Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
333. Mengejar Ratih


__ADS_3

Setelah tangis Ratih mereda, Qiana pun mempersilakan Ratih menginap di rumahnya malam itu. Ratih pun mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Setelahnya Faiq dan Izar pamit undur diri. Izar juga meninggalkan nomor ponselnya agar mudah dihubungi.


“ Hubungi Aku kalo keadaan darurat dan perlu bantuan...,” kata Izar sambil mengulurkan kartu namanya kearah Qiana.


Qiana sedikit ragu menerimanya karena ia tak mau mendulang masalah kelak. Tapi bujukan Faiq membuat Qiana mau menerima kartu nama itu dan memasukkannya ke dalam tas yang dibawanya.


“ Kami yang membawa Ratih ke sini. Bukan kah artinya Kami juga harus bertanggung jawab, yah paling ga memastikan keadaannya baik-baik saja bukan...?” tanya Faiq.


“ Gapapa Pak, Ratih teman Saya. Insya Allah orangtua Saya juga ga keberatan menerima Ratih di sini...,” sahut Qiana.


“ Saya percaya itu. percayalah, suatu saat Kamu pasti membutuhkannya...,” kata Faiq sambil tersenyum penuh makna hingga membuat Qiana merinding.


Akhirnya Qiana menerima kartu nama Izar karena menghormati Faiq.


\=====


Di dalam perjalanan Izar nampak termenung mengingat pertemuannya dengan Qiana. Faiq yang menyadari sikap Izar yang sedikit berubah itu pun hanya tersenyum dan mencoba memancing pembicaraan untuk mengetahui perasaan Izar.


“ Cantik ya Zar...,” kata Faiq.


“ Siapa Yah...?” tanya Izar.


“ Ya Ratih dan Qiana lah, siapa lagi emangnya...?” tanya Faiq.


“ Biasa aja Yah...,” sahut Izar sambil terus menatap ke depan.


“ Masa sih. Menurut Ayah mereka gadis yang menarik lho Nak. Sama-sama mandiri dan tangguh...,” kata Faiq.


“ Mandiri dan tangguh gimana sih maksud Ayah...?” tanya Izar.


“ Ratih merantau dan tinggal jauh dari orangtuanya. Terus dia juga bisa bertahan dari terror hantu di rumah kost, padahal kalo cewek lain mungkin udah pingsan sejak lama dan kabur entah kemana. Sedangkan Qiana, Ayah liat dari caranya bicara dan bersikap dia lumayan tegas. Dan yang pasti bikin anak Ayah ini salting...,” Sahut Faiq santai


sambil tersenyum.


“ Siapa yang salting sih Yah. Aku tau Qiana udah lama Yah, sejak masih kuliah dulu. Kebetulan dia adik kelasku yang hobinya caper sama hampir semua cowok di kampus...,” kata Izar cepat.


“ Oh ya. Termasuk Kamu dong...,” goda Faiq.

__ADS_1


“ Sorry Yah. Biar pun dia cantik, tapi dia bukan typeku...,” sahut Izar sambil melengos hingga membuat Faiq tertawa sambil menggelengkan kepalanya.


\=====


Malam itu di rumah Qiana.


Saat itu Qiana melangkah menuju ke dapur. Usai mendengar cerita Ratih tentang apa yang ia alami di rumah kost, Qiana pun merasa sangat haus. Ia memutuskan mengambil air minum di dapur dan meninggalkan Ratih sendiri di kamarnya.


Saat sedang menuang air ke dalam gelas, tiba-tiba Qiana melihat Ratih melintas di belakangnya menuju kamar


mandi. Qiana tersenyum senang melihat kondisi Ratih yang membaik. Qiana tak curiga karena Ratih sering berkunjung ke rumahnya hingga Ratih pun hapal dimana letak kamar mandi rumahnya.


Qiana memutuskan menunggu Ratih keluar dari kamar mandi namun sayangnya setelah beberapa saat ditunggu Ratih tak jua menampakkan diri. Karena khawatir terjadi sesuatu, Qiana pun mengetuk pintu kamar mandi sambil memanggil nama Ratih berulang kali.


“ Ratih, Tih. Kamu di dalam ya. Udah selesai belum, kalo udah Kita balik ke kamar yuk...,” ajak Qiana  sambil terus mengetuk pintu.


Tak ada jawaban. Qiana mendorong daun pintu pun yang tak terkunci itu. Pintu terbuka perlahan dan membuat Qiana terkejut. Di dalam kamar mandi terlihat sosok pria berbadan kurus tinggi dengan posisi setengah membungkuk nampak menatap kearahnya. Pria itu berdiri di pojok kamar mandi sambil tersenyum lebar. Qiana mulai takut karena yakin jika pria di hadapannya bukan lah manusia.


Qiana makin ketakutan saat pria kurus itu menegakkan tubuhnya secara perlahan. Ternyata pria itu memiliki tubuh yang sangat tinggi hingga saat ia berdiri tegak kepalanya pun menembus plafond kamar mandi.


pintu dan menutupnya kembali dengan cepat. Saat Qiana membalikkan tubuhnya ia kembali dibuat terkejut karena saat itu Ratih sedang melayang di atas tempat tidur dengan posisi terlentang dan mata membelalak seolah sedang melihat sesuatu.


“ Ya Allah, apalagi ini...,” kata Qiana dengan suara bergetar.


Belum lagi hilang rasa takutnya, Qiana kembali dikejutkan dengan suara ketukan di pintu kamarnya diiringi suara mendesis. Qiana makin takut. Saat itu lah ia teringat dengan kartu nama yang diberikan Izar tadi. Qiana segera mengambil kartu nama di dalam tas yang ia sampirkan di balik pintu dan mencoba menghubungi nomer ponsel Izar.


Tersambung dan Izar langsung menerima panggilan itu.


“ Assalamualaikum Pak. To..., long Saya. Ra..., Ratih kesurupan...,” kata Qiana terbata-bata.


“ Wa alaikumsalam. Kamu dimana sekarang...?” tanya Izar.


“ Saya di dalam kamar Pak, tapi sekarang ada yang ngetuk pintu dan berusaha mau masuk juga. Suaranya aneh dan menyeramkan...,” sahut Qiana setengah berbisik.


“ Kamu tetap di kamar, insya Allah Saya dan Ayah Saya bakal bailk ke sana lagi...,” kata Izar.


“ Tapi Saya takut Pak. Ratih lagi melayang dengan posisi terlentang dan matanya melotot. Saya ga berani sendirian di sini Pak, apalagi pintu kamar diketuk terus daritadi...,” sahut Qiana panik.

__ADS_1


“ Gapapa Kamu tenang aja. Jangan matikan ponsel ya. Saya temenin Kamu baca ayat kursi...,” kata Izar sambil mengetuk pintu kamar ayahnya.


Faiq yang membuka pintu pun nampak telah tahu apa yang terjadi. Didampingi Shera mereka melangkah keluar


rumah lalu masuk ke dalam mobil. Setelahnya mobil melaju dengan cepat meninggalkan rumah menuju kediaman Qiana. Izar terus membaca ayat kursin sedangkan Qiana juga ikut membaca ayat yang sama dengan suara bergetar.


“ Sekarang Kamu keluar dari kamar Qi, jangan tutup pintunya supaya Kamu bisa tetap ngawasin Ratih...,” kata Izar.


Qiana pun menuruti perintah Faiq. Perlahan ia membuka pintu lalu keluar dari kamar tanpa mau menoleh kearah Ratih yang tengah kesurupan itu. Kemudian Qiana duduk di ruang tengah sambil menatap kearah lain.


Tak lama kemudian terdengar ketukan di pintu rumah Qiana dan seseorang memanggil namanya berulang kali.


“ Buka pintu Qiana. Ini Aku Izar...!” kata sebuah suara dari luar rumah hingga mengejutkan Qiana.


Qiana makin bingung. Padahal saat itu ia juga sedang menelephon Izar. Mustahil dalam waktu lima menit Izar tiba di depan rumahnya. Karena penasaran Qiana pun bertanya kepada Izar.


“ Pak Izar dimana...?” tanya Qiana dengan suara bergetar.


“ Masih di jalan. Kamu lanjutkan baca ayat kursinya Qi...,” pinta Izar.


“ Tapi di luar ada yang ngetuk pintu dan bilang kalo dia Pak Izar. Gimana nih Pak...?” tanya Qiana.


“ Jangan buka pintunya Qi, abaikan aja...,” kata Izar.


“ Maksud Pak Izar, yang di depan rumah Saya itu hantu...?” tanya Qiana gusar.


“ Saya ga bisa bohong lagi Qiana, itu memang hantu yang mengawasi Ratih selama ini. Keliatannya dia marah


karena Ratih pergi meninggalkan rumah kost itu dan mengejarnya sampe ke umah Kamu...,” sahut Izar.


“ Jadi yang diceritain Ratih itu benar dan Pak Izar juga tau itu. Kok bisa-bisanya Kalian bikin Saya terjepit di tengah kaya gini sih...,” kata Qiana gusar.


“ Kita bahas  hal itu nanti ya Qi. Sekarang Kamu tetap fokus dan jangan lakukan apa pun selain berdzikir. Sebentar lagi Kami sampe di rumahmu...,” kata Izar.


“ Iya...,” sahut Qiana sambil mengusap tengkuknya yang terasa menebal.


\=====

__ADS_1


__ADS_2