
Hari itu Iyaz dan teman-teman sekostnya mendapat undangan pesta ulang tahun dari anak pemilik kost. Sayangnya Iyaz tak bisa hadir karena saat itu sedang flu berat.
“ Salam aja ya buat Gibran...,” kata Iyaz.
“ Iya. Gapapa nih Lo tinggal sendirian di rumah...?” tanya Rocky yang berasal dari Singapura dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata.
“ Gapapa Kok...,” sahut Iyaz sambil tersenyum.
“ Kalo ada apa-apa hubungin Gue aja ya Yaz...,” pesan Idris yang berasal dari Garut itu.
“ Insya Allah ga ada pa-apa. Udah buruan pergi sana...,” sahut Iyaz sambil menepuk punggung Idris dan Rocki bersamaan.
Rocki dan Idris pun tersenyum lalu keluar dari rumah sambil tertawa diantar Iyaz hingga ke pintu rumah.
\=====
Setelah makan dan minum obat Iyaz memutuskan istirahat di kamar dan tidur agar bisa segera pulih. Saat membuka matanya Iyaz merasa tubuhnya sangat berkeringat hingga membuatnya pergi ke kamar mandi untuk membasuh tubuhnya dengan air hangat.
“ Alhamdulillah udah ga demam lagi...,” gumam Iyaz sambil menyentuh keningnya dengan punggung tangannya sendiri.
Kemudian Iyaz melangkah keluar kamar untuk mencari udara segar. Saat pergi ke teras rumah dilihatnya cuaca mendung dan gerismis pun turun. Iyaz mengurungkan niatnya duduk di teras karena tak ingin kembali sakit jika terkena udara dingin. Iyaz pun beralih ke ruang tengah dan duduk di atas sofa sambil menonton televisi.
Merasa jenuh dengan acara yang ditayangkan stasiun televisi lokal, membuat Iyaz mengalihkan channel televisi
ke saluran internasional namun toh sama saja. Iyaz tetap merasa jenuh. Akhirnya Iyaz kembali ke kamar dan memutuskan merapikan kamarnya.
Saat sedang asyik membereskan kamarnya, tiba-tiba Iyaz dikejutkan oleh suara gaduh dari ruang tengah. Iyaz mengerutkan keningnya lalu tersenyum karena mengira teman-temannya telah kembali.
__ADS_1
“ Kalian udah pulang, gimana pestanya...?” tanya Iyaz sambil membuka pintu kamar.
Sepi tak ada sahutan. Iyaz mematung sesaat karena tak melihat siapa pun di ruangan tengah. Iyaz tersenyum tipis lalu kembali menutup pintu kamar karena tahu jika itu hanya ‘gangguan kecil’ dari makhluk astral yang mendiami tempat itu.
Namun pintu kamar belum lagi menutup sempurna saat suara gaduh itu kembali bahkan disertai jatuhnya guci besar yang ada di sudut ruangan. Beruntungnya guci itu terbuat dari tembaga yang merupakan hadiah dari salah seorang penghuni kost untuk pemilik kost.
“ Jadi apa maumu sekarang...?” tanya Iyaz dengan sabar sambil melangkah menghampiri guci.
Iyaz meraih guci besar itu lalu meletakkannya kembali di tempat semula. Kedua matanya menatap lekat kearah pojok ruangan tempat guci itu berdiri sebelumnya. Di sana Iyaz melihat penampakan sosok makhluk astral berwujud wanita dengan gaun pink lusuh.
Wanita dengan rambut tergerai itu nampak menundukkan wajahnya seolah takut saat Iyaz mengetahui tempat persembunyiannya. Iyaz meletakkan guci itu dengan hati-hati lalu duduk di sofa tak jauh dari guci itu seolah menunggu hantu wanita itu bicara.
“ Kalo Kamu ga mau cerita apa pun sekarang, lebih baik Kamu pergi. Ga baik di sini untukmu karena Kami di sini semua laki-laki...,” kata Iyaz.
Hantu wanita itu mendongakkan wajahnya lalu melayang mendekati Iyaz. Sejenak mereka saling menatap dan saat itu lah Iyaz bisa melihat masa lalu gadis itu.
Ayah Marwah hanya seorang buruh di pabrik sabun yang berpenghasilan kecil. Sedangkan ibunya membantu sang
suami dengan bekerja sebagai asisten rumah tangga di sebuah rumah milik keluarga kaya di kota itu. Dua adik Marwah pun terpaksa putus sekolah karena ketiadaan biaya. Semula Marwah ingin membantu kedua orangtuanya dengan bekerja. Namun saat ia menerima beasiswa, kedua orangtua Marwah pun memintanya kuliah.
Marwah memutuskan menggunakan fasilitas dari kampus berupa tempat tinggal sementara hingga lulus kuliah karena letak rumah yang jauh dari kampus. Hampir dua jam perjalanan harus ditempuh Marwah untuk tiba di kampus dengan bus kota. Setelah tinggal di rumah kost, Marwah dapat menghemat pengeluaran dan menggunakannya untuk hal yang lebih penting nanti.
Hingga peristiwa naas itu terjadi. Tubuh Marwah ditemukan di dalam kamar oleh teman sekamarnya yang bernama
Raqiya. Saat ditemukan tubuh Marwah mengenakan gaun pink. Tubuh Marwah diletakkan di atas tempat tidur dalam posisi tertidur dan berselimut. Teman sekamar Marwah pun tak menyadari jika malam itu ia tidur bersama mayat di kamar yang sama.
Pagi itu seperti biasa Raqiya menyapa Marwah saat hendak ke kamar mandi.
__ADS_1
“ Kamu ga mau ke kampus Marwah, bukannya hari ini dosen killermu itu yang mengajar...?!” tanya Raqiya sambil melangkah ke dalam kamar mandi.
Setelah mandi dan mengganti pakaian, Raqiya pun kembali ke kamar lalu menyisir rambutnya di depan cermin.
“ Masih tidur Mar. Ga kuliah ya...?” tanya Raqiya lagi namun tak ada jawaban.
Raqiya mematut diri sambil sesekali melirik Marwah yang tak bergeming di atas tempat tidurnya. Saat Raqiya memoleskan liptint di bibirnya ia pun sadar jika posisi selimut Marwah masih sama sejak semalam. Raqiya pun menoleh lalu menatap tubuh Marwah lekat.
“ Kok, ga bergerak sama sekali. Jangan-jangan itu cuma guling ya...,” gumam Raqiya sambil mendekati Marwah lalu menarik selimut Marwah.
Saat melihat tubuh Marwah di balik selimut membuat Raqiya terkejut, apalagi ada darah di sela hidung, bibir dan telinga Marwah. Wajah Marwah pun terlihat membiru dan bengkak seolah baru saja mengalami penganiayaan. Sontak Raqiya menjerit hingga mengejutkan semua penghuni kost.
Pemilik kost pun segera menghubungi polisi dan dalam sekejap rumah kost itu ramai didatangi polisi, petugas medis dan wartawan.
Karena shock Raqiya pun diungsikan ke tempat lain untuk sementara waktu. Apalagi saat petugas medis mengatakan jika Marwah diduga meninggal sejak sebelas jam yang lalu. Itu artinya semalaman Raqiya tidur sekamar dengan mayat !.
Orangtua Marwah yang tinggal di kota lain pun dihubungi oleh pihak kepolisian. Mereka nampak sangat terpukul saat mengetahui anak yang menjadi tumpuan harapan mereka meninggal dengan cara mengenaskan.
Polisi mulai menginterogasi semua teman sekost Marwah termasuk Raqiya. Namun tak ada petunjuk siapa yang terakhir bersama Marwah dan apa motif pembunuhan Marwah. Polisi hanya menemukan secarik surat di laci meja belajar Marwah yang menyatakan jika Marwah merasa lelah, jenuh dan ingin berhenti. Dalam kertas itu juga tertulis kalimat permohonan maaf Marwah pada semua orang yang disayanginya.
Setelah melakukan penyelidikan intensif, polisi tak juga berhasil menemukan pembunuh Marwah. Kemudian kasus Marwah ditutup. Setelah belasan tahun berlalu kini Marwah kembali datang dan minta agar pembunuhnya ditangkap. Nampaknya Marwah tak rela jika orang-orang yang telah membuatnya meninggal dunia hidup bebas tanpa menanggung rasa bersalah apalagi mendapatkan hukuman yang layak.
Iyaz menghela nafas panjang sambil memejamkan matanya. Kondisi tubuhnya sedang tak sehat sedangkan hantu Marwah butuh bantuannya.
“ Insya Allah Aku bantu Kamu. Tapi ga sekarang ya, Aku lagi ga sehat. Makanya Aku jadi kurang peka sama kehadiranmu. Padahal keluargaku di Indonesia sudah melihat kehadiranmu kemarin. Kasih aku waktu untuk menemukan siapa pembunuhmu itu. Tapi sampe Aku nemun pembunuhnya, Aku minta jangan mengganggu yang lain...,” kata Iyaz yang diangguki hantu Marwah.
Setelah mendengar janji Iyaz, hantu Marwah pun melayang pergi kembali ke sudut tempat guci tembaga itu berada.
__ADS_1
\=====