
Hari itu Faiq sengaja berkunjung ke rumah Efliya untuk bicara khusus dengan Heru. Sepulang kerja ia langsung melajukan motornya menuju rumah adik perempuannya itu untuk membahas janjinya pada hantu Siti.
Setelah Faiq menceritakan apa yang terjadi pada Siti dan Hasman, Heru pun setuju membantu. Kemudian Heru
menghubungi kepolisian yang bertanggung jawab menangani kasus tersebut belasan tahun yang lalu di kota itu.
“ Ga enak ngobrol jarak jauh Bang. Kalo mau, Abang ikut Gue nemuin teman Gue itu lusa di kafe...,” kata Heru.
“ Gitu ya. Insya Allah Gue siapin waktu ya buat ke sana. Tapi kayanya malam Her, gimana...?” tanya Faiq.
“ Gapapa Bang. Sesempetnya Lo aja...,” sahut Heru.
“ Ok deh Gue pamit dulu ya...,” kata Faiq yang diangguki Heru.
Saat melewati ruang tamu terlihat Hanako yang baru saja selesai mengerjakan tugasnya. Nampaknya Hanako lebih nyaman mengerjakan PR di ruang tamu dibandingkan di dalam kamar.
“ Papa udah mau pulang...?” tanya Hanako.
“ Iya Nak. Papa pulang dulu ya...,” sahut Faiq sambil mengusap kepala Hanako dengan sayang.
“ Mmm, aku bisa ngobrol sebentar ga sama Papa...?” tanya Hanako hati-hati.
“ Ini udah malam Kak. Kasian kan Papa juga perlu istirahat...,” kata Heru mengingatkan.
“ Tapi ini penting Yah, ini soal Desiree...,” kata Hanako lirih hingga membuat kedua mata Faiq membulat.
“ Kamu ketemu sama arwah Desiree Nak...?” tanya Faiq.
“ Aku ga tau Pa. Tapi Aku mimpi tentang seorang wanita cantik yang diikat tangan dan kakinya. Keliatannya dia lagi diculik. Sayangnya matanya ditutup jadi dia ga tau siapa orang yang udah nyulik dia Pa...,” sahut Hanako.
“ Terus apalagi...?” tanya Faiq dan Heru bersamaan.
“ Wanita itu jerit-jerit gitu sih...,” sahut Hanako lagi.
“ Terus darimana Kamu tau kalo itu Desiree Ciii...?” tanya Faiq gemas.
“ Ada yang manggil namanya berulang kali Pa. Saat nama itu disebut dia ketakutan. Apa itu bukan tanda kalo wanita itu adalah Desiree, kekasihnya Hasman itu...?” tanya Hanako dengan wajah bingung.
Faiq dan Heru saling menatap mendengar penjelasan Hanako. Kemudian Faiq mengusap-usap dan meniup kepala
Hanako yang tertutup hijab itu sambil berdzikir dalam hati.
“ Kamu ga usah pikirin itu lagi ya. Ini udah jadi urusan Papa sama Ayah Kamu. Tugas Kamu sekarang adalah belajar karena waktu ujian kelulusanmu kan udah dekat...,” kata Faiq.
__ADS_1
“ Tapi kalo mimpi itu datang lagi gimana Pa...?” tanya Hanako cemas.
“ Insya Allah mimpi itu ga akan datang lagi. Bukan apa-apa Nak, ini terlalu berbahaya untukmu. Jadi Papa mohon berhenti di sini dan Papa yang ambil alih semuanya. Mengerti...?!” tanya Faiq sambil menatap tajam kearah Hanako.
“ Iya Pa...,” sahut Hanako sambil mengangguk cepat.
Faiq tersenyum kemudian melangkah keluar rumah. Sesaat kemudian terdengar suara motornya meraung meninggalkan halaman rumah dimana Heru masih berdiri menatap kepergiannya.
\=====
Heru dan Faiq baru saja tiba di kafe tempat mereka membuat janji bertemu dengan teman lama Heru. Saat tiba di sana mereka disambut oleh teman Heru yang juga berprofesi sebagai polisi itu.
“ Masya Allah, Heru..., Heru. Keren banget Lo sekarang. Ga nyangka ya sekeren ini udah punya Anak dua...,” sapa teman Heru yang bernama Fauzan dengan ramah.
“ Bisa aja Lo Zan. Kenalin nih Abang Gue, namanya Faiq...,” sahut Heru sambil memperkenalkan Faiq di sampingnya.
“ Faiq, Bang Faiq ya. Yang reporter tipi itu kan...?” tanya Fauzan antusias.
“ Iya, jangan norak deh...,” sahut Heru sebal hingga membuat Faiq tertawa.
“ Sebentar dong Her, Gue masih pengen ngobrol sama Bang Faiq. Oh iya, Saya beberapa kali nonton acara berita
yang dibawain Bang Faiq lho...,” kata Fauzan lagi.
“ Ck, cuma beberapa kali. Padahal Bang Faiq ini siaran hampir tiap hari tau ga Lo...?!” kata Heru sewot sambil membulatkan matanya hingga membuat Faiq, Fauzan dan seorang polisi lagi tertawa melihat sikapnya.
“ Ok deh, Kita langsung aja. Oh iya kenalin ini Bang Darta. Polisi senior yang dulu nanganin kasusnya Hasman dan Siti...,” kata Fauzan sambil menepuk pundak Darta.
Mereka saling berjabat tangan. Kemudian Heru mulai menceritakan pengalaman Faiq saat berlibur seminggu yang lalu di kota itu sekaligus memberitahu jika Faiq memiliki kemampuan berinteraksi dengan makhluk ghaib.
“ Saya percaya Bang Faiq punya kemampuan itu karena kasus ini memang ditutup setelah Siti menghilang. Hanya
orang yang punya kepekaan tinggi aja yang mau kasus ini dibuka lagi...,” kata Darta sambil tersenyum.
“ Bu Siti ga hilang Bang, dia meninggal dibunuh oleh orang suruhan Tuan Scoot. Tubuhnya digantung di pohon di
tempat yang sekarang jadi danau buatan di tengah kota...,” sahut Faiq meyakinkan.
“ Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun.... Kasus ini kan udah lama banget. Udah empat belas tahun lebih. Waktu itu Saya dapat perintah untuk menghentikan penyelidikan kasus ini karena ga cukup bukti dan saksi. Hasman juga dikeluarkan dari penjara dengan menandatangani perjanjian jika ia terbukti bersalah maka akan bersedia bertanggung jawab di depan hukum...,” kata Darta sambil meneguk kopi hitamnya.
“ Terus Hasman kemana Bang...?” tanya Faiq.
“ Dia tetap ada di kota ini sampe sekarang dan melanjutkan usahanya yang sempat terhenti...,” sahut Darta.
__ADS_1
“ Terus, apa mereka ga coba nyari tau dimana Bu Siti...?” tanya Heru.
“ Yang Saya dengar Siti itu kabur karena takut dituduh terlibat dengan kasus ini. Apalagi sebelumnya dia pernah datang ke kantor polisi untuk membela Hasman. Saat itu ada Tuan Scoot dan Istrinya di sana. Tindakan Bu Siti bikin Kami curiga. Tapi beberapa hari kemudian Bu Siti dikabarkan menghilang. Dan Saya baru tau sekarang kalo Bu Siti itu ternyata meninggal karena dibunuh...,” sahut Darta.
“ Apa Polisi sempat mencurigai seseorang dulu Bang...?” tanya Faiq.
“ Iya. Polisi sempat mencurigai pengawal Tuan Scoot...,” sahut Darta cepat.
Tiba-tiba Faiq melihat hantu Siti melintas di belakang Fauzan. Faiq menatap lekat hantu Siti yang melayang keluar
kafe. Lalu Faiq pun bergegas mengikutinya. Heru yang paham apa yang terjadi hanya memberi isyarat pada Fauzan dan Darta agar tak bicara apa pun. Kemudian ketiganya bergerak mengikuti Faiq.
“ Ada apa Bu...?” tanya Faiq.
Hantu Siti menunjuk kearah seorang laki-laki bertubuh gemuk yang merupakan juru parkir di tempat itu. Faiq mengangguk lalu memberitahu Darta jika hantu Siti minta mereka membawa pria gemuk itu.
“ Keliatannya dia tau sesuatu...,” bisik Faiq.
“ Harusnya dia tau, karena dia adalah mantan anak buah Tuan Scoot...,” kata Darta yang dengan sigap langsung mendekati pria itu dan membawanya menemui Faiq dan Heru.
Tak ada perlawanan dari pria gemuk itu karena saat itu Darta masih mengenakan seragam lengkap. Saat diingatkan kembali tentang kasus hilangnya Desiree, wajah pria bernama Jono itu pun memucat.
“ Saya, Saya cuma disuruh Pak...,” kata Jono gugup.
“ Siapa yang nyuruh Kamu...?” tanya Darta.
“ Tunangan Nona Desiree...,” sahut Jono sambil menundukkan wajahnya.
Lalu mengalirlah cerita dari mulut Jono....
Dulu Jono dan seorang temannya dibayar mahal untuk menculik Desiree atas perintah calon suaminya sendiri yang
bernama Hendrik, yang merupakan pria pilihan tuan Scoot. Hendrik curiga jika Desiree pernah melakukan hubungan intim dengan Hasman saat masih menjalin kasih dulu. Hendrik tak mau menikahi Desiree jika terbukti gadis itu tak suci lagi.
Malam dimana Desiree diculik, gadis itu dilecehkan oleh calon suaminya sendiri. Desiree dipe**sa secara brutal hingga Desiree memilih mengakhiri hidup dengan mengiris urat nadi di pergelangan tangannya karena tak sanggup membayangkan hidupnya kelak bersama Hendrik.
Saat mendapati Desiree meninggal, Hendrik pun panik. Kemudian ia memerintahkan Jono dan temannya membuang jasad Desiree. Karena bingung Jono dan temannya pun meletakkan jasad Desiree di kebun kosong di belakang panti jompo dimana Siti bertugas. Jono tak menyangka jika tindakannya akan menyeret Siti ke dalam masalah ini hingga berakhir tragis.
Semua yang mendengar pengakuan Jono nampak menghela nafas panjang termasuk hantu Siti. Kedua matanya nampak berkaca-kaca dan bibir pucatnya pun tersenyum.
“ Bukan Aku pelakunya...,” kata hantu Siti sebelum menghilang.
“ Iya, bukan Kamu pelakunya. Insya Allah dengan petunjuk ini Kami akan segera membersihkan namamu...,” gumam Faiq.
__ADS_1
Heru, Fauzan dan Darta pun mengangguk mengiyakan ucapan Faiq.
Bersambung