Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
299. Kok Gagal ?


__ADS_3

Mendengar ucapan Nando membuat Faiq dan keluarganya saling menatap. Sedangkan Iyaz nampak mematung dengan hati dipenuhi rasa kesal dan cemburu. Namun Iyaz berusaha mengendalikan diri dengan membaca istighfar dalam hati.


“ Tapi Papa kan nolak ada alasannya...,” kata Adam.


“ Betul. Sebenernya Mama juga ga sreg kalo Kakakmu nikah sama si Diki itu...,” kata mama Nuara tiba-tiba.


“ Masa sih, kayanya Mama deh yang paling heboh nyiapin semuanya...,” sindir Nando.


“ Mama kan cuma mau nyambut tamu aja Nando, sama kaya biasanya kalo ada orang mau bertamu ke rumah Kita. Lagian Nuara kan udah ketemu calon Suami yang jauh lebih baik dari si Diki, jadi Mama lebih milih Nuara sama Mas Iyaz dong dibanding Nuara sama si Diki...,” sahut sang mama membela diri.


“ Tapi sekarang Mas Iyaz bukan calon suaminya Nuara lagi Kak...,” kata Dewi sambil tersenyum dan melirik kearah Nuara yang tertunduk malu.


“ Lho kok bisa, apa terjadi sesuatu yang buruk. Terus maksud kedatangan keluarganya kali ini apa dong...?” tanya


mama Nuara gusar karena khawatir mereka datang untuk membatalkan rencana pernikahan Iyaz dan Nuara.


Melihat sang mama yang panik membuat Nando iba lalu memeluknya untuk menenangkan sang mama.


“ Mama Sayang dengerin ya, Mas Iyaz udah jadi Suaminya Kakak sekarang. Mereka nikah di sini dua jam yang lalu...,” kata Nando mengejutkan sang mama.


“ Kok Mama ga tau...?” tanya sang mama bingung.


Kemudian Nando mulai menceritakan semuanya. Mama Nuara nampak mendengarkan dengan mata berkaca-kaca. Setelah Nando usai menceritakan apa yang terjadi, sang mama pun nampak tersenyum. Ia menoleh kearah Nuara dan memanggilnya. Nuara masih mematung karena khawatir jika kejadian sebelumnya terulang lagi.


“ Gapapa Ra, insya Allah semuanya udah normal lagi...,” kata Iyaz sambil menatap Nuara.


Nuara mengangguk lalu melangkah mendekati sang mama dan menghambur ke dalam pelukannya. Keduanya saling memeluk erat dan membuat semuanya terharu.


“ Maafin Mama kalo tadi nyakitin Kamu ya Ra...,” kata mama Nuara sambil mengusap punggung Nuara dengan lembut.


“ Gapapa Ma, itu kan bukan maunya Mama...,” sahut Nuara sambil tersenyum.


“ Jadi Anak gadis Mama ini sekarang udah jadi Istri orang yaa...,” goda sang mama hingga membuat wajah Nuara merona.


Kemudian Iyaz maju mendekati kedua wanita itu lalu berdiri di samping Nuara.


“ Insya Allah Saya akan menjaga Nuara dan membuat Nuara bahagia Bu...,” kata Iyaz mantap sambil mencium punggung tangan mama Nuara.


“ Tolong jaga dan sayangi dia ya Nak, tegur dia dengan baik dan jangan pernah memukulnya...,” kata mama Nuara sambil menangis.

__ADS_1


“ Iya Bu...,” sahut Iyaz.


Kemudian Iyaz menggamit tangan Nuara dan mengajaknya mendekati Faiq dan Fatur. Nuara mencium punggung tangan Fatur dan Faiq bergantian dengan khidmat. Setitik air mata jatuh di ujung matanya usai mencium punggung tangan Fatur dan Faiq.


“ Kenapa baru cium tangan sekarang Ra, ga sopan banget sih...,” protes sang mama.


Nuara dan Iyaz nampak saling menatap dan bingung hendak menjawab apa. Beruntung Faiq sigap menjawab hingga kesalah pahaman itu mengurai dengan cepat.


“ Gapapa Bu. Tadi keadaannya darurat dan posisi Nuara juga ga memungkinkan untuk melakukannya...,” sahut Faiq.


“ Oh iya, Saya lupa...,” kata mama Nuara malu.


“ Kalo gitu Kami pamit ya Pak. Insya Allah secepatnya Kami akan datang ke rumah Kalian untuk membahas pernikahan Anak-anak Kita...,” pamit Faiq sambil mengulurkan tangannya kearah Adam.


“ Baik Pak, Kami tunggu ya. Makasih...,” kata Adam sambil menjabat tangan Faiq.


Fatur, Iyaz dan Izar pun melakukan hal yang sama. Setelahnya mereka keluar dari ruangan itu. Nuara pun mengantar hingga ke ambang pintu. Sebelum melangkah Iyaz menoleh kearah Nuara sambil tersenyum.


“ Aku pulang dulu ya. Tolong aktifin terus ponselmu biar Kita bisa saling berkabar nanti...,” kata Iyaz sambil mengusap kepala Nuara dengan sayang.


“ Iya Mas, hati-hati ya...,” sahut Nuara sambil mencium punggung tangan Iyaz dengan gugup.


Iyaz mengangguk lalu bergegas melangkah menyusul Faiq, Fatur dan Izar yang telah keluar lebih dulu. Wajahnya


Sedangkan Nuara masih menatap kepergian Iyaz sambil memegangi dadanya untuk menetralisir detak jantungnya yang berlari itu sambil tersenyum bahagia.


\====


Diki masih menemani ayah, ibu dan tantenya yang terbaring lemah di atas tempat tidur di klinik. Sesekali Diki


menghela nafas karena merasa lelah menunggu keluarganya siuman selama hampir dua jam. Tiba-tiba tubuh ayah Diki nampak bergerak dan itu membuat Diki tersenyum.


“ Ayah...,” panggil Diki.


“ Diki, dimana ini...?” tanya ayah Diki.


“ Di Klinik Marsha Yah. Apa yang terjadi Yah, kenapa Kalian bisa kaya gini...?” tanya Diki.


“ Ada sinar putih yang masuk ke dalam rumah dan langsung mengenai Ayah, Ibu dan Tante Kamu Dik. Pas sinar putih itu mengenai Kami, terus meledak hingga tubuh Kami rasanya terbakar. Panas dan sakit...,” sahut ayah Diki.

__ADS_1


“ Sinar putih itu darimana Yah...?” tanya Diki.


“ Ga tau. Mungkin guna-guna yang Kita kirim gagal dan berbalik menyerang Kita Nak...,” sahut ayah Diki sambil meringis menahan sakit.


“ Kok Ayah bisa ngomong kaya gitu...?” tanya Diki.


“ Memang begitulah akibat yang harus Kita tanggung jika kiriman Kita gagal. Ayah juga liat kalo Ki Celeng sempet ragu waktu mau ngirim, keliatannya dia tau kalo Adam dan keluarganya punya penangkal yang hebat...,” sahut ayah Diki.


“ Tapi Kita kan udah bayar mahal Yah...,” kata Diki kesal.


“ Mau gimana lagi Nak. Kalo udah kaya gini ya Kita hanya bisa pasrah terima nasib...,” sahut ayah Diki.


“ Aku ga terima Yah. Kita harus minta pertanggung jawaban Ki Celeng nanti. Kita udah keluar uang banyak lho Yah...,” kata Diki.


Rupanya pembicaraan Diki dan ayahnya juga didengar oleh ibu dan tante Diki. Keduanya terkejut dan kecewa karena Diki menggunakan ilmu sesat untuk menyakiti keluarga Adam.


“ Jadi Kalian yang nyantet Istrinya Adam...?” tanya ibu Diki lirih.


“ Ibu...,” panggil Diki panik.


“ Ibu ga nyangka kalo Kamu dan Ayahmu melakukan hal itu Dik...,” kata sang ibu sambil menggelengkan kepalanya.


“ Aku terpaksa melakukannya Bu. Kalo Pak Adam dan Nuara ga menolak Aku, mungkin Aku bisa bersabar...,” sahut


Diki membela diri.


“ Kalo Nuara ga mau, Kamu masih bisa cari gadis lain kan Dik. Kenapa harus jahat gitu sih...?” tanya sang ibu gusar.


“ Aku terlanjur mencintai Nuara Bu, Aku ingin dia jadi Istriku...,” sahut Diki.


“ Gimana bisa Kamu mencintai Nuara, kan Kamu belum pernah ketemu sama dia...,” kata ibu Diki.


“ Aku udah pernah ketemu sama Nuara Bu. Aku suka sama dia, makanya Aku ga nolak waktu Ayah dan Ibu mau jodohin Aku sama dia...,” sahut Diki.


“ Ya Allah, tapi akibat ulahmu justru Ibu dan Tantemu yang jadi korban. Gimana nih...?” tanya sang ibu cemas.


“ Ibu tenang aja, Aku bakal obatin Ibu dan Tante sampe sembuh...,” janji Diki.


“ Tapi Ibu mau pake cara normal ya Dik. Jangan pake dukun lagi...,” pinta ibu Diki penuh harap.

__ADS_1


Diki hanya mengangguk tanpa menjawab lalu bergegas memanggil dokter untuk mengecek kondisi ibu dan ayahnya yang sudah siuman itu.


\=====


__ADS_2