
Dari gerbang rumah kost terlihat Fatur dan Iyaz yang menghampiri mereka karena melihat pemukulan yang dilakukan Faiq tadi. Penjelasan Faiq membuat mereka terkejut lalu menatap Memed dengan tajam.
“ Sebaiknya serahkan benda itu sekarang...!” kata Fatur sambil menyodorkan telapak tangannya kearah Memed.
“ Tapi Saya ga mencurinya Pak. Saya nemu di kolam ikan waktu Saya merapikan taman. Saya ga tau kalo benda itu berbahaya...,” sahut Memed sambil menunduk.
“ Simpan penjelasanmu nanti. Sekarang serahkan benda itu...,” kata Fatur lagi.
“ Tapi Saya ga bisa melepasnya gitu aja Pak. Udah ada seorang kolektor benda antik yang menawar dengan harga tinggi. Dan Saya setuju menjualnya besok...,” sahut Memed gusar.
“ Apa Kamu mau membiarkan semua orang termasuk Kamu mati sia-sia karena keserakahanmu itu. Asal Kau tau,
siluman penghuni rumah kost marah karena Kamu telah mencuri benda berharga miliknya. Dia mengancam akan membunuh semua orang yang pernah masuk ke dalam rumah itu termasuk Kamu dan Kami di sini...,” kata Faiq kesal hingga membuat Memed terkejut.
“ Saya akan serahkan benda itu karena Saya ga mau mati konyol...,” sahut Memed sambil mengeluarkan batu berbentuk telur berwarna orange kemerahan dari balik jaketnya.
Semua mata menatap takjub kearah benda itu kecuali Memed dan abi Qiana yang telah melihatnya tadi. Setelahnya Memed menyerahkan benda itu kepada Faiq lalu menjauh karena khawatir Faiq akan memukulnya lagi.
“ Sekarang Kita bisa mengakhiri semuanya segera...,” kata Faiq.
“ Betul Nak. Dan Kalian bawa mereka menjauh dari rumah ini segera...,” kata Fatur sambil menatap Memed dan abi
Qiana bergantian hingga membuat keduanya mengangguk.
“ Rumah yang Saya tempati sedang kosong karena Istri Saya pulang kampung. Apa boleh Saya membawa mereka ke sana karena mereka ga mungkin nemuin tempat yang dekat dan layak di malam buta kaya gini...?” tanya Memed.
“ Itu bagus. Bagaimana pun mereka juga tanggung jawabmu, jadi sudah seharusnya Kamu ikut memikirkan tempat persinggahan sementara untuk mereka...,” sahut Fatur.
Jam menunjukkan pukul dua dini hari saat itu lah Fifi dan teman-temannya keluar dari rumah kost dengan membawa koper besar berisi barang pribadi mereka masing-masing. Memed pun mengajak mereka ke rumahnya dan meninggalkan mereka di sana. Setelah memastikan kondisi dua belas penghuni kost itu baik-baik saja, Memed pun kembali ke rumah kost.
Di sana sedang terjadi pertempuran sengit antara Faiq dan keluarganya dengan siluman naga merah dan pasukannya. Rupanya mereka datang lebih awal dan ingin menghabisi semua orang yang ada di sana karena yakin Faiq tak akan bisa menemukan benda yang dicarinya.
__ADS_1
Di luar gerbang terlihat Ratih, Qiana dan abinya nampak mengamati pertempuran itu dengan seksama. Nampak
kecemasan di wajah mereka menyaksikan Faiq dan keluarganya bertempur dengan sesuatu yang tak kasat mata. Hanya suara angin, daun yang bergerak kencang dan benda berjatuhan yang bisa mereka lihat sebagai bukti tengah terjadi pertempuran manusia dengan makhluk ghaib yang ada di depan mereka.
Tiba-tiba Faiq dan keluarganya mundur bersamaan dengan cara melompat ke belakang. Saat itu lah Faiq memperlihatkan benda yang disitanya dari Memed tadi.
“ Cukup !. Ini yang Kamu inginkan. Ambil ini dan pergi lah sekarang...!” kata Faiq lantang.
Lagi-lagi terdengar suara siulan. Bersamaan dengan itu pasukan siluman naga merah menghentikan serangan mereka. Faiq pun melempar benda di tangannya kearah sang siluman naga yang menyambutnya dengan gembira.
Batu berbentuk telur itu melayang masuk ke dalam mulut sang naga yang terbuka dan menimbulkan pendaran warna pelangi saat benda itu menyatu dengan siluman naga itu. Anehnya pendaran cahaya pelangi itu bisa disaksikan oleh semua orang yang ada di sana termasuk Qiana dan abinya.
Siluman naga merah itu tersenyum kearah Faiq dan keluarganya sedangkan pasukan hantu yang bersamanya pun nampak mundur dengan teratur lalu merapat kearah siluman naga merah itu. Sesaat
kemudian mereka lenyap bersamaan dan menyisakan keheningan yang membingungkan.
“ Ini udah selesai Opa...?” tanya Iyaz bingung.
“ Terus gimana sama para penghuni kost yang udah terlanjur diungsikan Opa...?” tanya Izar tak mengerti.
“ Itu yang terbaik untuk mereka karena rumah ini tak layak ditempati. Kasian kalo mereka tetap di sini karena hawa mistis yang kuat membuat mereka selalu diselimuti bahaya...,” sahut Fatur.
“ Kalo mereka udah aman, itu artinya Kita bisa pulang ke rumah buat istirahat kan Yah...?” tanya Izar sambil menoleh kearah Faiq.
“ Keliatannya niatmu belum akan terkabul Nak. Coba Kamu liat ke dalam sana...,” kata Faiq.
Di dalam rumah kost terlihat sosok hantu dengan wujud yang tak utuh nampak berdiri mematung di tengah ruangan. Sosok hantu tanpa kepala, hanya memiliki satu tangan dan tanpa kaki itu nampak melayang mengelilingi bagian dalam rumah seolah sedang mencari sesuatu.
“ Dia siapa Yah...?” tanya Izar.
“ Dia pemilik asli rumah kost ini. Dia meninggal akibat lalai menjalani syarat pesugihan yang dianutnya. Arwahnya
__ADS_1
yang gentayangan membawanya ke sini karena rumah ini adalah lokasi dia menjalani syarat yang telah ditentukan dalam perjanjian mereka...,” sahut Faiq.
“ Jadi yang dilakukan Pak Memed selama ini sia-sia dong Yah. Kan pemiliknya udah meninggal...,” kata Iyaz.
“ Pak Memed hanya meneruskan kebiasaan yang dilakukan majikannya. Kesalahan Pak Memed adalah naro sesajen di sudut tertentu seolah mengundang makhluk ghaib untuk berkumpul di sini
“ Jadi hantu pemilik rumah ini yang mengganggu para pekerja tempo hari Yah...?” tanya Izar.
“ Iya Nak...,” sahut Faiq.
“ Arwah itu akan terperangkap di sana selamanya sebagai hukuman karena lalai menjalani kesepakatannya dengan
iblis. Rumah ini akan berbahaya jika ditempati oleh orang lain yang bukan pemiliknya. Kalian bisa tanya sama Memed berapa korban jiwa yang jatuh selama ia menjaga rumah ini...,” kata Fatur mengejutkan semua orang.
Memed yang berdiri di ambang pintu gerbang pun menundukkan kepala karena tak bisa berkelit lagi. Lalu mengalir lah cerita kelam dari mulut Memed tentang rumah yang dititipkan padanya itu.
Pemilik rumah bernama Rohan adalah teman lama Memed. Ia datang menemui Memed dan minta Memed menjaga rumah lamanya dengan baik karena ia akan pindah ke tempat lain. Rohan berpesan agar Memed memperbaiki rumah itu dalam kurun waktu tertentu. Sebagai imbalannya Rohan mentransfer sejumlah uang kepada Memed setiap bulan. Rohan juga mempersilakan Memed tinggal di rumah itu agar Memed tak perlu mengeluarkan uang untuk mengontrak rumah selama ia bekerja pada Rohan.
Namun sayangnya Memed merasa tak nyaman tinggal di rumah milik Rohan karena selalu diganggu berbagai macam penampakan makhluk halus. Akhirnya Memed memutuskan mengontrak rumah tak jauh dari rumah itu.
Saat ada orang yang berminat menyewa rumah itu, Memed pun menerimanya dengan senang hati. Rohan pun senang karena mendapat penghasilan tambahan dari menyewakan rumahnya itu.
Namun keanehan pun terjadi. Para penyewa rumah itu mengalami gangguan mistis hingga mereka sakit bahkan meninggal dunia. Memed pun tak pernah menceritakan pada penyewa berikutnya apa yang terjadi dengan penyewa sebelumnya. Hingga korban terus berjatuhan.
Kemudian rumah itu tak lagi disewa orang karena bentuk dan warnanya yang tak menarik karena terlihat makin aneh setelah direnovasi berkali-kali. Tak ada orang berminat menyewa rumah itu hingga akhirnya Ratih datang dan mengusulkan agar menjadikan rumah itu sebagai rumah kost.
“ Sejak Rohan meninggal dunia, rumah ini ga lagi disewakan. Saya hanya menjaga rumah dan merenovasinya
sesekali karena itu lah pesan terakhir Rohan. Saya ga tau kalo Rohan menganut pesugihan dan jadi korban dari pesugihan yang dianutnya itu...,” kata Memed sedih.
Saat Memed menyudahi ceritanya, adzan Subuh pun berkumandang. Semua orang bergegas meninggalkan tempat itu menuju masjid untuk menunaikan sholat Subuh berjamaah.
__ADS_1
Bersambung