Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
126. Hutan Larangan


__ADS_3

Faiq berhenti tepat dua meter di depan Inar karena tahu jika Inar masih menyimpan serbuk kemerahan yang tadi ia taburkan. Tatapan mata Faiq mulai melembut saat bertatapan dengan Inar dan itu membuat Erik khawatir jika Faiq akan terpengaruh oleh ilmu hitam yang dimiliki Inar.


Rupanya Inar pun merasa jika tatapan Faiq yang semula beringas itu nampak melembut. Dalam hati Inar bersorak gembira karena mengira pria di hadapannya akan luluh dalam sekejap seperti pria lainnya. Inar tersenyum dan mulai lengah, saat itu lah Faiq memanfaatkannya dengan memberi kode pada Hanako untuk merampas apa yang ada dalam genggaman tangan Inar.


Hanako melesat cepat dan berhasil meraih sisa serbuk dari tangan Inar hingga membuat Inar terkejut dan terhuyung ke samping. Setelah berhasil merebutnya, Hanako memasukkan serbuk itu ke dalam botol air ruqyah yang dibawa sejak dari penginapan tadi lalu mencampurnya sedemikian rupa.


“ Apa yang Kamu lakukan, berikan serbuk itu padaku...!” kata Inar marah sambil berusaha mengejar Hanako yang lari menjauhi teras.


Namun langkah Inar terhenti karena dihadang oleh nek Niken. Inar marah lalu mendorong nek Niken dengan kekuatan penuh hingga nek Niken terhuyung ke belakang. Beruntung Iyaz dan Izar langsung menopang tubuh nek Niken hingga tak harus jatuh membentur lantai.


Inar menjerit histeris saat menyadari serbuk miliknya raib. Apalagi dari kejauhan Hanako mengacungkan botol yang isinya telah berubah menjadi merah itu dengan sengaja seolah sedang meledek Inar. Tak sabar Inar maju mendekati Hanako yang terlihat naik ke atas panggung.


“ Nenek kehilangan serbuk pemikat ini ya. Kalo gitu, sini kejar Aku. Ambil ini kalo bisa Nek...,” kata Hanako sambil tersenyum.


“ Berhenti di sana, jangan coba bergerak atau Kau akan membuatku marah...,” ancam Inar dengan sorot mata membara karena tak suka saat Hanako memanggilnya nenek yang berarti mengingatkan Inar bahwa usianya saat ini tak sama dengan fisiknya yang terlihat belia itu.


“ Ups, Aku takut...,” sahut Hanako.


Inar pun merangsek maju dan menyerang Hanako. Terlihat perkelahian sengit antara Inar dan Hanako. Sedangkan nek Niken terlihat cemas saat melihat Inar menyerang Hanako dengan buas.


“ Gapapa Nek, Cici itu hebat kok. Dia udah biasa berantem. Sekarang lebih baik Nenek duduk di sini dan bantu Kami berdzikir ya...,” kata Iyaz sambil mendudukkan nek Niken di atas kursi.


“ Iya...,” sahut nek Niken dengan suara parau.


Setelah mendudukkan nek Niken, Iyaz pun bergabung dengan Faiq, Erik dan Izar untuk berdzikir. Di depan sana Hanako mulai merasa pusing apalagi saat Inar membuka ikatan pinggangnya yang ternyata adalah selendang merah yang merupakan jimat kebanggannya. Hanako mundur untuk mengatur nafas karena merasa sesak tiba-tiba saat selendang merah itu dikibaskan ke sembarang arah.


“ Cici mulai pusing Yah...,” kata Izar yang langsung merangsek maju saat melihat sepupunya itu memegangi kepalanya.


“ Izar jangan...!” kata Faiq, Erik dan Iyaz bersamaan namun terlambat.


Izar menghadang kibasan selendang yang akan menyerang Hanako dengan punggungnya sedang kedua tangannya memeluk Hanako. Hanako yang terkejut pun tak bisa berbuat apa-apa saat melihat Izar meringis menahan sakit yang mengenai punggungnya. Inar pun sama terkejutnya karena Izar terluka akibat kibasan selendang merahnya tadi.


“ Izar...,” panggil Hanako lirih.


“ Lari Ci...!” sahut Izar sambil mendorong tubuh Hanako agar menjauh dari panggung.


Hanako terpaksa melompat lalu menjauh karena ia sendiri tak sanggup menghadapi kemarahan Inar. Setelah memastikan Hanako selamat, Izar membalikkan tubuhnya menghadap Inar. Saat itu lah jelas terlihat jika punggung Izar terluka dan mengeluarkan banyak darah.


“ Jadi apa mau Nenek...?” tanya Izar sambil merangsek maju dengan perlahan.


“ Ikut Aku, hidup lah bersamaku...,” sahut Inar mantap.

__ADS_1


“ Baik...,” sahut Izar cepat.


“ Sekarang Kita pergi dari sini. Kita bakal hidup bersama dengan tenang tanpa ada pengacau yang hanya bisa membuat Kita menderita...,” kata Inar sambil mengulurkan tangannya.


Izar tersenyum lalu meraih tangan Inar. Kemudian keduanya berdiri di tengah panggung saling berhadapan dan


tersenyum. Sesaat kemudian tubuh Inar dan Izar menghilang begitu saja hingga membuat semua orang panik.


“ Izar...!” panggil Hanako dan Iyaz.


Faiq bergegas mengejar dengan melompat ke atas panggung diikuti Erik dan Iyaz lalu mulai memperhatikan detail motif lantai di atas panggung dimana Izar dan Inar menghilang tadi. Sesaat kemudian nek Niken ikut naik ke atas panggung bersama Hanako.


“ Motif ini..., motif khas dari kampungku. Aku tau kemana Inar membawa Izar...,” kata nek Niken.


“ Kemana Nek...?” tanya Iyaz tak sabar.


“ Ke hutan larangan di pinggir kampung...,” sahut nek Niken ragu.


“ Kita ke sana sekarang. Ayo Nek, tolong tunjukkan jalannya...,” pinta Faiq.


“ Baik...,” sahut nek Niken mantap.


\=====


“ Tapi semua baik-baik aja kan...?” tanya Shera.


“ Alhamdulillah Kami baik-baik aja Ma...,” sahut Hanako.


“ Syukurlah. Tolong bilang sama si kembar supaya jangan gegabah ngambil keputusan ya Ci. Suruh mereka minta pendapat Ayahnya dulu sebelum bertindak...,” kata Shera.


“ Iya Ma. Sekarang Mama sama Oma tenang aja, bantu doa aja supaya masalah ini cepat selesai...,” pinta Hanako di akhir kalimatnya hingga membuat Shera menatap ponselnya dengan bingung.


“ Kok, minta doa aja. Aku curiga malah udah terjadi sesuatu yang besar di sana Ma...,” kata Shera cemas.


“ Jangan suudzon Nak. Sebaiknya Kita lanjutin aja baca Al Qur’an dan dzikirnya yuk...,” sahut Farah menenangkan Shera padahal hatinya pun tak kalah gelisah dibandingkan menantu cantiknya itu.


“ Iya Ma...,” sahut Shera sambil meletakkan ponselnya di atas nakas lalu kembali mengaji.


Sementara itu rombongan Faiq pun tiba di kampung kelahiran nek Niken saat hari menjelang Maghrib. Jalan kampung terlihat lengang dan hampir tak terlihat seorang pun di sana.


“ Hutan larangan itu ada di sana Nak, di atas bukit itu...,” kata nek Niken sambil menunjuk ke bukit yang terlihat menjulang tinggi di kejauhan.

__ADS_1


“ Lumayan jauh Nek. Tapi Kita tetap ke sana nanti. Sekarang Kita sholat Maghrib dulu ya Nek...,” sahut Faiq yang


melajukan mobilnya menuju sebuah musholla kecil di pinggir jalan.


Hanya ada tiga orang warga yang sholat di sana, mungkin karena letaknya yang jauh dari pemukiman. Nampaknya musholla itu hanya digunakan saat sholat Dzuhur dan Ashar oleh para petani yang kebetulan menggarap ladang mereka di kaki bukit.


Faiq dan rombongan turun lalu mulai memisahkan diri. Hanako bersama nek Niken sholat di bagian kanan musholla. Usai sholat berjamaah, mereka bersiap menuju bukit.


“ Maaf, Bapak mau kemana ya. Kayanya kok panik banget...?” tanya salah seorang warga bernama Sopran.


“ Kami mau ke bukit itu Pak, nyusul Anak Saya yang dibawa ke sana...,” sahut Faiq.


“ Astaghfirullah. Ke hutan larangan itu Pak...?” tanya warga lainnya yang bernama Mukhlis.


“ Iya, kenapa memangnya Pak...?” tanya Faiq tak mengerti.


“ Bapak ga bisa ke sana sendirian. Tunggu sebentar Saya panggil warga dulu untuk membantu ya Pak...,” sahut warga lainnya bernama Tamim.


“ Jangan Pak, Saya ga mau merepotkan...,” cegah Faiq.


“ Bukan soal merepotkan Pak. Tapi Kami justru khawatir dengan keselamatan Bapak dan rombongan, apalagi Kalian juga bawa perempuan ke sana. Hutan itu sangat berbahaya Pak. Sudah lama ga ada yang pergi ke sana sejak ditemukan jasad laki-laki yang mengering di atas altar batu di tengah hutan puluhan tahun lalu...,” sahut Tamim.


“ Baik lah, terima kasih atas bantuannya ya Pak...,” kata Faiq akhirnya.


“ Sama-sama Pak. Kalian tunggu di sini ya. Kami siapkan alat-alat dulu...,” sahut Tamim sambil memberi kode pada dua temannya agar segera memanggil warga.


Dalam sekejap warga berkumpul dengan membawa alat yang kesemuanya terbuat dari bambu, berupa obor, tabung bambu berisi air, juga kentongan bambu. Faiq tak punya waktu untuk bertanya dan memilih mengikuti langkah Sopran yang memimpin pencarian. Iyaz, Hanako dan nek Niken berada di barisan paling belakang menuruti perintah Erik.


Perjalanan menuju bukit sedikit dramatis karena ternyata warga juga harus merusak pagar pembatas yang


mereka buat  agar bisa masuk ke dalam hutan larangan.


“ Pagar ini sengaja dibuat agar ga ada seorang pun yang bisa masuk ke sana. Juga supaya binatang buas ga turun ke kampung. Tapi ada juga warga yang nekad masuk ke dalam hutan dan ga pernah kembali sampe sekarang...,” kata nek Niken menjelaskan hingga membuat Hanako dan Iyaz mengerti.


Saat pagar pembatas berhasil dibuka, seolah terbuka juga selubung mistis yang menyelubungi tempat itu. Hawa


dingin dan apek langsung menyambut warga hingga membuat bulu kuduk merinding. Warga pun nampak saling menatap dan mengangguk seolah mengingatkan satu sama lain agar tetap fokus dan saling menjaga.


“ Laa ilaha ilallah..., Laa ilaha ilallah..., Laa ilaha ilallah...,” kata Faiq dan Erik bersamaan.


Warga pun mengikuti lantunan tahlil yang dibaca oleh Faiq dan Erik. Ajaib, hawa dingin yang tadi menguar perlahan

__ADS_1


memudar. Bersama Faiq dan Erik warga pun mantap melangkah masuk ke dalam hutan larangan untuk mejemput Izar.


Bersambung


__ADS_2