Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
55. Monster Ulat Bulu


__ADS_3

Ustadz Hamzah dan Faiq tiba di persawahan yang terletak di lereng bukit. Suasana terlihat sepi, tak ada siapa


pun di sana. Cahaya bulan purnama cukup membantu menerangi alam raya hingga Faiq dan ustadz Hamzah bisa melihat semua benda yang ada di hadapan mereka dengan jelas.


Saat mereka mengedarkan pandangan, mereka melihat kek Bokor sedang bersemedi di tengah sawah. Ia duduk bersila sambil memejamkan mata dengan kedua tangan menangkup di depan dadanya.


“ Mana siluman itu Pak Ustadz. Ga ada siapa pun di sini kecuali dia...,” kata Faiq sambil memasukkan kunci motor


ke dalam saku jaketnya.


“ Kita tunggu aja di sini sebentar lagi. Keliatannya siluman itu sedang sembunyi. Dia menunggu waktu yang tepat


untuk keluar agar bisa sekalian menakuti warga saat mereka berkumpul nanti...,” sahut ustadz Hamzah.


“ Dasar licik...,” gumam Faiq kesal.


“ Gapapa Nak. Kita bisa manfaatkan waktu untuk sholat Isya berjamaah di sini, apalagi udah masuk waktu sholat Isya sekarang...,” kata ustadz Hamzah sambil menatap langit malam yang terbentang luas di atas sana.


Faiq mengangguk setuju karena saat itu ia juga mendengar kumandang adzan Isya di kejauhan. Apalagi saat itu


keduanya masih dalam keadaan berwudhu. Faiq mengecek arah mata angin melalui jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya untuk menentukan arah kiblat.


“ Kiblatnya kearah sana Pak Ustadz...,” kata Faiq sambil menunjuk kearah bukit dan diangguki ustadz Hamzah.


“ Baik Nak, makasih. Sekarang Kamu iqomat ya...,” pinta ustadz Hamzah sambil menggelar sorbannya untuk alas


sholat.


Faiq pun melantunkan iqomat. Suaranya yang lantang mampu memecah konsentrasi kek Bokor yang sedang bersemedi itu hingga membuatnya gelisah.

__ADS_1


Kemudian ustadz Hamzah berdiri memimpin sholat berjamaah itu. Tak lama kemudian warga yang tadi mengikuti Faiq dan ustadz Hamzah pun tiba. Mereka turun dari kendaraan masing-masing dan langsung membuat shaft sholat berjamaah di samping kiri dan belakang Faiq. Diantara mereka terlihat Iyaz dan Izar yang turut serta menjadi makmum.


Melihat barisan warga yang melakukan sholat berjamaah di depan matanya membuat kek Bokor kesal bukan kepalang. Apalagi saat ustadz Hamzah mulai melantunkan ayat suci Al Qur’an di dalam sholatnya.


“ Kurang ajar, apa sih maunya orang itu. Apa belum cukup dia mempermalukan Aku tadi...,” gumam kek Bokor kesal.


Tiba-tiba tanah terasa bergetar hebat seolah ada sesuatu yang hendak keluar dari dalam bumi. Kek Bokor nampak


tersenyum mengetahui siluman yang dipujanya akan datang dan membantunya menghadapi serangan  ustadz Hamzah dan Faiq juga warga kampung itu.


Sementara itu warga yang sedang menunaikan sholat berjamaah bersama ustadz Hamzah pun ikut merasakan getaran di tanah yang mereka pijak. Nampaknya mereka mulai kehilangan konsentrasi karena takut bukit di hadapan mereka akan longsor dan menimbun mereka.


Namun yang mereka takutkan tak terbukti sama sekali. Saat ustadz Hamzah mengucapkan salam usai membaca


tasyahud akhir, getaran itu pun berhenti. Kemudian Ustadz Hamzah pun mengingatkan warga agar menjauh dari lokasi itu karena terlalu berbahaya untuk mereka. Faiq pun mendekati Iyaz dan Izar lalu meminta keduanya menjauh dari tempat itu.


“ Tapi Yah...,” ucapan Iyaz dan Izar terputus saat melihat wajah Faiq yang tak bersahabat.


“ Baik Yah...,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan lalu mengajak Wahyu menjauh.


Iyaz dan Izar membonceng di belakang Wahyu yang melajukan motornya perlahan. Setelah melaju sejauh dua ratus meter Wahyu menghentikan motornya lalu menoleh kearah Faiq.


“ Lebih jauh lagi...!” kata Faiq sambil melambaikan tangannya meminta Wahyu agar menjauh.


Wahyu kembali melajukan motornya hingga sejauh tiga ratus meter lalu menoleh kearah Faiq. Wahyu tersenyum melihat Faiq megacungkan jempolnya pertanda jarak itu cukup aman untuknya dan si kembar.


Warga pun mengikuti jejak Wahyu untuk menjauh. Kemudian mereka berdiri tak jauh dari Wahyu dan si kembar. Namun tiba-tiba terdengar suara bergemerisik dari balik bukit, seperti benda berat yang diseret dengan paksa. Semua orang menanti benda atau makhluk apakah yang akan muncul.  Sedangkan wajah kek Bokor nampak tersenyum saat mendengar suara itu karena ia tahu jika sang penguasa telah datang untuk menuntut balas.


Warga menjerit tertahan saat melihat penampilan makhluk aneh dari balik bukit. Makhluk itu menggeliat lalu melata perlahan mendekati area persawahan dimana kek Bokor berada.

__ADS_1


“ Itu  Rajanya ulat bulu yang menyerang kampung Kita...!” kata seorang warga sambil menunjuk kearah makhluk berbentuk ulat berwarna kehijauan berukuran sangat besar .


“ Masya Allah, apaan itu...?” tanya Wahyu dengan mata membulat sempurna.


“ Itu yang namanya siluman ulat bulu yang selama ini udah nerror warga kampung sini Kak...,” sahut Iyaz.


“ Besar banget. Kaya monster yang ada di film Power Rangers yang Kita tonton di y**tube itu ya Yaz...!” kata Izar antusias hingga membuat Iyaz tertawa.


“ Ya Allah...,” kata Wahyu sambil mengelus dada karena merasa sangat terkejut sekaligus takut.


Sedangkan ustadz Hamzah dan Faiq nampak berdiri tegak sambil menatap tajam kearah siluman itu seolah menanti apa yang akan dilakukan oleh siluman itu. Makhluk berbentuk ulat itu memiliki ukuran yang sangat besar hingga mampu menutupi sebagian punggung bukit. Tubuhnya  ditutupi bulu berwarna hijau yang menyerupai pasak kayu karena ukurannya yang besar. Kepalanya yang bulat dengan kedua mata besar dan sungut yang menyerupai tanduk itu nampak menoleh ke kanan dan ke kiri. Perlahan siluman itu merayap turun menemui kek Bokor yang nampak tersenyum lalu berdiri menyambut kehadirannya.


“ Selamat datang Tuan...,” sapa kek Bokor sambil membungkukkan tubuhnya.


“ Apa yang terjadi Bokor...?” tanya siluman itu dengan suara yang mendesis.


“ Maaf Tuanku. Ada manusia yang sok tau yang mencoba mengusik kedamaian Kita...,” sahut kek Bokor sambil menoleh kearah ustadz Hamzah dan Faiq.


“ Hanya dua manusia to*ol kenapa harus memanggilku Bokor. Tunjukkan padaku sehebat apa mereka...!” kata siluman itu dengan marah.


“ Baik Tuanku...,” sahut kek Bokor dengan suara bergetar.


Kek Bokor membalikkan tubuhnya lalu melesat dengan cepat menyerang ustadz Hamzah dengan gerakan yang sangat cepat. Gerakan kek Bokor dihadang oleh Faiq yang menyambut dengan kekuatan penuh. Pertempuran sengit pun terjadi. Dari kejauhan Iyaz dan Izar nampak takjub melihat ayah mereka yang selama ini terlihat tenang dan bijaksana itu berubah menjadi sosok bak super hero yang melawan monster.


“ Bantu Ayah dengan dzikir Kak...,” kata Iyaz yang diangguki Wahyu.


Iyaz, Izar dan Wahyu pun mulai berdzikir dengan suara lantang. Mendengar dzikir yang dilantunkan oleh ketiganya membuat warga yang masih berdiri di tempat yang sama pun tersadar lalu ikut berdzikir. Ustadz Hamzah nampak menoleh dan tersenyum saat suara dzikir yang mereka lantunkan tertiup angin dan sampai ke telinganya. Ustadz


Hamzah pun mengacungkan kedua jempolnya pertanda apa yang dilakukan oleh si kembar bersama warga adalah tindakan yang tepat.

__ADS_1


Ternyata dzikir yang mereka lantunkan membuat siluman itu terusik dan terlihat tak nyaman. Siluman ulat bulu itu lalu membuka mulutnya yang selebar wajahnya itu hingga memperlihatkan deretan gigi runcing yang tak beraturan di dalam mulutnya. Kepalanya tengadah menghadap langit seolah ia sedang mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi musuhnya. Suara menggeram terdengar bersamaan gerakannya yang melesat cepat menuju kearah ustadz Hamzah yang berdiri menantang.


\=====


__ADS_2