
Doni membawa keluarganya ke pantai Trikora. Pantai yang indah dengan pasir putihnya disertai deburan ombak yang landai. Di sana mereka menikmati keindahan pantai sambil tertawa-tawa. Tentu saja berfoto adalah agenda utama untuk Hanako dan Dewi. Keduanya nampak bergantian memotret untuk mendapatkan hasil jepretan yang bagus.
“ Dewi..., Dewi. Bahagia betul dia keliatannya. Dari tadi tertawa terus...,” kata neneknya sambil tersenyum.
“ Betul Bu. Macam punya Kakak kandung aja ketemu sama si Hanako ini, klop betul...,” sahut bibi Pandu sambil tersenyum.
“ Eisha memang orang yang menyenangkan Bi. Makanya patut lah kalo Aku bangga beristrikan dia...,” kata Pandu sambil meneguk air kelapa muda dari tempurungnya dengan santai.
“ Kamu betul Pandu. Eh, apa Kamu liat gimana wajah si Putri tadi Ndu...?” tanya bibi Pandu.
“ Ga Bi. Kenapa memangnya...?” tanya Pandu pura-pura tak tahu,
“ Keliatannya dia sedih banget lho. Kayanya dia menyesal pernah menolak perjodohan Kalian dulu...,” kata bibi Pandu mengompori Pandu.
“ Jangan salah Bi. Aku juga belum bilang iya kan dulu. Nah artinya Aku sama Putri emang ga setuju sama perjodohan yang diatur Kakek...,” sahut Pandu mengoreksi ucapan sang bibi.
“ Tapi kalo boleh jujur, Bibi lebih senang kaya gini. Kamu bisa menikah dengan Hanako yang cantik dan baik itu. Bibi ga bisa bayangin kalo Kamu menikahi Putri. Pasti hidup Kita monoton dan membosankan...,” kata bibi Pandu hingga membuat Pandu menoleh kearah sang bibi.
“ Masa sampe kaya gitu Bi. Keliatannya Bibi senang waktu ngeliat Putri berkunjung tadi. Apalagi dia juga bilang kalo dia rutin mengunjungi Nenek...,” kata Pandu.
“ Itu kan hanya adab menyambut tamu Pandu. Masa orang berkunjung dilarang. Apalagi Nenekmu senang hati menerimanya...,” sahut bibi Pandu sambil melirik kearah ibunya yang duduk di kursi roda.
“ Tak apa lah. Melihatnya membuatku ingat pada Kakek dan Neneknya yang merupakan teman seperjuangan Bapakmu dulu. Ga ada salahnya Aku menjaga silaturrahim dengannya kan...,” sahut sang nenek.
“ Tapi gara-gara Ibu bersikap berlebihan, dia hampir mengira kalo Ibu bakal menjodohkan dia dengan Pandu lagi...,” kata bibi Pandu.
“ Aku hanya kasian sama dia. Sampe umur yang segini dia belum mau menikah. Katanya sih sedang menunggu seseorang. Dan Aku yakin seseorang itu adalah Pandu...,” kata nenek Pandu lirih.
“ Mana bisa begitu. Aku ga setuju Pandu nikah sama Putri. Dan Kamu, jangan coba-coba poligami ya Ndu. Apalagi sama si Putri itu...!” kata bibi Pandu galak.
“ Aku ga bakal kaya gitu Bi. Insya Allah Aku setia sama Eisha. Buatku dia Istri satu-satunya dan selamanya...,” sahut Pandu tegas.
“ Syukur lah...,” kata bibi Pandu sambil mengelus dadanya pelan.
Tiba-tiba Hanako dan Dewi berjalan menghampiri mereka dengan peluh yang sudah membasahi wajah dan tubuh mereka. Hal itu terlihat jelas dari pakaian mereka yang basah karena keringat.
“ Kita ke sebelah sana yuk Nek...,” ajak Hanako.
“ Kalian aja, Nenek tunggu di sini...,” sahut nenek Pandu.
“ Ayolah Nek. Aku udah janji bakal dorong kursi roda Nenek selama Kita berlibur. Ijinkan Aku menepati janjiku ya Nek...,” bujuk Hanako sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
__ADS_1
“ Baik lah kalo Kamu memaksa...,” sahut sang nenek sambil tersenyum.
“ Yeeeyy..., akhirnya Nenek mau juga keluar menikmati pantai. Kakak emang the best deh bisa bujuk Nenek kaya gini...,” puji Dewi sambil mengacungkan jempolnya.
Setelah puas menikmati pantai, mereka memutuskan makan siang di pondok peristirahatan yang sengaja disewa Pandu untuk mereka. Setelah menunaikan sholat Dzuhur berjamaah yang dipimpin Pandu, mereka pun menikmati makan siang dengan lahap.
Makanan khas yang disajikan kali ini sedikit berbeda. Pihak pengelola pondok peristirahatan itu menyajikan gonggong,sejenis siput laut yang banyak ditemukan di perairan Bintan. Ada juga asam pedas ikan sambilang dan otak-otak sotong juga mie tarempa.
“ Wah kalo gini caranya Aku bisa gendut deh pulang dari sini...,” kata Hanako setelah menyelesaikan makan siangnya.
“ Gapapa Sayang. Mau seperti apa pun bentuk tubuhmu nanti, Aku tetap sayang kok...,” sahut Pandu sambil mengecup kening Hanako sekilas.
“ Beneran ya...,” kata Hanako sambil menarik lengan Pandu.
“ Iya...,” sahut Pandu mantap.
“ So sweet..., jadi pengen punya Suami kaya Kak Pandu...,” kata Dewi sambil tersenyum.
“ Hush, Anak kecil ga boleh mikirin nikah. Sekolah aja belum lulus udah ngomong kaya gitu...,” hardik Doni.
“ Apaan sih Kakak...,” sahut Dewi sambil cemberut.
“ Kakakmu benar Dewi. Kamu kan masih SMA. Sekolah dulu, lulus, kuliah, kerja, baru mikirin nikah...,” kata paman Pandu menengahi.
Hanako dan Pandu pun tertawa lalu mendekati Dewi yang kesal dimarahi ayahnya.
“ Tenang aja Dewi. Jodoh itu ga akan kemana. Kan Allah udah siapkan jodoh untuk Kita. Jadi Kamu ga perlu risau. Lakukan yang terbaik, maka Allah akan beri yang terbaik. Sejujurnya Kakak ga pernah pacaran lho, tapi Allah kirim Suami yang hebat untuk Kakak...,” kata Hanako sambil melirik kearah Pandu.
“ Masa ga pernah pacaran. Kakak kan cantik...,” kata Dewi tak percaya.
“ Alhamdulillah. Pengagum Kakak sih lumayan banyak, maklum lah kalo artis kan emang beda...,” gurau Hanako hingga membuat semua orang kembali tertawa.
Begitu lah cara Hanako menasehati Dewi. Nampaknya Dewi bisa menerima hal itu dan itu membuat paman dan bibi Pandu semakin kagum pada Hanako.
\=====
Keesokan harinya Doni mengajak keluarganya ke Danau Biru yang letaknya tak jauh dari pantai Trikora. Udara pagi membuat semua nggota keluarga nampak berseri-seri.
“ Apa Kalian tidur nyenyak semalam...?” Tanya paman Pandu.
“ Alhamdulillah nyenyak banget Paman...,” sahut Pandu.
__ADS_1
“ Syukur lah...,” kata paman Pandu sambil tersenyum.
“ Apa Kamu punya famili lain di sini Mas...?” tanya Hanako sambil menggelayuti lengan Pandu.
“ Ga ada Nak. Karena Aku dan Ibunya Pandu kan hanya dua bersaudara. Jadi saat ibunya Pandu diboyong Suaminya ke Jakarta, ya tinggal Aku dan keluargaku yang menjaga Nenek dan Kakeknya Pandu...,” sahut bibi Pandu.
“ Kenapa ga hijrah aja ke Jakarta Bi...?” tanya Hanako.
“ Untuk apa, Kami senang di sini. Kakek dan Nenek punya banyak kenangan di sini dan Kami ga ingin menghancurkan semua kenangan itu...,” sahut paman Pandu sambil memeluk mertuanya dengan sayang.
Nenek Pandu pun ikut tersenyum sambil mengusap kepala menantunya itu dengan lembut.
“ Lagian Bapak Kami kan meninggal dan dimakamkan di sini. Siapa yang akan menziarahi makamnya nanti kalo Kami hijrah semua...,” kata bibi Pandu menambahkan.
“ Segini aja udah rame dan seru ya Bi...,” kata Hanako sambil memeluk bibi Pandu erat.
“ Betul. Apalagi kalo Kalian ke sini membawa Cucu yang banyak untukku nanti...,” sahut bibi Pandu sambil mengusap pipi Hanako dengan lembut.
Mendengar ucapan bibinya membuat Pandu tertawa. Sedangkan Hanako nampak menekuk wajahnya karena yakin suaminya akan minta jatah tiap malam untuk segera mewujudkan keinginan sang bibi.
\=====
Setelah melewati liburan hampir seminggu di kepulauan Riau, akhirnya tiba lah waktunya kembali ke Jakarta.
“ Kapan-kapan gantian Kalian yang main ke Jakarta ya. Nanti Aku ajak Kalian keliling Jakarta sampe pegel deh...,” janji Hanako.
“ Insya Allah...,” sahut keluarga sang bibi bersamaan.
“ Makasih untuk semuanya, maafin kalo Kami ada salah ya Paman, Bibi...,” kata Pandu.
“ Sama-sama. Melihat Kalian akur aja udah bikin Kami bahagia. Semoga pernikahan Kalian sakinah mawaddah warohmah selamanya...,” sahut paman Pandu.
“ Aamiin..., makasih Paman. Kami pamit ya, Assalamualaikum...,” kata Pandu dan Hanako sambil melambaikan tangannya dari dalam mobil travel yang menjemput mereka.
“ Wa alaikumsalam, hati-hati ya...,” kata keluarga sang bibi sambil balas melambaikan tangan.
Saat keluar dari halaman rumah sang bibi tak sengaja Hanako melihat Putri tengah berdiri di pinggir jalan. Nampaknya ia ingin menyampaikan sesuatu kepada Pandu. Putri juga membawa sesuatu di tangannya yang diyakini Hanako sebagai hadiah entah untuk siapa.
“ Itu Putri, keliatannya dia pengen ngomong sesuatu sama Kamu Mas...,” kata Hanako.
“ Abaikan aja Sayang. Jangan kasih kesempatan serangga kecil masuk ke dalam rumah tangga Kita...,” sahut Pandu sambil menatap lurus ke depan.
__ADS_1
Hanako mengangguk lalu menyandarkan kepalanya di pundak Pandu. Hanako senang karena suaminya bersikap tegas dengan tak memberi kesempatan seseorang dari masa lalu masuk dan mengganggu keharmonisan rumah tangga yang baru saja mereka bangun itu.
\=====