Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
106. Pusing


__ADS_3

Tubuh Meila ditemukan terbaring di lantai dalam keadaan tak sadarkan diri oleh security yang baru saja kembali dari toilet. Karena tak mau disalahkan, sang security pun memanggil Toto yang kebetulan melintas di depan ruang monitor.


“ Mas Toto tolong bantu Saya ya, Mbak Meila pingsan nih...,” kata security.


“ Pingsan, kok bisa...?” tanya Toto sambil bergegas masuk ke dalam ruangan.


Toto melihat wajah Meila yang pucat dalam keadaan terlentang di lantai. Kursi yang diduduki Meila juga jatuh tertindih oleh tubuhnya pertanda Meila jatuh terjengkang ke belakang dengan sangat keras tadi.


“ Kayanya kepalanya yang kena nih Pak...,” kata Toto sambil meraba kepala belakang Meila.


“ Keliatannya sih gitu Mas. Saya juga kaget, pas balik dari toilet ngeliat Mbak Meila posisinya udah kaya gini...,” sahut security.


Kemudian Toto dan security menggotong tubuh Meila lalu membawanya ke ruangan karyawan.


“ Aneh ya. Hari ini banyak kejadian ga masuk akal yang terjadi di mini market ini...,” gumam Toto sambil membaringkan Meila di atas sofa di ruangan karyawan.


“ Biar Saya panggil Mbak Dara aja ya Mas, keliatannya dia udah selesai tugas...,” kata security.


“ Boleh Pak, makasih...,” sahut Toto yang diangguki sang security.


Tak lama kemudian Dara pun masuk ke dalam ruangan dengan wajah bingung.


“ Ada apaan lagi ini Mas...?” tanya Dara tak mengerti.


“ Ga tau Dar. Tolong temenin Meila sampe siuman ya. Gue ngelanjutin kerjaan di depan dulu, ga enak sama yang lain...,” sahut Toto.


“ Iya Mas...,” kata Dara lalu duduk di samping Meila yang masih terpejam.


Tak lama kemudian Meila siuman sambil meringis karena rasa sakit di belakang kepalanya.


“ Lo gapapa Mei...?” sapa Dara hati-hati.


“ Dara. Gue dimana...?” tanya Meila.


“ Di kamar karyawan. Lo kenapa bisa pingsan kaya gini...?” tanya Dara.


“ Ga tau. Kepala Gue mendadak pusing aja. Pas mau berdiri malah jatoh...,” sahut Meila.

__ADS_1


“ Kalo ga enak badan harusnya Lo bilang sama Kita. Biar Kita yang gantiin kerjaan Lo. Untungnya Lo pingsan di dalam, gimana kalo Lo pingsan di depan atau di jalanan, kan bahaya tuh Mei...,” kata Dara cemas.


Meila nampak tersenyum kecut mendengar ucapan Dara. Ia sengaja berbohong karena tak ingin Dara bertanya lebih lanjut atau mengaitkannya dengan Irwandi yang juga pingsan di hari yang sama.


“ Kalo udah gapapa, Gue anterin pulang yuk. Kebetulan Gue udah selesai nih...,” ajak Dara.


“ Iya deh, makasih ya Dar...,” sahut Meila sambil berdiri lalu merapikan pakaiannya.


“ Sama-sama. Sebentar Gue ke toilet dulu ya, biasa mau pipis dulu...,” kata Dara sambil melangkah cepat menuju kamar mandi.


Meila mematung di tempat sambil menatap nanar kearah Dara yang masuk ke dalam kamar mandi. Meila teringat saat ia melihat hantu Tania tadi. Tak ingin mengalami kejadian yang sama Meila memilih keluar dari ruangan karyawan dan menunggu Dara di parkiran mini market.


\=====


Sementara itu di Rumah Sakit, Irwandi baru saja siuman dan disambut sapaan seorang perawat.


“ Alhamdulillah akhirnya Bapak sadar juga. Apa yang Bapak rasain sekarang...?” tanya perawat.


“ Kepala Saya pusing banget Sus...,” sahut Irwandi sambil memegang kepalanya.


“ Apa ga ada seorang pun yang nemenin Saya di sini Sus...?” tanya Irwandi.


“ Maaf ga ada Pak. Bapak datang diantar Ambulans tadi, kata supirnya sih Bapak dijemput dari mini market TX. Kami udah menghubungi keluarga Bapak tadi, mungkin sebentar lagi mereka datang...,” sahut sang perawat.


“ Apa karyawan mini market ga ada yang nganterin Saya Sus...?” tanya Irwandi tak percaya.


“ Ga ada Pak. Maaf Saya permisi dulu ya Pak. Kalo perlu sesuatu Bapak bisa tekan tombol ini...,” kata sang perawat sebelum berlalu.


Irwandi hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab. Ia merasa kesal karena merasa diabaikan. Ia menoleh


kearah meja nakas di samping tempat tidur lalu meraih ponselnya. Orang pertama yang dia hubungi adalah Meila, karyawan mini market sekaligus kekasih gelapnya.


Nada sambung terdengar namun nampaknya Meila enggan menerima panggilan itu. Irwandi makin kesal lalu memutuskan menghubungi istrinya. Saat suara sang istri menyapa, Irwandi langsung melampiaskan kekesalannya.


“ Kamu dimana sih Ma, tau kan kalo Aku dibawa ke Rumah Sakit...?” tanya Irwandi kesal.


“ Iya Pa, tau kok. Ini lagi di parkiran Rumah Sakit, sebentar lagi juga sampe kamar...,” sahut sang istri.

__ADS_1


“ Ya udah buruan, ga pake lama...!” sentak Irwandi lalu mengakhiri pembicaraan begitu saja.


Istri Irwandi nampak menatap ponselnya sambil menggelengkan kepala. Ia terbiasa mendapat sikap tak bersahabat dari Irwandi dan cukup sabar menghadapinya. Istri Irwandi masuk ke kamar rawat inap dan melihat Irwandi menatap kesal kearahnya.


“ Assalamualaikum Pa...,” sapa istri Irwandi yang bernama Nadifa itu sambil berusaha meraih tangan Irwandi.


“ Udah ga usah pura-pura baik deh Kamu...,” kata Irwandi sambil menepis kasar tangan istrinya yang hendak mencium punggung tangannya.


“ Pura-pura baik gimana sih Pa. Aku udah buru-buru ke sini lho, tapi Kamu malah marah-marah kaya gini. Salahku apa...?” tanya Nadifa dengan wajah menghiba.


“ Buru-buru tapi dandanan Kamu cetar begitu...,” sahut Irwandi ketus.


Istri Irwandi tersenyum mendengar ucapan suaminya. Ia mengira suaminya sedang cemburu melihat cara berpakaiannya yang memang terlihat berbeda kala itu.


“ Oh ini. Aku kan lagi arisan waktu dapat kabar Kamu dibawa ke Rumah Sakit Pa, wajar dong kalo Aku dandan kaya gini. Apalagi ada Ibu pejabat yang datang tadi. Papa jangan cemburu dong...,” kata Nadifa sambil memeluk suaminya erat.


“ Udah lepasin...,” sahut Irwandi.


Tapi nampaknya istri Irwandi tak ingin melepaskan pelukannya dan itu membuat Irwandi yang semula kesal pun perlahan luluh. Lalu Irwandi membalas pelukan istrinya itu sambil tersenyum.


“ Kamu kenapa kok bisa pingsan sih Pa...?” tanya Nadifa sambil mengurai pelukannya.


“ Ga tau, pusing aja...,” sahut Irwandi cepat. Alasan yang sama seperti yang dikemukakan Meila saat ditanya Dara tadi.


“ Itu tandanya Kamu butuh istirahat Pa. Emang ga bisa ya Kamu ngajuin cuti dua hari buat istirahat di rumah. Jangan kerja terus tapi lupa istirahat...,” kata Nadifa penuh perhatian.


“ Ga bisa Ma. Mini market ini kan masih baru, belum jalan normal kaya yang di lokasi lama. Jadi masih perlu perhatian Aku...,” sahut Irwandi.


“ Masa sih. Tapi Aku curiga kalo ada karyawan cewek yang narik perhatian Kamu sampe Kamu betah berlama-lama di mini market daripada di rumah...,” sindir Nadifa sambil menyuapi roti ke mulut Irwandi.


“ Apaan sih Kamu. Aku kerja ya bukan selingkuh...!” sahut Irwandi dengan lantang.


“ Yang nuduh Kamu selingkuh tuh siapa Pa. Aku kan cuma bilang kalo Kamu kayanya tertarik sama karyawan cewek di mini market. Atau jangan-jangan Kamu malah beneran selingkuh ya di belakang Aku...,” kata Nadifa tak mau kalah.


Irwandi nampak gugup lalu mengalihkan tatapannya kearah lain. Ia merasa bod*h karena telah menggiring sang istri pada dugaan perselingkuhan. Istri Irwandi nampak tersenyum diam-diam melihat suaminya mati kutu di hadapannya usai membicarakan perselingkuhan. Ia merasa bahwa jalannya untuk mengungkap sepak terjang suaminya itu makin terbuka lebar.


\=====

__ADS_1


__ADS_2