
Rupanya jin yang dikirim Ki Celeng menemui sasaran yang salah. Jika perintah awalnya adalah menyerang Adam dan Nuara, tapi jin itu justru menyerang mama Nuara yang baru saja selesai sholat Subuh. Ki Celeng terkejut saat jin peliharaannya melaporkan hasil kerjanya. Walau kecewa namun Ki Celeng berusaha memaksimalkan kerja jin peliharaannya itu.
Sedangkan Diki dan keluarganya baru saja mendapat kabar jika Adam membawa istrinya ke Rumah Sakit pagi tadi. Mereka nampak senang karena merasa jika sakit yang diderita istri Adam adalah bayaran yang setimpal atas penolakan yang dilakukan Adam kemarin. Semua anggota keluarga Diki tak ada yang mengetahui jika sakit yang mama Nuara derita adalah karena ulah dukun bayaran Diki dan ayahnya.
“ Belum sehari aja karma udah datang...,” kata tante Diki sambil mencibir.
“ Betul. Makanya jangan sombong jadi orang. Punya Anak cantik kok bertingkah. lbu yakin kalo si Nuara itu bakal jadi perawan tua karena udah nolak lamaran Kamu Dik...,” kata ibu Diki.
“ Kualat tuh namanya, Diki kok dilawan...,” sahut Diki sambil menepuk dadanya dengan bangga.
“ Tapi sayangnya kenapa Istrinya Adam yang sakit ya, harusnya kan si Adam sama Nuara yang kena...,” gumam ayah Diki yang masih bisa didengar oleh Diki.
“ Gapapa Yah. Sama aja kan siapa pun yang kena, yang penting sekarang mereka panik dan takut...,” bisik Diki sambil tersenyum penuh makna.
\=====
Setelah berhasil melumpuhkan makhluk dalam tubuh mama Nuara, kini saatnya Faiq dan keluarganya mengeluarkan makhluk itu dari dalam tubuh mama Nuara.
Helaian daun jarak nampak disiapkan untuk membantu proses ruqyah mama Nuara.
“ Apa hanya daun jarak yang bisa digunakan untuk nyembuhin Mama Mas...?” tanya Nando saat melihat Iyaz mengeluarkan daun jarak yang dipetiknya di halaman Rumah Sakit.
“ Ada beberapa jenis daun lain. Tapi karena kondisi darurat dan hanya ini yang bisa Kami temui, jadi daun ini aja juga cukup...,” sahut Iyaz samabil tersenyum.
__ADS_1
Helaian daun jarak itu diolesi sejenis minyak yang memang telah disiapkanoleh Fatur. Setelahnya Dewi membantu
meletakkan daun jarak di atas perut buncit mama Nuara yang tengah pingsan itu sambil menitikkan air mata. Ada kesedihan di wajahnya melihat kondisi kakak perempuannya yang tak berdaya karena penyakit aneh. Setelah perut mama Nuara tertutupi daun jarak, Dewi menutup perut mama Nuara dengan selimut.
Setelah menyusun daun jarak sedemikian rupa lalu Faiq memimpin penarikan makhluk tak kasat mata dari perut mama Nuara. Berbeda dengan sebelumnya, jika mama Nuara akan menjerit saat perutnya disentuh tapi kali dia terlihat tenang.
“ Semua tolong fokus berdzikir ya...,” kata Faiq mengingatkan.
Tak lama kemudian perut mama Nuara nampak bergelombang seperti ada sesuatu yang bergerak liar di balik pakaiannya itu. Lalu suara mendengkur keluar dari mulut mama Nuara bersamaan dengan melesatnya sosok hitam dari perut mama Nuara. Makhluk seukuran anak kecil usia tiga tahun itu berwarna hitam, berkepala besar dan memiliki ekor.
Semua orang menahan nafas menyaksikan wujud makhluk halus yang bersemayam di perut mama Nuara itu. Saat sosok hitam itu menoleh, terlihat wajahnya yang menyerupai monster. Mulut makhluk itu sangat lebar hingga kedua ujung mulutnya mencapai ujung daun telinga bagian bawah. Matanya hanya satu dengan letaknya yang membujur vertikal persis di tengah wajahnya. Juga dua tanduk kecil yang mencuat di kepalanya.
Saat makhluk itu menggeram marah terlihat warna giginya yang menghitam dengan sisa makanan yang berwarna kemerahan hingga siapa pun yang menatapnya akan jijik dibuatnya.
Rupanya makhluk itu merasa terkepung dan tak bisa lari kemana-mana. Daun jarak yang telah diolesi minyak pun ditempelkan secara acak di tubuh makhluk itu oleh Iyaz dan Izar. Dalam sekejap jeritan menyayat hati pun keluar dari makhluk itu.
Di saat yang sama Ki Celeng yang juga tengah memantrai jin kirimannya itu nampak terpental keras ke dinding. Saking kerasnya benturan membuat nafas Ki Celeng terasa sesak. Ia nampak meringis sambil berusaha bernafas dengan baik.
“ Sia*an, ada yang coba melawanku rupanya...,” gumam Ki Celeng sambil meringis.
Ki Celeng pun bangkit lalu berusaha mengembalikan serangan untuk menyamakan posisi. Namun sayang kekuatan dzikir yang dibaca keluarga Faiq dan Adam membuat tubuh Ki Celeng bergetar hebat.
Ki Celeng kembali merapal mantra sambil menaburkan sesuatu ke atas bokor berisi kemenyan dan dupa itu. Terdengar suara seperti api tersiram air. Dan itu berimbas pada makhluk hitam yang tadi ada di dalam perut mama Nuara. Makhluk yang seolah mendapat kekuatan baru itu pun berbalik menyerang Iyaz dan Izars secara brutal.
__ADS_1
Di dalam kamar rawat inap itu pertarungan sengit pun terjadi antara si kembar melawan makhluk hitam itu. Kecepatan gerakan mereka bertiga menimbulkan siluet dan angin yang menerpa apa pun yang ada di sana. Nuara nampak cemas melihat makhluk itu berkali-kali mendekati Iyaz dan hendak menyakitinya. Dalam hati Nuara berdoa agar si kembar selamat dan memenangkan pertarungan itu.
Setelah beberapa saat ‘bermain’ dengan makhluk itu, Iyaz dan Izar pun berniat mengakhiri permainan mereka. Keduanya berhenti lalu berdiri berdampingan sambil mengembangkan telapak tangan mereka kearah makhluk hitam itu. Kekuatan yang mengalir melalui sela jari tangan mereka membuat makhluk hitam itu panik dan berusaha melarikan diri. Namun ada kekuatan yang menarik tubuh makhluk hitam itu hingga makhluk itu terhisap dan menempel erat di permukaan telapak tangan si kembar.
Sama seperti saat makhluk itu melekat di tubuh Nuara tadi, kali ini makhluk itu juga tak dapat melepaskan diri dari cengkraman si kembar meski pun ia mengerahkan kekuatan penuh. Dari jarak sedekat itu bisa terlihat jelas wujud makhluk itu. Menyerupai anak kecil berkulit hitam, berekor dan berkepala besar dengan wajah yang menyeramkan.
“ Pulang atau hilang...?” tanya Iyaz sambil menatap lekat makhluk itu.
“ Hilang...,” sahut makhluk itu cepat.
“ Pulang lah...,” kata Iyaz mencoba membujuk.
“ Bunuh Aku daripada Kau menyuruhku pulang...,” sahut makhluk itu dengan nafas yang kian tak teratur. Makhluk itu tahu apa hukuman yang bakal ia terima jika pulang tanpa hasil.
Mendengar jawaban makhluk itu membuat Iyaz dan Izar mengangguk. Dengan bacaan takbir dan tahlil, keduanya
mencengkram erat tubuh makhluk itu. Mata makhluk itu menatap sendu kearah Iyaz dan Izar namun mulutnya nampak tersenyum. Sesaat kemudian suara melengking terdengar bersamaan dengan mengecilnya tubuh makhluk hitam itu. Setelah mengecil menjadi seukuran telapak tangan, makhluk itu hancur menjadi debu berwarna hitam yang terbang bersama angin.
Hancurnya tubuh makhluk itu membuat bokor di rumah Ki Celeng terbelah dua dan itu membuat Ki Celeng terkejut sekaligus panik. Sesaat kemudian sebuah sinar berwarna putih melesat masuk ke dalam rumahnya. Tak mau menanggung akibat seorang diri, Ki Celeng menangkis sinar itu lalu mengarahkan sinar itu ke rumah Diki.
Saat sinar itu mengenai atap rumah Diki terdengar letusan dan jeritan yang memekakkan telinga sebagai pertanda
sinar itu telah menemukan sasaran.
__ADS_1
Bersambung