
Viona mengedarkan pandangannya di kantin yang luas itu seolah sedang mencari seseorang. Saat tatapan matanya membentur sosok yang ia cari, senyum pun nampak menghias wajahnya. Kemudian Viona bergegas menghampiri dan menggamit tangan Hanako saat melihatnya duduk di salah satu sudut di kantin kantor. Hanako yang saat itu tengah menikmati makan siangnya bersama Laras dan Fera pun terkejut namun mengikuti langkah kaki Viona tanpa perlawanan.
“ Ada apa Bu...?” tanya Hanako sambil mengusap bibirnya dengan tissu.
“ Ini gawat Hanako...,” sahut Viona.
“ Gawat apa ya Bu...?” tanya Hanako.
“ Mmm..., apa Kamu masuk ke toilet tadi...?” tanya Viona.
“ Toilet yang di dalam ruangan kerja Saya Bu...?” tanya Hanako.
“ Iya...,” sahut Viona.
“ Masuk tapi cuma sebentar. Saya keluar lagi karena kran airnya ga ngalir waktu Saya mau wudhu. Terus Saya masuk ke toilet dekat lift tadi dan buang hajat juga wudhu di sana. Kenapa Bu...?” tanya Hanako tak mengerti.
“ Syukur lah. Saya lupa mau ngingetin Kamu supaya ga pake toilet itu tadi...,” kata Viona sambil menghela nafas lega.
“ Emangnya kenapa Bu...?” ulang Hanako.
“ Pokoknya jangan sampe melakukan kegiatan pribadi di toilet itu ya Hanako. Ada kamera CCTV yang tersambung ke lap topnya Pak Suraj...,” kata Viona sambil berbisik.
“ Ya Allah, masa sih Bu...?” tanya Hanako tak percaya.
“ Iya. Saya udah lama tau soal ini. Biasanya Saya ga mau ambil pusing karena bukan Saya yang diawasi sama dia. Tapi Saya kok ga rela ya kalo Pak Suraj ngelakuin itu sama Kamu...,” sahut Viona sambil menatap lembut kearah Hanako.
“ Jadi selama ini karyawati sebelum Saya diawasi sampe ke dalam toilet Bu. Saya kira kamera CCTV itu hanya ada di ruang kerja aja...,” kata Hanako gusar.
“ Kamu tau kalo ada kamera CCTV di sana...?” tanya Viona kagum.
“ Iya Bu. Tapi Saya ga tau kalo kamera itu tersambung ke lap top pribadinya Pak Suraj. Saya kira itu tersambung ke sistem keamanan perusahaan...,” sahut Hanako.
“ Saya juga ga ngerti kenapa Pak Suraj melakukan itu. Karena dia juga memecat karyawan sebelum Kamu berdasarkan pengamatannya melalui kamera CCTV itu. Saya ga tau apa yang dia cari, tapi Saya mau Kamu berhati-hati ya Hanako. Kamu gadis yang baik dan Saya ga rela Kamu jadi korbannya...,” kata Viona sambil mengusap lengan Hanako hingga membuat kening Hanako berkerut saat mendengar kata ‘korban’.
“ Makasih ya Bu. Saya senang karena Ibu membantu melindungi Saya...,” kata Hanako terharu.
__ADS_1
“ Sama-sama Hanako. Tapi tolong rahasiakan tentang ini ya...,” pinta Viona sambil tersenyum.
“ Iya Bu. Tapi apa Pak Suraj ga curiga sama Kita nanti...?” tanya Hanako.
“ Pasti, tapi gapapa. Kita bisa siasatin itu nanti. Yang penting Kamu aman dulu sekarang...,” sahut Viona sambil mengamati sekelilingnya.
Setelah mengatakan hal itu Viona pun meninggalkan Hanako begitu saja. Hanako pun kembali ke meja dimana Laras dan Fera sedang menunggu sambil menyantap makanannya.
“ Ada apaan Han...?” tanya Laras.
“ Ga ada apa-apa. Cuma mau ngingetin tugas buat nanti aja...,” sahut Hanako.
“ Sepenting itu sampe ngomongnya aja harus jauh-jauh dari Kita...,” kata Fera sambil mencibir.
“ Mau gimana lagi, kan Lo tau sendiri Pak Suraj kaya gimana orangnya. Bu Viona ga mau disalahin nanti...,” sahut Hanako asal sambil melanjutkan makan siangnya.
Fera dan Laras saling menatap mendengar jawaban Hanako lalu melanjutkan makan mereka seolah tak ingin ikut campur.
\=====
“ Gimana pekerjaanmu hari ini Kak...?” tanya Efliya sambil mengusap punggung Hanako dengan lembut.
“ Alhamdulillah lancar Bun...,” sahut Hanako.
“ Yakin, kok mukanya kaya gitu...?” gurau Efliya,
“ Yakin Bun...,” sahut Hanako sambil menggigit bibirnya karena ragu ingin menceritakan apa yang dialaminya hari ini.
Efliya tak memaksa karena yakin jika Hanako masih perlu waktu untuk menceritakan semua keluhannya nanti. Tak
lama kemudian Heru nampak memasuki rumah. Efliya pun tersenyum menyambut sang suami. Setelahnya Heru mencuci tangan di wastafel lalu duduk di samping Hanako setelah sebelumnya mengacak rambut Haikal dengan gemas.
“ Kenapa Kak, kok lesu banget keliatannya...?” tanya Heru.
“ Tau tuh Yah. Kaya ada masalah tapi ragu-ragu mau nyeritainnya...,” sahut Efliya sambil meletakkan secangkir kopi di hadapan Heru.
__ADS_1
“ Masalah apa Nak...?” tanya Heru.
“ Mmm..., kalo Aku mutusin berhenti kerja gimana Yah...?” tanya Hanako.
“ Lho kenapa memangnya...?” tanya Heru dan Efliya bersamaan.
“ Tempat kerjanya ga enak Yah. Bosnya juga sakit jiwa...,” sahut Hanako kesal hingga membuat Heru dan Efliya saling menatap bingung.
“ Sakit jiwa, ga mungkin dong Kak. Kalo orang sakit jiwa ga bakalan dia ada di tempat sebesar itu dan menjabat posisi penting seperti itu selama bertahun-tahun...,” kata Efliya yang tahu jika anaknya sedang membicarakan Suraj.
“ Tapi itu kenyataan Bun. Hari ini aja Aku diintai pake kamera CCTV selama kerja. Hanya Aku Bun yang lainnya ga.
Aku kirain kamera CCTV cuma ada di ruang kerja aja, ga taunya sampe toilet segala. Bayangin kalo ada yang ngeliat apa yang Kita lakuin di toilet Bun. Masa dia juga mau ngeliat saat Aku pipis atau pup gitu, atau saat Aku buka hijab karena mau berwudhu. Itu kan ga beres namanya...,” sahut Hanako kesal.
“ Itu kriminal namanya Nak. Bisa lapor sama pihak yang berwenang misalnya bagian keamanan perusahaan. Pasti mereka bakal menindak lanjuti dan menangkap pelakunya...,” kata Heru.
“ Tapi sayangnya kamera CCTV itu nyambungnya ke lap top pribadinya Pak Suraj Yah. Gimana security mau negur dia, yang ada mereka yang langsung dipecat sama Pak Suraj karena mencoba mengganggu kesenangannya. Apalagi dia memegang data karyawan dan tau bagaimana cara menggunakannya...,” sahut Hanako gusar.
“ Oh jadi ini tentang si Suraj itu...?” tanya Heru seolah baru tersadar dengan apa yang dibicarakan anaknya sejak tadi.
“ lya Yah, emangnya menurut Ayah daritadi Kita ngebahas siapa...?” tanya Hanako sambil cemberut.
Heru dan Efliya saling menatap kemudian tersenyum. Sesaat kemudian Heru pun mengusap kepala Hanako dengan sayang.
“ Kalo kondisinya bikin Kamu ga nyaman, Kamu boleh kok berhenti kerja. Tapi apa Kamu ga mau pikir-pikir lagi Nak. Kamu bisa sampe di sana dan kerja di sana harus melalui perjuangan yang lumayan sulit. Setelah mengalahkan puluhan pesaingmu hari itu, akhirnya Kamu dan tujuh orang lainnya terpilih jadi karyawan di sana. Lagipula Kamu bilang ada sosok hantu wanita yang keliatannya membutuhkan bantuanmu. Saran Ayah, bertahan sebentar lagi lalu bongkar semua kebusukan atasanmu itu, sekaligus Kamu punya waktu untuk membantu hantu wanita itu. Gimana...?” tanya Heru.
“ Kenapa harus Aku yang ngebongkar kebusukannya Pak Suraj Yah...?” tanya Hanako sedikit keberatan.
“ Supaya ga ada korban lagi setelah Kamu...,” sahut Heru sambil melangkah ke kamar.
Hanako tersentak dan tersadar jika masih akan banyak wanita lain yang akan menjadi korban jika dia tak segera bertindak.
“ Ok, Aku bakal bongkar semuanya Yah...!” kata Hanako lantang agar suaranya terdengar oleh sang ayah yang sudah berada di kamar.
“ Bagus. Itu baru namanya Anak Ayah...!” puji Heru sambil mengacungkan jempolnya dari balik pintu hingga membuat Hanako tersenyum bangga.
__ADS_1
\=====