Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
261. Melintas Dimensi


__ADS_3

Perjalanan menuju ke Jogjakarta harus tertunda karena jalan tol yang akan Faiq dan keluarganya lewati tengah macet total akibat kecelakaan mobil. Ada mobil kontainer yang terguling hingga jatuh melintang memenuhi badan jalan dan menghalangi laju kendaraan lain.


“ Gimana nih Yah...?” tanya Izar.


“ Putar balik aja, Kita keluar di depan sana...,” sahut Faiq.


“ Ok...,” sahut Izar.


“ Jadi Kita batal ke Jogja Yah...?” tanya Iyaz dengan nada kecewa.


“ Kalian ga harus ke Jogja. Temui dia di pantai perbatasan Jakarta dan Jawa Barat. Aku akan bantu Kalian nanti...,” kata Dayang tiba-tiba.


“ Alhamdulillah...,” sahut Fatur, Faiq, Iyaz dan Izar bersamaan hingga membuat Pandu kebingungan.


“ Ada apa Opa...?” tanya Pandu tak mengerti.


“ Dayang bilang Kita ga harus ke Jogja buat jemput Istrimu Nak...,” sahut Fatur.


“ Oh gitu, terus Kita kemana...?” tanya Pandu.


“ Mas Pandu tenang aja, Aku tau tempat yang dimaksud Tante Dayang...,” kata Izar sambil tersenyum lalu menginjak pedal gas untuk menambah kecepatan mobil.


Mobil pun tiba di tepi pantai. Empat orang keluar dari mobil, sedangkan pandu diminta menunggu di dalam mobil.


Kemudian keempat pria itu berdiri sambil bergandengan tangan. Mereka menghadap kearah pantai sambil berdzikir memanggil siluman buaya. Sedangkan Dayang pergi melintas dimensi untuk menjemput siluman buaya itu. Ketegangan nampak di wajah keempatnya karena siluman yang mereka tunggu belum juga menampakkan batang hidungnya.


“ Sabar ya Anak-anak...,” kata Fatur yang diangguki Iyaz dan Izar.


Tiba-tiba keheningan menyeruak di pantai itu padahal deburan ombak masih menyapu pantai. Angin yang berhembus pun terasa lebih dingin dibandingkan saat awal kedatangan mereka ke pantai itu. Langit yang dihiasi bulan dan bintang perlahan tertutup awan hingga membuat suasana pantai menjadi lebih mencekam.


“ Dia datang...,” kata Dayang sambil menunjuk kearah pantai.


Dari arah pantai terdengar suara berat seolah ada sesuatu sedang terseret-seret oleh air. Kedua mata Iyaz dan Izar membelalak saat menyaksikan sosok buaya besar berkepala manusia dengan mahkota kecil di atas kepala, tengah berenang perlahan dari tengah laut menuju pantai. Semakin dekat sosok buaya yang diperkirakan berusia ratusan tahun dengan bobot tubuh yang mencapai lima ratus kilo gram itu semakin jelas. Iyaz dan Izar pun berusaha menelan saliva dengan sulit saat melihat sosok buaya raksasa ada di hadapan mereka.

__ADS_1


“ Akhirnya Kau datang juga...,” sapa siluman buaya itu sambil menatap Faiq dengan lembut.


“ Iya. Aku datang untuk menuntaskan janjiku sekaligus untuk meminta bantuanmu...,” sahut Faiq.


“ Oh ya, bantuan apa...?” tanya siluman buaya itu.


“ Siluman itu menculik anak perempuanku. Aku mau Kau selamatkan dia. Dan sebagai imbalannya, kedua Anak


lelakiku ini akan membantumu...,” kata Faiq.


“ Tawaran yang menarik. Baik lah, Aku setuju. Sekarang siapa yang akan menjemput gadis itu...?” tanya siluman buaya itu.


“ Mereka berdua...,” sahut Faiq sambil menunjuk Iyaz dan Izar.


Kedua mata siluman buaya nampak berbinar menatap Iyaz dan Izar. Siluman buaya berbobot ratusan kilogram itu bergerak mendekati Iyaz dan Izar yang berdiri berdampingan. Kemudian siluman itu memperlihatkan punggungnya kepada si kembar.


“ Naik lah...,” kata siluman buaya itu.


“ Kamu ga perlu cemas Faiq. Aku akan mengantarmu ke sana jika waktu yang telah ditentukan telah tiba tapi Anak-anakmu belum juga kembali...,” kata Dayang.


“ Iya, makasih Dayang...,” sahut Faiq.


Di dalam mobil Pandu yang tak bisa melihat kehadiran siluman buaya itu pun nampak tertegun saat mengetahui Iyaz dan Izar menghilang tiba-tiba entah kemana.


\=====


Siluman buaya itu pergi membawa Iyaz dan Izar ke suatu tempat. Saat tiba di sana Iyaz dan Izar menyaksikan sebuah tempat yang indah yang berbeda dengan dunia nyata. Iyaz dan Izar memandang takjub sekelilingnya.


Di sana Iyaz dan Izar melihat pepohonan yang berdaun perak dengan buah-buahannya berwarna keemasan dan batang pohonnya sebening kaca. Pohon-pohon itu berbaris rapi di sepanjang jalan menuju suatu tempat.


“ Di sana lah istanaku. Tapi Kita tak ke sana. Kita ke jalan yang sebelah kiri ini untuk menjemput saudarimu itu...,” kata siluman buaya itu.


“ Baik lah...,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan.

__ADS_1


Siluman buaya itu membawa Iyaz dan Izar menyusuri jalan yang sama sekali berbeda dengan jalan tadi. Kali ini mereka masuk ke suatu tempat yang diwarnai kegelapan. Aura dingin dan udara busuk menyapa penciuman mereka. Pohon-pohon yang berbaris rapi di pinggir jalan itu berwarna hitam tanpa daun hingga membuat Iyaz dan Izar sedikit bergidik ngeri.


Siluman buaya itu berhenti di depan sebuah pintu besar. Suara jeritan minta tolong terdengar dari balik pintu hingga membuat Iyaz dan Izar bertanya-tanya.


“ Ini tempatnya. Masuk lah, Aku akan menunggu di sini...,” kata siluman buaya raksasa itu.


“ Bagaimana cara masuk ke sana...?” tanya Iyaz sambil menoleh ke kanan dan ke kiri karena tak melihat ada jalan lain di sana.


“ Pejamkan mata, bayangkan wajah saudarimu itu. Jika Kalian butuh bantuanku panggil saja namaku...,” kata siluman buaya raksasa itu.


Iyaz dan Izar pun mematuhi ucapan siluman buaya raksasa itu. Saat mereka membayangkan wajah Hanako, sedetik kemudian mereka sudah berada di sebuah tempat seperti perkebunan. Di sana mereka menyaksikan orang-orang dewasa laki-laki dan perempuan tengah bekerja mengolah ladang. Ada penjaga yang selalu membawa cambuk tengah mengawasi para pekerja itu.


Jika salah seorang terlihat berhenti karena kelelahan, maka para penjaga segera mencambuk dan menyiksa mereka dengan tendangan atau pun pukulan. Jerit kesakitan pun silih berganti membahana di tempat itu dan jeritan itulah yang didengar oleh Iyaz dan Izar tadi.


Iyaz dan Izar melangkahkan kakinya mencari keberadaan Hanako. Saat itu lah sebuah kereta kencana lewat membelah jalan di depan perkebunan. Para penjaga dan pekerja perkebunan menghentikan aktifitas mereka lalu membungkukkan tubuh mereka saat kereta kencana itu melintas. Iyaz dan Izar pun ikut menepi dan mengamati isi kereta kencana itu.


Jika biasanya kereta kencana ditarik oleh kuda, maka kereta kencana kali ini ditarik oleh sejenis hewan melata mirip biawak berjumlah banyak yang dikendalikan oleh seorang pria berwajah bengis.


Di dalam kereta kencana terlihat sepasang laki-laki dan perempuan tengah duduk berdampingan seperti pasangan pengantin yang berbahagia. Iyaz dan Izar membelalakkan mata saat mengenali sosok wanita di dalam kereta kencana itu adalah Hanako. Namun sayangnya Hanako tak melihat mereka karena tatapan matanya terpaku lurus ke arah depan.


“ Itu Cici...!” kata Izar.


“ Ssstttt..., pelankan suaramu Zar. Cici sedang ada dalam pengaruh mereka. Kita harus hati-hati kalo mau membawa dia kembali...,” kata Iyaz mengingatkan.


“ Iya, Kamu benar. Sekarang Kita cuma bisa menunggu waktu yang tepat...,” sahut Izar sedikit kecewa.


“ Siapa bilang. Kita bisa manfaatkan keadaan sekarang. Coba Kamu liat itu...,” kata Iyaz sambil menunjuk kereta kencana yang berhenti tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Izar nampak tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Dengan gerakan cepat keduanya lari dan naik ke bagian belakang kereta kencana lalu merayap naik ke atap kereta. Keduanya sembunyi di atas kereta kencana dengan posisi telungkup  sambil berpegangan erat pada kayu.


Sesaat kemudian kereta kencana kembali bergerak meninggalkan tempat itu. Sedangkan di dalam kereta kencana Hanako nampak menyunggingkan senyum saat mengetahui kedua sepupunya ada bersamanya di kereta yang sama. Sedangkan pria di samping Hanako nampak tak menyadari jika ada penumpang asing di atas kereta yang ia naiki.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2