
Setelah kembali ke Jakarta Hanako dan Pandu hanya beristirahat selama dua hari sebelum kembali ke rutinitas semula. Hanako kembali bekerja di kantor sang opa sebagai manager keuangan, sedangkan Pandu kembali bertugas di pangkalan udara Halim Perdana Kusuma.
Iyaz dan Izar nampak menyambut kehadiran Hanako di depan kantor. Mereka menyapa Pandu yang memang mengantar Hanako hari itu.
“ Tolong jagain Istri Gue ya...,” gurau Pandu.
“ Tenang aja Mas. Ga akan ada yang berani gangguin Cici. Hantu aja mikir mau deketin dia...,” sahut Izar.
“ Mulai deh resenya...,” kata Hanako sambil cemberut.
“ Iya iya, maaf ya Cici Sayang. Tapi Kamu keliatan gendutan lho Ci. Apa Kamu hamil...?” tanya Izar yang sontak membuat Hanako bertambah kesal.
“ Tuh Mas denger sendiri kan. Gimana Aku ga darah tinggi ngadepin makhluk satu ini...,” kata hanako sambil menatap suaminya.
“ Yang sabar ya Sayang...,” sahut Pandu sambil mengusap punggung Hanako dengan lembut untuk meredakan kemarahannya.
“ Dan Kamu Zar, jangan sembarangan kalo ngomong, bikin gosip aja !. Aku bukan hamil tapi berat badanku emng bertambah. Ini karena Aku makan banyak di sana...!” sahut Hanako ketus.
Mendengar jawaban Hanako membuat Iyaz, Izar dan Pandu tertawa geli. Namun mereka segera menghentikan tawa mereka saat Hanako menatap ketiganya dengan tatapan horror.
“ Kalo gitu Aku berangkat ya Sayang. Assalamualaikum...,” pamit Pandu sambil menstarter motornya.
“ Wa alaikumsalam...,” sahut Hanako, Iyaz dan Izar bersamaan.
Setelah melepas kepergian Pandu, ketiganya memasuki gedung kantor bersama-sama. Saat akan memasuki ruang kerjanya Hanako berpapasan dengan Andri. Keduanya pun terlibat pembicaraan serius. Ternyata Andri menepati janjinya untuk minta maaf kepada Hanako.
“ Maafin Saya ya Mbak Hanako. Saya khilaf waktu itu...,” kata Andri sambil menundukkan kepalanya.
“ Ok, Saya maafin Kamu. Tapi tolong jangan lakukan ini lagi sama wanita lain ya Pak Andri. Kalo Pak Andri ingin cinta yang tulus, ya Pak Andri juga harus mencintai orang lain dengan tulus. Dan ingat, ga usah pake bubuk pemikat lagi ya...,” pesan Hanako sambil tersenyum hingga membuat wajah Andri merona karena malu.
“ Iya Mbak, makasih sarannya. Sekarang Saya lega karena Mbak Hanako mau memaafkan Saya. Kalo gitu Saya mau ke Divisi Marketing ya Mbak...,” kata Andri.
“ Silakan, semangat ya pak Andri...,” kata Hanako.
“ Siaapp Mbak hanako, makasih...,” sahut Andri sambil tersenyum.
Hanako pun balas tersenyum lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah menuju ke ruang kerjanya.
\=====
Jika Hanako kembali bekerja di ruangannya sebagai manager keuangan, sedangkan Iyaz dan Izar pergi meninjau proyek pembangunan komplek ruko di salah satu bilangan Jakarta. Ruko yang dibangun kali ini memiliki fasilitas yang lengkap. Ada musholla kecil di bagian samping kanan komplek ruku, tempat parkir yang cukup luas, taman bermain dan toilet umum khusus untuk pengunjung ruko nantinya.
__ADS_1
Saat memasuki lahan Iyaz dan Izar sudah mencium gelagat aneh dan hawa mistis yang begitu kuat. Mereka disambut oleh seorang mandor senior yang bernama Rusdi. Seorang pria bertubuh tambun berkulit gelap dengan rambut kritingnya nampak tersenyum kearah si kembar.
“ Wah, akhirnya Mas Iyaz dan Mas Izar mau juga mampir ke sini...,” sapa Rusdi sambil menjabat tangan kedua cucu owner perusahaan itu bergantian.
“ Assalamualaikum Pak Rusdi...,” kata Iyaz dan Izar bersamaan.
Rusdi terlihat gugup lalu menjawab salam Iyaz dan Izar dengan lirih. Kemudian Rusdi membawa lyaz dan lzar masuk ke dalam proyek yang sedang dalam proses pengerjaan itu.
“ Udah berapa persen pengerjaan Pak...?” tanya Izar yang memang jauh lebih paham pekerjaan lapangan dibanding Iyaz.
“ Lumayan Mas, udah 38%...,” sahut Rusdi.
Mendengar jawaban Rusdi membuat kedua mata Iyaz membulat tak mengerti.
“ Kok bisa dapat angka 38% Zar, itu darimana dapatnya...?” tanya Iyaz setengah berbisik pada kembarannya.
“ Ya dihitung dong dodol...,” sahut Izar balas berbisik.
“ Ok, tapi kenapa ga dibulatkan 40% aja...?” tanya Iyaz.
“ Ih cerewet banget sih kaya Cici. Mana bisa begitu, tetap aja harus dihitung, 2% dalam proyek itu berarti banget Yaz. Penampilan fisiknya juga bakal beda...,” sahut Izar gemas.
“ Oh gitu. Ya ga usah marah-marah lah. Kamu ngatain Aku kaya Cici, padahal Kamu sendiri yang gampang emosi persis kaya Cici...,” kata Iyaz sambil mencibir.
Kemudian Rusdi memperlihatkan gambar blue print dari proyek yang tengah mereka kerjakan itu. Iyaz dan Izar nampak serius mendengarkan penjelasan Rusdi.
“ Mushollanya sebelah mana Pak...?” tanya Iyaz sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
“ Sebelah sana...,” sahut Izar dan Rusdi bersamaan sambil menunjuk ke suatu tempat.
Tiba-tiba seorang pekerja mendekati mereka dan mengatakan sesuatu. Rusdi pun pamit meninggalkan Iyaz dan Izar sebentar untuk mengurus masalah yang dikatakan anak buahnya tadi. Iyaz dan Izar pun memilih berkeliling di dalam proyek itu. Izar yang memimpin karena terbiasa mengawasi pekerja di lapangan.
Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara jeritan pekerja yang sedang mengaduk adonan pasir dan semen. Iyaz dan Izar pun berlari cepat menuju lokasi untuk melihat apa yang terjadi.
“ Yang bener Lo, jangan nakut-nakutin deh. Masih siang gini mana ada hantu sih...,” kata seorang pekerja sambil menatap pekerja yang gemetar ketakutan itu.
“ Saya ga bohong Mas...,” sahut pekerja yang menjerit tadi dengan suara bergetar.
“ Sebaiknya kasih minum dulu, jangan diberondong pertanyaan kaya gitu...,” kata Izar sambil menyodorkan sebotol air minum kepada pekerja itu.
Para pekerja itu pun mengangguk lalu menepi memberi jalan kepada Iyaz dan Izar. Nampaknya para pekerja tahu jika Iyaz dan Izar adalah cucu orang penting yang telah menggaji mereka.
__ADS_1
“ Makasih Pak...,” sahut pekerja bernama Icon itu lalu meneguk air dalam botol dengan cepat.
“ Emangnya Lo ngeliat apaan Con...?” tanya pekerja lainnya dengan tak sabar.
“ Ada ndas meringis Bang...,” sahut Icon.
“ Ndas meringis apaan sih, ga ngerti Gue. Pake bahasa Indonesia aja lah jangan pake bahasa daerah...,” kata pekerja senior itu sambil menggaruk kepalanya.
Sikap pekerja senior itu membuat semua orang tertawa termasuk Iyaz dan Izar. Kemudian mengalir lah cerita dari mulut pekerja itu.
“ Saya lagi ngaduk tadi, tau-tau Saya liat ada dua batu besar sebesar kepala manusia di pinggir kawah adukan itu. Karena Kita mau pasang keramik artinya kan Kita ga butuh batu. Makanya Saya singkirin deh karena mengganggu gerakan Saya nyampur pasir sama semen tadi. Pas Saya angkat...,” ucapan Icon terputus karena tak sanggup menceritakan apa yang dilihatnya tadi.
“ Kok berhenti sih Con. Lo ngeliat apaan sih...?” desak beberapa pekerja penasaran.
“ Pas Saya angkat kok batu itu bergerak. Saya juga ngerasain rambut kasar di permukaan batu itu. Tau-tau batu itu lompat ke bawah terus menggelinding ke sana dan berbalik kearah Saya sambil meringis kaya gini. Saya kaget terus teriak tadi. Pas Saya mau lari Saya malah jatuh gara-gara kesandung batu yang satunya itu. Pas Saya noleh ke kaki Saya, ternyata batu itu juga sama kaya yang tadi. Meringis alias ketawa Mas...,” sahut Icon gusar sambil mengusap wajahnya.
“ Astaghfirullah aladziim...!” seru para pekerja itu bersamaan.
“ Ojo ngapusi Con, nek Aku wedi piye...,” kata Sadli yang merupakan teman sekampung Icon.
“ Aku ora ngapusi Li...!” sahut Icon meyakinkan jika apa yang dikatakannya tadi benar.
Tiba-tiba Rusdi menghampiri para pekerja itu dan menegur mereka.
“ Hei kerja dong, kok malah ngobrol sih. Kapan kelarnya nih kerjaan ?!. Kalo mau ngobrol ya nanti jam istirahat. Udah sana balik kerja...!” kata Rusdi tegas hingga membuat para pekerja kembali ke tempatnya masing-masing.
Iyaz dan Izar pun menatap Icon sejenak lalu menenangkannya.
“ Ga usah khawatir Mas. Dia ga bakal gangguin lagi nanti, dia cuma mau kenalan aja sama Mas...,” kata lzar yang diangguki Icon.
“ Jangan bengong ya, berdzikir yang banyak biar ga digangguin hantu lagi...,” kata Iyaz.
“ Iya Pak...,” sahut Icon lalu melanjutkan pekerjaannya sambil sesekali melirik kearah hilangnya kedua batu itu.
“ Maafin mereka ya Mas, biasa lah kalo di lapangan kaya gini suka ngeliat penampakan yang aneh-aneh. Tapi mereka gapapa kok...,” kata Rusdi sambil mengarahkan keduanya ke tempat lain.
Iyaz dan Izar pun mengangguk lalu mengikuti langkah Rusdi. Namun mereka sempat menoleh dan melihat dua kepala tanpa tubuh yang dikatakan Icon tadi ada di balik tumpukan batu dan tengah mengintai mereka.
“ Kita ketemu nanti ya...,” gumam Iyaz.
“ Sekarang pergi dan jangan ganggu mereka...!” kata Izar tegas setengah berbisik.
__ADS_1
Kedua kepala itu mengangguk lalu menggelinding pergi entah kemana. Iyaz dan Izar nampak menghela nafas lega dan tersenyum lalu melanjutkan langkah mereka.
Bersambung