
Hanako dan Izar pun tiba di depan sebuah gedung yang menjulang tinggi. Saat melewati pos security mereka dimintai tanda pengenal. Setelah menukar tanda pengenal dengan kartu tanda masuk ke area gedung, Hanako dan Izar pun diijinkan masuk.
Setelah memarkirkan kendaraan di basement Izar dan Hanako masuk ke dalam lift bersama beberapa orang yang nampaknya adalah karyawan di gedung itu.
“ Lantai berapa Ci...?” tanya Izar.
“ Lantai empat belas...,” sahut Hanako.
Izar pun menekan tombol bertuliskan angka 14 setelah sebelumnya mengerutkan keningnya. Hanako yang melihat mimik wajah Izar yang sedikit berbeda itu pun bertanya.
“ Kenapa Zar...?” tanya Hanako.
“ Gedungnya ga punya lantai tiga belas. Masa abis angka dua belas langsung lompat ke empat belas. Aneh...,” sahut Izar sambil berbisik.
“ Ssstt..., jangan bahas itu di sini Zar...,” kata Hanako sambil menyilangkan jari telunjuknya di depan bibirnya.
“ Ok...,” sahut Izar cepat lalu mengunci mulutnya hingga lift tiba di lantai empat belas.
Hanako dan Izar pun keluar dari lift dan langsung menuju ke meja receptionist untuk mengkonfirmasi surat panggilan interview Hanako. Sudah ada beberapa pelamar juga yang berdiri di depan meja receptionist dan menanyakan hal yang sama dengan Hanako. Sementara itu Izar bergeser menjauh dari sana lalu berdiri memperhatikan dekorasi ruangan yang nampak asri itu.
Sesaat kemudian Hanako menghampiri Izar sambil tersenyum kearahnya.
“ Gimana...?” tanya Izar.
“ Alhamdulillah namaku ada di daftar pelamar yang bakal ikut interview hari ini...,” sahut Hanako sambil duduk di kursi yang tersedia di sana.
“ Syukur lah. Terus jam berapa mulai interviewnya...?” tanya Izar.
“ Sebentar lagi kayanya...,” sahut Hanako sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Sepuluh menit kemudian Hanako dan para pelamar itu pun dipanggil ke sebuah ruangan secara bergantian. Setelahnya mereka juga masih harus menjalani test kesehatan di ruangan lain di lantai yang sama. Izar setia menemani Hanako kemana pun Hanako pergi dan itu membuat keduanya menjadi pusat perhatian hari itu.
“ Pacarnya berondong ya, keren juga...,” bisik seorang gadis berponi yang duduk tak jauh dari Hanako.
“ Iya. Keliatannya sayang banget sama ceweknya...,” sahut gadis yang ada di sampingnya.
__ADS_1
“ Mereka pasangan serasi, yang cowoknya ganteng yang ceweknya juga cantik. Pas...,” kata gadis berkaca mata yang juga mendengar ucapan kedua gadis di sampingnya itu.
“ Kalo punya pacar berondong mah harus tahan banting. Pasti banyak maunya dan jajannya juga banyak. Harus punya modal yang besar, kalo ga mah bakal kabur nyari yang lain...,” kata gadis berponi itu sambil mencibir.
Mendengar ucapan gadis berponi itu membuat Hanako tak dapat menahan tawa. Sedangkan Izar nampak cemberut karena dikira ‘pacar brondongnya’ Hanako.
Tak lama kemudian pengumuman pun dibacakan. Beberapa orang terlihat kecewa karena nama mereka tak lolos seleksi. Sedangkan Hanako masih bertahan hingga para kandidat karyawan itu tersisa delapan orang saja termasuk ketiga gadis yang tadi menggosipi Hanako dan Izar.
“ Kami ucapkan selamat kepada Kalian yang lolos seleksi. Untuk hari ini cukup sampai di sini dan Kalian bisa datang lagi lusa. Kami harap Kalian datang tepat waktu yaitu jam delapan pagi di sini, di tempat ini. Akan ada pengarahan dari Manager personalia nanti. Sekian dan terima kasih, selamat siang...,” kata karyawati bername tag Viona itu dengan ramah.
“ Selamat siang...,” sahut delapan orang karyawan baru itu bersamaan.
Setelahnya mereka keluar dari ruangan dengan wajah berbinar bahagia. Mereka saling memberi selamat sekaligus
berkenalan. Hanako yang berjalan berdampingan dengan Izar pun tak luput mendapat selamat.
“ Selamat ya, akhirnya Kita bisa diterima kerja di sini. Nama Gue Laras...,” kata gadis berponi itu sambil tersenyum.
“ Sama-sama, selamat juga untuk Kalian. Gue Hanako...,” sahut Hanako sambil membalas jabatan tangan rekan-rekan barunya itu begantian.
“ Tapi ini bukan Pacar Gue Fer. Dia sepupu Gue, namanya Izar. Masih kuliah tingkat satu, makanya mukanya masih
imut...,” kata Hanako sambil tertawa hingga membuat Izar berdecak sebal karena diperkenalkan dengan cara seperti itu.
“ Ups, sorry. Kirain Gue dia cowok Lo. Maaf ya Izaaarrr...,” kata Laras dan Fera bersamaan sambil menangkupkan kedua telapak tangan mereka di depan dada dengan perasaan tak enak hati.
“ Gapapa Mbak...,” sahut Izar asal.
“ What, jangan panggil Mbak dong. Kita kan ga tua-tua amat...,” protes Laras yang diangguki Fera.
“ Bodo amat. Salah sendiri kenapa panggil Gue brondong...,” sahut Izar lirih namun masih bisa didengar oleh teman
baru Hanako.
“ Iiihhh, sepupu Lo itu ternyata pendendam ya Han. Ga asyik banget sih...,” gerutu Laras sambil menghentakkan kakinya hingga membuat Hanako dan yang lainnya tertawa melihat tingkahnya.
__ADS_1
\=====
Di ruang kerjanya Faiq nampak tertawa saat sedang menerima panggilan telephon dari Heru. Rupanya Heru sedang menceritakan insiden pagi tadi di rumahnya akibat ulah Izar.
“ Gue ga mau Lo salah paham nanti Bang. Makanya Gue bilang langsung nih ya kalo tadi Gue mukul Izar. Abisnya Gue gemes banget sama mulutnya...,” kata Heru tak enak hati.
“ Ha ha ha..., gapapa Her. Nyantai aja lah. Gue ga marah kok. Lagian dia kan Anak Lo juga, jadi wajar lah kalo Lo
ikut mendidik dia. Gue malah mau bilang terima kasih sama Lo karena udah ngasih dia pelajaran penting hari ini...,” sahut Faiq di sela tawanya.
“ Jadi Lo ga marah nih Bang...?” tanya Heru sekali lagi.
“ Ga lah. Terus reaksinya si Izar gimana abis Lo pukul tadi...?” tanya Faiq penasaran.
“ Dia langsung minta maaf plus nyiumin tangan Gue berkali-kali Bang. Gue hampir ketawa liat tingkahnya tadi.
Untung bisa Gue tahan, kalo ga kan bisa jatuh dong wibawa Gue...,” sahut Heru sambil tertawa.
“ Gue bisa bayangin gimana muka paniknya saat minta maaf sama Lo tadi Her. Menurut Gue sekarang pasti Eliya juga lagi sibuk minta maaf sama Shera. Eliya ga tau kalo Shera justru bisa nambahin hukuman buat Izar nanti...,” kata Faiq sambil tersenyum.
“ Kasian Izar dong Bang kalo masih harus dimarahin sama Shera nanti...,” sahut Heru cemas.
“ Biarin aja. Terus Izar mau kan nganterin Cici interview hari ini...?” tanya Faiq.
“ Alhamdulillah mau Bang. Selesai baikan mereka langsung jalan kok tadi...,” sahut Heru.
“ Bagus lah, itu artinya Izar sadar kalo dia salah dan ga menyimpan dendam sama Cici...,” kata Faiq.
“ Iya Bang. Ok, kalo gitu Gue lanjut kerja lagi ya Bang. Assalamualaikum...,” pamit Heru.
“ Ok, wa alaikumsalam...,” sahut Faiq lalu meletakkan ponsel miliknya di atas meja.
Faiq membayangkan bagaimana paniknya Izar saat ia ‘dikeroyok’ keluarga Heru tadi pagi. Membayangkannya saja
membuat Faiq tertawa geli. Setelah puas tertawa Faiq kembali fokus pada pekerjaannya. Apalagi Hendro juga telah menyerahkan hasil editan gambar penunjang berita yang dimintanya tadi.
__ADS_1
\=====