Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
161. Sang Eyang


__ADS_3

Langit malam itu terlihat cerah. Dihiasi bintang dan bulan yang bersinar membentuk sabit. Seorang pria menatap ke langit lepas sambil menghirup rokoknya kuat-kuat. Pria itu duduk di ambang jendela yang terhalang teralis besi. Tubuhnya tak tertutup apa pun dan nampak basah oleh keringat. Mengenakan celana denim selutut, pria itu terlihat santai.


“ Hampir tiba waktunya, tapi aku belum dapat orang yang tepat...,” gumam pria itu gusar.


Setelah puas menatap langit malam, pria itu membalikkan tubuhnya dan melangkah menjauhi jendela. Cahaya terang dalam ruangan pun bisa memperjelas sosoknya yang tak lain adalah Suraj, manager personalia tempat Hanako bekerja.


Suraj membanting tubuhnya di sofa lalu meraih gitar dan mulai memetik senarnya sambil bersenandung. Suara yang parau namun tepat mengiringi petikan gitarnya membuat suasana di dalam ruangan menjadi sedikit sendu. Tak lama kemudian Suraj berhenti menyanyi. Ia memejamkan matanya seolah teringat sesuatu.


“ Kenapa malam ini harus nyanyiin lagu itu. Padahal udah lama banget Aku ga pernah nyanyi lagu itu sejak dia meninggal dunia. Hufftt..., andai Aku ga terlalu keras dan membiarkannya tetap hidup, mungkin saat ini Aku masih bisa melihatnya...,” kata Suraj sambil tersenyum kecut.


Tiba-tiba lamunan Suraj pun berakhir saat lampu dalam ruangan mulai berkedip-kedip tak beraturan. Mendapati hal itu Suraj tak terlihat panik atau berusaha memperbaiki lampu atau sejenisnya. Ia hanya duduk menunggu seolah tahu jika ada sesuatu yang akan mendatanginya.


Angin basah dan bau lumpur got pun menyeruak ke dalam ruangan hingga membuat nafas Suraj sesak sejenak. Sesaat kemudian terlihat sosok manusia bertanduk dan bertubuh banteng nampak berdiri gagah di hadapan Suraj. Badannya yang besar dengan tanduk melengkungnya yang menjulang tinggi hingga menyentuh plafond ruangan, membuat Suraj terlihat kecil di hadapannya padahal Suraj berpostur tinggi besar.


“ Selamat datang Eyang...,” sapa Suraj sambil tersenyum sambil berdiri menghadap makhluk jadi-jadian itu.


“ Selamat malam Cucuku. Bagaimana, sudah dapat calonnya...?” tanya makhluk itu.


“ Belum Eyang, maaf...,” sahut Suraj sambil menundukkan wajahnya.


“ Kenapa lama sekali Suraj. Kau tau batas waktunya sudah hampir habis. Jangan main-main denganku dan membuatku marah Suraj...!” kata makhluk itu sambil mengibaskan tangannya hingga benda-benda di belakang Suraj berterbangan mengenai dinding dan pecah.


Suraj menoleh dan menyaksikan benda-benda kesayangannnya hancur berkeping-keping. Ada rasa tak rela namun ia tentu saja tak akan berani mengatakannya karena sadar apa akibatnya jika melayangkan komplain pada makhluk jadi-jadian di depannya itu.


“ Aku ga mungkin berani main-main denganmu Eyang, Aku...,” ucapan Suraj terputus.


Belum lagi menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba Suraj merasa tubuhnya terangkat hingga rambut di kepalanya menyentuh plafond ruangan. Bersamaan dengan itu Suraj juga merasa sakit bukan kepalang di area lehernya. Pandangannya sedikit mengabur dan nafasnya pun terasa pendek. Saat memperhatikan ke depan, Suraj melihat jika satu tangan makhluk itu tengah mencekik lehernya.


Suraj pun bergidik ngeri saat merasakan kekuatan satu tangan makhluk itu mampu membuatnya hampir mati.

__ADS_1


Apalagi jika makhluk itu menggunakan kedua tangannya dan dengan kekuatan penuh. Suraj yakin dirinya tak akan bisa menghirup udara bebas lagi.


“ Aaakkhh, aakkhh...,” kata Suraj sambil memberi kode agar makhluk itu melepaskan cekikannya.


Makhluk itu menyeringai lalu melemparkan tubuh Suraj ke sembarang arah hingga Suraj terpelanting dan membentur lantai. Suara benturan benda-benda yang sebelumnya telah hancur pun makin gaduh saat Suraj jatuh di atasnya.


“ Cepat lah atau Aku tak bisa bersabar lagi...!” kata makhluk itu sebelum menghilang.


Suraj namak menggeram marah lalu meninju lantai sekeras-kerasnya beberapa kali untuk melampiaskan kemarahannya.  Buku-buku jemari Suraj nampak luka dan mengeluarkan darah namun Suraj seolah tak merasakannya.


“ Sia*an. Kalo Aku tau sehina ini menjadi abdimu, sudah dari dulu Kutinggalkan Kau...,” gumam Suraj sambil menyeka keringat di wajahnya.


Hening tak ada suara hingga Suraj melihat sekelebat bayangan melintas di luar jendela. Suraj mengerutkan keningnya karena ingat jika posisi kamarnya ada di lantai empat belas. Siapa yang akan melintas di jendela yang terletak di ketinggian itu jika bukan hantu. Entah mengapa bulu kuduk Suraj meremang saat menyadari ada makhluk astral lainnya yang mendatangi kamarnya itu.


“ Kenapa merinding sih. Bukannya penampilan si Eyang itu lebih menakutkan dari semua hantu yang ada di muka bumi ini ya...,” gumam Suraj seolah ingin meredakan rasa takut yang tiba-tiba menghinggapinya.


menghubungi pihak kebersihan apartemen untuk membersihkan dan merapikan kamarnya yang seperti kapal pecah itu.


“ Sekarang ya, makasih...,” kata Suraj di akhir kalimatnya.


Setelah menghubungi pihak pengurus kebersihan apartemen, Suraj pun bergegas membersihkan diri di kamar mandi. Tak lama kemudian dua orang pria masuk dan langsung membersihkan kekacauan di kamar Suraj. Mereka nampak mengerutkan kening saat melihat tetesan darah di lantai menandakan jika Suraj terluka akibat sesuatu. Tak ingin ikut campur, mereka melanjutkan pekerjaan mereka hingga tuntas.


Saat Suraj keluar dari kamar mandi, ruangan telah kembali rapi dan bersih. suraj nampak tersenyum puas lalu memberikankan uang sebesar satu juta rupiah kepada dua orang pria yang telah membantunya tadi.


“ Ini banyak banget Pak...,” kata salah seorang pria dengan mata berbinar.


“ Gapapa, terima aja. Saya suka sama hasil kerja Kalian, cepat dan rapi. Makasih ya...,” sahut Suraj sambil tersenyum.


“ Sama-sama Pak. Kalo gitu Kami permisi dulu ya Pak, selamat malam...,” kata kedua tenaga kebersihan itu sambil

__ADS_1


melangkah cepat keluar dari kamar Suraj.


Suraj pun tersenyum melepas kepergian mereka. Setelahnya Suraj mengunci pintu lalu melangkah kearah tempat tidur. Ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil meringis karena lukanya mulai terasa perih dan sedikit menyakitkan.


“ Pantesan sakit dan perih, kulitnya aja ngelupas kaya gini...,” gumam Suraj sambil memperhatikan luka di tangan dan kakinya yang terkena pecahan barang yang hancur tadi.


Perlahan rasa kantuk pun menyerang hingga membuat kedua mata Suraj terpejam. Sesaat kemudian Suraj pun terlelap di atas tempat tidurnya.


Dalam tidurnya Suraj melihat dirinya saat masih kanak-kanak. Bersama teman-teman sebayanya Suraj kecil nampak berlarian di pematang sawah. Mereka terlihat bahagia meski pun beberapa kali harus jatuh terperosok ke dalam sawah karena kurang hati-hati saat melintasi pematang sawah yang sempit itu.


“ Suraaajj..., Suraaajj...!” suara salah satu petani dari pinggir sawah memanggil namanya hingga membuat Suraj menoleh.


“ Iya Paman, ada apa...?!” tanya Suraj lantang.


“ Kakekmu datang ke rumahmu dan dia menunggumu sekarang...!” sahut petani itu.


“ Kakek, Aku ga punya Kakek. Mungkin Paman salah orang...,” kata Suraj sambil berlari mengejar belut.


“ Pulang lah dulu Nak. Kalo ga, Ibumu yang akan dia bawa nanti...,” kata petani itu sambil berlalu.


Mendengar ucapan petani itu membuat Suraj terkejut sekaligus takut. Selama ini Suraj hanya tinggal berdua dengan ibunya. Bagaimana mungkin ia akan membiarkan orang lain membawa ibunya itu. Jika hal itu terjadi, dengan siapa ia akan tinggal kelak. Begitu lah pikiran lugu Suraj yang saat itu berusia enam tahun.


Suraj berlari kencang menuju ke rumahnya. Tak dihiraukannya panggilan teman-temannya yang mengatakan jika belut tangkapannya diambil untuk dimasak. Saat tiba di depan rumah Suraj melihat banyak warga berkerumun. Ia mendengar suara seorang pria yang terdengar asing di telinganya tengah bicara menjelaskan sesuatu. Suraj pun mengurai kerumunan orang-orang itu untuk mencari ibunya.


“ Suraj kemarilah. Kenalkan ini Eyangmu. Ayah dari Bapakmu...,” kata ibu Suraj dengan mata berkaca-kaca.


Suraj menatap pria tua yang kemudian ia panggil eyang itu dengan tatapan asing dan penuh selidik.


\=====

__ADS_1


__ADS_2