Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
205. Ngajak Kenalan


__ADS_3

Hari itu Erik sengaja mengumpulkan anak, menantu dan cucunya di rumah karena ingin membicarakan sesuatu. Saat semua berkumpul Erik mulai menyampaikan niatnya yang telah lebih dulu diketahui oleh Faiq dan Efliya.


“ Kenapa Kita kumpul kaya gini sih Opa...?” tanya Izar.


“ Iya, kayanya serius banget sih. Jadi deg-degan nih...,” kata Iyaz sambil tersenyum.


“ Duduk dulu dan dengarkan baik-baik apa yang mau Opa sampein ini ya...,” sahut Erik.


Hanako, Iyaz dan Izar saling menatap sejenak kemudian menganggukkan kepala dan duduk merapat. Saking rapatnya hingga membuat Hanako merasa sesak karena ia berada di tengah si kembar yang nampaknya sengaja mengerjainya.


“ Iiihhh..., geser dikit dong. Kenapa malah jadi Aku yang kejepit gini...,” protes Hanako hingga membuat Iyaz dan Izar tertawa.


“ Serius dikit lah Anak-anak. Opa kan mau bicara...,” kata Heru mengingatkan hingga membuat ketiganya menghentikan tingkah absurd mereka kemudian menatap Erik.


“ Begini. Opa kan punya perusahaan yang udah lumayan besar. Kalian juga tau kalo Opa ga muda lagi. Jadi maksud Opa, Kalian bertiga yang nerusin perusahaan Opa itu. Ga usah buru-buru ambil keputusan tapi tolong pikirin permintaan Opa ini ya Anak-anak...,” kata Erik singkat padat dan jelas.


Iyaz, Izar dan Hanako kembali saling menatap. Tak ada senyum di wajah mereka seperti tadi.


“ Kenapa Kami Opa...?” tanya Iyaz.


“ Lho kenapa memangnya, Kalian kan Cucu Opa. Wajar kalo Opa meminta Kalian bekerja di perusahaan keluarga kan. Nanti kalo Haikal udah besar dia uga bisa ikut bergabung di perusahaan itu...,” sahut Erik sambil tersenyum.


“ Opa kan bilang kalo Kalian bisa mikir dulu. Tapi ga ada salahnya dicoba. Kalian ga usah khawatir, Opa bakal terus mengawasi kinerja Kalian nantinya...,” kata Faiq mencoba menenangkan Iyaz, Izar dan Hanako.


“ Oh gitu...,” kata Izar sambil menghela nafas lega karena tak harus langsung menjabat posisi penting di perusahaan milik sang opa.


“ Kalo Aku insya Allah ga keberatan Yah...,” sahut Iyaz.


“ Aku juga sih, tapi Aku harus ngurus pengunduran diriku dulu dari perusahaan tempatku kerja sekarang kan Pa. Dan kayanya butuh waktu agak lama tuh...,” kata Hanako bingung.


“ Gapapa, Kamu urus dulu pengunduran dirimu baik-baik baru ikut bergabung sama Iyaz. Kalo Kamu gimana Zar...?” tanya Erik.


“ Insya Allah Aku juga siap Opa. Tapi Aku minta waktu buat ngurus proyek yang lagi Aku kerjain itu sampe selesai. Boleh kan Opa...?” tanya Izar hati-hati.


“ Tentu Nak. Selesaikan pekerjaan yang jadi tanggung jawabmu itu lalu Kamu bisa gabung di perusahaan Kita...,” sahut Erik sambil tersenyum.


“ Makasih Opa...,” kata Izar.

__ADS_1


“ Sama-sama Nak. Kalo gitu cari waktu luang supaya Kalian bisa datang ke perusahaan Opa dan mengenali lingkungan kerja di sana sebelum Kalian benar-benar terjun di dalamnya...,” pinta Erik.


“ Mmm..., gimana kalo weekend Opa...?” tanya Iyaz yang diangguki Izar dan Hanako.


“ Boleh...,” sahut Erik.


Faiq dan Efliya nampak tersenyum melihat anak-anak mereka bersedia memenuhi permintaan sang papa. Sedangkan Shera dan Heru nampak mendukung keputusan anak-anak mereka. Farah dan Erik adalah orang yang paling bahagia karena bisa mewujudkan impian mereka yaitu membawa cucu mereka ke dalam lingkaran bisnis keluarga yang telah menopang perekonomian keluarga mereka selama ini.


\=====


Hanako sedang melangkah keluar dari kantor saat ponselnya berdering. Hanako nampak tersenyum saat melihat nama yang terpampang di layar ponselnya. Ia pun menerima panggilan itu dengan jantung yang berdetak lebih cepat.


“ Assalamualaikum...,” sapa Hanako.


“ Wa alaikumsalam Eisha. Kamu dimana...?” tanya pria di sebrang telephon yang dikenali Hanako.


“ Aku baru mau keluar dari kantor Mas. Kenapa...?” tanya Hanako.


“ Aku jemput ya, kebetulan Aku lagi off nih...,” kata pria itu.


“ Tapi Aku kangen banget sama Kamu Sha. Ketemuan yuk...,” kata pria itu.


“ Mmm..., besok aja ya Mas. Aku capek banget hari ini...,” sahut Hanako.


“ Gitu ya. Ok deh, met istirahat ya cantiikk...,” kata pria di seberang telephon hingga membuat wajah Hanako bersemu merah.


“ lya, makasih Mas. Assalamualaikum...,” kata Hanako di akhir kalimatnya sebelum mengakhiri percakapan via telephon itu.


“ Wa alaikumsalam...,” sahut pria di sebrang sana sambil tersenyum.


Pria bernama Pandu itu nampak menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Setelah lama mengejar Hanako akhirnya ia bisa dekat dengan gadis itu. Tapi sayangnya Hanako masih bersikap jinak-jinak merpati seolah enggan menyambut cintanya.


Pandu mengenal Hanako saat ia menjemput adiknya yang kebetulan bekerja di kantor yang sama dengan Hanako. Saat pertama kali melihat Hanako Pandu langsung tertarik. Ia pun mencoba mencari informasi tentang Hanako melalui sang adik.


“ Cewek itu namanya siapa Ta...?” tanya Pandu pada Pita sang adik.


“ Oh itu, namanya Hanako. Cantik ya Mas...,” sahut Pita.

__ADS_1


“ Banget. Masih single atau udah doble...?” tanya Pandu lagi.


“ Single Mas. Tapi jangan macam-macam ya sama dia. Hanako itu galak dan ga mempan sama rayuan gombal...,” sahut Pita.


“ Siapa yang mau ngerayu dia sih Ta. Aku mau jadin dia Istriku kok...,” sahut Pandu.


“ Jangan ngaco deh Mas. Udah buruan jalan...,” kata Pita sambil menepuk pundak sang kakak.


Pandu tertawa lalu melajukan motornya menembus jalan raya yang padat sore itu.


Sejak pertama kali melihat Hanako, Pandu semakin sering menjemput Pita jika dia kebetulan sedang off dari tugasnya sebagai abdi negara. Seperti yang pernah Pita ucapkan, Hanako memang sulit didekati. Meski pun begitu tak menyurutkan niat Pandu untuk menyuntingnya suatu hari nanti.


Kesempatan untuk bertemu dan melihat Hanako memang terbuka lebar. Sayangnya jalan untuk mengenal Hanako seolah tertutup dan sulit. Hanako bersikap dingin dan hati-hati terhadap pria di sekelilingnya. Hingga akhirnya kesempatan itu pun tiba. Pita yang menikah dengan kekasihnya itu pun mengundang Hanako dan rekan kerja lainnya untuk hadir dalam resepsi pernikahannya.


Resepsi pernikahan yang digelar mulai jam sepuluh pagi di sebuah gedung itu berjalan lancar. Pandu yang datang


sejak pagi pun nampak mondar mandir di sekitar meja tamu dengan gelisah. Sesekali matanya menatap kearah tamu yang berseliweran seolah sedang mencari sesuatu. Akhirnya yang dinanti pun tiba dan itu membuat senyum di wajah Pandu pun terbit.


Hanako yang saat itu mengenakan gamis dan hijab berwarna biru langit terlihat anggun saat memasuki ruangan. Senyumnya mengembang saat beberapa rekan kerjanya menyapa. Kemudian Hanako melangkah masuk bersama teman-temannya.


Pandu terus mengamati Hanako hingga gadis itu berhenti di depan pintu samping dengan sepiring makanan di tangannya. Pandu tahu jika Hanako sedang mencari kursi karena ia tak terbiasa makan sambil berdiri. Hanako pun duduk di teras samping dengan santai seorang diri sambil menyantap makanan yang ada di piring. Melihat hal itu Pandu pun mendekat dan langsung menyapa Hanako.


“ Kok sendirian...?” tanya Pandu ramah.


“ Ga, banyak orang kok. Tuh liat aja...,” sahut Hanako sambil menatap ke sekelilingnya.


Pandu tertawa mendengar jawaban Hanako sedangkan Hanako terlihat cuek dan melanjutkan makannya tanpa merasa risih.


“ Saya Pandu...,” kata Pandu mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri.


“ Iya...,” sahut Hanako cepat tanpa menyambut uluran tangan Pandu.


“ Cuma iya...?” tanya Pandu sambil menatap Hanako intens.


“ Maaf, Saya ga biasa salaman sama laki-laki yang bukan muhrim Saya...,” sahut Hanako sambil berdiri lalu meninggalkan Pandu begitu saja hingga membuat Pandu menggelengkan kepalanya.


\=====

__ADS_1


__ADS_2