Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
326. Kembali Ke Panti


__ADS_3

Perlahan namun pasti sosok kuntilanak laki-laki itu merayap turun dengan posisi kepala di bawah. Izar pun


menggendong Zidan dan membawanya lari karena tak ingin Zidan menjadi korban keganasan makhluk itu.


Melihat Izar berlari sambil menggendong Zidan membuat Iyaz mengerutkan keningnya. Iyaz baru saja berniat


menyusul Izar dan mengajaknya kembali ke penginapan. Namun saat menoleh ke shaft di belakangnya, ia tak mendapati Izar di sana. Saat bertanya pada anak panti, mereka menjawab jika Izar pergi keluar bersama Zidan. Dan sekarang Iyaz melihat Izar tengah berlari cepat kearahnya sambil sesekali menoleh ke belakang.


“ Ada apa Zar, kok panik gitu...?” tanya Iyaz.


“ Ada kunti cowok di pohon rambutan itu Yaz. Aku lari karena mau ngamanin Zidan dulu supaya ga dikejar sama makhluk itu...,” sahut Izar sambil menurunkan Zidan dari gendongannya.


Mendengar ucapan Izar membuat Yusuf terkejut sekaligus gelisah.


“ Apa bener yang Pak Izar bilang, ada kuntilanak cowok di sana...?” tanya Yusuf ragu.


“ Iya Pak. Awalnya Saya ngeliat Zidan nangis di pojok musholla. Pas saya tanya katanya dia ga betah di sini,


takut sama hantu. Kata anak-anak yang lain Zidan selalu bilang kalo ada hantu di pohon rambutan itu. Makanya Saya bujuk Zidan untuk sholat dulu, kalo udah selesai Saya bakal antar dia nemuin hantu yang dibilangnya tadi...,” sahut Izar.


“ Ternyata yang dibilang Zidan itu benar ya Pak...?” tanya Yusuf.


“ Iya Pak...,” sahut Izar cepat.


“ Sebenernya makhluk itu udah beberapa kali diusir dari sana. Tapi ga tau kenapa, setelah beberapa waktu dia


bakal balik lagi dan lagi. Saya sampe pusing dibuatnya. Karena khawatir sama anak-anak, Saya sengaja bikin peraturan kalo saat Maghrib anak-anak harus udah ada di musholla untuk sholat berjamaah. Niat Saya sebenernya cuma satu yaitu supaya anak-anak ga ketemu atau ngeliat penampakan makhluk itu yang selalu nongol sekitar Maghrib...,” kata Yusuf.


“ Itu tindakan yang tepat Pak. Tapi sayangnya makhluk itu lebih kuat dari yang Pak Yusuf kira...,” kata Izar.


“ Jadi Saya harus gimana Pak...?” tanya Yusuf.


“ Sebaiknya Zidan dibawa masuk ke dalam dulu Pak. Kasih minum juga supaya rasa kagetnya hilang...,” saran Iyaz.


“ Baik Pak...,” sahut Yusuf lalu bergegas membawa Zidan masuk ke dalam panti.


“ Kasian dia ketakutan banget tadi. Kayanya ini bukan kali pertama Zidan ngeliat penampakan makhluk itu...,” kata Iyaz.


“ Pastinya sih gitu Yaz...,” sahut Izar sambil menatap pohon rambutan tempat kuntilanak laki-laki itu bersembunyi.


“ Kita harus melakukan sesuatu untuk nolongin anak-anak itu Zar...,” kata Iyaz.


“ Setuju. Tapi sekarang Kita hanya bisa memasang pagar ghaib sementara supaya kuntilanak cowok itu ga menerror anak-anak...,” sahut Izar.

__ADS_1


“ Gapapa, yang penting makhluk itu ga berkeliaran malam ini...,” kata Iyaz.


Lalu keduanya pun menghampiri pohon rambutan dan mulai membaca doa. Dari balik rimbunan pohon kuntilanak laki-laki itu nampak kesal melihat apa yang dilakukan Iyaz dan Izar namun ia tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah.


Setelah selesai membaca doa Iyaz dan Izar mengelilingi pohon rambutan dari dua arah berlawanan seperti membuat lingkaran pembatas.


“ Insya Allah ini cukup Yaz...,” kata Izar.


“ Iya Zar...,” sahut Iyaz.


Yusuf nampak melangkah mendekati Iyaz dan Izar yang baru saja selesai memasang pagar ghaib di sekitar pohon


rambutan itu.


“ Saya berterima kasih karena Pak Izar dan Pak Iyaz mau membantu Kami. Terus terang Saya juga kewalahan kalo makhluk di pohon ini mulai berulah...,” kata Yusuf.


“ Untuk malam ini Pak Yusuf dan anak-anak bisa tenang karena Kami udah masang pagar ghaib. Tapi satu pesan


Saya, jangan ada yang mendekati pohon ini untuk sementara waktu agar ga merusak pagar ghaib yang Kami buat tadi...,” kata Izar.


“ Andai ada yang ngelewati batas yang kami buat, maka makhluk itu akan keluar dan membuat kekacauan yang bisa jadi akan sulit ditangani nanti...,” kata Iyaz menambahkan.


“ Baik Pak, Saya akan ingatkan anak-anak agar ga mendekat ke sini...,” sahut Yusuf.


“ Baik Pak...,” sahut Yusuf.


Kemudian ketiganya melangkah menuju gerbang panti. Setelah Iyaz dan Izar keluar, Yusuf pun mengunci pintu gerbang itu lalu kembali ke dalam panti.


\=====


Pagi itu Iyaz dan Izar baru saja kembali dari masjid dekat penginapan usai menunaikan sholat Subuh berjamaah.


Keduanya pun mempersiapkan sesuatu yang akan mereka bawa ke panti asuhan.


Tiba-tiba ponsel Iyaz berdering dan Iyaz bergegas menerima panggilan itu.


“ Assalamualaikum Sayang...,” sapa Iyaz sambil tersenyum.


“ Wa alaikumsalam. Kamu udah bangun Mas, udah sholat belum...?” tanya Nuara.


“ Alhamdulillah udah dong, nih baru aja balik dari masjid bareng Izar...,” sahut Iyaz.


“ Alhamdulillah. Terus rencananya hari ini mau apa atau mau kemana...?” tanya Nuara.

__ADS_1


“ Insya Allah Aku sama Izar mau ngasih santunan buat anak yatim piatu. Terus jalan-jalan sebentar. Insya Allah kalo ga ada kendala besok pulang ke rumah. Iya kan Zar...?” tanya Iyaz sambil menoleh kearah Izar yang nampak sedang memilah pakaian.


“ Iya...,” sahut Izar cepat dan masih bisa didengar oleh Nuara.


“ Ok, Aku tunggu ya. Jangan lupa makan dan vitaminnya ya Mas. Assalamualaikum...,” kata Nuara di akhir kalimatnya.


“ Iya Sayang, wa alaikumsalam...,” sahut Iyaz sambil menggelengkan kepalanya.


“ Kenapa geleng-geleng begitu. Emangnya Nuara minta dibeliin sesuatu...?” tanya Izar.


“ Ga ada. Dia malah ngingetin Aku supaya jangan lupa makan dan minum vitamin...,” sahut Iyaz santai.


“ Itu wajar, dia kan Istrimu...,” kata Izar cepat.


“ Justru itu Zar. Aku ngerasa perhatiannya itu bikin Aku meleleh. So sweet banget tau ga...,” sahut Iyaz sambil memeluk guling dengan erat.


“ Ck, jangan mulai lagi Yaz. Kenapa sejak nikah sama Nuara Kamu jadi bucin akut kaya gini sih...,” kata Izar kesal.


“ Gapapa dong, dia kan Istriku...,” sahut Iyaz sambil tersenyum penuh makna hingga membuat Izar bertambah kesal.


Iyaz tertawa keras saat melihat Izar masuk ke kamar mandi dengan wajah ditekuk.


“ Makanya nikah Zar biar tau rasanya mencintai dan dicintai...!” kata Iyaz menggoda Izar.


“ Berisik...!” sahut Izar lantang hingga membuat Iyaz kembali tertawa.


\=====


Setelah sarapan pagi Iyaz dan Izar pun bergegas kembali ke panti asuhan itu untuk menunaikan janji mereka.


Saat tiba di gerbang panti terlihat suasana panti yang lengang, berbeda sekali dengan kemarin. Iyaz dan Izar saling menatap curiga lalu bergegas masuk ke dalam panti.


Iyaz dan Izar nampak mengerutkan kening saat melihat bangunan panti yang tak terurus seolah telah lama ditinggalkan. Keduanya mempercepat langkah kaki mereka dan masuk makin dalam ke area panti.


Lagi-lagi Iyaz dan Izar dibuat terkejut melihat bagian dalam panti yang rusak, kotor dan gelap. Mereka menyusuri ruangan di dalam panti satu per satu seperti yang ditunjukkan Yusuf kemarin. Semua ruangan di dalam panti dalam kondisi rusak tak terawat.


“ Kayanya ada yang ga beres Yaz...,” kata Izar.


“ Betul Zar. Ini semacam perangkap untuk Kita...,” sahut Iyaz.


“ Kita keluar dari sini secepatnya Yaz, ayo buruan...,” ajak Izar yang diangguki Iyaz.


Keduanya bergegas keluar dari dalam panti. Langkah mereka terhenti saat melihat pohon rambutan yang mereka pagari semalam masih berdiri kokoh tanpa terusik sama sekali.

__ADS_1


\=====


__ADS_2