Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
321. Datangi Proyek


__ADS_3

Selama Qiana menjawab pertanyaan dari perwakilan perusahaan sang Opa, Izar nampak mengamati gerak gerik Qiana dengan seksama. Dalam hati Izar merasa jika penilaiannya terhadap Qiana selama ini salah besar. Ternyata Qiana mampu bekerja dengan baik dan profesional karena sebuah bank ternama tak akan sembarangan merekrut karyawan bukan ?.


Dan Izar juga melihat dengan jelas bagaimana Santoso dan Bima menganggukkan kepalanya saat Qiana menjawab pertanyaan mereka dengan lancar.


“ Ternyata dia bisa menjawab semua pertanyaan dengan baik dan gamblang. Dia juga ga genit dan terlihat profesional...,” batin Izar sambil tersenyum diam-diam.


Qiana yang sadar jika sedang diamati oleh Izar pun berusaha bersikap tenang dan mengabaikan tatapan Izar. Qiana tahu jika Izar tak menyukainya sejak masih kuliah dulu. Dan Qiana tak bisa protes atau marah, apalagi Izar telah menyelamatkan nyawanya kemarin sore.


“ Baik Bu Qiana, penjelasan Anda bisa Kami mengerti. Selanjutnya gimana Pak Izar...?” tanya Santoso sambil menoleh kearah Izar.


“ Biar Kita laporkan dulu hasil pertemuan ini ke Presdir. Nanti kalo ada perubahan biar salah satu dari Kami yang akan menghubungi Bu Qiana...,” sahut Izar.


“ Boleh kan Bu Qiana...?” tanya Bima.


“ Tentu saja Pak, Saya setuju...,” sahut Qiana sambil tersenyum.


“ Kalo ga ada lagi yang dibahas, Kami pamit dulu ya Bu Qiana...,” kata Santoso sambil mengulurkan tangannya.


“ Baik Pak, makasih atas kerja samanya...,” sahut Qiana sambil membalas jabat tangan Santoso dan Bima.


Izar yang berdiri paling akhir pun hanya memasukkan kedua tangannya di saku celana tanpa mau menjabat tangan


Qiana. Tapi kali ini Izar nampak tersenyum kearah Qiana dan membuat Qiana gugup.


Setelah mengantar ketiga tamunya hingga ke pintu, Qiana pun kembali ke meja kerjanya.


“ Gimana hasilnya Qia...?” tanya Desi.


“ Insya Allah berhasil, cuma mereka masih harus lapor dulu sama Presdir katanya. Jawaban standart sih tapi Aku tau kalo mereka setuju dengan persyaratan yang Kita ajukan...,” sahut Qiana sambil tersenyum.


“ Alhamdulillah. Kamu emang hebat ya Qia...,” puji Desi sambil memeluk Qiana.


“ Jangan terlalu muji Aku lah Des. Aku belum apa-apa jika dibandingkan Kamu sama Nita...,” sahut Qiana dengan


rendah hati.


“ Kamu tuh yang terlalu memuji. Semua clien yang Kamu tangani pasti langsung setuju sama syarat yang Bank ini

__ADS_1


kasih, apa bukan hebat itu namanya...?” tanya Desi sambil mencubit pipi Qiana dengan gemas hingga membuat Qiana tertawa.


Dalam hati Qiana bersyukur karena bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Meski pun sikap tak bersahabat yang ditunjukkan Izar membuatnya tak nyaman. Ya, hingga detik ini Qiana tak


mengerti mengapa Izar begitu membencinya. Namun Qiana tersenyum saat ingat pepatah lama.


“ Jangan terlalu keras membanting pintu karena bisa jadi suatu saat Kamu akan memerlukan bantuannya, Izar...,”


gumam Qiana sambil tersenyum manis.


Qiana berharap suatu saat Izar akan datang padanya dan meminta maaf atas semua prasangka buruknya itu.


\=====


Izar sedang menceritakan apa yang ditemuinya di proyek pembangunan jalan kepada Iyaz. Kembarannya itu nampak menyimak dengan serius hingga Izar selesai menceritakan semuanya.


“ Cewek itu mau ditumbalin di tempat terbuka...?” tanya Iyaz.


“ Iya...,” sahut Izar cepat.


“ Kok aneh ya...,” kata Iyaz.


“ Kan Kamu bilang itu cuma makam buatan yang sering dikasih sesajen dan dibuat ritual. Emang ada jinnya...?”


tanya Iyaz.


“ Ada Yaz. Dia malah sempet nantangin Aku segala kemarin. Aku belum bisa mindahin makhluk halus yang bersarang di dalam makam buatan itu karena keburu nolongin tuh cewek...,” sahut Izar.


“ Apa pekerjaan jalan itu masih terhalang...?” tanya Iyaz lagi.


“ Masih...,” sahut Izar.


“ Kita ke sana yuk. Kamu duluan aja ntar Aku nyusul, Aku mau pamit dulu sama Istriku...,” kata Iyaz sambil melangkah menuju divisi keuangan tempat Nuara bekerja.


“ Ok, Aku tunggu di loby ya...,” sahut Izar.


“ Siiipp...,” kata Iyaz sambil berlalu.

__ADS_1


Dan kini keduanya telah tiba di proyek jalan raya yang dimaksud Izar. Saat itu para pekerja sengaja melewatkan pekerjaan di tempat itu sesuai petunjuk sang mandor sambil menunggu bantuan.


Saat Iyaz dan Izar turun dari mobil, mereka melihat beberapa warga tengah meletakkan sesajen di atas makam buatan dan itu membuat keduanya kesal.


“ Kalo kaya gini terus pekerjaan akan terus tertunda Zar...,” kata Iyaz.


“ Iya Yaz. Makanya lebih baik Kita sudahi semuanya sekarang...,” sahut Izar.


“ Ok. Yuk Kita ke sana...,” ajak Iyaz yang diangguki Izar.


Perlahan Iyaz dan Izar melangkah menuju makam buatan itu. Warga yang melihat kedatangan Iyaz dan Izar pun bergegas pergi karena tak mau ditanyai macam-macam.


Tak lama kemudian terlihat  makhluk besar berwarna merah hadir lalu mengungkung semua sesajen itu dan menjilatinya dengan lidah panjangnya yang menjulur seperti seekor anjing. Lidahnya yang panjang berwarna merah dan basah itu mampu menjilati semua sesajen dalam sekali tindakan.


Menyadari kehadiran manusia lain di tempat itu, makhluk itu menoleh dan menyeringai hingga membuat Iyaz dan Izar berdecak sebal karena merasa diejek.


“ Jadi Kau rupanya, iblis yang telah menyesatkan warga selama ini...,” kata Izar sambil mencibir.


“ Kau lagi, bukannya Kau sudah tau kalo Aku ga akan pergi kemana pun meski pun Kalian memberiku rumah yang baru...,” sahut makhluk itu dengan percaya diri.


“ Siapa yang akan memberimu tempat tinggal baru. Kami ke sini karena ingin mengusirmu pergi. Jika Kau menolak maka Kami terpaksa memusnahkanmu hingga Kau tak punya nyali lagi untuk memperlihatkan diri di hadapan manusia...!” kata Izar galak sambil mulai merangsek maju menyerang makhluk itu.


Makhluk itu tak bergeming, ia tetap diam di tempatnya semula sambil terus menjilati sesajen di hadapannya seolah


menantang Izar. Saat melihat Izar menyerangnya kemudian disusul Iyaz dari sisi yang lain, makhluk merah itu terlihat menyeringai lagi karena mengira serangan Izar dan Iyaz hanya akan menimbulkan angin kecil yang tak akan mampu menggoyang keberadaannya di atas makam buatan itu.


Namun rupanya makhluk merah itu salah perhitungan. Saat serangan Izar mengenai dirinya, ia merasa dadanya


sangat sakit hingga membuatnya sulit bernafas. Belum lagi reda rasa sakitnya, serangan kedua dari Iyaz menyusul dan mengenai wajahnya yang selalu tersenyum itu hingga memaksanya jatuh terpelanting ke belakang dengan suara berdebum yang sangat keras.


Makhluk merah itu mencoba bangkit sambil menyeka darah yang meleleh di dagunya. Rupanya serangan Iyaz dan Izar mampu melukainya. Ia bangkit dan bersiap menghadapi si kembar.


“ Ternyata Kalian lumayan hebat ya. Aku salah perhitungan rupanya...,” kata makhluk merah itu sambil menegakkan tubuhnya.


Saat ia berdiri sempurna, terlihat sosoknya yang tinggi hingga melebihi tinggi sebuah rumah. Permukaan kulit tubuh


dan wajahnya nampak rusak parah, sedangkan tangan dan kakinya nampak berbulu kemerahan.

__ADS_1


Iyaz dan Izar saling menatap seolah mengerti jika makhluk merah itu adalah makhluk yang terbuang dari kumpulannya karena luka di tubuh dan di wajahnya adalah luka akibat perkelahian memperebutkan wilayah kekuasaan.


\=====


__ADS_2