Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
253. Tolong Sempurnakan


__ADS_3

Surya pun terbangun saat kedua anaknya mengguncang tubuhnya. Rupanya Surya pingsan di depan televisi. Surya mengucek kedua matanya untuk memastikan jika yang ada di hadapannya adalah anak-anaknya.


“ Kalian udah pulang, jam berapa sekarang...?” tanya Surya dengan suara parau.


“ Jam delapan malam Pa...,” sahut si bungsu.


“ Papa kenapa tidur di sini...?” tanya si sulung.


“ Iya, tumben banget Pa. Biasanya kan Papa ga suka tidur di lantai kaya gini...,” kata si bungsu.


Surya pun berusaha bangkit lalu duduk di atas sofa. Dia tak mungkin mengatakan jika dia baru saja pingsan usai melihat makhluk yang mirip dengan Tina kepada kedua anaknya itu.


“ Papa kecapean aja tadi. Makanya ga sengaja ketiduran di lantai. Gimana jalan-jalannya, seneng ga...?” tanya Surya mencoba mengalihkan pembicaraan.


“ Seneng dong Pa, seru...!” sahut kedua anak Surya antusias.


“ Tapi Mbak Wulan takut naik wahana Pa, jadi cuma Aku sama Kakak yang naik tadi...,” kata si bungsu sedikit


kecewa.


“ Gapapa, ga usah dipaksa dong. Yang penting kan Mbak Wulan mau nganterin Kalian tadi...,” sahut Surya sambil membelai kepala si bungsu dengan sayang.


“ Abisnya Anak-anak minta naik wahana yang tinggi gitu Pak, Saya kan takut. Maafin Saya ya Pak kalo kurang


maksimal jagain si Kakak sama Adik tadi...,” kata Wulan sambil meletakkan secangkir kopi di meja di hadapan Surya.


“ Gapapa Wulan. Saya justru berterima kasih karena Kamu udah mau nurutin kemauan Anak-anak tadi. Kamu yang sabar ya sama Anak-anak...,” kata Surya sambil tersenyum melihat kedua anaknya yang beranjak ke kamar.


“ Insya Allah Pak. Terus gimana Pak, apa udah ada kabar tentang Ibu...?” tanya Wulan hati-hati.


“ Belum. Saya jadi bingung nyari kemana lagi. Semua teman dan famili Ibu udah Saya hubungi, tapi ga ada yang tau dimana Ibu...,” sahut Surya sambil mengacak rambutnya.


Wulan nampak menatap iba kearah Surya. Wulan memang belum lama bekeja di rumah Surya. Meski pun begitu ia tahu betul jika Surya dan Tina adalah pasangan yang saling mencintai. Wulan senang bekerja di rumah itu karena Surya dan Tina memperlakukannya dengan baik bahkan menganggapnya keluarga.


Sebelumnya Wulan pernah bekerja di keluarga lain namun Wulan selalu mendapat siksaan bahkan nyaris dilecehkan oleh anak majikannya. Kini setelah mendapatkan majikan yang baik, Wulan pun berjanji akan menjaga keluarga Surya seperti keluarganya sendiri. Bahkan Wulan juga menyayangi kedua anak Surya seperti saudaranya sendiri karena Wulan memang masih remaja berusia enam belas tahun.


Tiba-tiba si bungsu memanggil Wulan dan memintanya menemaninya mengerjakan tugas sekolah.

__ADS_1


“ Mbak Wulaann...,” rengek si bungsu.


“ Iya sebentar. Maaf Pak, si Adik manggil. Tadi Saya janji mau bantuin ngerjain tugas sekolahnya...,” pamit Wulan.


“ Tapi besok kan libur, kok ngerjain tugas sekarang...?” tanya Surya.


“ Ga tau Pak. Kayanya si Kakak sama si Adik punya rencana lain besok. Makanya mereka mau ngerjain tugas sekarang biar besok bisa nyantai...,” sahut Wulan.


“ Dasar Anak-anak, ya udah sana...,” kata Surya sambil menggelengkan kepalanya.


Wulan mengangguk lalu melangkah cepat menghampiri kedua anak Surya di kamar. Surya nampak senang karena Wulan bisa menggantikan tugas Tina menemani anak-anaknya untuk sementara waktu.


Surya pun kembali mengingat pengalamannya yang membuat bulu kuduknya kembali meremang. Surya yakin jika


telah terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya itu. Bahkan Surya sudah bersiap jika sang istri telah berpulang kepada Allah. Hanya saja Surya ingin tahu apa penyebabnya dan dimana jasad Tina dikuburkan.


“ Jika Kamu telah pergi Aku ikhlas Sayang. Hanya saja tolong beritahu Aku dimana jasadmu agar Aku bisa mengurusnya dengan layak...,” gumam Surya sambil mendongakkan kepalanya dan memejamkan matanya.


Kali ini Surya berniat meminta bantuan seseorang yang paham dunia ghaib karena semua yang ia alami sulit dipahami dengan akal sehat.


\=====


“ Apa yang Kamu inginkan. Jika Aku bisa membantumu, insya Allah akan Aku lakukan...,” kata Hanako sambil melanjutkan pekerjaannya.


Bayangan itu berhenti lalu menghilang saat pintu kamar Hanako terbuka dan memperlihatkan Pandu di balik pintu. Hanako pun tersenyum menyambut suaminya.


“ Assalamualaikum Sayang...,” sapa Pandu sambil tersenyum.


“ Wa alaikumsalam..., udah pulang Mas. Maaf ya Aku ga nungguin Kamu di depan. Lagi beresin baju nih...,” kata Hanako sambil mencium punggung tangan suaminya.


“ Gapapa Sayang. Kamu sendiri pulang jam berapa...?” tanya Pandu sambil mengecup kening Hanako.


“ Setengah enam Mas. Sebentar, Aku bikinin kopi ya...,” kata Hanako.


“ Ga usah Sayang, Aku baru aja ngopi sama Ayah di depan tadi. Bunda yang bikinin...,” sahut Pandu sambil membuka seragam kebanggaannya itu.


“ Duh jadi ga enak nih sama Kamu dan Bunda...,” kata Hanako.

__ADS_1


“ Gapapa, ga sering juga kan. Lagian sebentar lagi kan Kita bakal pindah dan hidup mandiri. Jadi mumpung masih di sini, kasih kesempatan Bunda sama Ayah manjain menantunya yang ganteng ini...,” sahut Pandu sambil menaik turunkan alisnya hingga membuat Hanako berdecak sebal.


Pandu pun menarik Hanako ke dalam pelukannya dan mereka pun tertawa bersama. Bayangan yang tadi dilihat Hanako nampak menatap sedih kearah keduanya yang tengah bermesraan itu lalu perlahan menghilang.


\=====


Keesokan harinya di kantor.


Hanako menyampaikan apa yang dilihatnya kepada Iyaz dan Izar. Si kembar pun tahu jika sosok yang dilihat Hanako adalah sosok yang juga dilihat Pita di rumah Surya tempo hari.


“ Jadi dia bilang apa Ci...?” tanya Izar.


“ Dia belum sempet bilang apa-apa kemaren. Aku masih nungguin sampe sekarang, tapi dia belum nemuin Aku, ga tau kenapa...,” sahut Hanako sambil menggedikkan bahunya.


Tiba-tiba sebuah bayangan melintas di hadapan ketiganya hingga membuat Hanako, Iyaz dan Izar saling menatap lalu mengangguk.


“ Katakan apa maumu, jangan membuat teka-teki yang bikin Kami bingung. Jika Kamu ingin Kami bantu, katakan. Jika tidak, pergi lah dan jangan kembali...!” kata Izar lantang.


Seperti mengerti apa yang diucapkan Izar, bayangan yang berkelebatan itu pun berhenti lalu perlahan menunjukkan wujud aslinya di hadapan Hanako, Iyaz dan Izar.


Sosok makhluk halus berwujud wanita dengan wajah pucat dan kedua mata yang hanya berupa dua lobang besar itu nampak berdiri sambil menundukkan wajahnya. Perlahan kepala wanita itu terangkat ke atas lalu menatap Hanako, Iyaz dan Izar dengan tatapan yang sedih.


Meski pun makhluk itu tak memiliki bola mata, namun Hanako dan si kembar tahu jika wanita itu sedang bersedih.


“ Kenapa sedih...?” tanya Hanako hati-hati.


“ Aku..., jasadku..., tolong sempurnakan jasadku...,” sahut hantu wanita itu lirih.


“ Apa Kamu Istrinya Pak Surya...?” tanya Iyaz.


“ Iya...,” sahut hantu wanita itu sambil mengangguk.


“ Katakan apa yang terjadi. Kenapa Kamu bisa seperti ini...?” tanya Izar.


Hantu wanita itu terdiam sejenak. Karena tak sabar menunggu hantu wanita itu bicara, Hanako pun maju bermaksud untuk menyentuh hantu wanita itu. Namun hantu wanita itu menghindari Hanako sambil menggelengkan kepalanya.


“ Jangan sentuh Aku, terlalu berbahaya untukmu dan calon bayimu...,” kata hantu wanita itu sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Ucapan hantu wanita itu mengejutkan Hanako, Iyaz dan Izar. Baru kali ini mereka bertemu sosok hantu yang peduli pada kehamilan seorang manusia. Padahal biasanya justru mereka memanfaatkan janin dalam rahim manusia untuk kepentingan mereka sendiri.


\=====


__ADS_2