Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
245. Kabur


__ADS_3

Sementara itu Heru baru saja menerima kabar tentang penangkapan Rusdi dari kepolisian Bogor. Heru dan teamnya pun meluncur menyusul ke Bogor untuk menjemput Rusdi. Saat tiba di Rumah Sakit Heru disambut sesama rekan polisi dan langsung diajak melihat Rusdi.


Melihat kondisi Rusdi yang jauh dari ekspetasinya membuat Heru mengerutkan keningnya dan itu diamati oleh rekan seprofesinya.


“ Kenapa Pak...?” tanya rekan Heru.


“ Ini Rusdi...?” tanya Heru ragu.


“ Betul Pak...,” sahut rekan Heru.


“ Kalian temukan dia dimana...?” tanya Heru.


“ Di tebing di luar desa X Pak...,” sahut rekan Heru.


Heru mengangguk lalu keluar dari kamar rawat inap Rusdi. Di luar Heru mendengarkan cerita rekan-rekannya tentang proses penangkapan Rusdi dan kondisinya sekarang.


“ Tapi lukanya ga parah, jadi malam ini Kami akan bawa ke Jakarta untuk menjalani proses penyidikan...,” kata Heru.


“ Silakan Pak. Tugas Kami selesai begitu Pak Heru mengatakan itu...,” gurau rekan Heru hingga membuat semua polisi itu tertawa.


“ Kenapa, stress ya nungguin Rusdi...?” tanya Heru.


“ Berisik Pak. Teriak-teriak terus, ngomongnya juga ga jelas. Kami tau kalo dia pasti diterror sama hantu orang-orang yang dia bunuh itu, tapi jangan ganggu ketentraman pasien lain dong...,” sahut salah seorang polisi.


“ Kalian kan bisa minta dokter memberinya obat penenang supaya ga ribut...,” gurau Heru.


“ Ga kepikiran Pak. Tapi untungnya Bapak segera datang dan menjemputnya...,” sahut sang polisi sambil tersenyum lega.


Malam itu diputuskan jika Rusdi akan dibawa menuju ke Jakarta dengan menggunakan mobil patroli Polisi. Namun saat proses pemindahan dari kamar rawat inap menuju mobil patroli Polisi, Rusdi berhasil kabur hingga membuat kepolisian Bogor panik karena merasa kecolongan. Mereka pun bergerak cepat, menyebar mencari keberadaan Rusdi.


Rupanya Rusdi melarikan diri melalui taman Rumah Sakit. Rusdi melompati pagar lalu lari cepat kearah jalan raya dan langsung naik ke dalam angkot yang melintas. Para penumpang angkot tahu jika Rusdi adalah pasien Rumah Sakit dari pakaian yang ia kenakan. Mereka saling menatap dengan berbagai pikiran di benak mereka tanpa berani bertanya.


“ Berhenti Pak...!” kata Rusdi lantang hingga membuat sang supir menghentikan kendaraannya.


Saat angkot itu berhenti, Rusdi melompat keluar lalu lari menembus hutan kota yang ada di pinggir jalan.


“ Jangan-jangan itu buronan Polisi...,” kata para penumpang.

__ADS_1


“ Pasti Bu, liat tampangnya sekali aja udah ketebak kalo dia emang orang jahat...,” sahut supir angkot sambil melajukan kendaraannya meninggalkan tempat itu.


Saat polisi sedang disibukkan mencari keberadaan Rusdi, ponsel Heru berdering dan membuatnya berhenti


melangkah. Heru mengerutkan keningnya saat melihat nama ‘ Bang Faiq’ di layar ponselnya.


“ Assalamualaikum Bang, ada apa...?” sapa Heru.


“ Wa alaikumsalam, Lo lagi di Bogor ya...?” tanya Faiq.


“ Iya Bang, lagi mau jemput Rusdi tapi dia kabur. Lo tau darimana Gue di Bogor Bang...?” tanya Heru.


“ Ga penting Gue tau darimana. Yang penting Lo harus tau kalo dia ga bisa kabur jauh Her. Kata Dayang, si Rusdi lari ke hutan kota yang ga jauh dari Rumah Sakit. Cepetan ke sana, kasian dia...,” sahut Faiq.


“ Yang bener Bang...?” tanya Heru.


“ Iya, udah buruan...,” sahut Faiq di akhir kalimatnya.


Heru pun langsung meluncur ke tempat yang dimaksud bersama beberapa anggota polisi.


Sementara itu Rusdi sedang mengatur nafasnya yang tersengal-sengal usai berlari. Sambil menghapus peluh Rusdi menatap ke sekelilingnya.


Rusdi bisa menatap ke sekelilingnya dengan jelas meski diselimuti keremangan malam berkat bantuan penerangan dari jalan raya. Kemudian Rusdi menyandarkan tubuhnya di sebuah batang pohon dan mulai mengantuk karena hembusan angin malam. Perlahan kedua mata Rusdi terpejam.


“ Duk..., duk..., duk...,”


Tiba-tiba Rusdi mendengar suara aneh di sekitarnya. Semula Rusdi mencoba mengabaikan, namun saat suara itu bergerak kearahnya Rusdi pun membuka matanya. Ia melihat batu-batu sebesar kepalan tangan orang dewasa nampak menggelinding mendekat kearahnya. Diantara batuan itu terdapat dua batu yang berukuran paling besar dan datang paling akhir.


Rusdi tahu jika batu-batu itu bukan lah batu biasa. Dengan sigap Rusdi bangkit lalu berusaha lari meninggalkan tempat itu. Namun sayangnya niat Rusdi untuk lari kali ini terhalang oleh sengatan di kakinya. Rusdi menjerit keras saat merasakan sakit yang amat sangat di kakinya. Saat menoleh ke bawah Rusdi melihat jika dua hantu kepala


itu tengah menggigit kakinya, satu di betis kiri dan yang lain di paha kanan belakang.


Jeritan Rusdi makin keras saat kedua kepala itu mengoyak kedua kaki Rusdi hingga menimbulkan luka menganga


disertai darah yang muncrat dengan deras. Sebagian daging kaki Rusdi nampak menyembul dari mulut kedua hantu kepala itu hingga membuat Rusdi menganga tak percaya. Rusdi pun tumbang ke tanah sambil memegangi kedua kakinya.


Suara jeritan Rusdi memancing Heru dan rekan-rekannya untuk mendekat. Mereka terkejut saat mendapati Rusdi terbaring di tanah dengan darah yang membanjiri kedua kakinya. Heru mengerutkan keningnya saat melihat luka parah yang dialami Rusdi. Ia tak bisa menebak apa penyebab luka itu. Heru memerintahkan anak buahnya mengangkat Rusdi dan memasukkan ke dalam ambulans yang memang mengikuti mereka tadi.

__ADS_1


Rusdi pun segera mendapat pertolongan pertama, namun akibat luka yang terlalu parah membuat Rusdi jatuh pingsan.


\=====


Sementara itu Iyaz dan Izar sedang berusaha menemui keluarga Jaya dan Boril. Karena tak mendapat info apa pun tentang Jaya dan Boril semasa hidupnya, si kembar yakin jika Jaya dan Boril adalah pekerja di proyek lain. Hanya kepalanya saja yang ditanam di proyek itu.


“ Ga ada nama itu di sini Pak...,” kata pekerja senior saat Iyaz bertanya perihal Jaya dan Boril.


“ Coba inget-inget lagi Pak...,” pinta Iyaz.


“ Beneran ga ada pak. Mungkin di proyek lain, kan proyeknya Pak Erik ada dimana-mana...,” sahut sang pekerja senior sambil tersenyum hingga membuat Iyaz dan Izar ikut tersenyum.


Kini Iyaz dan Izar tengah berdiri di depan sebuah rumah mungil type 21 yang merupakan rumah Jaya. Suara tangisan anak kecil terdengar menggema di rumah itu. Setelah mengetuk pintu beberapa kali, pintu pun terbuka dan memperlihatkan wajah lelah seorang wanita dengan batita di dekapannya. Saat pintu terbuka tangis batita itu pun berhenti. Wajahnya nampak berbinar bahagia melihat kehadiran Iyaz dan Izar.


“ Assalamualaikum...,” sapa Iyaz dan Izar bersamaan.


“ Wa alaikumsalam..., maaf Mas ini siapa dan ada perlu apa...?” tanya istri Jaya.


“ Papa..., Papa...,” panggil sang batita sambil mengembangkan kedua lengannya seolah ingin digendong.


“ Eit, itu bukan Papa Sayang. Maafin Anak Saya ya Mas...,” kata wanita yang diketahui sebagai istri Jaya itu sambil membawa anaknya menjauh dari Iyaz dan Izar.


Iyaz dan Izar saling menatap lalu mengangguk maklum. Bersama mereka kini ada arwah Jaya yang menunjukkan jalan kearah rumahnya. Mungkin arwah Jaya lah yang dilihat sang batita tadi.


“ Siapa Ning...?” tanya seorang wanita yang membuat Ning menoleh.


“ Ga tau Bu...,” sahut Ning cepat.


“ Kami temannya Pak Jaya Bu...,” sahut Iyaz santun.


“ Kebetulan banget. Mana Mas Jaya, kenapa ga pulang-pulang. Apa dia ga tau kalo Anaknya nangis nyariin dia tiap hari...,” kata Ning kesal.


“ Suruh duduk dulu dong Ning. Maaf ya Mas, mari silakan duduk...,” kata wanita yang dipanggil ibu oleh Ning tadi.


Kemudian Iyaz dan Izar menyampaikan maksud dan tujuan mereka datang ke rumah itu. Ning dan ibunya nampak membeku di tempat mendengar penjelasan Iyaz dan Izar. Air mata nampak membasahi wajah keduanya.


“ Ibu udah tebak kalo ada sesuatu yang buruk menimpa Jaya...,” kata ibu Ning dengan suara parau.

__ADS_1


Iyaz dan Izar saling menatap tak mengerti. Kemudian mengalirlah cerita dari mulut ibu Ning yang juga mertua Jaya itu.


\=====


__ADS_2