
Setelah acara wisuda usai, Iyaz, Mirza dan Rocki pun memilih menghabiskan waktu bersama dengan berlibur ke rumah famili Mirza yang juga merupakan rumah orangtua Sahila. Kehadiran mereka dan kedua orangtua mereka masing-masing disambut dengan hangat oleh kedua orangtua Sahila. Sayangnya ustadz Hamzah tak bisa ikut karena harus mengunjungi temannya yang juga bermukim di Mesir.
“ Suasananya nyaman banget...,” kata Shera.
“ Betul Bu...,” kata mami Rocki dan ummi Mirza bersamaan.
“ Ga rugi ya Kita mampir ke sini...,” kata mami Rocki sambil tersenyum.
“ Betul Bu. Terus kapan rencananya Mirza dan Sahila akan menikah Bu...?” tanya Shera.
“ Insya Allah dalam waktu dekat ini Bu. Kami ga mau nunda lagi khawatir mereka berzina nanti. Saya percaya sama Sahila, tapi Saya khawatir Mirza yang ga kuat. Makanya Kami mutusin buat menikahkan mereka secepatnya...,” sahut ummi Mirza.
“ Maaf sebelumnya, tapi kan Mirza belum dapat pekerjaan Bu, apa ga kasian nanti sama Sahila jika harus punya suami pengangguran...?” tanya mami Rocki tak mengerti.
“ Alhamdulillah Kami punya toko karpet di pasar daerah Bu. Untuk sementara Mirza bisa bantu Abinya di sana
sambil menunggu lamaran pekerjaannya diterima. Abinya juga pasti bayar gaji Mirza seperti seharusnya jadi Mirza tetap punya penghasilan untuk menafkahi rumah tangganya nanti...,” sahut ummi Mirza sambil tersenyum.
“ Oh gitu...,” kata mami Rocki sambil mengangguk.
“ Rencananya udah sangat matang ya Bu. Mudah-mudahan semua berjalan lancar dan pernikahan Mirza jadi pernikahan yang sakinah mawaddah warrohmah...,” kata Shera dengan tulus.
“ Aamiin..., makasih doanya Bu...,” sahut ummi Mirza senang.
“ Sama-sama Bu...,” sahut Shera sambil tersenyum.
Shera tidak kesulitan berkomunikasi dengan mereka karena orangtua Mirza dan Rocki juga ikut mempelajari bahasa Indonesia yang juga merupakan bahasa kedua di kampus Al Azhar. Meski pun memiliki latar budaya yang berbeda, tapi mereka dengan mudah akrab seperti layaknya teman lama.
Sedangkan kaum pria berkumpul di halaman rumah sambil menatap langit malam yang dihiasi bulan dan bintang.
Mereka membicarakan banyak hal yang tentu saja dibumbui kisah menarik. Mirza, Iyaz dan Rocki pun tak henti tertawa.
“ Mudah-mudahan setelah ini Kita masih bisa ketemu lagi ya Bro...,” kata Rocki.
“ Insya Allah...,” sahut Iyaz dan Mirza bersamaan.
__ADS_1
“ Apa Lo udah siap nikah di usia muda Za...?” tanya Rocki.
“ Insya Allah siap. Gue cinta banget sama Sahila. Selama ini Gue ga pernag tertarik sama cewek mana pun. Tapi pas orangtua Gue ngenalin Sahila, Gue ngerasa dunia Gue berubah. Gue punya semangat hidup dan impian yang ingin Gue wujudkan cuma bersama Sahila. Jadi insya Allah Gue siap lahir bathin...,” sahut Mirza mantap.
“ Selamat ya Bro. Mungkin Gue ga bisa hadir saat Lo married nanti. Tapi percaya lah doa Gue selalu menyertai Lo...,” kata Iyaz sambil menepuk pundak Mirza dengan lembut hingga membuat kedua mata Mirza berkaca-kaca.
“ Makasih Yaz. Gue senang bisa ketemu dan berteman sama Kalian. Semoga persahabatan Kita tetap langgeng meski pun jarak memisahkan...,” kata Mirza.
“ Aamiin...,” sahut Iyaz dan Rocki bersamaan.
Malam itu banyak doa yang mengalir di rumah itu. Doa untuk kelanggengan hubungan persahabatan Rocki, Mirza dan Iyaz. Juga doa untuk pernikahan Mirza dan Sahila. Dan masih banyak doa yang mengalir untuk kebahagiaan semua orang yang ada di rumah itu.
\=====
Mirza dan Rocki mengantar kepergian Iyaz dan kedua orangtuanya juga ustadz Hamzah ke bandara internasional Mesir. Ketiganya saling memeluk sekali lagi sebelum berpisah. Ketiganya tak malu lagi menitikkan air mata haru karena harus berpisah dan entah kapan bisa bertemu lagi.
“ Jangan lupa mampir ke rumah Kami kalo Kalian berkunjung ke Indonesia ya...,” kata Faiq sambil memeluk Mirza
dan Rocki bergantian.
“ Siaapp, insya Allah Kami mampir Yah...,” sahut Rocki dan Mirza bersamaan.
“ Ah Bunda bisa aja. Kalo Mirza mungkin udah punya Anak tiga saat Kami ke sana nanti. Tapi kalo Aku belum mikirin nikah Bun, mau kerja dulu. Bisa dipecat jadi anak Aku sama Mommy kalo baru lulus langsung married...,” gurau Rocki hingga membuat semua tertawa.
“ Terserah gimana baiknya. Pokoknya pintu rumah Kami selalu terbuka untuk Kalian. Ingat itu baik-baik...,” kata Shera dengan mata berkaca-kaca.
“ Iya Bunda, makasih...,” kata Mira dan Rocki sambil tersenyum.
“ Kalo gitu Kami pergi ya. Assalamualaikum...,” kata Iyaz dengan suara parau.
“ Wa alaikumsalam..., hati-hati Yaz...,” sahut Rocki dan Mirza dengan mata berkaca-kaca.
Ternyata berpisah dengan sahabat yang menemani hampir 24 jam sehari selama empat tahun itu terasa berat bagi Iyaz, Mirza dan Rocki. Namun mereka harus menerima keadaan ini dan bersiap menjalani hidup kedepannya dengan optimis.
\=====
__ADS_1
Saat tiba di bandara Soekarno Hatta mereka disambut oleh Izar dan Erik. Tak terbendung rasa rindu Izar dan Iyaz hingga keduanya langsung menghambur dan saling memeluk. Keduanya tertawa dan saling mengusak kepala dengan gemas. Tingkah keduanya membuat semua yang melihatnya tertawa.
Penampilan keduanya terlihat jauh berbeda. Jika Iyaz berambut cepak dan wajah klimis, berbeda dengan Izar yang berambut gondrong dengan rambut halus di sekitar dagu dan pipinya.
“ Wah keren banget Kamu Zar, macho...,” kata Iyaz sambil mengusap dagu dan pipi Izar dengan telapak tangannya.
“ He he, bisa aja Kamu...,” sahut Izar sambil tertawa.
“ Pasti banyak cewek nih yang naksir ngeliat penampilanmu yang gahar kaya gini...,” kata Iyaz.
“ Oh pasti, tapi ga ada satu pun yang klik di hati...,” sahut Izar bangga.
“ Bukan ga ada, tapi belum kali...,” kata Iyaz meralat ucapan kembarannya itu.
“ Betul juga. Terus mana oleh-oleh yang Aku minta dulu Yaz...?” tanya Izar sambil menoleh ke kanan dan ke kiri seperti mencari sesuatu.
“ Oleh-oleh apaan...?” tanya Iyaz tak mengerti.
“ Pasanganmu lah, mana kok ga ada...?” tanya Izar.
“ Kalo soal pasangan Kita senasib Zar. Selama di sana Aku belum nemuin yang klik...,” sahut Iyaz santai.
Mendengar jawaban Iyaz membuat Izar tertawa. Keduanya kemudian melangkah sambil saling merangkul hingga membuat Erik menggelengkan kepalanya karena merasa diabaikan. Faiq yang melihat wajah kecewa sang papa karena ulah Iyaz dan Izar pun menegur keduanya.
“ Kamu ga nyapa Opa dulu Yaz. Dan Kamu Zar, masa ga salim sama Pak Ustadz Hamzah...?!” tanya Faiq dengan lantang hingga mengejutkan Iyaz da Izar.
“ Astaghfirullah aladziim...,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan lalu mengurai pelukan mereka dan berbalik mendekati Erik dan ustadz Hamzah.
“ Assalamualaikum Opa, apa kabar...?” tanya Iyaz sambil mencium tangan Erik lalu memeluknya erat.
“ Wa alaikumsalam..., Alhamdulillah Opa baik-baik aja Nak...,” sahut Erik sambil tersenyum.
“ Maafin Saya Pak Ustadz...,” kata Izar tak enak hati sambil mencium punggung tangan sang ustadz.
“ Gapapa, Saya maklum kalo Kamu pasti kangen berat sama kemaranmu itu kan...,” sahut ustadz Hamzah bijak.
__ADS_1
Setelah berbincang sejenak mereka pun melangkah keluar bandara. Ustadz Hamzah langsung memisahkan diri dan kembali ke pesantren dengan taksi on line. Sedangkan keluarga Faiq kembali ke rumah. Izar yang mengendarai mobil sedangkan Iyaz duduk di sampingnya sambil terus berceloteh riang. Melihat kebersamaan si kembar membuat Erik, Faiq dan Shera tersenyum bahagia.
\=====