
Saat tiba di rumah orangtuanya, Hanako disambut oleh Pandu yang tersenyum lebar melihat kehadirannya. Hanako pun tersenyum lalu mencium punggung tangan Pandu yang juga balas mencium keningnya.
“ Assalamualaikum, udah lama ya Mas...?” tanya Hanako.
“ Wa alaikumsalam. Baru sepuluh menit kok Sayang. Kata Iyaz Kamu lagi sakit, sakit apa...?” tanya Pandu sambil menyentuh pipi Hanako yang terasa hangat.
“ Pusing aja dikit Mas tapi gapapa kok...,” sahut Hanako sambil tersenyum lalu menyandarkan kepalanya di bahu Pandu.
“ Ehm, please ya jangan mesra-mesraan di depan Aku...,” kata Izar sambil berdiri di samping mobil.
Hanako dan Pandu menoleh lalu tertawa dan berniat mengerjai Izar yang selama ini terkenal paling usil itu.
“ Tapi Kami kan pasangan Suami Istri yang sah Zar. Jadi halal untuk bersentuhan begini, begini atau begini...,” kata Pandu sambil meraih pinggang Hanako untuk merapat kearahnya, mencium pipinya dan memeluknya erat.
“ Kalian tuh ya...!” kata Izar kesal lalu bergegas masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan cepat meninggalkan tempat itu.
Hanako dan Pandu tertawa melihat sikap Izar. Kemudian
keduanya melangkah masuk ke dalam rumah Heru sambil bergandengan tangan. Selama
ini keduanya memang masih tinggal terpisah. Mereka hanya ingin semua proses
menuju pernikahan yang tercatat di negara itu berjalan lancar. Cukup keluarga
besar yang tahu status mereka sesungguhnya hingga tak ada pertanyaan jika suatu
saat melihat Hanako dan Pandu bergandengan tangan di luar sana.
“ Biar gini aja dulu Yah. Nanti dituduh berzina sama tetangga malah ga enak. Lagian capek lah harus ngejawab tuduhan tetangga yang kepo ngeliat kebersamaan Kami...,” kata Pandu saat ayahnya bertanya mengapa ia dan Hanako tinggal terpisah padahal mereka sudah sah sebagai suami istri.
“ Oh gitu. Ya udah, Ayah sama Ibu mendukung aja apa pun keputusan Kalian. Tapi Ayah sangsi Kamu bisa sabar ngeliat Hanako yang cantik itu...,” goda sang ayah sambil menaik turunkan alisnya.
“ Ck, kalo itu mah udah pasti Yah. Makanya Kami selalu ketemuan di tempat rame. Kalo pas ke rumah Ayah Heru Kami milih duduk di ruang tengah atau di teras biar pikiranku ga melantur kemana-mana...,” sahut Pandu jujur hingga membuat sang ayah tertawa keras.
Tawa sang ayah memancing ibu Pandu keluar untuk melihat anak dan suaminya itu.
“ Ada apa sih Yah, geli banget ketawanya...?” tanya ibu Pandu.
“ Gapapa Bu. Aku lagi ngobrol ala pria sama Anakmu ini...,” sahut ayah Pandu di sela tawanya hingga membuat ibu Pandu pun tersenyum lalu menyingkir ke dalam rumah.
\=====
__ADS_1
Hanako masih bekerja seperti biasa hingga tiga hari menjelang pernikahannya. Iyaz dan Izar tetap mengawal Hanako dan tak membiarkannya seorang diri. Tentu saja hal itu menyulitkan Andri yang memang sedang berusaha memikat Hanako. Namun toh akhirnya kesempatan untuk Andri datang juga.
Saat itu Hanako baru saja keluar dari ruangan sang Opa untuk melaporkan pekerjaannya sebelum ia cuti. Andri menghadang langkah Hanako sambil
merentangkan kedua tangannya hingga membuat Hanako terkejut.
“ Pak Andri...?!” sapa Hanako sambil melangkah mundur karena tak nyaman dengan sikap Andri.
“ Iya. Apa Kita bisa ngobrol sebentar...?” tanya Andri.
“ Ngobrol apa...?” tanya Hanako tak mengerti.
“ Banyak. Dan Kita bisa ngomongin semuanya sambil makan siang, gimana...?” tanya Andri sambil menatap Hanako dengan intens.
Hanako tersenyum tipis karena tahu Andri sedang melancarkan ilmu hitam miliknya untuk menaklukkan Hanako melalui tatapannya itu. Hanako yakin jika selama ini Andri selalu berhasil memikat lawan jenisnya dengan ilmu hitamnya itu. Dan kali ini Hanako tertantang untuk memberi Andri pelajaran.
“ Ok, Kita mau makan siang dimana...?” tanya Hanako kemudian hingga membuat wajah Andri berbinar bahagia.
“ Saya tahu tempat makan yang enak. Gimana kalo Kita ke sana siang ini...?” tanya Andri yang diangguki Hanako.
“ Saya ambil tas dulu ya...,” kata Hanako.
Saat masuk ke dalam ruangannya Hanako melihat Iyaz dan Izar tengah menatap marah kearahnya.
“ Apa sih...?” tanya Hanako.
“ Kamu mau jalan sama si Andri Ci, apa Kamu lupa kalo Kamu udah punya Suami...?” tanya Izar ketus.
“ Inget dong...,” sahut Hanako santai.
“ Tapi kenapa masih pergi juga. Apa Kamu ga tau kalo Andri punya ilmu pelet Ci...?” tanya Iyaz gusar.
“ Tau. Lagian kan Aku ga sendiri. Kalian juga pasti ga bakalan biarin Aku jalan sama dia, iya kan...?” tanya Hanako.
“ Cici...!” panggil Iyaz dan Izar bersamaan.
“ Sssttt..., jangan teriak kenapa sih. Aku tuh mau ngasih si Andri pelajaran karena udah banyak mainin perasaan karyawati di kantor ini. Aku mau dia sadar kalo dia menantang orang yang salah...,” kata Hanako sambil mendial nomor ponsel Pandu.
Mendengar ucapan Hanako membuat Iyaz dan Izar saling menatap kemudian mengangguk tanda mengerti. Apalagi mereka mendengar langsung saat Hanako minta ijin kepada Pandu dan menceritakan semuanya dengan gamblang. Awalnya Pandu keberatan. Tapi saat Hanako mengatakan Iyaz dan Izar ada bersamanya, Pandu pun menyetujui permintaan istri cantiknya itu.
Dan kini Hanako tengah duduk berhadapan dengan Andri di sebuah restoran yang letaknya tak jauh dari kantor. Iyaz dan Izar juga nampak duduk tak jauh dari Hanako tanpa sepengetahuan Andri.
__ADS_1
“ Saya udah pesenin menu spesial di restoran ini khusus buat Mbak Hanako. Silakan dicoba...,” kata Andri sambil menyodorkan piring berisi steak kepada Hanako.
“ Makasih...,” sahut Hanako dan mulai menyantap makanan di hadapannya itu dengan tenang.
Diam-diam Andri tersenyum saat melihat Hanako menyantap makanan yang telah ia bubuhi ‘sesuatu’ itu dengan lahap. Hanako pun memakan apa pun yang Andri berikan dan itu membuat Andri melambung makin tinggi. Sedangkan Iyaz dan Izar nampak khawatir melihat sikap Hanako.
“ Cici ceroboh banget sih...,” gerutu Izar sambil meneguk air dalam gelas hingga tandas.
“ Tenang aja Zar, Cici udah tau kok. Dia pasti udah nyiapin semuanya...,” kata Iyaz menenangkan Izar.
Tak lama kemudian Hanako dan Andri pun selesai makan siang. Keduanya berdiri lalu berjalan menuju parkira. Mengira jika ilmu peletnya telah mengenai sasaran, dengan berani Andri mencoba menggandeng tangan Hanako tapi langsung ditepis dengan kasar oleh Hanako.
“ Jangan melampaui batasan Anda Pak Andri...,” kata Hanako tegas hingga membuat Andri terkejut.
“ Oh maaf. Saya cuma mau...,” ucapan Andri terputus saat Hanako memotong cepat.
“ Lupakan tapi jangan ulangi lagi. Saya bukan wanita lugu seperti wanita lain yang pernah Anda temui.Terima kasih atas makan siangnya, Saya permisi...,” kata Hanako lalu melangkah cepat kearah pria yang duduk di atas motor tak jauh dari sana.
Andri mematung di tempat karena tak menyangka jika ia akan mendapat penolakan dari Hanako. Andri melepas kepergian Hanako bersama pria di atas motor yang ternyata adalah Pandu itu dengan tatapan bingung. Sementara itu Iyaz dan Izar nampak tertawa senang dan saling adu toast melihat wajah nelangsa Andri.
\=====
Hari yang dinanti pun tiba. Pandu dan Hanako kini sudah ada di depan penghulu untuk menjalani proses pernikahan. Ayah pasangan pengantin itu pun nampak duduk di samping penghulu. Sedangkan Faiq dan paman Pandu yang ditunjuk sebagai saksi pernikahan pun nampak telah hadir di sana dan duduk di samping kanan dan kiri meja.
Wajah sepasang pengantin itu terlihat berbinar bahagia hingga membuat aura positif menyebar ke seantero ruangan. Ruangan yang didekorasi dengan nuansa putih dengan sedikit aksen hijau itu membuat suasana terasa sakral. Hanako nampak sedikit gugup namun Pandu berhasil menenangkan istrinya itu dengan menggenggam tangannya erat.
Heru pun tak kalah gugup namun ia berhasil menetralisir perasaannya itu. Heru memang sengaja menggelar akad nikah sang putri di rumah karena itu adalah mimpinya dan Efliya sejak lama. Hingga moment ijab kabul pun berlangsung.
“ Ananda Pandu Alghifari, Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak kandung Saya Eisha Hanako binti Heru dengan mas kawin uang sebesar dua juta dua ratus lima belas ribu rupiah dibayar tunai...!” kata Heru lantang.
“ Saya terima nikah dan kawinnya Eisha Hanako binti Heru dengan mas kawin tersebut dibayar tunai...!” sahut Pandu tak kalah lantang.
“ Sah...!, sah...!, sah...!” sahut para hadirin hingga membuat suasana gaduh.
“ Gimana saksi...?” tanya sang penghulu.
“ Sah...!” sahut Faiq dan paman Pandu bersamaan disambut tepuk tangan semua hadirin.
Kegaduhan pun tak terelakkan karena ulah Iyaz dan Izar yang mengatakan sesuatu hingga membuat Hanako tersipu malu sekaligus kesal melihat tingkah keduanya.
\=====
__ADS_1