
Polisi mendatangi rumah orangtua bintang saat malam hari. Ayah dan ibu Bintang nampak shock saat mengetahui polisi lah yang telah mengetuk pintu rumahnya.
“ Selamat malam Pak...,” sapa seorang polisi.
“ Selamat malam. Maaf ada apa ini Pak...?” tanya ayah Bintang sambil menatap dua orang polisi yang berdiri gagah di hadapannya.
“ Apa betul ini rumah Bintang...?” tanya polisi.
“ Betul Pak, Saya Ayahnya Bintang. Apalagi yang telah dilakukan Anak itu Pak...?” tanya ayah bintang gusar.
“ Bintang tak melakukan kesalahan apa pun Pak...,” sahut sang polisi.
“ Kalo Bintang ga melakukan kesalahan, terus kenapa Bapak nanyain dia tadi...?” tanya ayah Bintang tak mengerti.
“ Ehm, Saya lakukan itu karena lebih mudah mengingat nama Bintang dibanding Kakeknya. Sebenarnya Kami ke sini mau menjemput Kakek Bintang yang bernama Kek Pujo. Apa betul Beliau tinggal di sini...?” tanya polisi lagi sambil membaca catatan kecil di tangannya.
“ Kek Pujo itu Bapak Saya. Mana mungkin Bapak Saya bisa melakukan kejahatan Pak, beliau udah sepuh banget. Mungkin Bapak polisi salah alamat...,” sahut ayah Bintang tak mau kalah.
“ Ada apa sih ribut-ribut, ini kan udah malam...!” hardik Kek Pujo lantang hingga membuat kedua orangtua Bintang dan polisi menoleh kearahnya.
“ Bapak, ngapain keluar...?” tanya ayah Bintang cemas.
“ Aku keluar karena Kalian berisik...,” sahut kek Pujo ketus.
“ Selamat malam Kek. Kebetulan sekali Kakek keluar jadi Kami ga perlu repot-repot membawa Kakek ke kantor polisi...,” kata salah seorang polisi.
“ Memang apa salah Kakek Saya hingga Bapak mau membawanya segala...?” tanya Bintang tak suka.
“ Pasti Kamu yang namanya Bintang kan...?” tanya polisi.
“ Betul...,” sahut Bintang cepat.
“ Begini, Kek Pujo diduga terlibat dengan kematian tiga rekan kerjanya puluhan tahun silam...,” kata polisi dengan santai namun mengejutkan semua orang.
“ Mereka mati karena kebakaran, lalu apa hubungannya denganku. Kan Aku udah bilang kalo saat kejadian Aku lagi membantu kerabatku yang sakit...,” kata kek Pujo gusar.
“ Kami tau dan Kami masih menyimpan pengakuan Kakek itu. Tapi rupanya atasan Kami membuka kembali kasus ini karena tuntutan masyarakat. Dan ini surat penagkapannya..,” kata polisi sambil menyerahkan sepucuk surat berlogo Kepolisian RI kepada ayah Bintang.
“ Mustahil. Kalian pasti bohong...!” kata kek Pujo histeris.
Tapi polisi tak ingin membuang waktu. Mereka langsung merangsek maju dan meringkus kek Pujo. Tak ada perlawanan berarti karena Bintang dan orangtua sadar tak akan ada gunanya melawan aparat. Akhirnya dengan berat hati mereka melepas kepergian kek Pujo bersama para polisi itu.
__ADS_1
“ Bapak tenang aja, Saya bakal ngawal dari belakang...,” kata ayah Bintang.
Kemudian Bintang dan ayahnya mengikuti mobil polisi dari belakang sambil terus berdoa agar dugaan tentang keterlibatan kek Pujo salah dan tak terbukti.
Sedangkan di di dalam mobil Kek Pujo nampak memberontak dan terus memaki. Namun para polisi seolah menulikan telinga mereka dalam menghadapi kek Pujo. Tak sedikit pun mereka merespon ucapan kek Pujo hingga akhirnya Kek Pujo lah yang terdiam karena kelelahan.
\=====
Kek Pujo harus menjalani pemeriksaan polisi di usia senjanya itu. Berkat kerja sama berbagai pihak akhirnya terkuak motif sesungguhnya dari peristiwa kelam itu.
Ternyata seperti dugaan Heru, kek Pujo terlibat dengan kematian tiga rekan kerjanya itu. Alibi yang selama ini melindunginya justru tak berguna saat berhadapan dengan Heru dan teamnya. Dengan mudah Heru dan anak buahnya membuktikan jika alibi kek Pujo adalah palsu.
Kek Pujo sengaja bekerja sama dengan preman bayaran untuk merampok SPBU tempatnya bekerja. Ia sengaja pulang lebih dulu untuk menyiapkan alibi sehingga saat kejadian tak akan ada yang mencurigainya. Namun serapat-rapatnya menyimpan bangk*i toh bakal tercium juga baunya. Begitu pula kek Pujo. Meski pun selama puluhan tahun ia selamat dan bisa menghirup udara bebas, namun akhirnya ia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Semula kek Pujo membantah semua tuduhan polisi. Namun saat polisi mempertemukannya dengan Husni yang juga sama-sama security di SPBU yang sama, kek Pujo tak berkutik. Saat keduanya diinterogasi pun terlihat perbedaan yang jelas, kek Pujo terlihat gugup sedangkan Husni yang juga telah berusia sepuh itu nampak tenang dalam menjawab semua pertanyaan polisi.
“ Jadi kemana Kek Husni saat kejadian kebakaran SPBU itu...?” tanya polisi.
“ Saya pergi jauh ke tempat yang ga terlacak oleh mereka...,” sahut kek Husni.
“ Kemana...?” tanya polisi.
“ Pulau Kalimantan. Saya memulai hidup Saya yang baru di sana bersama Anak dan Istri Saya...,” sahut kek Husni.
“ Mereka ya Pujo dan teman premannya itu lah, siapa lagi memangnya...,” sahut kek Husni dengan enggan hingga membuat Heru dan anak buahnya terkejut dan saling menatap.
“ Apa mereka mengancam Kakek...?” tanya polisi.
“ Iya...,” sahut kek Husni.
Lalu mengalir lah cerita dari mulut kek Husni tentang ajakan kek Pujo untuk merampok SPBU itu.
“ Jangan gila Lo Pujo. Masa ngerampok di kandang sendiri...,” kata Husni sambil tertawa karena mengira ucapan Pujo hanya gurauan.
“ Maksud Lo kalo Kita ngerampok di tempat lain Lo mau ikutan...?” tanya Pujo.
“ Ya ga mau lah. Lagian buat apaan sih ngerampok. Kita kan udah punya kerjaan tetap, dapat gaji, tunjangan, uang makan, uang trannsport, terus apalagi yang dicari...?” tanya Husni.
“ Tapi itu masih kurang...,” sahut Pujo gusar.
“ Kalo kurang Lo masih bisa ngojek lah buat cari tambahan...,” saran Husni.
__ADS_1
“ Gue butuh cepet Husni...,” kata Pujo.
“ Ngerampok emang cepet menghasilkan kalo Kita selamat. Tapi apa Lo ga mikirin gimana nasib keluarga Lo nanti kalo Lo ketangkep...?” tanya Husni.
“ Gue yakin ga bakal ketangkep...,” sahut Pujo sambil tersenyum.
“ Pasti Lo ngajak seseorang buat ngelancarin niat Lo itu...,” tebak Husni.
“ Iya. Tuh orangnya udah di sini...,” sahut Pujo sambil menunjuk kearah kepala preman bernama Jerangkong yang tengah melangkah kearah mereka.
“ Apa kabar...?” sapa Jerangkong dengan suara beratnya.
“ Baik. Kebetulan Lo dateng. Kenalin nih temen Gue, Husni...,” kata Pujo.
“ Gue Jerangkong. Gimana, Lo mau ikutan kan...?” tanya Jerangkong tanpa basa basi sambil menatap Husni.
“ Dia ga mau, takut katanya...,” sahut Pujo sambil mencibir.
“ Oh ya. Tapi dia tau soal rencana Kita...?” tanya Jerangkong tak suka.
“ Iya...,” sahut Pujo sambil menggaruk kepalanya.
“ Ngapain Lo ceritain kalo dia ga mau ikutan. Dan Lo, awas aja kalo berani bocorin ini sama orang lain atau Polisi...,” ancam Jerangkong sambil menarik kerah baju Husni dengan kasar.
“ Dia ga bakalan berani. Anak Istrinya jadi jaminan...,” kata Pujo.
“ Apa maksud Lo Jo. Jangan bawa-bawa keluarga Gue. Mereka ga tau apa-apa...!” kata Husni marah.
“ Semua tergantung Lo. Kalo Lo diem dan ga ember, Gue jamin mereka selamat. Iya ga Jer...?” tanya Pujo sambil menatap Jerangkong.
“ Betul. Kalo sampe rencana ini bocor, jangan kaget kalo Lo nemuin mereka terluka. Ya..., minimal kaki tangan patah lah...,” sahut Jerangkong sambil tersenyum sinis.
“ Jangan !. Gue janji ga bakal ngomongin ini kemana-mana...,” kata Husni dengan suara bergetar.
Jerangkong dan Pujo tersenyum lalu mengangguk dan membiarkan Husni pergi. Namun rupanya mereka terus mengawasi Husni dan keluarganya. Anak buah Jerangkong terus menerror anak dan istri Husni dengan berbagai kiriman yang menakutkan. Sadar jika keluarganya terancam, Husni pun memilih pergi.
Tanpa sepengetahuan Pujo, sehari sebelum hari naas itu Husni resign dari pekerjaannya. Kemudian ia membawa keluarganya hijrah ke Kalimantan keesokan harinya dengan menumpang pesawat. Husni mengetahui kejadian pembakaran SPBU itu melalui berita di televisi dan terkejut karena ada tiga karyawan yang menjadi korban.
“ Apa Kakek mengenal mereka...?” tanya polisi.
“ Iya. Aldi dan Chandra adalah karyawan SPBU. Kalo Beatrix itu kasir di mini market yang ada di lingkungan SPBU. Mereka orang baik yang bekerja untuk memenuhi harapan keluarganya...,” sahut Husni dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Heru pun memberi kode agar mereka menyudahi sesi interogasi terhadap Kek Husni yang statusnya sebagai saksi itu dan membiarkannya pulang ke rumah untuk istirahat.
Bersambung