Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
317. Gadis Populer


__ADS_3

Izar baru akan melangkah menuju loby perusahaan tempat keluarganya berkumpul saat sebuah bola melayang cepat kearahnya. Suara jeritan tertahan pun terdengar mengiringi laju bola. Izar refleks menghindar bahkan berhasil menangkap bola itu hingga membuat suara jerit tertahan berubah menjadi jerit kelegaan.


Tak lama kemudian seorang gadis nampak mendatangi Izar untuk meminta bola di tangan Izar.


“ Maaf Mas, boleh minta bolanya...?” tanya gadis itu dengan ramah.


Izar mengangguk lalu melempar bola volly kearah gadis itu yang dengan sigap berhasil menangkap bola dengan tepat. Setelahnya Izar berlalu tanpa mengatakan apa pun apalagi memperhatikan tatapan kesal gadis itu.


“ Ck, tengil amat sih tuh cowok...,” batin gadis itu sambil bergegas membalikkan tubuhnya untuk kembali ke lapangan volly.


Setelah beberapa meter melangkah Izar seperti teringat akan sesuatu. Ia membalikkan tubuhnya lalu menatap gadis yang tadi meminta bola. Izar mengerutkan keningnya lalu menggeleng.


“ Masa itu dia sih. Kayanya ga mungkin deh...,” gumam Izar sambil menggelengkan kepalanya.


Ingatan Izar melayang pada saat ia duduk di bangku kuliah dulu. Saat ia duduk di tingkat tiga seorang gadis yang


merupakan mahasiswi baru datang dan menjadi idola di kalangan teman-temannya. Izar merasa kesal karena kehadiran gadis itu membuat hubungan beberapa temannya menjadi hancur hanya karena memperebutkan perhatian gadis itu. Setelah hubungan mereka rusak, gadis itu bahkan tak memilih satu pun diantara mereka untuk menjadi kekasihnya.


Izar yang kesal pun mencoba mencari tahu tentang jati diri gadis yang bernama Qiana itu. Saat pertama kali bertemu, Izar hanya bisa pasrah karena Qiana memang cantik seperti yang dikatakan teman-temannya. Selain itu Qiana juga ramah hingga membuat kaum Adam pun berlomba mendekatinya hanya karena pernah disapa olehnya.


Hingga suatu saat Izar berpapasan dengan Qiana saat tengah berjalan menuju parkiran. Qiana nampak tergesa-gesa melangkah sambil mencari sesuatu di dalam tasnya hingga tak sengaja menabrak Izar.


Izar nampak membulatkan matanya pertanda tak suka dengan sikap ceroboh Qiana. Izar juga merasa apa yang dilakukan gadis itu hanya modus belaka untuk mendekatinya.


“ Maaf...,” kata Qiana lirih.


“ Ck, ga usah modus Lo ya. Pake acara nabrak segala...,” kata Izar sambil berdecak sebal.


“ Maaf, modus gimana ya maksudnya...?” tanya Qiana tak mengerti.


“ Masa gitu aja ga tau. Temen-temen Gue emang bisa kerayu sama cara norak Lo itu. Tapi jangan harap Gue bakal tertarik ya, karena buat Gue Lo ga ada artinya sama sekali. Ga ada...,” kata Izar tegas hingga mengejutkan Qiana.


Qiana yang semula terlihat lembut itu pun mendadak naik pitam mendengar ucapan Izar. Ia merasa tak sedang merayu Izar hingga Izar bisa mengatainya dengan semena-mena.


“ Maaf ya Bung. Saya rasa otak Anda sedikit oleng deh. Kalo Anda punya masalah sama orang lain, jangan Saya yang dijadiin tempat pelampiasan. Lagipula tadi apa Kamu bilang, merayu, tertarik. Siapa yang lagi merayu siapa dan siapa yang tertarik sama siapa. Saya ga punya niat ngerayu Kamu apalagi untuk tertarik sama Kamu, dasar sableng...!” kata Qiana berapi-api.


Ucapan Qiana membuat Izar terkejut sekaligus malu. Apalagi beberapa teman mahasiswa juga datang mendekat untuk melerai pertengkarannya dengan Qiana.

__ADS_1


“ Kenapa Bro...?” tanya teman Izar yang bernama Agung..


“ Gapapa, salah paham aja kok...,” sahut Izar salah tingkah.


“ Masa sih, salah paham kok sama Qiana. Ada apa Qi...?” tanya Agung sambil menatap Izar dan Qiana bergantian.


“ Oh, jadi ini temen Lo ya Gung. Tolong bilang sama dia ga usah mengkhayal ketinggian. Ntar kalo jatoh, rasanya tuh sakit banget...,” sahut Qiana sambil berlalu.


“ Apa maksudnya tuh. Lo ngomong apaan sih Zar sama dia...?” tanya Agung penasaran.


“ Ga ada...,” sahut Izar cepat.


“ Mustahil. Kalo ga ada omongan dari Lo yang bikin dia marah, mana mungkin Qiana ngambek kaya gitu Zar...,”


kata Agung tak percaya.


“ Terserah Lo deh mau percaya atau ga. Gue cabut dulu ya...,” pamit Izar sambil melajukan motornya meninggalkan


Agung dan Qiana di parkiran kampus.


Izar tersadar dari lamunannya saat sebuah tepukan mampir di pundaknya. Ia menoleh dan mendapati Iyaz tengah


“ Hei, kok malah melamun di sini sih. Ditungguin Bunda tuh...,” tegur Iyaz.


“ Oh iya, ini juga mau ke sana kok...,” sahut Izar sambil bergegas melangkah menuju loby perusahaan.


“ Aneh banget sih tuh Anak. Tumben-tumbenan ga fokus kaya gitu...,” gumam Iyaz sambil menggelengkan


kepalanya.


“ Mungkin Izar capek Mas. Kan baru aja selesai menguras tenaga saat bertanding tadi...,” kata Nuara mengingatkan.


“ Iya juga sih. Yuk Kita ke lapangan volly.  Aku dengar pertandingan kali ini team kantor Kita lawan ‘musuh bebuyutan’ dari Bank X ya, wah pasti seru tuh...,” ajak Iyaz sambil mengulurkan tangannya.


“ Ok Mas...,” sahut Nuara sambil meraih tangan Iyaz yang terulur kearahnya.


Lalu keduanya pun berjalan sambil bergandengan tangan menuju lapangan volly. Saat tiba di sana ternyata team lawan berhasil menambah angka hingga team dari perusahaan Erik pun terpaksa harus bertekuk lutut di hadapan team lawan.

__ADS_1


“ Kayanya seru banget Mas, sayang Kita terlambat ngeliatnya...,” kata Nuara sedikit kecewa.


“ Gapapa. Masih ada babak selanjutnya kan abis ini...,” sahut Iyaz menenangkan istrinya.


“ Masa sih. Kapan...?” tanya Nuara.


“ Kapan-kapan...,” sahut Iyaz sambil tertawa hingga membuat Nuara melengos kesal.


Sedangkan team Bank X nampak istirahat di pinggir lapangan sambil berbincang akrab dengan para karyawan.


Diantara mereka terlihat Boy yang berdiri di samping Qiana dengan tatapan mendamba. Sejak tadi Boy terus menatap Qiana dan berharap Qiana mau menyapanya.


“ Jangan kelewatan lah Qi, masa ada cowok cakep di samping Lo daritadi ga Lo sapa sih...,” kata teman Qiana


mengingatkan.


“ Apaan sih Lo. Gue ga kenal kok...,” sahut Qiana setengah berbisik.


“ Iya, tapi sapa aja kan bisa. Kasian daritadi nunggu Lo tegor sampe ga kedip gitu ngeliatin Lo...,” kata teman Qiana sambil tersenyum.


“ Ck, emang salah Gue ya. Gue ga mau dibilang kegeeran atau tebar pesona cuma gara-gara Gue bersikap ramah sama cowok-cowok itu...,” kata Qiana sambil mengingat moment ketika ia ‘ditegur’ Izar beberapa tahun yang lalu di kampus.


“ Mana ada sih orang bersikap ramah sama orang lain justru dimarahin...?” tanya teman Qiana sambil tertawa.


“ Ada. Dan Gue pernah ngalamin itu dulu...,” saat Qiana cepat hingga mengejutkan temannya.


“ Itu kan dulu. Sekarang kan beda, Lo sapa aja dulu biar ga salah kaprah. Gue ga enak ngeliatnya...,” paksa sang teman.


Qiana terpaksa menuruti permintaan sang teman dengan enggan. Setelah menyapa dan berbasa-basi dengan Boy akhirnya Qiana memilih pergi melihat-lihat bazar yang di gelar di bagian samping gedung itu.


“ Mau Saya antar...?” tanya Boy dengan ramah.


“ Ga usah Mas, makasih...,” sahut Qiana sambil tersenyum.


“ Gapapa. Kebetulan Saya juga mau ke sana kok...,” kata Boy setengah memaksa.


Qiana terlihat mengalihkan tatapannya kearah lain karena risih saat Boy terus mengekorinya. Teman-teman

__ADS_1


Qiana tak bisa membantu karena Boy adalah karyawan perusahaan tempat pertandingan diadakan. Dari kejauhan sepasang mata nampak mengawasi kebersamaan Qiana dan Boy dengan tatapan tak suka.


\=====


__ADS_2