Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
274. Menikah Lagi


__ADS_3

Iyaz, Izar dan Hanako melepas kepergian raja Graha dan Hara dengan senyum mengembang. Kedua buaya berukuran besar itu nampak terombang-ambing sejenak di laut lepas sebelum akhirnya lenyap tanpa bekas


Iyaz menoleh kearah kembarannya lalu menepuk halus punggungnya.


“ Kamu ikhlas kan melepasnya Zar...?” tanya Iyaz.


“ Iya Yaz. Aku sadar dunia Kami berbeda dan Kami ga mungkin bersatu...,” sahut Izar sambil tersenyum kecut.


“ Bagus lah. Masih banyak wanita cantik di sini, mungkin salah satunya adalah jodoh Kita...,” kata Iyaz sambil menepuk pundak kembarannya itu.


“ Aamiin. Ayo Kita pulang Ci...,” kata Izar sambil menoleh kearah samping kananya dimana Hanako berdiri.


Alangkah terkejutnya Izar dan Iyaz yang tak mendapati Hanako di sana. Saat mereka menoleh ke belakang, mereka melihat Hanako ada dalam pelukan Pandu. Bahkan sesekali Pandu terlihat menciumi wajah dan kepala Hanako yang nampak tersenyum bahagia dalam pelukan suaminya itu.


“ Ck, kirain ilang ga taunya malah udah sayang-sayangan...,” kata Izar sambil berdecak sebal.


Iyaz pun tertawa mendengar ucapan Izar. Kemudian Iyaz merangkul Izar dan membawanya melangkah meninggalkan Hanako dan Pandu yang masih saling memeluk itu.


Di pinggir pantai Iyaz dan Izar disambut Faiq dan Fatur yang nampak merentangkan kedua tangannya. Keempatnya pun saling memeluk dan mengucap hamdalah berulang kali.


“ Mana Cici...?” tanya Faiq saat tersadar Hanako tak bersama mereka.


“ Udah aman di pelukan Mas Pandu Yah, tuh di sana...,” sahut Izar sambil menunjuk kearah pantai dimana Pandu dan Hanako masih saling memeluk.


Faiq dan Fatur pun tersenyum maklum. Lalu mereka menepi dan berbincang sejenak sambil menunggu Pandu dan Hanako melepas rindu.


“ Kami berencana menyusul Kalian kalo sampe malam ini Kalian ga kembali...,” kata Fatur sambil mengusak rambut Iyaz dengan sayang.


“ Kenapa dijemput segala Opa, Kami kan pergi baru sebentar...,” sahut Iyaz.


“ Iya nih Opa. Lagian Kami kan udah dewasa, masa pergi dua hari aja udah dijemput. Kaya anak kecil aja...,” kata Izar menambahkan hingga membuat Fatur tertawa.


“ Tapi Kalian kan pergi ke dimensi lain yang kondisinya pasti berbeda jauh dengan alam Kita...,” sahut Fatur tak mau kalah.


“ Lagian siapa bilang Kalian hanya pergi dua hari. Asal Kalian tau ya, Kalian tuh pergi udah hampir sebulan tau ga...,” kata Faiq hingga mengejutkan si kembar.


“ Sebulan...?” tanya Iyaz dan Izar tak percaya.

__ADS_1


“ Iya. Ayah udah bilang sama Dayang agar bersiap-siap untuk nganter Kami jemput Kalian nanti malam. Beruntung Kalian udah pulang sore ini, jadi Kami bersyukur ga harus ikut nyebrang kaya Kalian...,” sahut Faiq sambil tersenyum.


Tak lama kemudian Hanako dan Pandu ikut bergabung bersama mereka. Faiq memeluk Hanako erat dan mencium kepalanya dengan sayang. Fatur pun melakukan hal yang sama.


“ Kami dikasih hadiah ini Pa...,” kata Hanako sambil memperlihatkan benda-benda pemberian raja Graha dan putri Hara.


“ Masya Allah. Ini benda langka Nak. Orang-orang harus melakukan ritual khusus untuk mendapatkannya tapi Kalian bisa dengan mudah mendapatkannya...,” kata Fatur.


“ Tapi Kami juga melakukan sesuatu dulu sebelum menerima ini Opa...,” sahut Iyaz bangga.


“ Tentu saja, kan ga ada yang gratis di dunia ini...,” kata Fatur.


“ Apa pun itu, simpan ini baik-baik dan jangan pamer...,” kata Faiq mengingatkan.


“ Siap Pa...,” sahut Hanako.


“ Ok Yah...,” kata si kembar menambahkan.


Setelahnya mereka pun kembali ke rumah dengan perasaan bahagia. Di dalam mobil celoteh Hanako menghiasi


perjalanan mereka. Iyaz dan Izar memilih tidur karena terlalu lelah sedangkan Fatur, Faiq dan Pandu setia mendengarkan cerita Hanako yang mengalir tanpa jeda itu.


\=====


Kondisi kerajaan pimpinan raja Graha kembali kondusif. Putri Hara yang sempat sakit parah kini sembuh dan bisa tertawa lagi. Ia pun membantu ayahnya mengurus kerajaan.


Lamaran berdatangan dari beberapa pangeran kerajaan tetangga. Namun putri Hara masih bertahan dengan kesendiriannya karena tak ingin meninggalkan sang ayah. Putri Hara khawatir jika ia menikah dan diboyong suaminya, maka sang ayah akan kesepian.


Karena tak ingin menghalangi kebahagiaan putrinya, maka raja Graha pun memilih menikah lagi. Ia menyunting seorang gadis dari kalangan bangsawan yang telah lama mengaguminya secara diam-diam. Karenanya saat raja Graha melamarnya, gadis itu pun setuju.


Pesta pernikahan raja Graha digelar dengan sederhana. Iyaz, Izar dan Hanako pun hadir dalam pesta


pernikahannya itu untuk mendoakan sang raja. Di pesta itu juga diumumkan siapa kah calon suami putri Hara. Semua hadirin menyambut baik pengumuman itu termasuk Izar. Ia nampak tersenyum menyaksikan kebahagiaan putri Hara dengan pangeran Taka.


Di luar gerbang kerajaan terlihat Gayatri mondar mandir dengan wajah murka. Ia tak terima mendengar mantan suaminya menikah lagi dengan wanita yang jauh lebih muda dan lebih cantik darinya. Apalagi dia juga mendengar Hara akan menikah dengan pangeran dari kerajaan sebrang.


Gayatri terlihat sangat lusuh dan bau, berbeda jauh dengan saat ia menjadi permaisuri raja Graha. Para pengawal yang mengenalnya hanya tersenyum sinis melihat tingkahnya karena kesal mengingat apa yang ia lakukan dulu.

__ADS_1


Sedangkan Jaladra menjalani hukumannya dengan patuh. Setelah kehilangan tangan dan telinganya, Jaladra pun pergi jauh. Ia tak pernah kembali meski pun untuk sekedar menjenguk anak yang baru dilahirkan istrinya itu.


Rupanya Jaladra malu dengan keadaan fisiknya sekarang. Ia memilih sembunyi dari keramaian dan tinggal berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya, dari satu kerajaan ke kerajaan lainnya. Hingga akhirnya Jaladra menetap di sebuah kota dan menjadi perawat kuda milik keluarga bangsawan.


Jaladra dibayar mahal karena hasil kerjanya yang memuaskan. Uang hasil kerja kerasnya ia kirimkan kepada anak dan istrinya di kerajaan Graha. Jaladra juga mengirimkan surat berisi ucapan selamat berbahagia kepada raja Graha dan istri barunya.


“ Istri Raja Graha cantik ya Hara...,” kata Hanako yang mengenakan dress cantik berwarna gelap untuk menutupi perutnya yang membuncit di kehamilannya yang menginjak usia empat bulan.


“ Iya Kak. Ibu tiriku itu pengagum rahasia Ayahku lho...,” sahut Hara bangga.


“ Oh ya, pasti ga sulit untuk mereka saling jatuh hati nanti...,” kata Hanako yang diangguki Hara.


“ Betul. Aku harap Ibu tiriku akan setia mendampingi Ayahku hingga akhir nanti...,” kata Hara sambil tersenyum.


“ Aamiin. Lalu kapan Kamu menikah dengan pangeran itu Hara...?” tanya Hanako.


“ Sebentar lagi Kak. Aku harap Kakak datang saat pernikahanku nanti ya...,” kata Hara.


“ Insya Allah jika Aku dan bayiku sehat...,” sahut Hanako sambil mengusap perutnya dengan lembut.


“ Dia pasti jadi Anak yang kuat dan cantik seperti Ibunya kalo dia perempuan nanti...,” kata Hara sambil ikut mengusap perut Hanako.


“ Aamiin. Gimana kalo dia laki-laki...?” tanya Hanako.


“ Mmm..., pasti tampan dan hebat seperti Pamannya...,” sahut Hara malu-malu hingga membuat Hanako membulatkan matanya lalu tertawa.


“ Maksudmu siapa, Izar...?” tanya Hanako.


“ Iya...,” sahut Hara dengan wajah merona.


“ Kamu tau Hara, untung Suamiku ga ikut ke sini. Kalo dia tau Kamu mendoakan Anak Kami mirip sama Izar, dia pasti ngamuk...,” kata Hanako dengan mimik serius.


“ Apa salahnya dia mirip sama Aku Ci. Aku kan Pamannya, lagian Kita kan sering ketemu wajar aja kalo dia lebih mirip sama Aku dibanding Mas Pandu...,” kata Izar tiba-tiba.


“ Ish, Aku ga mau Anakku mirip Kamu ya Zar. Aku maunya Anakku ya mirip Aku atau Suamiku...,” sahut Hanako kesal.


Ucapan Hanako membuat semua orang tertawa termasuk Hara dan calon suaminya yang ikut bergabung bersama mereka. Tak ada rasa canggung saat mereka berbincang bersama. Pangeran Taka adalah pribadi yang baik dan menyenangkan. Selain itu dia juga tampan dan bertanggung jawab. Izar pun merasa tenang melihat Hara didampingi pria sehebat pangeran Taka.

__ADS_1


\=====


__ADS_2