Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
250. Datang Lagi


__ADS_3

Beberapa bulan setelah kematian Jaya dan Boril.


Kini keadaan Obi pun mulai stabil. Obi tinggal bersama kakek dan neneknya yang merupakan orang tua kandung Boril. Obi bahagia karena mendapatkan kasih sayang yang tulus dari kakek dan neneknya itu.


Meski pun kedua orangtua Boril tak menyukai Lita, namun mereka tak bisa membenci Obi. Mereka menebus semua kesalahan mereka yang tak merestui pernikahan Boril dan Lita dengan cara mengasuh dan membesarkan Obi di rumah mereka. Sedangkan rumah milik Boril disewakan dan uangnya disimpan untuk membantu biaya pendidikan Obi nantinya.


Siang itu matahari tengah bersinar terik. Seorang wanita nampak berjalan tertatih-tatih menuju rumah milik Boril


yang kini telah disewakan itu. Wanita yang tak lain adalah Lita itu mengetuk pintu beberapa kali dan tak lama kemudian seorang wanita berhijab terlihat membuka pintu.


“ Iya, cari siapa Mbak...?” tanya wanita berhijab itu santun hingga mengejutkan Lita.


“ Kamu siapa, mana Obi...?” tanya Lita sambil mengintip ke dalam rumah melalui celah pintu.


“ Obi siapa ya Mbak...?” tanya wanita berhijab itu tak mengerti sambil mencoba merapatkan pintu karena curiga melihat gerak-gerik Lita.


“ Obi anak Saya yang tinggal di sini, masa Kamu ga kenal sih...,” sahut Lita gusar.


“ Saya ga kenal Obi. Tolong jangan bikin ulah di sini ya Mbak. Kalo Mbak kaya gini saya bisa aja teriak manggil tetangga...,” ancam wanita berhijab itu.


Lita pun menciut lalu mundur teratur. Ia manatap ke sekelilingnya dan melihat para tetangga yang mulai bermunculan dari dalam rumah masing-masing. Lita tak mau ambil pusing dan bertanya lagi tentang Obi.


“ Ngapain Kamu cari Obi sekarang...?” tanya seorang warga ketus.


“ Obi kan Anak Saya, jadi wajar kalo Saya nyariin dia...,” sahut Lita cuek.


Tiba-tiba suara seorang wanita memecah kerumunan warga hingga membuat semua orang menoleh kearahnya.


“ Setelah apa yang Kamu lakukan sama Obi dan Boril, Kamu masih punya muka ke sini...?!” tanya istri ketua RT lantang dengan mata yang menatap tajam kearah Lita.


“ Ini urusan Saya Bu, tolong ga usah ikut campur...,” pinta Lita.


“ Aku ga akan ikut campur kalo Kamu memperlakukan Obi dengan baik. Asal Kamu tau ya, sejak Kamu menelantarkan Obi dan sering meninggalkan dia di luar rumah dalam keadaan lapar dan kedinginan, sejak saat itu lah Obi menjadi urusan Saya dan warga di sini...!” kata istri ketua RT dengan galak.


“ Betul Bu RT...!” kata beberapa warga dengan lantang hingga membuat nyali Lita makin ciut.

__ADS_1


“ Katakan untuk apa Kamu mencari Obi...?” tanya istri ketua RT lagi.


“ Saya kangen Bu...,” sahut Lita sambil meremas jemari tangannya.


“ Kangen, yakin...?” tanya salah satu warga dengan sinis.


“ Kalian nih kenapa sih. Saya kan Ibunya Obi, jadi wajar Saya kangen sama Anak Saya dan mau ketemu sama dia...,” sahut Lita dengan wajah menghiba.


“ Tapi Obi udah ga tinggal di sini. Dia tinggal bersama Kakek dan Neneknya di rumah mereka...,” kata salah seorang warga.


“ Lalu rumah ini...?” tanya Lita tak mengerti.


“ Kenapa Kamu tanya tentang rumah ini...?” tanya istri ketua RT curiga.


“ Mmm..., maksud Saya status rumah ini gimana...?” tanya Lita.


“ Rumah ini milik Obi. Rumah ini udah disewakan kepada Pak Rustam dan keluarganya hingga beberapa tahun ke depan. Dan uangnya disimpan untuk biaya pendidikan Obi nanti...,” sahut istri ketua RT dengan tegas.


Mendengar jawaban wanita di depannya membuat Lita kesal. Sesungguhnya kepulangan Lita kali ini karena dia berharap bisa mengambil keuntungan dari rumah warisan suaminya itu. Sayangnya Lita terlambat.


“ Oh gapapa. Itu juga bagus kok. Terus dimana Saya bisa nemuin Obi...?” tanya Lita.


“ Pertanyaanmu aneh Lita. Tentu saja di rumah Mertuamu itu lah, mau dimana lagi memangnya. Atau jangan-jangan Kamu juga ga tau dimana rumah orangtua Boril yang juga mertuamu itu Lita...?” tanya warga sambil menatap Lita dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan curiga.


“ Saya tau kok...,” sahut Lita cepat sambil bergegas pergi dari tempat itu tanpa permisi.


Warga yang kesal pun hampir menghakimi Lita namun masih bisa dicegah oleh istri ketua RT.


“ Jangan, ga usah. Dia juga ga bakal berani nemuin Obi setelah apa yang dia lakukan sama Obi...,” kata istri ketua RT sambil tersenyum.


“ Saya kesel liat tingkahnya itu Bu RT. Kaya orang ga punya dosa aja...,” gerutu salah satu warga hingga membuat warga yang lain tertawa.


Kemudian istri ketua RT itu pun mendekat kearah istri Rustam untuk memastikan jika wanita itu dalam keadaan aman.


“ Apa Bu Rustam baik-baik aja...?” tanya istri ketua RT sambil menatap bu Rustam dengan lekat.

__ADS_1


“ Alhamdulillah Saya gapapa kok Bu, makasih...,” sahut bu Rustam.


“ Bagus lah kalo gitu. Bu Rustam ga usah khawatir ya. Dia hanya wanita yang suka cari sensasi dan ga bakal berani balik lagi ke sini...,” kata istri ketua RT yang diangguki bu Rustam.


“ Baik lah, makasih sekali lagi ya Ibu-ibu dan Bapak-bapak...,” kata bu Rustam sambil tersenyum dan menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


“ sama-sama Bu Rustam. Ga usah sungkan minta bantuan kalo memang diperlukan...,” sahut warga hingga membuat istri Rustam mengangguk.


Tak lama kemudian warga pun menyingkir dari depan rumah Boril yang kini disewa oleh keluarga Rustam itu.


\=====


Lita masih berdiri di depan gang dengan wajah yang kebingungan. Lita nampak berdiri sambil menatap kendaraan yang melintas di depannya itu dengan tatapan tak terbaca.


“ Sia*an, kemana Gue harus pergi sekarang. Gue ga punya uang dan tempat tinggal lagi. Gue kira bisa memanfaatkan Obi dan bisa tinggal sama dia. Tapi ternyata Anak itu udah dibawa pergi sama Kakek dan Neneknya yang norak itu...,” gerutu Lita sambil mengepalkan tangannya.


Lita memang berniat memanfaatkan keluguan Obi dengan berpura-pura tinggal bersamanya dan menjual rumah itu


diam-diam. Rupanya Lita sadar jika ia tak memiliki hak apa pun atas rumah peninggalan Boril karena rumah itu telah lebih dulu dihibahkan oleh Boril untuk anaknya.


Lita terpaksa kembali karena ia tak memiliki uang dan tempat tinggal. Lita kesepian dan merasa terusir setelah teman pria yang selama ini menjadi tempatnya bergantung pun akan menikah dengan wanita lain karena dijodohkan oleh keluarganya.


Semula Lita berharap banyak jika pria yang mengajaknya tinggal bersama itu bisa membawanya ke pelaminan. Tapi Lita salah. Pria itu tak pernah mencintai Lita. Ia hanya ingin Lita menemaninya saat ia membutuhkan seseorang untuk melampiaskan hasratnya. Pria itu berpikir, berhubungan dengan satu wanita akan lebih aman untuknya dibanding ia harus membayar perempuan malam yang pasti telah banyak berinteraksi dengan banyak pria di luar sana.


“ Kau membohongiku Roy. Kau hanya memanfaatkan Aku...!” kata Lita lantang.


“ Jangan lupa Lita, Aku juga memberimu uang dan tempat tinggal selama ini...,” sahut Roy dengan santai.


“ Tapi bukan itu yang Kumau Roy...,” sahut Lita gusar.


“ Selama ini Aku ga pernah menjanjikan kehidupan lain padamu Lita. Kita melakukannya atas dasar suka sama suka dan itu pun ga gratis. Aku selalu membayarmu dengan sejumlah uang. Sekarang Aku harus menikahi wanita pilihan keluargaku. Jadi mengerti lah. Sebaiknya segera angkat kaki dari sini karena Aku tak mau Istriku salah paham nanti...,” kata Roy tanpa perasaan.


Lita menatap Roy sejenak lalu menghela nafas panjang. Lita yakin jika keputusan Roy untuk mendepaknya dari rumah itu sudah bulat. Lita pun pergi meninggalkan rumah yang telah membuatnya mengabaikan anak dan suaminya itu dengan berat hati.


\=====

__ADS_1


__ADS_2