
Faiq dan Fatur tengah dalam perjalanan untuk mengantar Hanako pulang usai mereka meruqyah toko buku tadi. Faiq mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang sambil mengamati sekelilingnya. Fatur yang duduk di samping Faiq nampak tersenyum melihat Hanako yang kelelahan.
“ Capek ya Nak...?” tanya Fatur sambil menoleh ke kursi tengah.
“ Banget Opa...,” sahut Hanako sambil memejamkan matanya.
“ Gapapa. Besok Kamu bisa istirahat di rumah. Kan Pak Gofar juga bilang gitu tadi...,” kata Faiq.
“ Iya Pa. Pasti semua karyawan perlu waktu untuk bisa pulih setelah ngeliat penampakan hantu tadi...,” sahut Hanako sambil tersenyum.
“ Apa Heru udah dikasih tau tentang ini Nak...?” tanya Fatur sambil menoleh kearah Faiq.
“ Udah Om. Insya Allah Polisi bakal mulai melakukan penyelidikan besok...,” sahut Faiq.
“ Kok tau-tau Polisi ngadain penyelidikan sih Pa, emang ada apa...?” tanya Hanako.
“ Ternyata keluarga Tania pernah melaporkan kecurigaan mereka tentang penyebab kematian Tania setahun yang lalu. Mereka merasa kematian Tania itu ga wajar. Tapi seminggu setelah Tania dimakamkan, keluarga mencabut laporan itu. Denger-denger sih katanya keluarga Tania menerima sejumlah uang dari seseorang yang terlibat dengan kepergian Tania itu. Makanya waktu Papa ceritain tentang Tania, Ayahmu langsung nyuruh Anak buahnya buka file setahun lalu. Akhirnya Polisi mutusin mendalami laporan yang udah dicabut itu dan mulai menyelidikinya lagi...,” sahut Faiq.
Hanako nampak menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
\=====
Keesokan harinya Polisi mendatangi kios kosong di samping toko buku. Polisi menemukan beberapa hal yang mencurigakan di sana. Polisi juga membawa mesin hitung yang sengaja ditinggal di sana sebagai salah satu barang bukti.
Kemudian polisi menemui Irwandi di kantornya dan menanyai banyak hal padanya. Irwandi dengan tegas menolak saat dirinya dicurigai terlibat dengan kematian Tania.
“ Saya hanya negur dia karena menggelapkan uang toko. Mungkin dia malu karena ketauan make uang toko, makanya besoknya dia ga masuk kerja. Ga ada pemberitahuan kepada toko tentang kenapa dia ga masuk kerja. Keliatannya tekanan rasa bersalah dan rasa malu lah yang bikin dia depresi, terus sakit lalu meninggal dunia...,” kata Irwandi tanpa perasaan bersalah.
Polisi juga mencari informasi ke Rumah Sakit tempat Tania dirawat hingga meninggal dunia. Di sana juga ditemui catatan tentang Irwandi yang datang dalam keadaan pingsan beberapa hari yang lalu.
“ Apa ada keluarga yang menjenguknya saat itu...?” tanya polisi.
“ Ada, Istrinya datang setelah pasien siuman Pak. Tapi kayanya hubungan mereka lagi ga baik-baik aja Pak...,” sahut sang perawat.
“ Gitu ya, kok Kamu tau...?” tanya polisi.
__ADS_1
“ Saya ga sengaja dengar mereka berdebat. Bukan bermaksud nguping ya Pak, tapi suara mereka itu keras banget dan terdengar sampe keluar ruangan. Waktu itu teman Saya juga dengar kok...,” kata sang perawat.
“ Ok, makasih infonya ya Sus...,” kata polisi yang diangguki sang perawat.
Kemudian polisi bergerak cepat dengan mendatangi rumah Irwandi untuk mencari informasi melalui istri Irwandi. Saat menemui polisi wajah Nadifa nampak lebam dan sedikit sembab pertanda ia baru saja menangis.
Seolah mengerti maksud kedatangan para polisi itu ke rumahnya, Nadifa pun bersikap kooperatif. Dengan gamblang ia menjawab semua pertanyaan polisi tentang suaminya. Bahkan polisi dibuat terkejut saat Nadifa menanyakan sesuatu.
“ Apa Saya harus ke kantor Polisi untuk melaporkan KDRT yang dilakukan Suami Saya kepada Saya...?” tanya Nadifa hati-hati.
“ Jadi Anda mengalami KDRT, sejak kapan...?” tanya polisi.
“ Udah lama...,” sahut Nadia cepat.
“ Terus luka lebam di wajah itu juga karena KDRT...?” tanya polisi lagi.
“ Iya Pak, entah ini ada hubungannya atau ga sama yang Bapak cari. Tapi Saya memang bertengkar sama Suami Saya gara-gara HP...,” sahut Nadifa.
“ Gara-gara HP, maksudnya gimana ya Bu...?” tanya polisi tak mengerti.
“ Apa Ibu yakin kalo itu Pak Irwandi...?” tanya polisi.
“ Saya yakin Pak. Masa Saya ga bisa ngenalin Suami Saya sih Pak. Warna kulit dan bentuk tubuh laki-laki itu
sama persis sama Mas Irwandi. Apalagi perempuan itu juga nangis dan jerit minta ampun, dia berkali-kali nyebut nama Mas Irwandi. Terus kalo itu bukan dia kenapa dia harus marah dan mukulin Saya waktu tanya soal rekaman itu...?” tanya Nadifa sambil mengusap air mata yang sudah tak kuasa ia bendung lagi.
Dua polisi yang duduk di hadapan Nadifa pun saling menatap kemudian mengangguk.
“ Baik, terima kasih atas infonya. Mengenai pertanyaan Ibu tadi, Ibu bisa lakukan visum di Rumah Sakit segera, terus bawa hasilnya ke kantor polisi. Di sana rekan Kami akan membantu Ibu...,” kata salah seorang polisi.
“ Baik, makasih Pak. Saya bakal segera ke Rumah Sakit untuk visum...,” sahut Nadifa semangat.
Kedua polisi itu mengangguk lalu pamit undur diri meninggalkan Nadifa yang termenung. Tak lama kemudian Nadifa kembali ke kamar untuk bersiap-siap. Setelahnya Nadifa nampak meninggalkan rumah dengan mengendarai mobil seorang diri.
“ Aku udah ga sanggup lagi Mas. Kamu yang memaksaku melakukan ini...,” gumam Nadifa sambil tersenyum pahit.
__ADS_1
\=====
Setelah mengumpulkan bukti dan informasi, dalam 24 jam saja polisi berhasil meringkus Irwandi dan menetapkannya sebagai tersangka utama penyebab kematian Tania. Apalagi ia juga terbukti telah memper**sa almarhumah Tania meski pun Irwandi berkeras membantah.
“ Kamu ga bisa berkelit lagi karena bukti kejahatanmu ada di dalam ponsel ini...,” kata polisi yang telah menyita semua benda pribadi milik Irwandi.
“ Mana buktinya, itu fitnah Pak...!” bantah Irwandi dengan suara lantang.
“ Saat ini rekaman video itu memang udah Kamu hapus, tapi tenang aja. Kami punya team yang hebat untuk mencari bukti yang telah Kamu lenyapkan itu...,” kata polisi.
“ Kalian salah tangkap. Saya buka orang seperti itu...!” kata Irwandi sambil terus meronta.
“ Masukkan dia ke dalam sel sekarang. Saya terganggu dengar suaranya...,” kata Heru sambil melengos setelah melihat proses interogasi Irwandi yang berjalan alot.
“ Siap Pak...,” sahut dua anak buah Heru lalu membawa paksa Irwandi menuju sel tahanan.
Irwandi masih memaki saat dimasukkan ke dalam sel. Tapi tak lama kemudian Irwandi berhenti memaki saat melihat kehadiran Nadifa.
“ Kamu datang Ma. Tolong cari pengacara terbaik untuk membantuku. Aku ga mau di sini, tolong bantu Aku ya...,” pinta Irwandi.
“ Maaf Mas. Aku ke sini hanya mau bilang kalo Aku udah bikin laporan ke Polisi tentang KDRT yang Kamu lakukan sama Aku selama ini...,” sahut Nadifa dingin.
“ Apa maksudmu Ma. KDRT apa...?” tanya Irwandi gusar.
“ Gapapa kalo Kamu ngelak. Tapi polisi bakal nemuin bukti kekerasan yang Kamu lakukan sama perempuan lainnya di ponselmu itu Mas. Dan itu juga lebih dari cukup untuk membuatmu mendekam lama di penjara. Anggap aja itu balasan yang setimpal atas kekerasan yang selalu Kamu lakukan sama Aku. Bukan Aku yang membalas tapi Allah...,” sahut Nadifa sambil tersenyum sinis.
“ Jadi Kamu yang udah ngasih tau sama polisi tentang rekaman itu Nadifa. Dasar Istri durhaka, awas aja kalo Aku bebas nanti Nadifa. Aku ga bakal kasih Kamu kesempatan buat lari. Kemana pun bakal Aku kejar dan kuhabisi Kamu...!” ancam Irwandi.
“ Coba aja Mas. Tapi saat Kamu bebas nanti Aku pastikan Kamu udah ga punya hak lagi untuk menyentuhku karena Aku bakal bikin gugatan cerai secepatnya...!” sahut Nadifa sambil berlalu.
“ Sia*an, tunggu Nadifa. Aku belum selesai ngomong...!” panggil Irwandi.
Irwandi meninju dinding untuk melampiaskan kekesalannya. Gara-gara kecerobohannya yang masih menyimpan rekaman pemer**saan yang ia lakukan pada Tania, kini dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya dan bersiap kehilangan segalanya.
Bersambung
__ADS_1