Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
24. Perginya Sang Guru


__ADS_3

Awan mendung nampak memayungi Rumah Sakit Firdausi seolah sedang menunggu waktu yang tepat untuk sang hujan tercurah ke bumi. Demikian pula suasana di salah satu ruang rawat inap yang saat ini sedang dihuni oleh Kyai Syakir.


Setelah sekian lama memilih memejamkan matanya, namun akhirnya Kyai Syakir pun membuka matanya saat tiga


bocah istimewa di keluarga Darius datang. Senyum di wajah pucatnya terkembang menyambut kehadiran Hanako, Iyaz dan Izar. Kedua tangannya pun terentang sempurna seolah ia dalam keadaan yang fit, padahal sebelumnya Kyai Syakir tak bisa menggerakkan tangannya sama sekali.


Nyai Atijah dan Syahrul nampak bahagia melihat kondisi Kyai Syakir yang membaik tiba-tiba. Walau di hati kecilnya ada rasa iri akan sikap sang abi pada Hanako, Iyaz dan Izar yang jauh berbeda dibandingkan sikap sang abi pada anak-anaknya, namun Syahrul maklum dan tak bisa menutupi kebahagiaannya saat itu.


Iyaz dan Izar yang sudah akrab dengan Kyai Syakir pun menghambur ke dalam pelukannya. Sedangkan Hanako nampak berdiri malu-malu di belakang si kembar seolah menunggu Kyai Syakir melihat dan menyapanya.


“ Eyang kenapa, sakit ya...?” tanya Iyaz.


“ Ga, Eyang sehat kok...,” sahut Kyai Syakir sambil tersenyum.


“ Kalo sehat ga di sini dong Yang. Namanya aja Rumah Sakit, pasti tempatnya orang sakit. Kalo Eyang di sini artinya Eyang sakit...,” protes Izar hingga membuat semua orang tertawa.


“ Iya, iya. Eyang ga bakal menang deh kalo debat sama Izar. Eyang emang lagi ga enak badan aja kok...,” sahut


Kyai Syakir sambil mengacak rambut Izar dengan gemas.


“ Ok, semoga cepat sembuh ya Yang...,” kata Izar dengan mimik lucu.


“ Aamiin, makasih ya Izar. Eh, Hanako kok diem aja. Sini Nak...,” sapa Kyai Syakir sambil menoleh kearah Hanako yang tengah tersenyum.


“ Apa kabar Eyang...?” tanya Hanako sambil mencium punggung tangan Kyai Syakir dengan santun.


“ Alhamdulillah, kabar baik Nak. Apa Hanako juga baik-baik aja...?” tanya Kyai Syakir.


“ Aku lagi ga baik aja karena dengar Eyang dirawat di Rumah Sakit...,” sahut Hanako dengan mimik sedih.


“ Eyang gapapa kok, Hanako jangan sedih ya...,” kata Kyai Syakir sambil membelai kepala Hanako dengan lembut


membuat Hanako tersenyum.


Kemudian Kyai Syakir terlibat pembicaraan serius dengan Hanako, Iyaz dan Izar. Ketiga anak kecil itu nampak


menganggukkan kepalanya saat Kyai Syakir memberi wejangan. Jika diperhatikan sikap mereka nampak berbeda dari biasanya. Hal itu membuat  kedua mata Faiq berkaca-kaca karena ia tahu Kyai Syakir sedang menyampaikan ‘pesan terakhirnya’ kepada Hanako, Iyaz dan Izar.


Setengah jam kemudian Kyai Syakir nampak menyudahi ucapannya dengan menyandarkan tubuhnya ke sandaran tempat tidur. Kemudian Hanako, Iyaz dan Izar pun mundur untuk memberi kesempatan pada Fatur dan Faiq bicara dengan Kyai Syakir.


“ Fatur, Faiq. Kalian tau kan apa yang akan terjadi padaku...?” tanya Kyai Syakir lirih.

__ADS_1


“ Iya Kyai.....,” sahut Fatur dan Faiq bersamaan.


“ Jangan sedih, ini lah takdir. Kita semua pasti mengalaminya nanti. Aku udah bicara sama Anak-anak tentang apa


dan gimana mereka menghadapi sesuatu nanti. Aku tau mereka ga mengerti dan itu tugas Kalian untuk membuat mereka mengerti...,” kata Kyai Syakir.


“ Insya Allah Kami akan jelaskan sama mereka nanti Kyai...,” sahut Fatur.


Kemudian Kyai Syakir mengulurkan tangannya seolah minta Fatur dan Faiq menggenggam tangannya. Fatur dan Faiq yang tanggap langsung meraih tangan guru mereka itu dan menggenggamnya erat.


“ Maafkan Aku jika tak bisa lagi menemani Kalian menghadapi iblis...,” kata Kyai Syakir dengan mata berkaca-kaca.


“ Gapapa Kyai. Maafin Aku juga karena sejak kecil selalu minta Kyai nemenin Aku tanpa kenal waktu dan ga mau tau gimana kondisi Kyai...,” kata Faiq sambil mencium dalam-dalam punggung tangan Kyai Syakir.


“ Gapapa Nak. Aku bahagia Kamu selalu ingat untuk menggangguku dulu...,” sahut Kyai Syakir dengan senyum di


wajahnya sambil membelai kepala Faiq dengan sayang.


Ucapan Kyai Syakir membuat Fatur dan Faiq tertawa kecil.


“ Terima kasih udah membimbingku memahami anugrah Allah ini Kyai. Aku ga bisa bayangin kalo Aku ga ketemu Kyai. Mungkin ada orang lain yang akan memanfaatkanku dulu...,” kata Fatur sambil mencium kepala Kyai Syakir.


Sesaat hanya keheningan yang terjadi diantara mereka bertiga yang duduk saling merapat itu. Hanya deru nafas mereka yang terdengar seolah mereka sedang meresapi detik-detik terakhir kebersamaan mereka. Lalu Kyai Syakir kembali mengatakan sesuatu yang membuat Fatur dan Faiq sedih.


“ Kalian bisa bekerja sama mengawal Anak-anak dan membantu mereka nanti. Jangan lupa libatkan Allah dalam


setiap sendi kehidupan Kalian. Berbuat baik lah sebanyak-banyaknya karena Kita ga pernah tau amal baik Kita yang mana yang disukai Allah. Jangan bangga dengan amal baik yang Kita lakukan karena rahmat dan kasih sayang Allah saja yang bisa membawa Kita masuk ke surganya Allah nanti...,” kata Kyai Syakir sambil memejamkan matanya.


“ Siap Kyai...,” sahut Fatur dan Faiq bersamaan.


Kemudian Fatur dan Faiq bergeser, mereka memberi kesempatan pada anak dan istri Kyai Syakir untuk mendekat.


“ Ummi Sayang. Maafin Abi yang jarang ada di samping Ummi karena sibuk di luaran sana ya. Makasih udah mau


nemenin Abi dalam suka dan duka. Maaf belum bisa bikin Ummi bahagia...,” kata Kyai Syakir sambil memeluk istrinya.


“ Jangan ngomong gitu dong Abi Sayang. Ummi bahagia kok jadi Istri Abi dan Ibu dari Anak-anak Kita. Insya Allah


Ummi ikhlas...,” sahut Nyai Atijah sambil berurai air mata.


“ Syahrul, tolong jaga Ummi ya. Jangan biarin Ummi sendirian dan nangis terus...,” pinta Kyai Syakir.

__ADS_1


“ Insya Allah Ummi ga bakal kesepian dan nangis terus Bi. Abi tenang aja ya...,” sahut Syahrul dengan suara bergetar sambil menciumi wajah sang Abi.


“ Aamiin, makasih Nak...,” kata Kyai Syakir sambil tersenyum.


“ Sama-sama Abi. Makasih juga udah jadi Abi yang luar biasa untuk Aku..,” sahut Syahrul hingga membuat Kyai Syakir tersenyum.


Tiba-tiba tubuh Kyai Syakir menegang, kedua matanya menatap ke atas dengan senyum di sudut bibirnya.


“ Aku pamit, maafkan Aku..., Laa... ilaha... ilallah... Muhammadur... Rosulullah...,” kata Kyai Syakir lirih lalu


memejamkan matanya.


Tangis nyai Atijah pun pecah saat melihat kepala Kyai Syakir terkulai ke samping dan pelukannya terurai menandakan jika arwahnya telah pergi meninggalkan raganya. Farah yang berdiri di ujung tempat tidur pun sigap mendekat untuk memastikan kondisi Kyai Syakir. Sesaat kemudian Farah menggelengkan kepalanya pertanda bahwa Kyai Syakir telah tiada.


“ Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun...,” gema suara istirja memenuhi ruangan rawat inap Kyai Syakir.


Semua orang dewasa di ruangan itu nampak bersedih dan menitikkan air mata. Sedangkan tiga bocah cilik di keluarga Darius nampak menatap kepergian Kyai Syakir dengan tatapan bingung. Rupanya mereka masih menyaksikan kehadiran arwah Kyai Syakir di ruangan itu dan tak mengerti mengapa semua orang menangis.


Sementara itu di luar Rumah Sakit Firdausi hujan pun turun dengan lebat menumpahkan air yang sejak tadi tertahan di atas sana. Alam seolah turut berduka dan menangisi kepergian Kyai Syakir, sang guru spiritual yang mumpuni dan bijaksana.


\=====


Pemakaman jenasah Kyai Syakir berjalan khidmat. Dihadiri puluhan santri, pejabat, sanak famili dan kerabat termasuk diantaranya keluarga besar Darius. Mereka lah yang sibuk mengurus jenasah Kyai Syakir dan mengurus pemakamannya.  Istri dan anak Kyai Syakir pun nampak tenang karena jenasah Kyai Syakir telah diurus dengan sangat baik.


Usai pemakaman dan pembacaan doa, Syahrul pun maju ke depan memberikan kata sambutan.


“ Assalamualaikum, Saya mewakili Ummi dan keluarga besar Kami ingin menyampaikan rasa terima kasih yang


sebesar-besarnya atas semua atensi dan bantuan yang telah Bapak Ibu berikan. Mohon maaf jika Kami tidak bisa menyebutkannya satu per satu. Semoga Allah akan membalas semua amal baik Bapak ibu sekalian dengan pahala yang berlipat ganda. Aamiin...,” kata Syahrul dengan suara bergetar.


Syahrul sempat berhenti untuk menghapus air mata dan menghela nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.


“ Buat Saya, Abi adalah orang yang hebat. Namun Saya sadar jika Abi bukan lah orang yang sempurna, karena memang tak ada yang sempurna di dunia ini. Karenanya Saya mewakili beliau untuk minta maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan yang Abi lakukan baik sengaja atau pun tidak. Jika ada sangkut paut berupa hutang piutang yang tidak kami ketahui, tolong temui Saya. Insya Allah Saya akan menyelesaikannya nanti. Demikian dan


terima kasih. Wassalamualaikum warrohmatullahi wabarokatuh...,” kata Syahrul sambil tersenyum.


“ Wa alaikumsalam warrohmatullahi wabarokatuh...,” sahut hadirin bersamaan.


Kemudian perlahan hadirin meninggalkan pemakaman. Menyisakan Nyai Atijah, Syahrul dan keluarga besar Darius. Hanako, Iyaz dan Izar yang telah mengerti jika Kyai Syakir meninggal dunia nampak ikut bersedih. Mereka bertiga nampak menatap ke satu titik yang sama. Saat Faiq menoleh kearah yang dilihat oleh ketiganya, ia pun ikut tersenyum.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2