
Setelah menyelesaikan penelusurannya, Faiq membantu menyadarkan Warti. Beberapa saat kemudian Warti pun tersadar dengan tubuh berpeluh. Kemudian Hanako menyodorkan air minum untuk Warti yang langsung meneguknya hingga tandas.
Melihat sang ibu dalam keadaan baik-baik saja, Wawan pun tersenyum lalu menutup Al Qur’an yang dibacanya dan segera menghampiri Warti.
“ Ibu gapapa kan...?” tanya Wawan.
“ Ibu gapapa, cuma capek aja Nak...,” sahut Warti.
“ Ibu tadi kerasukan makhluk penghuni cermin makanya badannya terasa sakit semua...,” kata Hanako menjelaskan.
“ Apa yang Ibu liat atau Ibu rasain tadi...?” tanya Wawan penasaran.
Warti terdiam sejenak dan berusaha mengingat apa yang ia alami. Kemudian Warti menuturkan apa yang ia lihat dan rasakan dalam keadaan dirasuki makhluk halus tadi.
“ Ibu ngeliat rumah yang bagus, banyak pelayan, semua orang menunduk hormat sama Ibu. Dan Ibu juga liat laki-laki yang mirip sama almarhum Bapak Kamu Wan. Tapi laki-laki itu ga setia, dia selingkuh sama wanita lain.
Ibu marah dan kesal sekali. Ibu juga liat cemin itu di sana...,” kata Warti sambil menunjuk cermin hitam yang berada tak jauh darinya.
“ Terus apa lagi Bu...?” tanya Wawan tak sabar.
“ Ibu liat laki-laki yang mirip almarhum Bapakmu itu lagi sama keluarga barunya. Ibu sedih tapi ga bisa apa-apa. Ibu juga liat ada lembaran emas di balik cermin itu. Terus..., terus..., ada kebakaran. Ibu panik karena terkepung api. Ibu ga tau kenapa harus megangin cermin itu, padahal masih ada kesempatan untuk selamat. Tau-tau semua gelap...,” sahut Warti sedih.
Setelah menyelesaikan ceritanya nampak kedua mata Warti yang berkaca-kaca. Ia mengira jika almarhum suaminya telah mendua dan memiliki anak dengan wanita lain. Mengerti dengan apa yang dirasakan Warti, Faiq pun menjelaskan.
“ Yang Bu Warti liat itu bukan Bapaknya Wawan...,” kata Faiq tegas.
“ Yang benar Pak. Laki-laki itu mirip banget sama almarhum Suami Saya...,” sahut Warti dengan suara tercekat di tenggorokan.
“ Dia adalah Ayah dari Kakeknya Wawan...,” kata Faiq hingga membuat Warti menghela nafas lega.
“ Kok Saya bisa masuk ke jaman Buyutnya Wawan segala Pak...?” tanya Warti tak mengarti.
“ Begini Bu, makhluk penghuni cermin ini adalah Istri sah dari Buyutnya Wawan yang bernama Haryoko. Wanita
itu namanya Ratu, dia cantik seperti namanya. Tapi punya sifat sombong dan arogan. Ratu gemar meremehkan orang lain dan itu membuat Haryoko kesal. Haryoko tak mendapat kenyamanan bersama Ratu lalu memilih menikahi wanita lain bernama Harni dan memiliki seorang Anak laki-laki. Ratu tau Suaminya punya keluarga baru tapi tak bisa berbuat apa-apa karena ia sadar semua karena salahnya. Saat melihat Anak laki-laki Haryoko, Ratu tak membencinya. Ratu justru menyayanginya seperti Anak kandungnya sendiri dan berniat memberikan semua hartanya pada anak tirinya itu kelak jika ia meninggal...,” kata Faiq.
“ Mulia banget hatinya, Saya aja belum tentu sanggup kaya gitu...,” kata Warti terharu.
“ Begitu lah Bu. Dan kebakaran yang Bu Warti liat tadi adalah nyata. Ratu meninggal dalam peristiwa kebakaran
yang melahap rumah beserta isinya. Namun Ratu bersikeras menyelamatkan cermin dimana ia menyimpan harta yang ia siapkan untuk Anak Haryoko itu walau ia harus mengorbankan nyawanya. Ratu meninggal sambil memeluk cermin itu...,” kata Faiq lagi.
“ Inna Lillahi wainna ilaihi roji’uun...,” kata Warti, Wawan Hanako dan Fatur bersamaan.
“ Dan Ratu menjaga harta yang ia siapkan itu untuk keturunan Haryoko. Dan Wawan adalah keturunan Haryoko. Sesuai janjinya, Ratu akan pergi setelah ia menyerahkan harta itu ke tangan pewarisnya yaitu Wawan...,” kata Faiq hingga membuat Warti dan Wawan terkejut.
“ Saya Om...?” tanya Wawan gugup dan diangguki Faiq.
“ Sekarang Kamu ambil cermin itu dan katakan kalo Kamu menerimanya dengan ikhlas...,” kata Faiq.
Wawan mematung karena takut jika harus berkomunikasi dengan makhluk penghuni cermin. Warti pun khawatir jika
anaknya akan dibawa pergi oleh makhluk penghuni cermin itu. Melihat ketakutan di mata ibu dan anak itu membuat Fatur tersenyum.
“ Kalian tenang aja, makluk itu ga bakal mengganggu Kalian apalagi Kamu Wawan. Kalo Kamu bergegas melakukannya maka artinya Kamu juga membantunya untuk lepas dari belenggu sumpahnya sendiri dan Kita bisa segera mengantarnya pergi ke tempat seharusnya...,” kata Fatur.
__ADS_1
“ Opa betul. Kamu ga usah takut, dia menyayangimu dengan tulus kok...,” kata Hanako menambahkan.
Wawan mengangguk lalu maju mendekati cermin. Dengan tangan gemetar Wawan menyentuh permukaan cermin. Wawan merasa ada udara sejuk yang menyapanya dan ia memberanikan diri menatap cermin berbingkai hitam itu. Samar-samar terlihat sosok cantik Ratu yang tengah tersenyum lembut kearahnya dan itu membuat Wawan terkejut.
“ Jangan takut, lanjutkan aja. Katakan apa yang ingin Kamu katakan...,” kata Faiq yang diangguki Wawan.
Wawan kembali membuka matanya dan menatap hantu Ratu yang tengah menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“ Maafkan Saya dan orangtua Saya jika membuat Ibu menderita. Saya terima warisan yang Ibu berikan. Insya Allah Saya akan memanfaatkannya sebaik mungkin. Terima kasih Ibu...,” kata Wawan dengan suara bergetar.
Hantu Ratu nampak terharu. Ia mengulurkan tangannya dan menyentuh kepala Wawan dengan lembut. Faiq, Fatur dan Hanako melihat jika hantu Ratu mengecup kepala Wawan dengan sayang sambil tersenyum. Sebelum menghilang hantu Ratu menoleh kearah Faiq, Fatur dan Hanako.
“ Terima kasih, Aku akan pergi sekarang...,” kata hantu Ratu sambil tersenyum.
“ Baik lah, selamat jalan dan terima kasih...,” sahut Faiq.
Hantu Ratu mengangguk lalu tubuhnya yang terperangkap di dalam cermin pun keluar dari cermin dengan menyerupai asap berwarna putih. Kemudian asap itu mengawang di atas langit-langit kamar seolah memberi salam terakhir kepada semua orang yang ada di ruangan itu. Sesaat kemudian asap putih itu melesat keluar melalui jendela dan menyisakan aroma harum di dalam ruangan.
“ Dia udah pergi...,” kata Hanako lirih yang diangguki Faiq dan Fatur.
“ Semoga Allah menerima arwahnya dan mengampuni semua dosa-dosanya...,” kata Warti dengan tulus.
“ Aamiin...,” sahut semua orang bersamaan.
“ Terus abis ini Kita bongkar cermin ini kan Pa...?” tanya Hanako antusias karena penasaran dengan harta yang disimpan hantu Ratu di dalam cermin itu.
“ Iya Nak. Sekarang tugas Wawan membuka cermin itu dan memanfaatkan apa yang diwariskan padanya...,” kata Faiq.
“ Kita buka di luar aja. Ayo Wan, bawa cermin itu keluar...,” ajak Fatur.
Semua mengikuti Fatur yang keluar dari ruangan itu dan menuju teras belakang rumah. Darius nampak mengerutkan keningnya dan memilih mengikuti semua orang yang berjalan ke teras belakang tanpa bertanya apa pun.
“ Bongkar cermin itu, hati-hati kena paku ya...,” kata Fatur sambil menyodorkan palu, tang dan obeng kearah Wawan.
“ Iya Opa, makasih...,” sahut Wawan.
Perlahan Wawan mulai membongkar cermin itu. Sedikit sulit namun akhirnya Wawan berhasil membongkar cermin. Semua orang membulatkan mata saat melihat lembaran emas di belakang cermin itu. Lembaran emas yang berukuran 150cm x 70cm setebal 2cm nampak tersembunyi di balik cermin.
“ Alhamdulillah, ini...,” ucapan Wawan terputus saking bahagianya.
“ Itu hakmu, ambil lah...,” kata Faiq sambil tersenyum.
“ Apa nanti ga berbahaya untuk Wawan Pak...?” tanya Warti ragu.
“ Maksudnya gimana ya Bu...?” tanya Faiq tak mengerti.
“ Apa hantu Ratu ga bakal ngikutin Wawan dan bikin hidupnya kacau nanti...?” tanya Warti cemas.
“ Insya Allah gapapa Bu. Hantu Ratu ingin menebus kesalahannya di masa lalu dan Wawan bisa bantu mewujudkannya nanti...,” sahut Faiq.
“ Caranya gimana Pak...?” tanya Warti.
“ Wawan udah tau caranya Bu. Karena Wawan udah cukup dewasa dan pasti mengerti cara mengolah harta warisan itu sesuai tuntunan agama...,” sahut Faiq sambil tersenyum.
“ Tapi Saya juga mau Pak Faiq dan Pak Fatur membantu mengawasi Wawan agar ga salah mengelola harta warisan itu Pak...,” kata Warti lagi sambil menatap Faiq dan Fatur bergantian.
__ADS_1
“ Insya Allah Kami akan bantu nanti...,” sahut Faiq dan Fatur bersamaan.
“ Alhamdulillah, makasih Pak...,” kata Warti tulus.
“ Sama-sama Bu...,” sahut Fatur.
\=====
Lembaran emas itu dimanfaatkan dengan baik oleh Wawan. Ia menjual lembaran emas itu kepada seorang pengrajin emas yang jujur dan amanah. Emas milik Wawan dihargai dengan harga tinggi karena mutu emas yang memang bagus.
Setelahnya Wawan memanfaatkan uang hasil penjualan emas itu untuk berbagai keperluan. Salah satunya untuk bersedekah atas nama almarhumah Ratu. Wawan menyalurkan sejumlah uang untuk berinfaq di masjid dan memberi santunan kepada beberapa anak yatim piatu. Wawan pun menggelar pengajian sebagai ungkapan syukurnya di musholla dekat rumah Fatur karena tak ingin menjadi gunjingan warga yang tak suka melihatnya mendapat rezeqi.
Kemudian Wawan juga membuka usaha warung mie ayam karena sang ibu sangat menyukai menu itu. Wawan juga memboyong ibunya hijrah dari rumah lama mereka ke sebuah rumah yang tak jauh letaknya dari kios mia ayam miliknya. Wawan berharap sang ibu bisa melupakan semua hinaan yang diterimanya dari warga di mana mereka tinggal selama ini.
Warti nampak bahagia karena bisa menyaksikan anak semata wayangnya berhasil mewujudkan semua impian mereka. Kini mereka benar-benar tinggal di rumah bagus, berpakaian bagus dan menjadi pengusaha kuliner. Semua ucapan Warti saat ia masih tinggal di rumah kumuhnya dulu pun kini terbukti.
Kios mie ayam yang diberi nama ‘RAWATI’ itu nampak ramai dikunjungi pembeli. Semula Warti yang memasak sendiri mie ayam itu dibantu Wawan. Setelah beberapa waktu mereka nampak kewalahan dan memerlukan bantuan karena banyak pengunjung di kios itu. Mereka mempekerjakan beberapa orang untuk membantu dan kini kios itu memiliki enam orang karyawan.
Sore itu Faiq mengajak keluarga besarnya berkunjung ke kios RAWATI dan menikmati mie ayam di sana. Warti dan Wawan bahagia menyambut kedatangan Faiq dan keluarga besarnya itu.
“ Kok namanya Rawati, artinya apa Bu...?” tanya Hanako yang duduk di samping Warti.
“ Oh itu singkatan nama Kami Nak Hana. Ra dari Ratu, Wa dari Wawan dan Ti dari Warti...,” sahut Warti sambil tersenyum bangga.
“ Kami ga akan melupakan darimana asal uang modal yang Kami miliki untuk membuka usaha kios ini, makanya Kami menyematkan nama Ratu di depan nama Kami...,” kata wawan menambahkan.
“ Itu bagus. Ciri-ciri orang yang bersyukur ya begitu, selalu mengingat darimana asal kesuksesannya itu...,” puji Fatur.
“ Makasih untuk bantuannya selama ini ya Opa, Om Faiq dan Hanako. Kalo bukan Kalian yang membantu mungkin sampe detik ini Saya dan Ibu Saya masih jadi pemulung...,” kata Wawan dengan mata berkaca-kaca.
“ Kami hanya perantara Wan. Hakikatnya Allah yang memberikan semuanya untukmu dan Bu Warti. Ada pesan yang bisa Kita ambil dari pengalaman almarhumah Ratu yaitu supaya Kita jangan jadi orang yang sombong dan lupa darimana asal Kita. Semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Semoga Kamu tetap istiqomah dalam kebaikan dan tetap rendah hati ya Wan...,” sahut Faiq sambil menepuk punggung Wawan dengan bangga.
“ Insya Allah Om. Makasih sekali lagi...,” kata Wawan yang diangguki Faiq.
“ Ayo, silakan dinikmati menunya ya. Harus makan sampe puas dan kalo mau bisa tambah lagi lho. Tenang aja, insya Allah semuanya halal dan thoyib jadi ga perlu khawatir...,” kata Warti berpromosi.
“ Pasti Kami makan sampe puas Bu warti...,” sahut Shera sambil tersenyum.
“ Iya Bu Shera. Ntar jangan lupa bawa juga buat Opa Darius di rumah ya...,” kata Warti sambil menepuk lengan Shera.
“ Aku mau tambah lagi boleh kan Nek...,” kata Izar tiba-tiba.
“ Boleh dong, mau dibungkus lagi buat di rumah juga boleh Sayang...,” sahut Warti sambil tertawa.
“ Ga usah Bu, nanti ngerepotin...,” tolak Shera.
“ Gapapa Bu, santai aja. Kami senang kedatangan keluarga Pak Faiq. Semoga silaturahim Kita bisa tetap nyambung ya Bu...,” kata Warti penuh
harap.
“ Aamiin, insya Allah Bu...,” sahut Shera dan semuanya sambil tersenyum.
Kios itu makin terlihat ramai dengan kehadiran Faiq dan keluarganya sore itu. Beruntung Wawan telah memperluas kiosnya hingga cukup menampung para pengunjung yang selalu datang lagi karena ketagihan masakan Warti yang terkenal lezat itu.
Bersambung
__ADS_1