
Kondisi pohon masih utuh hanya saja dikelilingi banyak semak belukar dan daun-daun kering yang berserakan di
sekitarnya. Melihat halaman yang kotor siapa pun tahu jika tempat itu sudah lama tak tersentuh sapu alias tak pernah dibersihkan dalam jangka waktu lama.
Iyaz dan Izar menghela nafas panjang karena mereka sadar jika kali ini mereka berhadapan dengan hal yang
berbeda. Karena tak mau terlibat terlalu jauh, keduanya pun bergegas melangkah ke pintu gerbang panti. Namun sayangnya pintu gerbang itu menutup dengan sendirinya. Saking kerasnya pintu itu menutup hingga menimbulkan suara berdecit yang memekakkan telinga pertanda engsel pintu sudah berkarat karena dimakan usia.
Iyaz dan Izar saling menatap kemudian tersenyum penuh makna. Mereka tahu tak akan bisa keluar dengan mudah dari panti asuhan tua itu. Keduanya membalikkan tubuh dan melihat penampakan anak-anak dan pengurus panti asuhan yang mereka temui kemarin. Diantara mereka terdapat Yusuf dan Zidan.
“ Jadi kemarin Kita berinteraksi sama hantu ya Zar...,” kata Iyaz.
“ Iya, anehnya kenapa Kita ga ngeh kalo mereka udah meninggal ya Yaz...?” tanya Izar.
“ Sebenernya ada tanda-tanda yang kalo Kita cermati udah cukup sebagai bukti kalo mereka beda sama Kita Zar. Sayangnya Kita terlalu senang kemarin karena kerja sama Kita sama Pak Makmur berjalan lancar, jadi Kita sedikit lengah...,” sahut Iyaz.
“ Kamu bener Yaz. Untung Allah masih melindungi Kita...,” sahut Izar sambil menggelengkan kepalanya.
“ Kamu liat, itu kan Pak Yusuf dan Zidan...,” bisik Iyaz.
“ Iya, kenapa mereka ada diantara hantu penasaran itu ya...?” tanya Izar.
“ Karena mereka ada dalam kekuasaanku dan menjadi budakku selamanya...!” kata sebuah suara tanpa wujud yang menjawab pertanyaan Izar.
Iyaz dan Izar menoleh ke sumber suara. Mereka menatap tajam sosok kuntilanak laki-laki yang kini memperlihatkan
diri secara utuh di hadapan mereka.
Dalam penglihatan Iyaz dan Izar terlihat jelas urutan kejadian buruk yang menimpa panti asuhan beserta semua penghuninya. Termasuk bagaimana cara kuntilanak laki-laki itu menghabisi mereka semua tanpa terkecuali. Panti asuhan yang 100% penghuni dan pengurusnya adalah laki-laki menjadi sasaran empuk makhluk jahat itu.
Awalnya kuntilanak laki-laki hanya mengamati gerak-gerik anak-anak panti asuhan tiap kali ia melintas di sekitar panti. Ia tak berniat mengganggu anak-anak itu apalagi menerror mereka dengan penampakannya yang menyeramkan.
Namun saat pohon tempat tinggalnya tumbang tersambar petir lalu ditebang oleh warga, kuntilanak itu mulai mencari tempat baru. Ia singgah di pohon rambutan di dalam panti sambil mencari tempat baru. Namun sayangnya makhluk itu mulai merasa nyaman tinggal di pohon rambutan itu dan menetap di sana hingga sekarang.
Seorang dukun ilmu hitam memanfaatkan keberadaan kuntilanak laki-laki itu untuk mencari uang. Ia mulai meletakkan sesajen di pohon secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan penghuni dan pengurus panti. Selama berbulan-bulan kuntilanak laki-laki itu mendapat ‘asupan’ makanan melalui sajen yang diberikan sang dukun hingga membuatnya menjadi terbiasa. Namun kebiasaan yang menyenangkan itu harus terusik karena seseorang.
Zidan adalah orang pertama yang mengetahui jika ada sesajen yang diletakkan di pohon rambutan itu. Zidan yang
introvert itu memang jarang bermain dengan teman-temannya dan lebih sering menyendiri di taman dimana pohon rambutan itu berada. Saat melihat piring berisi sesajen Zidan segera melaporkannya kepada Yusuf.
__ADS_1
“ Pak Yusuf, Saya ngeliat ada piring tanah yang diisi bunga tujuh rupa dan daging mentah di pohon rambutan itu...,” bisik Zidan kala itu.
“ Masa sih...,” sahut Yusuf tak percaya.
“ Kalo Pak Yusuf ga percaya, ayo ikut Saya...,” ajak Zidan sambil menarik tangan Yusuf agar mengikutinya.
Zidan dan Yusuf pun berhenti di depan pohon rambutan. Jika diamati dari luar tak ada yang aneh dengan pohon rambutan itu hingga membuat Yusuf menatap Zidan dengan tatapan sedikit kesal karena merasa dibohongi.
“ Denger ya Zidan, Bapak lagi repot ngurusin adopsi temanmu. Jadi tolong jangan ganggu Bapak dulu ya. Sekarang
sebaiknya Zidan main sama teman-teman di sana, Ok...?” kata Yusuf sambil mengusap kepala Zidan dengan lembut.
“ Tapi Aku ga bohong Pak...!” kata Zidan.
“ Iya iya, Kita main nanti kalo Bapak udah selesai ya...,” sahut Yusuf sambil berlalu karena mengira Zidan hanya sedang mencari perhatian saja.
Zidan tak putus asa. Ia kembali menarik tangan Yusuf dan membawanya mendekati pohon rambutan itu. Yusuf mencoba mengikuti apa mau Zidan dengan sabar. Yusuf mengamati Zidan yang naik ke atas pohon lalu menyibak rimbunan daun rambutan yang menutupi batang pohon. Saat melihat apa yang ada di balik rimbunan daun itu Yusuf pun terkejut.
Ternyata ada lubang di batang pohon rambutan itu dan di sana terlihat piring tanah berisi sesajen seperti yang dikatakan Zidan.
“ Astaghfirullah aladziim..., inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun.... Siapa yang udah naro ini di sini. Ini kan musyrik. Tega banget sih orang itu naro ginian di sini...,” kata Yusuf sambil mengepalkan tangannya.
“ Sangat berbahaya Nak. Orang yang naro sesajen kaya gini pasti punya tujuan buruk dan biasanya memerlukan tumbal. Dan Kamu tau apa tumbalnya...?” tanya Yusuf sambil menatap Zidan lekat.
“ Ga tau, emang apa tumbalnya Pak...?” tanya Zidan dengan polos.
“ Manusia...,” sahut Yusuf dengan suara bergetar.
“ Manusia...?” tanya Zidan tak percaya.
“ Iya. Bukan kah di sini banyak manusia...?” tanya Yusuf dengan suara tercekat hingga mengejutkan Zidan.
“ Itu artinya Aku dan teman-temanku, Pak Yusuf juga para pengurus panti akan jadi tumbal...?!” tanya Zidan gusar.
“ Iya Nak...,” sahut Yusuf sedih.
“ Ya Allah, gimana nih Pak. Aku ga mau jadi tumbal. Aku mau pulang aja ke rumah...,” kata Zidan mulai menangis.
“ Sssttt..., Zidan jangan nangis ya. Tolong rahasiain ini dari yang lain supaya mereka ga ketakutan. Sekarang Kita buang dulu sajen ini ke tempat sampah yuk...,” bujuk Yusuf.
__ADS_1
Zidan mengangguk lalu menghapus air matanya. Ia mengambil piring berisi sesajen itu dan menyerahkannya kepada Yusuf. Lalu keduanya pergi ke tempat sampah yang ada di belakang panti untuk membakar piring itu beserta isinya.
“ Dagingnya udah busuk dan ada belatungnya Pak...,” kata Zidan.
“ Iya, makanya jangan dipegang ya Nak...,” sahut Yusuf sambil meletakkan piring itu di tanah.
Saat menuangkan minyak tanah ke atas piring itu Yusuf nampak menutup hidung karena tak tahan dengan bau daging yang mulai membusuk dan berbelatung itu.
“ Bismillahirrohmaanirrohiim...,” kata Yusuf lalu melemparkan batang korek api yang menyala ke atas piring sesajen itu.
Yusuf dan Zidan terlihat bergeser menjauh saat api berkobar. Karena telah dibubuhi minyak tanah, maka dengan cepat api melahap piring sesajen beserta isinya dengan cepat. Terdengar bunyi gemeletak saat piring terbelah karena panas.
Bersamaan dengan terbakarnya piring berisi sesajen itu tiba-tiba terdengar suara ledakan yang berasal dari pohon
rambutan. Ledakan itu membuat seisi panti terkejut dan bergegas mendatangi sumber suara. Yusuf dan Zidan pun ikut mendatangi sumber suara itu.
Disaksikan oleh penghuni dan pengurus panti. Pohon rambutan yang semula berdiri kokoh nampak tumbang ke tanah dengan asap hitam yang menyelimutinya. Semua terkejut dan tak mengerti darimana asal asap hitam itu.
“ Ada apa ini Pak Yusuf...?” tanya salah seorang pengurus panti.
“ Saya juga ga tau Pak. Sebaiknya bawa anak-anak ke dalam. Biar Saya yang ngurus ini...,” sahut Yusuf yang diangguki rekannya.
“ Ayo Anak-anak, Kita masuk ke dalam dan lanjutkan tugas Kalian...,” kata sang pengurus panti sambil bertepuk
tangan memberi semangat.
“ Iya Pak...,” sahut anak-anak panti termasuk Zidan.
Setelah anak-anak masuk ke dalam, Yusuf pun pergi ke samping untuk mengambil air. Namun saat ia kembali dan
hendak menyiram pohon itu dengan air, pohon rambutan itu telah kembali berdiri kokoh di tempat semula.
“ Ya Allah apalagi ini...,” gumam Yusuf karena merasakan tengkuknya menebal saat menatap pohon rambutan yang
kembali berdiri kokoh itu.
Yusuf membaca surat Al Fatihah dan ayat Kursi untuk menetralisir perasaan takutnya. Entah mengapa Yusuf merasa takut jika makhluk penghuni pohon rambutan yang marah akan menyakiti dirinya juga penghuni panti lainnya.
\=====
__ADS_1