
Tiba di Mesir ustadz Hamzah membawa Faiq dan Iyaz ke sebuah rumah kost yang sengaja disewakan untuk para mahasiswa. Rumah itu terlihat bersih dan nyaman. Meski pun harganya agak sedikit lebih mahal dibandingkan rumah kost lainnya namun letaknya lumayan dekat dengan kampus.
“ Lho, Kita ga ke asrama mahasiswa aja Ustadz...?” tanya Faiq.
“ Ga Mas Faiq, asrama udah penuh. Saya udah minta tolong sama kerabat Saya untuk mengurus keperluan Iyaz selama di sini. Dan katanya ini tempat yang terbaik walau harganya sedikit di atas rata-rata...,“ sahut ustadz Hamzah sambil tersenyum.
“ Saya bisa tinggal dimana aja kok Pak Ustadz. Ga usah kasih fasilitas yang berlebihan buat Saya, ntar Saya malah jadi manja dan ga bisa mandiri. Saya malu dong. Masa laki-laki ga mandiri...,” kata Iyaz tak enak hati.
Mendengar ucapan Iyaz membuat ustadz Hamzah dan Faiq saling menatap kemudian tertawa. Sedangkan Iyaz nampak menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil tersenyum.
“ Ini hanya sementara aja Nak. Kamu boleh tinggal dimana pun yang Kamu mau nanti. Kalo Kamu betah di sini,
boleh diterusin. Kalo ga suka atau ga nyaman Kamu bisa cari tempat lain. Pokoknya buat dirimu senyaman mungkin. Karena kalo Kamu nyaman, Kamu akan mudah menyerap ilmu dan pulang dengan membawa hasil yang membanggakan nanti...,” kata ustadz Hamzah.
“ Lagipula Kamu juga belum mengenal teman dan lingkunganmu dengan baik. Pelajari dulu situasinya sebelum memutuskan pindah dari sini ya Nak. Ayah merasa tempat ini baik dan cocok untukmu...,” kata Faiq menambahkan sambil mengamati situasi sekeliling rumah kost itu.
“ Ok Yah...,” sahut Iyaz.
Ustadz Hamzah pun menekan bel pintu dan keluar lah seorang pria itu bernama Ahmed yang merupakan warga keturunan Mesir. Ahmed fasih berbahasa Indonesia, mungkin karena ia sering berinteraksi dengan mahasiswa Indonesia yang tinggal di Mesir.
“ Assalamualaikum Ahmed...,” sapa ustadz Hamzah.
“ Wa alaikumsalam Hamzah. Mari silakan masuk...,” sambut Ahmed ramah sambil mempersilakan ustadz Hamzah masuk ke dalam rumah.
“ Oh iya, kenalkan ini Mas Faiq dan Anaknya Iyaz yang akan belajar di kampus Al Azhar...,” kata ustadz Hamzah.
“ Masya Allah, senang bisa mengenal Kalian...,” sahut Ahmed sambil tersenyum.
Mereka pun berbincang sejenak. Setelahnya Ahmed mengantarkan Iyaz melihat kamar yang akan ia tempati. Faiq
yang ikut masuk ke dalam pun menganggukkan kepalanya pertanda ia suka tempat itu.
“ Gimana Yah...?” tanya Iyaz.
“ Bagus. Lingkungannya asri, ga jauh dari kampus, tempatnya bersih, hanya menampung siswa laki-laki, dan punya
jam malam. Ayah suka. Insya Allah Kamu bakal betah di sini...,” sahut Faiq.
“ Ok, kalo gitu Aku mau tinggal di sini Yah...,” kata Iyaz antusias.
“ Kita harus berterima kasih sama Ustadz hamzah dan Pak Ahmed yang udah menyediakan tempat ini untukmu Nak...,” kata Faiq sambil tersenyum.
__ADS_1
“ Iya Yah. Apalagi Pak Ahmed bilang ada yang bersedia bayar mahal supaya bisa tinggal di sini. Tapi pak Ahmed bersikeras menyiapkan kamar ini untukku karena Ustadz Hamzah udah pesan jauh-jauh hari...,” sahut Iyaz bangga.
Kemudian Faiq dan Iyaz kembali ke ruang tamu untuk menemui ustadz Hamzah dan Ahmed.
“ Gimana Nak...?” tanya ustadz Hamzah.
“ Iya, Saya setuju tinggal di sini Pak Ustadz...,” sahut Iyaz mantap.
“ Alhamdulillah. Kalo ada yang perlu ditanyain, Kamu bisa hubungi Pak Ahmed. Rumah beliau ga jauh dari sini kok...,” kata ustadz Hamzah sambil menoleh kearah Ahmed.
“ Baik Pak Ustadz, makasih...,” sahut Iyaz sambil tersenyum.
Malam itu Faiq dan ustadz Hamzah menginap di kamar kost Iyaz, sedangkan Iyaz memilih bergabung dengan penghuni kost lain yang bercengkrama di ruang tengah. Banyak hal yang mereka bicarakan apalagi sebagian besar penghuni kost sama-sama berasal dari Indonesia. Kebetulan teman sekamar Iyaz juga berasal dari Indonesia bernama Syahdan.
Setelah beberapa hari tinggal di Mesir sekaligus mengurus semua berkas administrasi yang diperlukan oleh Iyaz
dan memastikan Iyaz tinggal di tempat yang baik, Faiq dan ustadz Hamzah memutuskan kembali ke tanah air.
Tak ada air mata kesedihan karena Iyaz rupanya telah siap dengan kondisi ini. Faiq pun lega mendapati anaknya baik-baik saja saat akan ia tinggalkan.
\=====
Sementara itu di Jakarta Erik sedang berusaha membujuk Izar agar mau melanjutkan pendidikannya dengan kuliah
“ Aku jenuh belajar Opa. Pusing ngeliatin tulisan yang ada di buku. Sekali-kali Aku mau liat sesuatu yang beda.
Makanya Aku mau langsung kerja aja biar bisa menghasilkan uang dan ga perlu ngerepotin Ayah lagi...,” kata Izar saat ditanya apa alasannya ingin bekerja.
“ Itu bagus. Opa bangga sama niat baikmu itu...,” sahut Erik sambil mengacungkan jempolnya.
“ Berarti besok Aku bakal mulai cari kerjaan Opa. Apa pun yang penting halal...,” kata Izar semangat.
“ Tapi akan sulit cari kerja tanpa bekal pendidikan dan pengalaman yang cukup lho Nak...,” kata Erik mengingatkan.
“ Aku tau Opa. Aku siap kok...,” sahut Izar berkeras.
“ Yang perlu Kamu tau, setiap pekerjaan punya jenjang karir masing-masing. Kalo Kamu hanya lulusan SMA atau
sederajat, maka karirmu susah berkembang. Karena kesempatan berkarir lebih besar disediakan untuk mereka yang lulusan Sarjana. Sedangkan yang lulusan SMA tugasnya ya menjalankan peraturan tapi bukan pemegang peraturan. Mengerti kan maksud Opa...?” tanya Erik sambil menatap tajam cucunya yang unik itu.
Izar nampak termangu sesaat dan mencoba mencerna ucapan sang opa. Sesaat kemudian Izar pamit untuk pergi keluar dengan sepedanya. Erik mengiyakan karena tahu jika Izar perlu waktu untuk memikirkan semua ucapannya tadi.
__ADS_1
Dalam hati Erik yakin ucapannya kali ini akan menggugah jiwa Izar yang tak suka dikekang itu. Bagaimana pun
Izar bukan lah Iyaz yang akan mudah diarahkan. Perlu banyak cara dan amunisi untuk membuat Izar mengerti. Bukan karena Izar bodoh, tapi karena Izar adalah pribadi yang suka kebebasan. Lebih suka praktek daripada teori, lebih percaya bukti daripada janji. Dan nampaknya Erik berhasil menyadarkan cucunya ini tentang pentingnya pendidikan di masa depan.
“ Gimana Pa...?” tanya Farah sambil memijit bahu suaminya itu.
“ Insya Allah dia bakal mengerti Ma...,” sahut Erik sambil tersenyum.
“ Alhamdulillah. Mama sama Shera udah kehabisan akal membujuk Izar supaya mau kuliah...,” kata Farah lega.
“ Izar emang agak keras kepala Ma, beda sama Iyaz...,” sahut Shera sambil duduk di hadapan Farah.
“ Gapapa Nak, mudah-mudahan Papa berhasil membujuknya...,” kata Farah yang diangguki Shera.
Setengah jam kemudian Izar pun telah kembali dengan membawa banyak buah sawo yang entah didapatnya darimana.
“ Assalamualaikum Bunda, Oma, Opa...,” sapa Izar.
“ Wa alaikumsalam, apa ini Zar...?” tanya Shera.
“ Sawo Bun...,” sahut Izar santai.
“ Bunda tau, tapi untuk apa dan Kamu dapat darimana...?” tanya Shera.
“ Metik di lapangan bareng teman-teman Bun. Mereka bawa sawo itu pulang, ya Aku ikut bawa aja...,” sahut Izar sambil membawa sawo itu ke dalam rumah dan mencucinya.
Erik, Farah dan Shera saling menatap kemudian tertawa kecil. Sesaat kemudian Izar kembali dengan wadah berisi sawo yang telah ia cuci bersih. Izar meletakkan wadah berisi sawo di atas meja lalu memakannya dengan lahap. Erik dan Farah ikut mencicipi sawo itu dan nampak menganggukkan kepalanya.
“ Mmm..., Aku udah ngerti apa maksud Opa tadi...,” kata Izar tiba-tiba hingga membuat Erik menoleh kearahnya.
“ Oh ya, terus gimana...?” tanya Erik.
“ Ok, Aku setuju kuliah Opa. Tapi biar Aku pilih sendiri jurusan yang mau Aku ambil...,” sahut Izar cepat.
“ Deal...,” kata Erik sambil mengulurkan tangannya.
“ Deal...,” sahut Izar sambil menjabat tangan sang opa hingga membuat semua orang tertawa bahagia.
Begitu lah cara Erik menangani ‘cucu unik’nya itu. Tak ada tarik urat leher, tak ada ketegangan. Hanya diskusi
ringan bisa membuat Izar sadar pentingnya pendidikan. Shera nampak tersenyum lega melihat Erik berhasil membujuk Izar.
__ADS_1
\=====