Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
37. Ditangkap


__ADS_3

Dante makin uring-uringan saat menyadari jika dirinya ada dalam bahaya. Untuk meredakan amarahnya Dante pun


membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memejamkan matanya. Dante kembali teringat pada apa yang telah ia lakukan untuk menjadi kaya dan sukses seperti sekarang.


Setelah ia selesai melakukan ritual di gua waktu itu, Dante kembali ke rumah. Saat tiba di rumah ia mendapati keluarganya tengah bahagia. Apalagi istrinya juga menyebutkan telah menemukan uang di dalam tas di teras rumah mereka. Dalam hati Dante bahagia karena bisa segera terlepas dari beban ekonomi yang menghimpitnya selama ini.


“ Bapak darimana aja, kok tiga hari ga pulang...?” tanya istri Dante waktu itu.


“ Abis cari uang Bu...,” sahut Dante singkat.


“ Terus mana uangnya...?” tanya istri Dante lagi.


“ Lah itu yang Kamu pegang kan uang hasil kerjaku selama tiga hari ini Bu...,” sahut Dante sambil melepaskan


pakaiannya.


“ Maksud Bapak, uang dan makanan yang ada di dalam tas itu emang punya Bapak...?” tanya istri Dante tak percaya.


“ Iya...,” sahut Dante singkat.


“ Tapi kok tadi Bapak tanya darimana asal makanan yang dimakan Anak-anak...,” kata istri Dante.


“ Itu karena Aku kira bayaranku ga bakal dibayar hari ini. Ga taunya malah udah dikirim ke rumah Kita. Bagus lah


jadi Aku ga harus nunggu kelamaan...,” sahut Dante cuek.


“ Tiga hari kerja tapi bisa dapat uang sebanyak ini. Emangnya Bapak kerja apaan...?” tanya istri Dante penasaran.


“ Udah lah Bu. Kerjaan ini aman dan ga berbahaya. Ibu jangan banyak nanya deh, Bapak pusing mau tidur dulu.


Asal Ibu tau, kerjaan itu bikin Bapak ga bisa tidur selama tiga hari tiga malam. Ibu pikir aja sendiri kerjaan apa itu...,” kata Dante kesal sambil membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur besi yang berdecit setiap kali ia membalikkan tubuhnya.


Istri Dante nampak menatap punggung suaminya yang mulai tertidur itu. Ia berpikir keras tentang pekerjaan suaminya.


“ Tiga hari tiga malam ga tidur, mungkin jadi satpam ya. Kan satpam emang dibayar untuk jaga malam. Ga boleh


tidur karena khawatir barang yang dijaga dicuri orang. Ya udah gapapa yang penting bukan jadi perampok aja...,” gumam istri Dante lalu melangkah keluar dari kamar.


Hari-hari Dante selanjutnya makin memperlihatkan perubahan perekonomian Dante dan keluarganya. Dante berhenti menjadi kuli bangunan. Ia memilih pekerjaan baru yaitu menambang pasir dan batu kali dengan bantuan seorang temannya.Kemudian pasir dan batu kali itu dikumpulkan dan diletakkan di depan rumah Dante yang memiliki halaman sedikit luas dan berada di pinggir jalan.


Tak disangka tumpukan pasir dan batu kali itu menarik minat seorang pengusaha kontruksi yang kebetulan melintas


di depan rumah Dante. Pengusaha itu turun dari mobil dan segera melakukan transaksi dengan Dante. Bahkan ia memesan pasir dan batu kali dalam jumlah besar. Dante nampak tersenyum bahagia, apalagi harga yang diberikan sang pengusaha lebih besar daripada tawaran harga yang diberikan oleh ditoko bangunan yang ada di desanya.


Perlahan namun pasti usaha milik Dante pun berkembang pesat. Dalam sekejap Dante menjadi orang kaya raya baru di desanya. Banyak gosip beredar yang mengatakan kekayaan Dante diperoleh karena ia melakukan pesugihan. Karena tak tahan dengan omongan warga di desanya, Dante memboyong keluarganya pindah ke Jakarta.


Dante tersentak kaget saat mengingat jika akhir-akhir ini ia lalai memberi tumbal karena kesibukannya mengurus proyek pembangunan sebuah taman bermain di daerah Malang Jawa Timur. Dante terduduk lalu meraih kalender meja di dekatnya. Kedua mata Dante pun membulat tak percaya jika ia telah lalai menyerahkan tumbal selama empat kali berturut-turut.


“ Gawat nih, bisa-bisa makhluk sembahan Mbah Suroso bakal ngamuk nanti...,” gumam Dante gelisah.


Belum lagi usai gumaman Dante, tiba-tiba selarik angin hitam menerobos masuk melalui ventilasi jendela hingga


membuat Dante terkejut. Angin hitam itu berputar-putar di langit-langit kamar hingga menyebabkan lampu padam dan kamar itu menjadi gelap seketika.


Dalam kegelapan Dante melihat siluet makhluk tinggi besar dengan sepasang mata yang berwarna merah menyala tengah menatap kearahnya. Suara dengusan keluar dari hidung makhluk yang tengah berdiri di tengah kamar itu. Dante pun membeku di tempatnya. Suaranya mendadak hilang karena  tercekat di tenggorokan.


Perlahan makhluk itu mendekat kearah Dante lalu menurunkan wajahnya hingga sejajar dengan Dante tepat di


depan wajahnya. Kini Dante bisa melihat dengan jelas makhluk yang ada di depannya, yaitu sosok manusia berkepala babi hutan. Hembusan nafasnya menerpa wajah Dante. Terasa panas dan berbau busuk. Ditambah tetesan air liur mahluk itu membuat lantai basah dan berlendir. Dante memejamkan matanya karena perasaan takut yang menderanya.

__ADS_1


Dalam keadaan terpejam Dante menunggu apa yang akan makhluk itu lakukan. Dante sedikit membuka mata untuk


mengetahui apa yang sedang dan akan dilakukan oleh makhluk yang menyerupai monster itu padanya. Dari jarak sedekat itu Dante bisa melihat helaian bulu di sekujur tubuh dan tangan makhluk itu. Kasar, tebal dan hitam hingga membuat Dante bergidik membayangkan jika tubuhnya memiliki bulu seperti itu.


Seolah mengerti apa yang ada dalam benak Dante, makhluk itu menyeringai lalu merubah dirinya menjadi asap hitam. Kemudian asap hitam itu masuk ke dalam tubuh Dante melalui lubang hidung, mulut dan telinga. Tubuh Dante bergetar hebat saat merasakan asap hitam itu menerobos masuk ke dalam tubuhnya. Ia merasa sangat kesakitan hingga sesak nafas dan kedua matanya mendelik ke atas.


Saat tubuh Dante bergetar merasakan siksaan dari makhluk itu, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar.


Rupanya polisi datang dan menyamar menjadi pelayan penginapan. Bersamaan dengan itu, lampu yang semula padam pun kembali menyala. Sedangkan Dante masih berusaha bernafas dengan normal akibat rasa sesak yang ia rasakan tadi.


“ Tok tok tok...”


“ Room servis...!” kata suara seorang pria dari balik pintu.


Dante menoleh kearah pintu dengan tatapan nanar. Kemudian Dante melangkah kearah pintu. Namun langkahnya terhenti saat Dante melihat pantulan dirinya di cermin. Ada sedikit perubahan pada dirinya dan itu membuat Dante tak nyaman. Dante melihat tubuh, tangan dan kakinya ditumbuhi bulu seperti bulu makhluk yang merasukinya tadi. Dante terlihat jijik lalu menjerit histeris.


Mendengar jeritan histeris Dante membuat orang yang mengetuk pintu pun menjadi tak sabar dan langsung mendobrak pintu untuk melihat keadaan Dante.


Beberapa polisi menerobos masuk ke dalam kamar dan mengepung Dante. Mereka sedikit bingung dengan kondisi Dante saat itu. Tubuh tambun Dante terlihat memprihatinkan. Pakaiannya koyak di sana sini seperti dipaksa menutupi tubuh Dante yang membesar dengan bulu aneh di sekujur tubuhnya.


“ Dengan Bapak Dante...?” tanya salah seorang polisi.


“ Iya...,” sahut Dante singkat.


“ Kami minta Bapak ikut Kami ke kantor polisi sekarang...!” kata polisi lagi.


Dante menyeringai sambil menatap ke sekelilingnya. Tiba-tiba Dante menabrak tubuh seorang polisi yang mengepungnya hingga jatuh ke lantai. Dante lari kearah jendela, melompati jendela dengan kekuatan penuh lalu  menerobos kaca hingga pecah dan menghilang dengan cepat. Para polisi yang mengepungnya terkejut melihat gerakan gesit Dante yang bertubuh tambun itu.


“ Cepat kejar, kenapa malah bengong sih...?!” kata seorang polisi menyadarkan rekan-rekannya.


Semua polisi bergerak lalu mengejar Dante. Dua orang polisi tetap tinggal di kamar dan menggeledah barang


bawaan Dante.


\=====


Pihak kepolisian saling berkoordinasi untuk bisa menemukan Dante. Heru pun mengajak Fatur dan Faiq untuk mencari jejak Dante. Saat tiba di penginapan mereka langsung masuk ke kamar dimana Dante menginap.


“ Jadi Dante kabur menerobos jendela ini...?” tanya Heru.


“ Siap, betul Pak...,” sahut salah seorang polisi.


Faiq dan Fatur mengamati jendela dengan seksama. Faiq menatap jauh ke depan lalu tersenyum.


“ Dante lari ke atas bukit. Sekarang dia lagi tidur karena kelelahan...,” kata Faiq.


“ Yang bener Bang...?” tanya Heru antusias.


“ Iya...,” sahut Faiq.


“ Siapkan pasukan, Kita bakal ngejar Dante sekarang...!” kata Heru pada polisi di depannya.


“ Siap Pak...,” sahut sang polisi lalu bergegas keluar dari kamar.


“ Sebaiknya jangan semua ikut ngejar Dante, Nak. Kita hanya butuh beberapa polisi aja untuk membantu...,”


kata Fatur.


“ Om Fatur benar...,” sahut Faiq.

__ADS_1


“ Jadi harusnya gimana dong Om...?” tanya Heru.


“ Ajak polisi yang punya kemampuan menembak jarak jauh dan yang larinya cepat aja. Sisanya tunggu di sini. Kalo


dengar cerita Anak buahmu tentang kondisinya, keliatannya Dante sedang dirasuki makhluk sembahannya. Tapi mengingat sifatnya yang perhitungan, Dante bisa aja balik lagi ke sini buat ngambil barang-barangnya yang tertinggal di kamar...,” sahut Fatur yang diangguki Faiq.


“ Siap Om...!” sahut Heru lantang.


Tak lama kemudian satu regu polisi berpakaian sipil nampak berkumpul di halaman penginapan menunggu instruksi


lanjutan dari Heru.


“ Saya perlu pelari cepat dan sniper...!” kata Heru lantang.


Seorang sniper dan dua polisi berkemampuan lari cepat maju ke depan. Heru melirik Fatur dan Faiq yang nempak


mengangguk pertanda jika tiga orang di hadapannya itu cukup bisa diandalkan untuk menangkap Dante.


“ Sisanya tinggal di sini untuk mengawasi karena diduga Dante bakal kembali untuk mengambil barangnya yang


tertinggal di kamar...,” kata Heru lagi.


“ Siap Pak...!” sahut para polisi itu.


Dengan menggunakan mobil pick up, Faiq membawa rombongan menuju bukit yang ada di belakang penginapan. Saat tiba di lereng bukit mereka turun dari mobil dan berjalan kaki masuk ke dalam hutan. Faiq memimpin di depan sedang Fatur berada di belakangnya.


Faiq berhenti melangkah diikuti lima orang lainnya. Faiq memberi kode jika menemukan Dante yang sedang tertidur


di bawah pohon.


“ Ssstt..., dia ada di sebelah sana. Kita bergerak pelan-pelan dan jangan bersuara...,” kata Faiq.


“ Ok Bang. Kalian ke sebelah sana dan langsung ringkus Dante. Kalo Kamu stay di sini, tembak aja kalo ada gerakan yang mencurigakan...,” perintah Heru pada ketiga polisi di belakangnya.


“ Siap Pak...,” sahut ketiga polisi itu bersamaan lalu mulai bergerak sesuai instruksi Heru.


Heru mengawasi pergerakan Dante sambil menggenggam pistol sedangkan Faiq dan Fatur nampak berdzikir untuk


‘menetralkan’ Dante.


Rupanya Dante yang kelelahan tak mendengar suara apa pun hingga berhasil diringkus oleh dua polisi itu dengan


mudah. Namun siluman babi yang ada dalam tubuh Dante berontak dan melakukan perlawanan hingga membuat dua polisi itu kewalahan. Heru pun datang membantu dan langsung melayangkan bogem mentah kearah Dante hingga jatuh tersungkur. Seperti tak kenal rasa sakit, Dante kembali bangkit dan menyerang ketiga polisi itu dengan membabi buta.


Melihat temannya terdesak, sang sniper langsung menembak Dante dan tepat mengenai sasaran. Namun aneh, seperti tak merasakan apa-apa, Dante malah makin liar menyerang tiga polisi itu. Faiq dan Fatur turun tangan membantu. Pertempuran sengit pun terjadi.


Namun beberapa saat kemudian tubuh Dante terlihat limbung. Beberapa kali Dante terjatuh dan membentur akar pohon yang mencuat di atas tanah. Rupanya saat Faiq dan Fatur turun tangan terjadi lah benturan energi hingga membuat Dante muntah darah. Puncaknya Dante melolong kesakitan saat Faiq dan Fatur memegangi tangannya lalu menepuk dada dan punggungnya bersamaan sambil bertakbir.


“ Allahu Akbar..., laa haula wala quwwata ilaa billahil alyyil adziim...!” kata Faiq dan Fatur bersamaan diiringi jeritan Dante.


Dante terkulai lemah setelah asap hitam melesat keluar dari mulutnya disusul darah kehitaman yang mengalir keluar dari lubang hidung dan telinganya.


“ Dia sekarat Pak...,” kata salah seorang polisi.


“ Borgol tangan dan ikat kakinya, Kita bawa dia ke Rumah Sakit segera...,” kata Heru.


“ Siap Pak...,” sahut ketiga polisi itu lalu segera melakukan apa yang Heru perintahkan tadi.


Akhirnya Dante berhasil ditangkap dan kini dibawa ke Rumah Sakit. Meski pun Dante terlihat lemah dan harus

__ADS_1


dirawat di Rumah Sakit, namun proses hukum tetap menantinya. Dan orangtua para korban juga menuntut agar Dante dijatuhi hukuman mati.


Bersambung                                        ========================


__ADS_2