
Orang pertama yang bertanya adalah Shera. Ia nampak cemas dan menghambur cepat kearah Izar.
“ Kamu gapapa Nak, apa yang sakit…?” tanya Shera.
“ Alhamdulillah Aku gapapa Bun…,” sahut Izar sambil memeluk sang Bunda untuk menenangkannya.
“ Gapapa gimana sih. Terus kenapa papan itu bisa jatuh…?” tanya Farah.
“ Cuma angin aja Oma, biasa lah…,” sahut Izar santai.
“ Biasa gimana sih Zar. Harus cari tau siapa yang masang dong. Ini kan bahaya, untung Kalian gapapa…,” kata Farah gusar.
“ Izar gapapa Ma. Itu ulah makhluk halus yang iseng…,” bisik Faiq sambil merengkuh pundak sang mama.
Ucapan Faiq membuat Farah terkejut. Ia hendak bertanya lebih lanjut namun ia urungkan karena melihat Faiq menyilangkan telunjuknya di depan bibir.
“ Nanti aja Aku jelasin ya Ma…,” kata Faiq yang diangguki Farah.
“ Sebaiknya Kamu periksa ke klinik Zar, siapa tau ada luka yang ga terlihat…,” saran Erik.
“ Ga perlu Opa…,” tolak Izar.
“ Ga perlu gimana sih. Jangan remehin luka kecil yang ga keliatan ya Zar…,” kata Farah galak.
“ Tuh kan dimarahin. Makanya Kita ke klinik sekarang ya...,” bujuk Shera.
Melihat kecemasan di wajah sang bunda membuat Izar iba. Akhirnya Izar mengalah dan menuruti permintaan keluaganya itu.
“ Iya iya Aku ke klinik…,” sahut Izar dengan enggan.
“ Orang yang ketiban tadi diajak ke klinik sekalian dong Nak…,” kata Farah mengingatkan.
“ Udah duluan Oma…,” sahut Izar sambil melangkah menuju klinik didampingi Shera.
“ Syukur lah…,” gumam Farah sambil mengusap dadanya yang masih berdebar karena terkejut melihat cucunya menahan papan reklame itu tadi.
“ Kita balik lagi ke sana ya Ma. Izar udah aman kok…,” ajak Faiq.
“ Iya…,” sahut Farah cepat sambil menggamit tangan Erik agar berjalan bersamanya.
Faiq nampak tersenyum lega melihat kedua orangtuanya telah kembali ke lapangan. Kemudian Faiq menoleh kearah para karyawan yang masih bertahan di sana setelah membantu Izar tadi.
“ Makasih ya Kalian udah membantu Mas Izar tadi…,” kata Faiq sambil tersenyum.
__ADS_1
“ Sama-sama Pak…,” sahut para karyawan bersamaan.
“ Untung papan reklamenya kecil ya Pak, jadi ga melukai Mas Izar…,” kata salah seorang karyawan.
“ Iya Mas…,” sahut Faiq sambil mengamati papan reklame yang tersandar di tiang penyangganya.
“ Tapi kok tuh papan bisa jatoh tanpa sebab ya. Ga ada angin ga ada ujan juga, aneh…,” kata karyawan lain.
“ Namanya juga musibah Mas. Alhamdulillah Allah masih melindungi Kita semua dari bahaya hingga tak satu pun dari Kita yang terluka. Kalo lecet aja mah wajar kan…,” kata Faiq bijak.
“ Betul juga ya. Kalo gitu Kami pamit ya Pak…,” sahut seorang karyawan mewakili teman-temannya.
“ Silakan…,” sahut Faiq sambil tersenyum.
Kemudian Faiq pun beranjak meninggalkan tempat itu. Langkahnya terhenti saat melihat makhluk hitam yang tadi telah melepaskan papan reklame itu tengah berdiri di bawah sebuah pohon sambil tersenyum mengejek kearahnya. Faiq menggeram kesal namun tak dapat berbuat apa-apa. Ia mengabaikan makhluk itu dan memilih kembali ke lapangan mendampingi kedua orangtuanya.
Sementara itu Izard an Shera baru saja tiba di klinik. Saat mereka masuk terlihat beberapa karyawan yang juga baru selesai menjalani pengobatan.
“ Kok kliniknya rame banget Zar. Apa para karyawan banyak yang sakit…?” tanya Shera.
“ Ga juga Bun. Mungkin mereka hanya minta obat sakit kepala atau sembelit…,” sahut Izar asal.
“ Sok tau Kamu. Darimana Kamu tau kalo mereka pusing atau sakit perut…?” tanya Shera kesal sambil mencubiti lengan Izar.
Izar pun berdiri di ambang pintu kamar diikuti Shera. Matanya mengamati kedua gadis di hadapannya dengan intens. Sedangkan dua karyawati yang mengantarkan Qiana dan Ratih pun bergeser keluar untuk memberi ruang pada Izar dan Shera.
“ Apa luka mereka parah dok…?” tanya Izar tiba-tiba.
“ Oh Pak Izar. Alhamdulillah luka mereka ga parah kok. Hanya lecet dan sedikit memar karena benturan dengan batu saat jatuh tadi…,” sahut sang dokter sambil tersenyum.
“ Alhamdulillah. Saya seneng dengernya…,” kata Izar ikut tersenyum.
Qiana dan Ratihpun ikut tersenyum mendengar ucapan Izar. Lalu Ratih memberanikan diri menanyakan kondisi Izar. Sedangkan Qiana tampak mengamati cara sang dokter mengobati luka di kakinya.
“ Kalo Mas Izar gimana, ada yang luka ga…?” tanya Ratih.
“ Belum tau, ini juga baru mau ngecek…,” sahut Izar.
“ Sebentar lagi Saya selesai, Mas Izar boleh duduk di sini dulu ya…,” kata sang dokter sambil menarik sebuah kursi untuk Izar.
Bukannya menduduki kursi itu Izar justru mempersilakan Shera duduk di atas kursi itu. Shera pun mengangguk lalu duduk sambil mengamati luka Ratih dan Qiana bergantian. sedangkan Qiana dan Ratih saling menatap bingung melihat sikap santun Izar pada wanita di hadapan mereka itu. Namun pertanyaan mereka segera terjawab saat sang dokter menyapa Shera.
“ Oh ada Bunda Shera juga toh, maaf ga ngeh. Apa kabar Bun…?” tanya sang dokter dengan ramah hingga membuat Shera tersenyum.
__ADS_1
“ Alhamdulillah baik dokter. Jadi Kamu dipindahin ke kantor cabang juga ya…?” tanya Shera.
“ Belum tau Bun. Katanya sih ada shiftnya, seminggu di sini dan seminggu di kantor pusat. Tapi dimana pun ditugaskan, Saya selalu siap kok Bun…,” sahut sang dokter.
“ Hebat. Saya salut sama prinsip Kamu itu…,” puji Shera.
“ Makasih Bun…,” sahut sang dokter sambil tersenyum.
“ Udah deh ngomongnya. Kapan mau ngecek lukaku nih…?” protes Izar sedikit kesal.
Ucapan Izar membuat Ratih dan Qiana saling menatap lalu tersenyum. Nampaknya mereka paham karakter Izar yang jutek itu.
“ Iya sabar dong. Ni juga udah selesai kok…,” sahut sang dokter setelah menempelkan plester di luka Qiana.
“ Makasih dokter…,” kata Qiana.
“ Sama-sama Mbak…,” sahut sang dokter.
Qiana pun turun dari tempat tidur lalu mengenakan sepatunya. Ia juga menganggukkan kepalanya kearah Shera dan Izar sebelum pamit meninggalkan tempat itu. Ratih juga melakukan hal yang sama.
“ Kami duluan ya Mas Izar…,” pamit Qiana.
“ Iya Qi, hati-hati…,” sahut Izar sambil menatap Qiana sekilas.
“ Saya duluan ya Mas…,” pamit Ratih.
“ Iya Tih. Kamu pulang bareng Pak Usep kan…?” tanya Izar.
“ Iya Mas…,” sahut Ratih cepat.
“ Ntar sebelum pulang tolong bilangin Pak Usep buat nemuin Saya dulu ya…,” kata Izar.
“ Iya Mas…,” sahut Ratih kemudian membalikkan tubuhnya mengikuti langkah Qiana yang telah keluar lebih dulu.
Melihat interaksi Izar dengan kedua gadis tadi membuat Shera sedikit kesal. Izar menyadari tatapan sang bunda yang tak bersahabat itu pun bertanya.
“ Ada apa Bun…?” tanya Izar.
“ Pilih salah satu, jangan serakah. Masa dua-duanya Kamu pehape in…,” sahut Shera galak.
Mendengar ucapan Shera membuat Izar tertawa geli. Namun setelahnya ia harus menerima pukulan sang bunda yang melayang di lengannya. Dokter yang tengah mengobati luka Izar pun ikut tertawa menyaksikan tingkah Shera dan Izar.
\=====
__ADS_1