya mau tidur sebentar ya...,” sahut Iyaz sambil mulai memejamkan matanya.
“ Capek ngapain sih Yaz. Perasaan dari kemaren ga ngapa-ngapain di rumah selain ngobrol sama Opa...,” kata Izar
tak mengerti.
“ Aku capek abis nyenengin Istriku semalam Zar...,” sahut Iyaz cuek sambil tersenyum penuh makna.
“ Sia*an. Itu bukan Kamu yang nyenengin dia tapi Kamu nyenengin dirimu sendiri...,” kata Izar kesal sambil melemparkan bantal kearah Iyaz.
Iyaz pun tertawa sambil menangkap bantal yang dilemparkan kembarannya itu. Sedangkan Izar bergegas keluar dari kamar sambil membanting pintu karena kesal melihat tingkah kembarannya itu.
\=====
Pembicaraan bisnis Iyaz dan Izar dengan rekan bisnis mereka bernama Makmur itu berjalan lancar. Kesepakatan
berhasil dicapai dan kedua pihak nampak bahagia.
Untuk mensyukuri keberhasilan mereka, Iyaz dan Izar memutuskan untuk memberi santunan pada anak yatim piatu
di kota itu. Sore itu mereka mengunjungi panti asuhan yatim piatu yang terletak tak jauh dari penginapan.
Saat memasuki halaman panti terlihat anak-anak sedang bermain dengan gembira di halaman panti. Wajah mereka
“ Baru kali ini ngeliat anak panti sesehat ini ya Zar...,” kata Iyaz sambil tersenyum.
“ Iya Yaz. Biasanya anak panti kan ada aja yang kurang semangat, sakit lah, ga punya teman lah. Tapi yang ini beda banget...,” sahut Izar.
“ Tuh liat, di sana pengurusnya udah ngeliatin Kita. Ke sana yuk...,” ajak Iyaz sambil melangkah mendekati pengurus panti yang tersenyum menyambut keduanya.
“ Assalamualaikum Pak, selamat sore...,” sapa Iyaz.
“ Wa alaikumsalam, selamat sore Pak. Ada yang bisa Saya bantu...?” tanya pria itu.
“ Kenalkan Saya Iyaz dan ini Izar. Kami dari Jakarta dan menginap di penginapan Bintang Sahabat. Kebetulan Kami
lewat di depan sana dan ngeliat anak-anak lagi main. Kami tertarik untuk mampir dan memberi sedikit sumbangan untuk anak-anak itu...,” sahut Iyaz dengan ramah.
“ Mari silakan masuk Pak...,” ajak sang pengurus panti bernama Yusuf itu.
Setelah berbincang sejenak mereka pun diajak berkeliling panti. Iyaz dan Izar dengan senang hati mengikuti Yusuf.
Di kantor panti mereka sempat menyapa beberapa orang pengurus. Kemudian Iyaz dan Izar diajak melihat kondisi kamar dan ruangan lain yang ada di dalam panti.
Saat melewati sebuah koridor di dekat taman, mereka melihat seorang anak sedang melamun seorang diri. Yusuf
mendekati anak itu dan memintanya bergabung dengan teman lainnya.
“ Zidan jangan suka melamun, ntar kalo diikutin setan gimana...?” tanya Yusuf.
__ADS_1
“ Ga mau Pak, Aku takut...,” sahut Zidan.
“ Makanya sekarang Zidan main sama teman-teman di sana ya...,” bujuk Yusuf yang diangguki Zidan.
“ Keliatannya dia lagi inget sama seseorang Pak...,” kata Izar.
“ Iya Pak. Zidan anak baru di panti ini, baru sebulan yang lalu dia diantar ke sini oleh familinya. Jadi dia masih sulit beradaptasi dengan lingkungan di sini...,” sahut Yusuf.
Tak lama kemudian terdengar adzan Maghrib berkumandang. Yusuf segera mengingatkan anak-anak panti agar berhenti bermain dan bersiap-siap menunaikan sholat Maghrib berjamaah di musholla panti.
Melihat semangat anak-anak membuat Iyaz dan Izar terharu. Mereka ikut mengantri mengambil wudhu bersama anak-anak. Setelahnya Izar melangkah lebih dulu menuju musholla untuk melihat aktifitas yang dilakukan oleh anak-anak sebelum menjalankan sholat berjamaah.
Saat itu Izar melihat Zidan tengah meringkuk di sudut musholla sambil menutupi wajahnya. Tubuhnya nampak bergetar pertanda ia sedang menangis. Sedangkan anak-anak lain nampak asyik bergurau sambil menunggu Yusuf datang untuk memimpin sholat. Izar mendekati Zidan dan menyapanya.
“ Kamu kenapa Zidan...?” tanya Izar hati-hati.
“ Aku takut Om. Aku ga suka di sini, Aku mau pulang aja...,” sahut Zidan di sela isak tangisnya hingga membuat Izar iba.
“ Takut apa, Om liat semuanya baik-baik aja kok. Justru Kamu yang ga mau main sama mereka...,” kata Izar sambil mengusap air mata Zidan dengan ujung jarinya.
“ Zidan mah emang gitu Om. Sejak pertama kali datang ke sini dia selalu nangis dan jarang main sama yang lain...,” kata seorang anak laki-laki berambut kriting.
“ Oh ya. Kamu tau ga apa sebabnya...?” tanya Izar.
“ Katanya sih dia takut hantu Om...,” sahut anak itu.
“ Hantu, dimana...?” tanya Izar tak mengerti.
“ Di pohon rambutan itu Om. Zidan bilang pernah liat hantu kuntilanak laki-laki di pohon itu. Tapi Kami semua ga pernah ngeliat apa pun selama tinggal di sini...,” sahut anak berambut kriting itu sambil mencibir.
Ucapan anak itu membuat Izar menoleh menatap Zidan. Melihat kondisinya Izar percaya jika yang dilihat Zidan adalah benar-benar hantu.
“ Kita sholat berjamaah dulu yuk. Nanti kalo udah selesai, Om bakal bantu Kamu ngusir hantu itu biar ga nakutin
Kamu lagi...,” kata Izar.
“ Janji ya Om...,” sahut Zidan sambil menautkan jari kelingkingnya ke kelingking Izar.
“ Insya Allah. Yuk sekarang Kita sholat...,” ajak Izar yang diangguki Zidan.
Keduanya berbaris rapi di belakang imam dan sholat dengan tertib. Setelahnya Izar mengikuti Zidan yang menarik
tangannya menuju ke suatu tempat. Tenyata Zidan mengajak Izar mendekati pohon rambutan dimana kuntilanak laki-laki itu bersemayam.
Izar menatap lekat pohon rambutan itu, mengamatinya sejenak lalu menghela nafas panjang. Saat itu ia melihat
sosok kuntilanak laki-laki tengah duduk mengamati Izar dan Zidan dari atas pohon di balik rimbun dedaunan.
Sosok kuntilanak laki-laki ini sedikit mirip dengan kuntilanak wanita. Hanya saja wajahnya lebih tegas dan sorot matanya lebih tajam. Jika biasanya kuntilanak wanita akan mengganggu manusia yang lewat dengan tawa khasnya itu. Kuntilanak laki-laki justru sebaliknya. Ia tak suka tertawa dan akan langsung mendatangi korbannya dengan cara merayap dengan posisi kepala berada di bawah. Atau ia akan menghampiri korbannya dengan cara berjalan kayang persis pemain akrobat profesional. Posisi berjalannya yang seperti itu memudahkannya mengambil alat kelam*n pria incarannya lalu memakannya.
Melihat kehadiran Izar dan Zidan membuat kuntilanak laki-laki itu menyeringai senang karena mendapat mangsa baru. Hantu itu turun perlahan mendekati mereka. Zidan nampak menggigil ketakutan dan memilih berlindung di balik tubuh Izar karena tak mau menjadi korban keganasan kuntilanak laki-laki itu.
Bersambung
__ADS_1