
Qiana pun beringsut menjauh saat merasakan tatapan pria itu menghunjam jantungnya. Dengan nafas tersengal-sengal Qiana berusaha bangkit. Namun sayangnya ia gagal karena kondisi tubuhnya yang terlanjur lemah dan terikat.
Sedangkan pria yang berdiri tegak di belakang Qiana itu mengulurkan tangannya hingga membuat Qiana ketakutan.
“ Jangan, jangan sentuh Aku. Tolong ampuni Aku...,” kata Qiana dengan suara bergetar.
“ Cepat bangun, apa Kamu mau tertangkap dan ditumbalkan oleh mereka...?” tanya pria itu yang ternyata adalah Izar.
“ Aku ga bisa bangun karena tanganku terikat...,” sahut Qiana.
Izar menghela nafas lalu berjongkok di samping Qiana. Dengan cepat ia melepaskan ikatan pada tangan Qiana.
Setelahnya Qiana bangkit walau dengan tubuh terhuyung-huyung.
“ Terima kasih...,” kata Qiana lirih.
“ Nanti aja terima kasihnya. Sekarang Kita harus lari dan tinggalkan tempat ini...,” sahut Izar ketus.
Mendengar ucapan Izar dan melihat sikapnya membuat Qiana mengerutkan keningnya karena merasa mengenal Izar. Saat ia ingin mendekat, Izar melengos lalu menjauhinya.
“ Ayo cepetan. Apa Kamu mau tinggal di sini dan jadi santapan hantu penunggu tempat ini...?” tanya Izar sambil
menatap Qiana.
“ I, iya Aku ikut Kamu...,” sahut Qiana gugup lalu mulai mengikuti langkah Izar.
Sambil mengamati sekelilingnya Izar nampak melangkah hati-hati. Hingga akhirnya ia berhasil menemukan mobilnya yang terparkir di dekat proyek di pinggir jalan besar.
“ Kita aman sekarang. Ayo Kita ke sana...,” ajak Izar yang diangguki Qiana.
Kemudian Izar melangkah keluar dari rimbunan pohon dan mengejutkan semua pekerja di proyek itu. Beruntung mereka mengenali Izar hingga tak curiga saat Izar keluar bersama seorang wanita dari balik rimbunan pohon.
Izar pun menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada para pekerja agar mereka tak salah paham melihat kehadirannya bersama seorang wanita.
“ Kasian banget ya si Non ini...,” kata salah satu pekerja bangunan.
“ Begitu lah Pak. Jadi nanti kalo ada warga nanya, tolong bilang ga tau ya Pak...,” pinta Izar.
“ Baik Mas, serahkan aja sama Kami. Sekarang sebaiknya Mas Izar bawa Nona ini pergi dari sini. Kami khawatir ga akan bisa nolong kalo udah berhadapan sama warga nanti...,” saran sang mandor.
“ Baik Pak. Saya permisi dulu, Assalamualaikum...,” sahut Izar cepat sambil memberi kode agar Qiana
mengikutinya.
Qiana yang mendengar percakapan Izar dengan beberapa pekerja itu pun akhirnya tahu jika pria yang menolongnya itu bernama Izar. Karena tak mau mati konyol akibat ditumbalkan warga, Qiana pun masuk ke dalam mobil dan duduk dengan tenang di samping Izar.
“ Nanti di depan sana Kamu nunduk ya...,” kata Izar sambil menatap ke jalan raya di depannya.
__ADS_1
“ Kenapa harus nunduk...?” tanya Qiana tak mengerti.
“ Warga masih nyari Kamu. Aku khawatir mereka ngadain sweeping dan memberhentikan kendaraan yang lewat satu per satu lalu ngecek ke dalam mobil...,” sahut Izar.
Mendengar ucapan Izar membuat tubuh Qiana gemetar ketakutan. Ia pun mulai mencari cara agar tak terlihat oleh
warga. Dengan lihai Qiana melompat ke jok tengah lalu menutupi tubuhnya dengan jaket dan berbagai macam barang yang ada di sana. Melihat tingkahnya membuat Izar tersenyum.
“ Total banget sih ngumpetnya...,” batin Izar sambil menggelengkan kepalanya.
Dugaan Izar tepat. Ternyata warga memang memberhentikan kendaraan yang lewat dan mengecek ke dalam mobil. Qiana nampak gemetar ketakutan dan mulai menangis saat melihat deretan mobil di depan mobil yang ia tumpangi dihentikan warga.
“ Kamu tenang aja. Tetap diam dan jangan membuat gerakan yang mencurigakan...,” kata Izar mengingatkan Qiana sambil mengenakan topi dan kaca mata untuk menyamar.
“ Iya...,” sahut Qiana pasrah.
Mobil Izar pun melaju perlahan lalu berhenti seperti arahan warga.
“ Apa kabar Pak, tumben nih pake diberhentiin segala. Ada rampok ya...?” tanya Izar ramah sambil menyerahkan uang dua ratus ribu ke tangan warga yang menghentikan mobilnya.
“ Kami lagi nyari orang Pak. Eh, ga usah Pak. Kami ga minta uang kok...,” kata warga sambil menepis uang yang diberikan Izar.
“ Gapapa Pak, buat ngopi ya. Biar semangat nyari orangnya...,” kata Izar sambil tersenyum.
“ Wah, kalo gitu makasih ya Pak. Silakan jalan terus deh...,” sahut warga sambil membuka portal.
Sedangkan di jok tengah terlihat Qiana membuka penutup kepalanya sambil mengucap hamdalah berkali-kali.
“ Alhamdulillah..., terima kasih ya Allah...,” kata Qiana sambil mengusap wajahnya yang basah karena air mata itu.
Izar nampak mengamati Qiana dari kaca spion. Mengetahui gadis itu baik-baik saja Izar pun bersyukur dalam hati.
“ Alhamdulillah, makasih ya Allah...,” batin Izar sambil terus melajukan mobilnya.
“ Ehm, maaf. Kita mau kemana ya. Kalo ga keberatan, turunkan Saya di depan sana aja Pak..., Izar...,” kata Qiana ragu.
“ Oh gitu, gapapa. Saya bisa turunin Kamu di sana. Tapi apa Kamu yakin mau turun di pinggir jalan dalam keadaan kaya gini...?” tanya Izar.
“ Maksud Pak Izar gimana ya...?” tanya Qiana tak mengerti.
“ Coba Kamu liat keadaanmu sekarang, apa malah ga narik perhatian orang lain nantinya. Bajumu lusuh, ga pake alas kaki, rambut berantakan...,” sahut Izar hingga membuat Qiana tersadar lalu memperhatikan keadaanya.
Qiana melihat dirinya yang sangat kusut dan lusuh. Mungkin orang akan mengira dia gila andai ia nekad
turun di pinggir jalan seperti permintaannya tadi.
“ Jadi Aku harus gimana dong...?” tanya Qiana bingung.
__ADS_1
“ Pulang, apalagi emangnya...,” sahut Izar cuek.
“ Aku tau. Daritadi juga Aku niat pulang. Aku minta turun di pinggir jalan karena ga mau ngerepotin Kamu. Tapi ga nyangka Kamu malah ngomong kaya gitu tadi...,” kata Qiana sambil menatap keluar jendela dengan perasaan tak menentu.
“ Kalo mau Aku bisa antar Kamu...,” kata Izar menawarkan diri tanpa menatap Qiana.
“ Mengantar, apa ga ngerepotin...?” tanya Qiana ragu.
“ Sebenernya sih ngerepotin. Tapi demi kemanusiaan, Aku rela ngelakuinnya. Gimana, mau ga Aku antar...?” tanya Izar.
“ Iya Aku mau, makasih sekali lagi...,” kata Qiana.
“ Hmmm...,” sahut Izar sambil terus melajukan mobilnya membelah jalan raya yang lumayan padat siang itu.
\=====
Mobil Izar berhenti di depan sebuah kost an putri. Di teras rumah terlihat beberapa wanita tengah duduk santai sambil bersenda gurau. Melihat kedatangan mobil Izar, mereka terdiam dan mencoba menebak siapa yang datang. Mereka terkejut saat melihat kondisi Qiana yang terlihat mengenaskan itu.
“ Ini tempat tinggal Aku. Maaf ga bisa ngajak mampir. Sekali lagi makasih ya atas bantuannya Pak Izar...,” kata Qiana santun sambil membuka pintu mobil.
“ Iya, sama-sama...,” sahut Izar.
Qiana turun dari mobil lalu menghampiri Izar untuk mengucapkan terima kasih sekali lagi. Sayangnya Izar
malah melajukan mobilnya lalu meninggalkan Qiana yang berdiri mematung sambil menatap bingung kearahnya.
“ Dasar cowok aneh...,” gumam Qiana kesal sambil membalikkan tubuhnya.
“ Ehm, siapa Qi. Cowok Lo ya. Tajir nih kayanya, kenalin dong...,” kata Maudy sambil tersenyum penuh makna.
“ Bukan Dy. Itu orang yang nolongin Gue barusan, Gue aja ga kenal sama dia...,” sahut Qiana.
“ Emangnya Lo kenapa Qi, kecelakaan ya. Parah ga...?” tanya Wita cemas sambil mengamati keadaan Qiana yang nampak tersenyum itu.
“ Gue gapapa kok Wit, makasih. Sekarang Gue mau istirahat dulu ya, boleh kan...?” tanya Qiana tak enak hati.
“ Boleh dong Qi. Ya udah Lo istiahat aja biar bisa pulih lagi yaa...,” sahut Wita sambil tersenyum.
Qiana pun beranjak masuk ke dalam rumah lalu masuk ke dalam kamar. Setelah membersihkan diri Qiana berbaring di atas tempat tidur sambil mencoba mengingat sosok Izar. Saat kantuk menyerang Qiana pun kembali terlelap dengan membawa rasa penasaran tentang siapa kah Izar sebenarnya.
Qiana terbangun saat adzan Maghrib berkumandang. Qiana menunaikan sholat Maghrib lalu tersentak kaget saat bisa mengingat siapa Izar.
“ Jadi itu dia. Cowok nyebelin bin rese yang di kampus itu kan...?” gumam Qiana sambil berdecak sebal.
Qiana nampak menggigit bibirnya karena tak menyangka akan bertemu Izar lagi. Cowok rese yang telah memarahinya karena menyangka Qiana adalah wanita yang gemar tebar pesona kepada lawan jenis.
Bersambung
__ADS_1