
Sementara itu di tempat lain terlihat Putri tengah merenung di kamarnya. Usai bertemu Pandu dan keluarganya di pemakaman sang kakek membuat Putri gelisah.
Putri ingat jika kakeknya dan kakek Pandu pernah mengatur perjodohan untuknya dan Pandu. Sayangnya karena ulah Putri, perjodohan mereka berakhir dengan kemarahan di pihak keluarga Pandu.
Kemudian Putri datang menemui keluarga besar Pandu ditemani kakek, nenek dan kedua orangtuanya untuk minta maaf. Saat itu Putri mengatakan jika dia belum siap menikah karena dia masih ingin melanjutkan pendidikan setelah lulus SMA.
Mendengar ucapan Putri membuat keluarga Pandu terdiam. Sesungguhnya mereka juga tak terlalu ingin berbesanan dengan keluarga kek Pardi. Apalagi Pandu yang dijodohkan dengan Putri pun belum pernah setuju dengan perjodohan itu. Orangtua Pandu pun menganggap jika perjodohan itu hanya gurauan kedua kakek yang memang bersahabat sejak jaman perang dulu.
“ Ini hanya salah paham. Lupakan dan anggap tak pernah terjadi apa pun...,” kata ayah Pandu bijak.
“ Makasih Om...,” sahut Putri sambil tersenyum.
“ Apa Pandu juga bisa melupakan semuanya...?” tanya ibu Putri sambil menatap Pandu lekat.
“ Insya Allah bisa Tante. Seperti yang Ayah bilang, lupakan dan anggap tak pernah terjadi apa pun...,” sahut Pandu tegas yang diangguki sang ayah.
Jawaban Pandu membuat kek Pardi tersenyum. Ia memang mengagumi Pandu dan ingin menjadikannya menantu. Sayangnya Putri menolak ditambah ia juga membuat sedikit masalah dengan keluarga Pandu sehingga kesempatan untuk menjadikan Pandu menantu bak panggang jauh dari api.
Setelah pertemuan keluarga itu hubungan keluarga kek Pardi dengan keluarga kakek Pandu tetap harmonis. Hingga akhirnya kakek Pandu meninggal dunia, disusul kek Pardi beberapa bulan kemudian.
Keduanya dimakamkan di taman makam pahlawan karena jasa besar mereka kepada negara. Meski pun letaknya berjauhan, namun kedua keluarga akan saling menziarahi makam jika sedang berkunjung ke sana.
Sejak kakeknya meninggal dunia Pandu tak pernah lagi datang ke kampung halaman sang ayah karena dia harus menyelesaikan pendidikannya. Putri pun mendapat kabar jika Pandu menjadi pilot. Mendengar kabar itu membuat Putri penasaran dan mencoba mencari tahu kabar Pandu melalui dunia maya. Di sana Putri menemukan sosok Pandu yang jauh berbeda, lebih dewasa, berwibawa dan pasti lebih tampan.
Melihat sosok Pandu sekarang membuat Putri menyesali keputusannya menolak perjodohan mereka dulu. Setelahnya Putri berusaha mendekat dengan keluarga Pandu dan berusaha menarik perhatian mereka lagi. Putri merasa jika dirinya cukup layak bersanding dengan Pandu kelak. Apalagi saat ini Putri berstatus pegawai negeri yang bekerja di sebuah instansi pemerintah.
Hingga usianya yang ke dua puluh tujuh tahun Putri masih bertahan dengan kesendiriannya karena berharap Pandu akan datang dan melanjutkan rencana perjodohan yang tertunda dulu. sayangnya impian dan harapan Putri pupus saat mengetahui Pandu telah menikah.
“ Kenapa mereka menyembunyikan semuanya dariku. Apa ini hukuman karena Aku pernah menolak Pandu dulu. Tapi kan mereka bilang akan melupakan masalah itu. Kenapa mereka ga bilang apa pun saat Aku berkunjung menemui Nenek...,” gumam Putri dengan wajah yang basah.
Putri memang rutin mengunjungi nenek Pandu untuk menjaga silaturrahim diantara kedua keluarga. Namun tujuan utama Putri adalah mencari tahu tentang kondisi Pandu saat ini. Paman dan bibi Pandu pun tak pernah tahu jika Putri memendam cinta untuk keponakan mereka itu.
“ Kesempatan emasku hilang karena kebodohanku. Aku ga bisa berbuat apa-apa sekarang. Apalagi Pandu terlihat bahagia bersama Istrinya itu...,” gumam Putri sambil menghapus air matanya.
\=====
__ADS_1
Setelah istirahat satu hari di rumah karena kelelahan, Pandu dan Hanako kembali berniat menikmati liburan mereka. Kali ini Pandu dan Hanako memutuskan membawa serta keluarga sang bibi juga nenek untuk pergi bersama mereka.
Semula nenek dan bibi Pandu menolak karena merasa sedikit aneh.
“ Mana ada orang bulan madu kok diikutin keluarganya...,” kata bibi Pandu sambil tertawa geli membayangkan lima orang mengikuti pasangan pengantin itu kemana-mana.
“ Ini bukan bulan madu Bi, tapi refreshing...,” sahut Hanako.
“ Yang ada Kami ganggu Kalian nanti...,” kata bibi Pandu di sela tawanya.
“ Ga ada yang ganggu kok. Aku cuma mau punya kenangan lebih banyak bersama keluarga Bibi dan Nenek meski pun Aku baru pertama kali ke sini. Jadi ikut ya, please...,” pinta Hanako.
Bibi Pandu menoleh kearah sang nenek untuk minta pendapat. Sang nenek hanya menggedikkan bahunya karena sulit untuk memutuskan.
“ Nenekmu pake kursi roda Nak. Bibi khawatir akan merepotkan nanti...,” kata bibi Pandu sambil menatap sendu kearah ibunya.
“ Kenapa memangnya kalo pake kursi roda. Aku sanggup kok dorong kursi roda Nenek selama perjalanan nanti...,” sahut Hanako yakin hingga membuat Bibi dan nenek Pandu tertawa.
“ Baik lah Kami ikut...,” kata bibi Pandu yang diangguki sang nenek.
“ Istriku emang hebat. Jangan salahin Aku kalo makin cinta sama Kamu ya...,” gumam Pandu sambil menatap Hanako penuh cinta.
\=====
Semua sudah siap untuk berangkat ke tempat tujuan wisata yang masih dirahasiakan oleh Doni. Sebenarnya Pandu dan Hanako bisa saja mencari tahu tentang tempat wisata menarik di Kepulauan Riau itu melalui goo*le. Tapi mereka tak melakukan itu karena ingin memberi kesempatan kepada Doni menunjukkan kepiawaiannya menjadi guide dadakan.
Mereka pun menyewa mobil dari rental dekat rumah sang bibi untuk memudahkan perjalanan mereka. Sang bibi pun tersenyum melihat cara Pandu dan Hanako memperlakukan mereka. Padahal selama dua hari berlibur Pandu dan Hanako lebih suka menikmati perjalanan dengan berganti kendaraan sesuai rute perjalanan mereka.
“ Kan Kami ga mau bikin Nenek, Bibi dan Paman capek...,” kata Hanako memberi alasan.
“ Alasan sebenernya sih mau ngerjain Doni sama Dewi Bi...,” sela Pandu hingga membuat Dewi kesal.
“ Jadi kemaren Kakak ngerjain Kami...?” tanya Dewi sambil membulatkan matanya.
“ Iya. Maaf ya Dewi...,” sahut Hanako dengan mimik lucu.
__ADS_1
“ Kakaakk...!” kata Dewi histeris hingga membuat semua orang tertawa.
Tiba-tiba tawa mereka terhenti saat terdengar sapaan dari ambang pintu pagar.
“ Assalamualaikum...,” sapa Putri.
“ Wa alaikumsalam, Putri. Mari masuk Nak...,” sambut bibi Pandu dengan ramah.
“ Wah keliatannya Aku ganggu ya Bi...,” kata Putri sambil mengamati semua orang yang tengah bersiap pergi itu.
“ Oh ini. Pandu dan Hanako ngajak Kami refreshing sambil nemenin mereka bulan madu...,” sahut bibi Pandu sambil melirik Hanako.
“ Bukan gitu Bibi...,” kata Hanako tak enak hati hingga membuat semua tertawa.
“ Ngomong-ngomong Kamu ada perlu apa ke sini Put...?” tanya bibi Pandu.
“ Oh ga, Aku cuma mau berkunjung aja kaya biasa. Kangen pengen ngobrol sama Nenek. Tapi karena Kalian mau pergi, sebaiknya Aku berkunjung lain kali...,” sahut Putri sambil melirik kearah Pandu seolah ingin memberi tahu Pandu jika selama ini ia rutin mengunjungi keluarganya.
Namun Pandu terlihat cuek dan asyik berbincang sambil tertawa dengan pamannya. Putri sedikit kecewa karena Pandu tang menganggap kehadirannya sama sekali.
Karena sadar tak bisa lagi menarik perhatian Pandu, Putri pun pamit undur diri. Hanako nampak menatap iba kearah gadis itu.
“ Kenapa Kak, cemburu ya...?” goda Dewi sambil menyenggol lengan Hanako.
“ Bukan itu Dewi. Aku kasian aja sama Putri. Kayanya dia menyesali semua sikapnya dulu...,” sahut Hanako.
“ Penyesalan yang terlambat. Tapi Aku senang karena Kak Pandu ga berjodoh sama dia...,” kata Dewi sambil masuk ke dalam mobil.
“ Ayo Sayang, kok malah bengong di sini...,” ajak Pandu sambil merengkuh bahu Hanako dan mendudukkannya di dalam mobil.
“ Tuh kaann..., belum apa-apa aja udah disuguhin pemandangan mesra kaya gini. Berarti seharian Kita harus tahan nafas ya ngeliat adegan romantis Pandu sama Hanako nanti...,” gurau sang bibi sambil cemberut disambut tawa semua orang di dalam mobil itu.
Perlahan mobil melaju meninggalkan rumah diiringi tatapan iri Putri yang masih berdiri tak jauh dari rumah itu.
\=====
__ADS_1