
Faiq kembali ke rumah saat jam menunjukkan pukul satu dini hari. Shera yang membukakan pintu untuknya. Keduanya pun saling memeluk sesaat lalu beranjak masuk ke dalam kamar.
Shera menyiapkan pakaian ganti untuk Faiq lalu pergi ke dapur untuk membuatkan susu hangat. Saat kembali ke
kamar ia melihat Faiq telah selesai mengganti pakaiannya dan tengah duduk di atas tempat tidur.
“ Ini susunya Yah, minum sekarang mumpung masih hangat ya...,” kata Shera sambil menyodorkan gelas berisi susu itu kepada suaminya.
“ Iya, makasih Bun...,” sahut Faiq sambil tersenyum.
Perlahan Faiq mulai meneguknya. Ia menyisakan sepertiga gelas susu lalu memberikannya kepada Shera seperti
kebiasaannya selama ini. Shera pun menerimanya dengan senang hati lalu meneguk susu itu hingga tandas.
“ Izar ngambek tadi Yah...,” kata Shera usai meletakkan gelas di dapur.
“ Ngambek kenapa...? tanya Faiq.
“ Kan Ayah ga ngajak dia buat menyelesaikan misi kali ini...,” sahut Shera sambil menepuk bantal.
“ Oh itu. Kami juga belum bertindak kok Bun. Jadi Izar ga ketinggalan apa-apa...,” kata Faiq.
“ Kok tumben. Emang kenapa Yah...?” tanya Shera penasaran.
“ Karena makhluk yang ditemui Izar kemaren ga ada di sana Bun. Ga tau pergi kemana. Kami udah mencoba manggil untuk berinteraksi tapi nihil. Dia ga muncul sama sekali...,” sahut Faiq.
Mendengar ucapan Faiq membuat Shera cemas sekaligus heran.
“ Apa itu artinya makhluk itu ga akan mengganggu Iyaz atau orang lain yang ada di kantor itu Yah...?” tanya
Shera penuh harap.
“ Insya Allah gitu Bun...,” sahut Faiq sambil berbaring menghadap Shera.
“ Alhamdulillah kalo memang makhluk itu ga mengganggu anak Kita Yah. Sekarang tidur yuk...,” ajak Shera yang diangguki Faiq.
Malam itu Faiq, Iyaz dan Fatur bisa tidur dengan nyenyak karena mereka batal berinteraksi dengan makhluk hitam
yang mengganggu Izar itu.
\=====
Pagi itu Qiana mendapat pesan dari nomor asing. Karena merasa tak mengenal siapa si pengirim pesan, Qiana pun
mengabaikannya. Namun pesan yang sama dari nomor berbeda itu selalu ada setiap jam hingga membuat Qiana kesal.
“ Kenapa sih Qi, bete banget keliatannya...?” tanya Nita.
“ Gimana ga bete. Aku tuh dapet pesen aneh via WA dari orang yang ga dikenal. Isinya semacam rayuan gombal gitu lah. Siapa yang ga kesel ngebacanya...,” sahut Qiana emosi.
__ADS_1
“ Masa sih, coba Aku liat...,” pinta Nita yang diikuti Desi.
Kemudian Nita dan Desi membaca pesan itu. Sebenarnya hanya deretan kalimat sederhana berupa pujian terhadap sosok Qiana. Tapi karena terlalu sering dikirim dan jumlahnya tak sedikit, hal itu membuat Qiana marah.
“ Diblok aja lah Qi...,” saran Desi.
“ Udah Des. Tapi dia kaya punya nomor banyak dan ngirim pesan dari nomor yang berbeda. Satu nomor yang ku blok, eh dia ngechat pake nomor yang lain. Kalo Aku blokir, eh dia pake nomor lain lagi. Begitu seterusnya Des. Gimana ga senewen Aku jadinya...,” sahut Qiana sambil menghentakkan kakinya.
“ Wah ga nyangka nih Qiana punya secret admirer alias pengagum rahasia...,” kata Desi sambil mengedipkan matanya.
“ Aku ga suka punya pengagum rahasia Des, ngeri. Karena biasanya para pengagum rahasia itu memiliki hasrat
se*ual yang menyimpang. Lebih baik Aku hidup sederhana kaya Kalian. ..,” sahut Qiana gusar.
“ Yang sabar ya Qi. Udah santai aja dan jangan diambil hati. Kalo dia Wa lagi, cuekin aja...,” kata Nita.
Qiana pun mengangguk lalu kembali ke mejanya untuk melanjutkan pekerjaannya. Tak lama kemudian kembali dering ponsel Qiana terdengar.
Desi dan Nita pun memberi kode agar Qiana menerima panggilan telephon
itu. Qiana mengangguk lalu menekan tombol loud speaker agar kedua temannya itu bisa ikut mendengarkan pembicaraannya dengan si pengagum rahasia itu.
“ Selamat siang Nona Qiana. Bagaimana puisi yang Saya kirim tadi, bagus ga...?” tanya pria yang disebut secret admirer oleh Desi.
“ Ga usah basa-basi deh. Langsung aja ke intinya bisa kan...,” sahut Qiana.
“ Tapi Saya mau jalan-jalan dulu dan bukan langsung ke intinya...,” kata suara dari seberang telephon hingga
Qiana berusaha menekan emosinya dengan terus bicara. Ia berharap dengan bersikap ramah maka pria tak dikenal itu akan menghentikan tindakannya itu.
“ Maafkan Saya, kalo kaya gini Saya ga bisa kenal sama Anda. Bisa tolong kasih Saya petunjuk supaya Saya tau
siapa Anda. Apa Kita pernah ketemu sebelumnya ?. Atau mungkin Kita teman
lama...?” tanya Qiana hati-hati.
“ Bisa iya bisa ga...,” sahut pria di seberang sana lalu mengakhiri pembicaraan begitu saja.
Qiana nampak menatap Desi dan Nita seolah meminta pendapat kedua temannya itu. Namun Desi dan Nita juga terlihat sama bingungnya dengan Qiana.
“ Gimana...?” tanya Qiana.
“ Ga kenal...,” sahut Desi cepat.
“ Sama, Aku juga ga kenal...,” sahut Nita.
Qiana menghela nafas panjang sambil mengetuk meja dengan ujung jarinya. Beberapa saat kemudian Qiana nampak tersenyum seolah telah menemukan jawaban. Saat Desi dan Nita hendak bertanya, Qiana pun mengembangkan telapak tangannya di depan wajahnya hingga membuat kedua temannya terdiam. Desi dan Nita pun mengurungkan niat mereka untuk bertanya dan memberi kesempatan pada Qiana untuk berpikir.
\=====
__ADS_1
Pagi itu Qiana baru saja membuka pintu rumahnya. Tak sengaja ia menemukan sebuah kotak kardus seukuran kotak mie instant teronggok di dekat pintu. Qiana menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan siapa yang meletakkan kotak kardus itu di sana.
Setelah memastikan tak ada orang lain yang meletakkan kardus itu, Qiana pun membungkukkan tubuhnya dan sedikit mendekatkan wajahnya untuk melihat isi dalam kotak kardus itu. Qiana pun menjerit saat melihat seekor ayam mati di dalam kardus. Suara jeritan Qiana terdengar oleh kedua orangtuanya dan membuat mereka melangkah cepat untuk menghampiri Qiana.
“ Ada apa Qi, kenapa menjerit...?” tanya abi Qiana.
“ Oh gapapa Bi. Cuma kaget aja waktu liat ayam mati di dalam kardus itu...,” sahut Qiana.
“ Ayam mati darimana Qi. Ini kotak punya siapa...?” tanya bunda Qiana.
“ Kotak itu udah ada di sini saat Aku buka pintu kok Mi...,” sahut Qiana.
“ Ngeliat isinya kayanya ini sebuah terror alias ancaman. Tapi belum tau siapa sasaran sebenarnya...,” kata abi Qiana.
“ Apa Kamu punya masalah di kantor Qi...?” tanya bunda Qiana cepat.
“ Ga ada Bun. Emangnya kenapa...?” tanya Qiana penasaran.
“ Keliatannya orang yang menerror rumah Kita ini punya dendam sama Kamu...,” kata sang abi.
Mendengar ucapan sang abi membuat Qiana teringat akan si secret admirer yang belakangan kerap menghubunginya itu. Andai dilakukan di luar jam kerja dan dalam keadaan santai mungkin Qiana akan berusaha menerimanya dengan baik. Namun sayangnya pria itu menghubungi Qiana di jam kerja dan sangat sering hingga membuat Qiana terganggu.ka
Kedua orangtua Qiana nampak mendengarkan cerita Qiana dengan seksama. Setelahnya mereka meminta Qiana tetap tenang dan jangan bepergian kemana-mana untuk sementara waktu.
“ Mulai besok kalo Kamu berangkat ke kantor bareng sama Abi aja Qi. Pulang juga tunggu abi jemput. Untuk sementara jangan bepergian sendirian juga, ajak Ummi atau Abi..,” kata abi Qiana.
“ Kok gitu sih Bi. Bukannya malah ngerepotin ya...?” tanya Qiana karena merasa apa yang dikatakan sang abi sedikit berlebihan.
“ Abi ga merasa direpotin sama Kamu Nak. Kamu anak Kami satu-satunya dan Kami ga mau terjadi sesuatu yang
buruk sama Kamu nanti. Sedikit repot ga apa asal Kamu selamat...,” sahut abi Qiana sambil tersenyum.
“ Betul Bi. Ummi setuju sama Abi. Lebih baik waspada daripada celaka. Kan banyak tuh kasus terror kaya gini yang dianggap sepele malah justru berujung petaka. Bahkan ada yang sampe meninggal dunia lho saking posessifnya si pelaku terror...,” kata ummi Qiana.
Mendengar ucapan kedua orangtuanya membuat Qiana terharu. Ia pun mengangguk setuju dengan keputusan
orangtuanya itu.
Sejak hari itu Qiana mendapat pengawasan melekat dari kedua orangtuanya. Meski sedikit tak nyaman
namun Qiana merasa jauh lebih baik karena ternyata terror itu berhenti. Si secret admirer tak lagi mengganggu Qiana. Nita dan Desi pun ikut bernafas lega saat mengetahui Qiana tak lagi diganggu oleh pengagum rahasianya itu.
Bersambung
Assalamualaikum wr wb.
Author & keluarga mengucapkan :
" TAQOBBALALLAHU MINNA WAMINKUM SHIYAMANA WA SHIYAMAKUM. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443 H, Mohon Maaf Lahir dan Bathin...."
__ADS_1
Semoga di hari yang fitri ini Kita kembali menjadi insan yang lebih baik dan semoga amal ibadah Kita selama ini diterima oleh Allah Swt. Aamiin Yaa Robbal'alamiin...
wassalam