Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
254. Pencuri ?


__ADS_3

Setelah mendengar ucapan hantu wanita itu, Iyaz dan Izar pun berdiri di hadapan Hanako dengan gagah sambil merentangkan kedua tangan mereka.


“ Apa maksudmu ngomong begitu...?” tanya Iyaz.


“ Ga ada maksud apa-apa. Aku hanya ga ingin dia dan calon bayinya terluka...,” sahut hantu Tina.


“ Maksudmu dia hamil...?” tanya Iyaz.


“ Aku ga tau, Aku kan bukan dokter. Aku cuma bilang dia dan calon bayinya aja kok, apa itu salah...?” tanya hantu Tina.


Jawaban hantu wanita itu membuat Iyaz dan Izar geram namun keduanya masih terlihat bersabar.


“ Makasih atas perhatianmu. Jadi ini tentang apa...?” tanya Hanako.


“ Selidiki tetanggamu yang namanya Vena...,” sahut hantu Tina sebelum menghilang.


“ Cuma itu aja...?” tanya Iyaz dan Izar kesal hingga membuat Hanako tertawa geli.


“ Kenapa Kalian malah emosi gitu sih. Dia udah ngasih petunjuk kan, jadi sisanya Kita yang kerja kaya biasanya...,” kata Hanako di sela tawanya.


“ Iya sih. Ya udah, kapan Kita mulai...?” tanya Iyaz.


“ Hari Jum’at sore Kalian ke rumahku ya. Kita liat apa yang bisa Kita lakuin nanti. Sekalian bantuin nyiapin acara tasyakuran rumahku...,” kata Hanako.


“ Insya Allah siap Ci...,” sahut si kembar bersamaan dengan mimik yang lucu hingga membuat Hanako kembali tertawa.


\=====


Jum’at sore lyaz dan lzar menepati janjinya untuk datang berkunjung ke rumah baru Hanako dan Pandu. Saat tiba di sana sudah terlihat Heru, Efliya, Haikal dan keluarga Pandu tengah berbincang akrab. Hanako dan Pandu pun terlihat sibuk mempersiapkan suguhan untuk tamunya itu.


“ Kalian udah datang, ayo masuk dulu...,” kata Hanako.


“ Ntar aja Ci. Aku sama Izar mau keliling dulu...,” sahut Iyaz.


“ Gitu ya. Ok, hati-hati. Ingat pulang ke sini sebelum Maghrib ya...,” kata Hanako.


Iyaz dan Izar tak menjawab selain melambaikan tangan sambil melangkah keluar rumah. Hanako hanya menggelengkan kepala kemudian kembali bergabung dengan orangtua dan mertuanya di dalam rumah.

__ADS_1


Sesuai pesan hantu Tina beberapa hari yang lalu, Iyaz dan Izar pun mulai mengamati rumah tante Vena. Status Vena yang janda, cantik dan menarik, dengan kekayaan yang melimpah membuat  banyak pria jatuh hati padanya dan berniat menikahinya. Sayangnya Vena belum ingin menikah karena masih mencintai almarhum suaminya itu.


Iyaz dan Izar melintas di depan rumah Vena dengan santai. Saat tepat berada di depan rumah Vena, keduanya


memperlambat langkah kaki mereka. Tak ada yang aneh, semua terlihat normal. Iyaz dan Izar bisa melihat seorang tukan kebun tengah bekerja di taman di bagian depan rumah Vena. Namun saat mereka mengamati secara detail, di samping rumah terlihat sosok pria bertopi dan berpakaian serba hitam tengah memanjat dinding pagar rumah Vena dan itu mengejutkan si kembar.


“ Sssttt..., liat itu...,” bisik Izar.


“ Iya. Siapa yang mau nangkap maling itu. Aku atau Kamu...?” tanya Iyaz.


“ Aku aja. Kamu awasi keadaan sekitar...,” sahut Izar lalu bergegas mendekat kearah pria berbaju hitam itu.


“ Hati-hati Zar...,” kata Iyaz yang diangguki lzar.


Dengan langkah cepat dan tanpa suara, Izar menghampiri pria berbaju serba hitam itu. Rupanya pria berbaju hitam itu tak meyadari jika gerak-geriknya diawasi bahkan Izar kini ada di belakangnya. Postur tubuh Izar yang tinggi memudahkannya untuk menggapai kerah baju pria berbaju hitam yang tengah memanjat dinding pagar itu. Pria itu


terkejut saat merasakan sesuatu mencekal kerah bajunya. Ia berontak dan mencoba menepis cekalan tangan Izar hingga gerakannya membuat pegangannya terlepas dan ia pun merosot jatuh ke tanah.


“ Gusraakkk...!”


“ Awww...!” jerit sang pria yang malah menyerupai suara seorang wanita.


Gadis itu berdiri sambil mengibas belakang celananya yang kotor. Sedangkan Iyaz menghampiri keduanya dan sama terkejutnya dengan Izar saat melihat sosok pria berpakaian serba hitam itu ternyata seorang wanita.


“ Siapa Kamu...?!” tanya gadis itu dengan marah sambil meraih topi miliknya dari tangan Izar dengan kasar.


“ Lho harusnya Kami yang nanya siapa Kamu, kenapa memanjat dinding rumah orang kaya gini. Mirip banget sama pencuri...,” sahut Izar.


“ Eh, jangan sembarangan ya. Aku bukan pencuri...!” kata gadis itu lantang.


“ Kalo bukan pencuri ngapain masuk ke dalam rumah dengan cara kaya begitu. Kan ada pintu buat jalan masuk orang, bukan pagar kaya gini. Mana tinggi banget lagi. Jadi jangan salahin Kami kalo ngira Kamu itu pencuri...,” kata Izar tak mau kalah.


“ Terserah Aku dong mau masuk lewat mana aja. Apa urusannya sama Kamu...?!” kata gadis itu sambil menatap kesal kearah Izar.


Perdebatan antara Izar dan gadis itu membuat tukang kebun yang sedang bekerja di taman milik Vena itu keluar


untuk melihat apa yang terjadi. Pria bernama Atmo itu nampak membulatkan matanya saat melihat tiga orang tengah ribut di samping rumah.

__ADS_1


“ Non Alya...!” panggil Atmo hingga membuat si kembar dan wanita itu menoleh kearahnya.


“ Eh Pak Atmo, kebetulan banget. Sini Pak...,” kata gadis bernama Alya itu.


“ Ada apa Non, kenapa ribut di sini...?” tanya Atmo.


“ Tolong Pak Atmo kasih tau sama mereka kalo Aku ini bukan pencuri ya...,” sahut Alya sambil melenggang pergi meninggalkan ketiga pria yang saling menatap bingung itu.


Iyaz dan Izar nampak memperhatikan bagaimana gadis bernama Alya itu masuk ke dalam rumah Vena dengan santai.


“ Dia siapa Pak...?” tanya Izar tak sabar.


“ Dia Non Alya Mas, anak tirinya Bu Vena pemilik rumah ini...,” sahut Atmo.


“ Kalo emang anak pemilik rumah ini kenapa harus masuk ke rumah dengan cara memanjat dinding Pak...?” tanya


Izar tak mengerti.


Atmo tertawa keras mendengar pertanyaan Izar. Ia yakin jika kedua pemuda di hadapannya itu bukan warga sekitar rumah yang memang telah terbiasa dengan tingkah Alya.


“ Non Alya emang kaya gitu Mas. Selalu melakukan sesuatu yang ga biasa. Sejak Ayahnya yang juga  suami Bu Vena meninggal dunia, Non Alya jadi sering bertingkah aneh...,” sahut Atmo.


“ Oh gitu. Maafkan Kami karena ga tau soal ini...,” kata Izar.


“ Betul Pak. Kami kira tadi pencuri, apalagi pake baju serba hitam kaya gitu...,” kata Iyaz menambahkan.


“ Iya Mas gapapa. Kalo Saya jadi Mas, Saya juga pasti kaya gitu...,” sahut Atmo sambil tertawa.


Setelah menjabat tangan Atmo, Iyaz dan Izar pun pamit untuk melanjutkan perjalanan mereka. Atmo melepas keduanya sambil tersenyum lalu kembali masuk ke dalam rumah.


Sedangkan dari balik jendela sepasang mata nampak mengawasi pergerakan Iyaz dan Izar dengan seksama. Alya


sang pemilik mata nampak menganggukkan kepalanya sambil tersenyum penuh makna saat melihat Iyaz dan Izar yang melangkah makin jauh.


“ Aku yakin mereka bisa membantuku...,” gumam Alya.


Seolah mendengar kalimat yang diucapkan Alya, Izar berhenti lalu menoleh kearah jendela rumah Vena. Sekilas Izar melihat sosok Alya tengah menatap kearahnya sebelum gorden jendela itu kembali tertutup.

__ADS_1


\=====


__ADS_2