Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
257. Ambruk


__ADS_3

Setelah memindahkan tubuh Alya ke tempat lain, Hanako pun berusaha menyadarkan Alya. Atmo yang ikut mendampingi Hanako pun menatap cemas kearah Alya. Atmo merasa jika kehidupan sang nona majikan berubah drastis sejak kehadiran Vena sang mama tiri.


Perlahan Alya menggerakkan kepalanya. Hanako dan Atmo pun tersenyum melihat Alya membuka matanya.


“ Pelan-pelan aja Al...,” kata Hanako saat melihat Alya berusaha bangkit.


“ Iya Kak. Tapi Aku mau liat apa yang dilakuin Mama Vena. Aku yakin kalo ritual sesatnya itu lah yang bikin Ayahku meninggal...,” sahut Alya.


Vena yang terkejut melihat kehadiran Pandu, Iyaz dan Izar pun nampak gugup. Dengan cepat Vena meraih kain yang berserakan di lantai untuk menutupi tubuhnya yang nyaris telan*ang itu.


“ Lancang. Siapa yang ijinkan Kalian masuk ke rumahku...?!” tanya Vena dengan suara lantang.


“ Aku...!” sahut Alya tiba-tiba dari belakang Pandu, Iyaz dan Izar.


Vena dan Vincent terkejut karena tak menyangka jika kondisi Alya baik-baik saja. Padahal seharusnya Alya sudah terkapar tak bernyawa di kamarnya.


Iyaz, Izar dan Hanako yang melihat kepanikan di wajah Vena dan Vincent pun paham jika mereka telah menargetkan Alya sebagai tumbal berikutnya.


“ Kenapa, Kalian terkejut ya ngeliat Alya baik-baik aja. Bukan kah seharusnya dia terkapar di kamarnya dalam keadaan sekarat...,” sindir Izar sambil menatap Vena dan Vincent bergantian.


Mendengar ucapan Izar membuat Alya terkejut. Ia tak menduga jika Vena dan Vincent telah menyiapkan jebakan untuknya namun sayangnya ia berhasil selamat.


“ Apa maksudnya Bang...?” tanya Alya.


“ Maksudnya adalah, Mama tirimu dan temannya itu udah menargetkanmu sebagai tumbal berikutnya dari pesugihan yang mereka anut Al...,” sahut Izar.


“ Ya Allah. Astaghfirullah aladziim..., apa itu benar Ma...?” tanya Alya.


Vena hanya diam. Ia melirik kearah Vincent yang nampak salah tingkah karena ketahuan melakukan perbuatan sesat dan memalukan di rumah Vena si janda cantik itu.

__ADS_1


Tiba-tiba suasana di dalam ruangan itu menjadi panas. Perlahan makin panas seperti di dalam oven. Sadar jika


sesuatu yang buruk akan terjadi, Vincent mencoba menyelamatkan diri. Ia mendorong tubuh Vena kearah Iyaz dan Izar lalu berlari cepat kearah pintu. Iyaz dan Izar pun terlihat gugup karena harus menyentuh Vena yang nyaris telan*ang itu. Dengan cepat mereka mendorong balik tubuh Vena hingga Vena nyaris terjatuh.


Sedangkan Vincent harus menelan kecewa karena gagal melarikan diri. Langkah Vincent berhasil dihalangi oleh Pandu yang menjegal kakinya hingga Vincent pun jatuh tersungkur di lantai. Vincent menjerit tertahan saat hidung dan mulutnya terluka mengeluarkan darah akibat membentur lantai.


Di sisi lain Hanako sedang membujuk Alya dan meminta Atmo untuk membawa Alya keluar dari rumah itu walau pun Alya menolak.


“ Ini di luar kemampuanmu Alya. Tolong mengerti lah...,” kata Hanako.


“ Aku mau bantu Kak, Aku bisa bantu...,” sahut Alya memaksa.


“ Bantu dari luar aja ya. Perbanyak dzikir dan jangan lengah...,” kata Hanako sambil meremas  lengan Alya dengan gemas.


“ Ok...,” sahut Alya lalu mengikuti Atmo yang menarik tangannya keluar dari rumah itu.


Pandu pun mendekat kearah Hanako. Ia mengusap kening Hanako yang basah dengan keringat akibat hawa panas di dalam ruangan itu.


“ Ok, makasih Mas...,” sahut Hanako sambil tersenyum.


Hanako membalikkan tubuhnya lalu mendekat kearah Iyaz dan Izar. Kemudian ketiganya saling bergandengan tangan membentuk formasi khusus untuk menghadapi siluman yang ada di hadapan mereka.


Sedangkan Vena nampak menelungkup di lantai sambil menggumamkan sesuatu. Ada siluet hitam yang berkelabat di atas tubuhnya lalu perlahan mengungkung tubuh Vena. Dalam sekejap saja Vena telah kerasukan iblis sembahannya itu. Vena pun mengangkat kepala untuk memperlihatkan wajahnya yang kini sulit dikenali karena telah berubah menjadi sosok yang lain.


Melihat wujud Vena yang jauh berbeda dari kesehariannya yang selama ini ia kenal, Vincent pun nampak bergidik. Ia tak menyangka jika Vena memiliki ‘wajah lain’ yang sangat menyeramkan dan jauh dari kata cantik.


Seluruh kulit Vena nampak menebal, kusam dan berlipat-lipat. Wajahnya pun terlihat aneh dengan bola matanya yang kuning menyala seperti mata hewan. Ditambah lagi rambut dan kukunya yang memanjang tak beraturan membuatnya makin tak sedap dipandang. Belum lagi cara berjalan Vena yang kini merayap dengan kedua tangan dan kakinya yang terkembang itu makin membuatnya terlihat buruk.


Tiba-tiba Vena melompat menyerang Hanako, Iyaz dan Izar. Mereka bertiga pun menyambut serangan itu dengan sigap. Pertarungan sengit pun tak terhindarkan. Di sela-sela pertarungan itu terlihat hantu Tina dan hantu ayah Alya berdiri mengamati dari sudut ruangan. Sedangkan Pandu tak henti berdzikir sambil mengamati dari sudut yang lain.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama untuk ketiga bersaudara itu melumpuhkan Vena yang dirasuki siluman itu. Tubuh Vena pun terlempar ke belakang hingga menabrak dinding dengan keras. Untuk sesaat Vena nampak kesakitan. Saat hendak bangkit, Vena memuntahkan segumpal darah kehitaman berbau busuk dari dalam mulutnya pertanda ia terluka parah.


Sadar dirinya terluka, Vena pun lari ke sudut ruangan menuju lantai bawah dimana terdapat ruangan bawah tanah. Sebelum lari Vena sempat memberi kode pada Vincent untuk mengikutinya. Saat Vincent masuk, lantai pun tertutup dan itu membingungkan Iyaz, Izar dan Hanako.


“ Pasti ada tombol rahasia yang bisa membuka pintu itu...,” kata Pandu tiba-tiba sambil meraba dinding di sudut ruangan.


Saat lukisan besar digeser, terlihat sebuah tombol berwarna hitam. Pandu menekan tombol itu dan terbuka lah pintu menuju ruang bawah tanah. Mereka pun bergegas menyusul Vena dan Vincent.


Tiba di ruang bawah tanah terlihat pemandangan yang sangat mengenaskan. Terdapat dua kursi besi dengan dua jasad yang telah membusuk di atasnya. Bahkan salah satu jasad terlihat telah mengering pertanda ia telah lama meninggal dunia. Terlihat bagaimana kedua jasad yang diyakini sebagai pria dan wanita itu terikat kuat dengan posisi wajah yang mendongak ke atas. Terlihat dua rongga mata yang kosong tanpa bola mata. Tampaknya sebelum meninggal dunia kedua jasad itu mengalami penyiksaan yang membuat kedua bola matanya raib.


Tiba-tiba terdengar jeritan Alya yang mengejutkan semua orang. Di belakangnya terlihat Atmo yang berdiri dengan


nafas memburu.


“ Kenapa Kamu di sini Alya...?!” tanya Hanako sambil manatap Alya dan Atmo bergantian.


“ Maaf Mbak, Saya ga berhasil mencegah Non Alya. Dia kabur dari penjagaan Saya...,” kata Atmo.


Seperti tak peduli dengan kemarahan Hanako, Alya maju mendekati dua jasad di atas kursi itu. Alya menangis saat mengenali pakaian yang dikenakan jasad pria yang telah mengering di atas kursi itu.


“ Ayah..., ini Ayah. Kenapa Ayah ada di sini. Jadi jasad siapa yang dikubur itu...?” tanya Alya sambil menangis.


Tiba-tiba ruangan itu bergetar. Semula hanya getaran kecil. Tapi lama kelamaan menjadi getaran besar dan mengkhawatirkan. Izar yang tahu betul apa yang terjadi pun segera memerintahkan semua orang keluar dari tempat itu.


“ Semua keluar dari sini, rumah ini bakal runtuh...!” teriak Izar mengingatkan.


Dengan sigap Pandu menarik tangan Hanako lalu membawanya menaiki anak tangga. Disusul Atmo yang juga menarik tangan Alya, terakhir Iyaz dan Izar belari cepat menuju anak tangga. Saat pijakan terakhir Izar tiba di ujung anak tangga teratas, ruang bawah tanah itu pun ambruk disusul dinding rumah bagian samping.


Semua bergegas lari menyelamatkan diri keluar rumah. Sesaat kemudian rumah mewah itu pun ambruk dengan sebagian bangunan yang terhisap ke tanah. Alya menjerit menyaksikan peninggalan ayahnya lenyap terhisap ke dalam tanah dan hanya menyisakan sedikit bagian saja yang masih utuh.

__ADS_1


\=====


__ADS_2