Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
212. Menyerah Kalah


__ADS_3

Pandu memang tak bisa melihat keberadaan pocong hitam yang dikatakan Hanako tadi, tapi Pandu bisa merasakan jika pocong hitam itu terluka akibat bubuk kayu kamper yang ia sebarkan. Melihat ekspresi Iyaz dan Izar, Pandu yakin jika ia telah berhasil membuat pocong hitam itu tersudut. Apalagi Hanako juga diam-diam membantu menyebarkan bubuk kamper yang tadi telah berhasil ia keluarkan dari botol kearah pocong hitam itu.


Di depan sana Iyaz dan Izar juga nampak terus merangsek maju menyerang pocong hitam itu sambil terus menaburkan bubuk kayu kamper yang dibawanya. Aroma harum khas kayu kamper membuat pocong hitam itu mabuk, sedangkan bubuk kayu kamper membuatnya kesakitan. Tak heran jika pocong itu terus berusaha menghindari gempuran bubuk kamper yang ditaburkan keempat orang di hadapannya itu.


“ Ampuunn..., cukup. Aku menyerah kalah...!” jerit pocong hitam itu sambil menggeliat menahan sakit karena bubuk kayu kamper mulai menembus kain hitam dan melukai kulitnya.


Iyaz dan Izar saling menatap lalu menganggukkan kepala. Sesaat kemudian mereka menghentikan serangan mereka dan bertanya kenapa makhluk itu ada di rumah itu.


“ Kenapa menganggu di sini...?” tanya Iyaz.


“ Aku lebih dulu tinggal di sini,  jadi bukan Aku yang mengganggu mereka tapi mereka yang mengusik ketenanganku...,” sahut pocong hitam itu.


“ Tapi setelah ini Kau bisa pergi kan. Jangan lupa bawa serta teman-teman kecilmu itu...,” kata Izar.


“ Mereka bukan temanku. Aku di sini sendiri dan mereka yang datang ke sini tanpa diundang. Mereka adalah peliharaan salah satu penghuni rumah yang ada di sekitar sini...,” sahut pocong hitam itu.


“ Jadi begitu...,” gumam Izar sambil menganggukkan kepalanya karena dugaannya dan Iyaz jika tuyul itu bukan makhluk yan mendiami rumah Pita benar adanya.


Pandu pun menghampiri Iyaz dan Izar karena melihat keduanya berhenti menyerang dan nampak sedang berbincang dengan makhluk tak kasat mata.


“ Kenapa berhenti, apa makhluk itu udah pergi...?” tanya Pandu.


“ Dia udah nyerah dan ngaku kalah Mas...,” sahut Iyaz.


“ Apa kalo udah ngaku kalah terus dilepasin gitu aja ?. Gimana kalo dia balik lagi atau justru mengganggu orang lain nanti...?” tanya Pandu gusar.


“ Insya Allah ga akan Mas...,” sahut Iyaz sambil tersenyum.


Kemudian Iyaz dan Izar maju ke hadapan pocong hitam yang nampaknya sudah terluka parah itu. pocong hitam itu berusaha bangkit namun tak kuasa karena tenaganya seperti terserap habis oleh bubuk kayu kamper itu.


“ Jadi Kau benar-benar menyerah dan mengakui kekalahanmu...?” tanya Izar.

__ADS_1


“ Iya. Aku tak sanggup menahan sakit ini. Tolong hentikan semua ini...,” pinta pocong hitam itu menghiba.


“ Apa untungnya buat Kami jika Kau Kami bantu...?” tanya Iyaz.


“ Aku akan pergi dari rumah ini dan tak mengganggu mereka lagi. Bukan kah itu yang Kalian inginkan...?” tanya pocong hitam itu.


“ Itu betul. Tapi bagaimana Kami tau Kau akan menepati janjimu itu...?” tanya Izar.


Pocong hitam itu terdiam dan tak bisa menjawab pertanyaan si kembar. Dari sorot matanya, Iyaz dan Izar tahu jika pocong hitam itu sedang berbohong.


“ Baik lah, Kami percaya padamu. Sekarang pergi lah dan jangan kembali lagi ke sini karena di sini bukan tempatmu...,” kata Izar.


Pocong hitam itu pun mengangguk lalu berusaha bangkit. Ia berdiri sambil menahan sakit lalu perlahan lenyap dari hadapan Iyaz dan Izar. Namun sebelum tubuhnya benar-benar lenyap, Iyaz mengatakan sesuatu yang membuat pocong hitam itu tak berkutik.


“ Luka akibat bubuk kayu kamper itu tak akan sembuh dan akan bertambah sakit jika Kau menyakiti manusia lain nanti...,” kata Iyaz.


“ Aku tak akan menyakiti manusia lagi, Aku janji. Tapi jika mereka melihatku, itu bukan salahku...,” sahut pocong hitam itu lalu lenyap tanpa bekas.


“ Kamu kenapa Ci...?” tanya Iyaz.


“ Gapapa cuma sakit sedikit gara-gara didorong Izar tadi...,” sahut Hanako.


“ Maaf ya Ci, Aku refleks tadi...,” kata Izar dengan nada menyesal.


“ Gapapa Zar, aku maklum kok...,” sahut Hanako sambil tersenyum.


Izar pun membantu Hanako berdiri lalu memapahnya agar duduk di atas kursi. Pandu nampak cemas namun ia tak bisa berbuat apa-apa karena yakin Hanako pasti menolak perhatiannya nanti.


“ Jadi gimana, mau diapain dua tuyul yang Kalian tangkap tadi...?” tanya Hanako saat ia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


“ Kami akan larung ke laut supaya dia ga bisa balik ke sini dan gangguin keluarga Mbak Pita lagi...,” sahut Iyaz.

__ADS_1


“ Bukannya mereka punya majikan ya. Kalo Kalian buang ke laut, terus gimana nasib majikannya nanti...?” tanya Hanako.


“ Kok Kamu malah mikirin majikannya si tuyul sih Ci. Jangan bilang Kamu kenal ya sama Majikannya si tuyul itu...,” kata Izar curiga hingga membuat Hanako membulatkan matanya.


“ Sembarangan kalo ngomong. Aku ga kenal sama mereka ya Zar...,” sahut Hanako kesal.


“ Udah dong berdebatnya. Kalian ga malu ya diliatin Mas Pandu. Masa udah dewasa tapi masih kaya Anak kecil aja...,” kata Iyaz menengahi.


“ Tau nih Cici...,” sahut Izar.


“ Kok Aku sih. Kamu tuh...!” sahut Hanako galak hingga membuat Izar tertawa sedangkan Pandu nampak menahan senyum melihat reaksi Hanako saat Izar mengusilinya.


Mendengar tawa Izar membuat Ramdan yang tadi menunggu di luar rumah pun kembali masuk ke dalam rumah untuk melihat apa yang terjadi.


“ Maaf kalo Saya cerewet. Apa makhluk itu udah pergi...?” tanya Ramdan.


“ Alhamdulillah udah Mas. Sekarang rumah ini udah siap ditempati...,” sahut Iyaz.


“ Tapi alangkah baiknya kalo Kalian juga menggelar pengajian atau tasyakuran dulu sebelum masuk ke rumah...,” saran Izar.


“ Iya Mas. Saya bakal ngadain tasyakuran sekalian aqiqah buat anak Saya. Tapi yakin ya Mas kalo Anak dan Istri Saya ga bakal diterror lagi sama makhluk halus apa pun bentuknya...,” kata Ramdan.


“ Kami ga bisa jamin seratus persen Mas. Semua tergantung Kalian yang menghuni rumah ini kelak. Kalo Kalian menjaga ibadah Kalian, insya Allah semua bisa aman terkendali. Tapi kalo Kalian lalai, makhluk halus jenis yang lain bisa aja datang dan mengganggu Kalian...,” sahut Iyaz.


“ Gitu ya Mas. Saya bakal ingetin Istri Saya supaya jangan ninggalin sholat dan ibadah lainnya nanti...,” sahut Ramdan cepat.


“ Jangan cuma ngingetin si Pita. Lo juga harus jaga ibadah Lo, apalagi kan Lo kepala keluarga dan imam di rumah ini...,” kata Pandu sambil mencibir.


“ Iya Mas...,” sahut Ramdan salah tingkah.


Melihat sikap Ramdan membuat empat orang lainnya yang ada di ruangan itu tertawa sedangkan Ramdan nampak menggaruk kepalanya yang tak gatal.

__ADS_1


\=====


__ADS_2