Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
306. Pembukaan


__ADS_3

Di hari ketiga keluarga Faiq dan rombongan pergi mengunjungi Taman Karang Resik yang memiliki anjungan lima negara yaitu : India, Jepang, Korea, Belanda dan Yunani. Mereka menghabiskan waktu seharian karena luasnya area yang harus mereka jelajahi. Karena luasnya bahkan Hanako harus beberapa kali beristirahat karena kelelahan.


“ Aku capek Mas...,” keluh Hanako sambil memegangi perutnya.


“ Kita istirahat dulu ya Sayang...,” sahut Pandu sambil membantu Hanako duduk.


“ Tapi ga enak sama yang lain Mas...,” kata Hanako sambil mengusap peluh di keningnya.


“ Gapapa, mereka juga maklum kok. Kita nyusul aja nanti kalo Kamu udah siap...,” sahut Pandu sambil memijit betis Hanako perlahan.


Saat itu mereka baru saja keluar dari anjungan The Delhi atau Taman India. Melihat kondisi Hanako membuat Shera dan Efliya nampak cemas. Namun Pandu menenangkan mereka dan meminta mereka melanjutkan perjalanan karena dia yang akan menjaga Hanako.


“ Ya udah kalo gitu. Kami ke anjungan Jepang dulu ya...,” kata Efliya.


“ Iya Bun...,” sahut Pandu dan Hanako bersamaan.


Perjalanan mereka kali ini menuju ke Nagoya Hils atau Bukit Jepang kemudian lanjut ke Jeju Park atau Taman Korea. Hanako dan Pandu kembali bergabung saat mereka masuk ke Volendam atau Taman Belanda. Hanako nampak antusias hingga membuat Pandu sedikit cemas. Mereka urung mengunjungi Taman Yunani karena melihat kondisi Hanako yang kelelahan.


Kemudian mereka memutuskan mencari rumah makan untuk melepas lelah sekaligus makan siang.


“ Ini bukan makan siang namanya, tapi makan sore. Kan udah jam setengah tiga sore...,” kata Izar sambil mengunyah keripik singkong favoritnya.


“ Betul juga. Abis seru banget tempatnya sampe lupa kalo Kita belum makan siang...,” sahut Farah sambil tersenyum.


“ Untung ga lupa sholat Dzuhur tadi...,” celetuk Iyaz.


“ Iya dong. Sesibuk apa pun jangan lupa sholat. Yang lain boleh lupa, tapi sholat nomor satu...,” kata Faiq sambil mengacungkan jari telunjuknya ke atas.


“ Aamiin...,” sahut semua orang bersamaan hingga membuat Faiq tersenyum.


Setelah menyelesaikan makan siang yang terlambat itu mereka pun kembali ke penginapan. Saat tiba di penginapan semua penumpang mini bus turun satu per satu. Hanako yang terakhir turun dengan dibantu Pandu. Tapi saat kakinya baru saja menginjak tanah, tiba-tiba Hanako meringis sambil memegangi perutnya. Mengira jika Hanako sedang berakting Izar pun tertawa.


“ Kebiasaan nih, bukannya bantuin malah ngetawain...,” kata Pandu sambil menepuk punggung Izar karena gemas melihat sikap Izar yang terus menjahili istrinya.


“ Iya iya, sini Aku bantuin...,” sahut Izar sambil mengulurkan tangannya tapi ditolak Hanako.


“ Ga mau !. Sayang, Aku maunya dibantu sama Kamu...,” rengek Hanako sambil menatap Pandu.


“ Siap Sayang...,’ sahut Pandu dengan posisi sempurna hingga membuat Izar mencibir.


Namun belum juga melangkah, tiba-tiba Hanako menjerit tertahan karena merasakan perutnya menegang. Jeritan


Hanako membuat Pandu dan Izar terkejut. Izar bergegas memanggil Shera dan Efliya yang nampak tergesa-gesa menghampiri Hanako.

__ADS_1


“ Kamu kenapa Kak, apa yang sakit...?” tanya Efliya cemas.


“ Perutku sakit Bun, kram kayanya...,” sahut Hanako sambil menggigit bibirnya.


Shera dan Efliya menyingkap sedikit gaun Hanako dan terkejut karena melihat cairan bening mengalir di kaki Hanako.


“ Ini ketuban Ef...,” kata Shera.


“ Iya Kak...,” sahut Efliya.


“ Ketuban, apa artinya aku mau melahirkan sekarang ?. Tapi Aku ga mau melahirkan di sini Bun...!” kata Hanako


panik.


Farah yang menghampiri Hanako pun berusaha menenangkan Hanako. Ia mengecek kondisi Hanako dan tersenyum.


“ Tenang ya Ci, ga usah panik. Kita langsung ke Rumah sakit aja sekarang...,” kata Farah.


“ Tapi Aku maunya Rumah Sakit yang di Jakarta aja Oma...,” rengek Hanako.


“ Iya Nak, asal Kamu tenang dan bisa bertahan...,” sahut Farah.


“ Insya Allah Aku kuat Oma...,” kata Hanako mantap.


“ Apa aman untuk Cici dan bayinya kalo kelamaan di jalan Ma...?” tanya Efliya cemas.


“ Insya Allah gapapa Nak, ini baru bukaan satu. Cici pasti bisa bertahan sampe di Jakarta nanti...,” sahut Farah sambil bergegas menyiapkan tempat untuk Hanako berbaring di dalam mini bus.


Hanako pun dibaringkan di dalam mini bus di kursi paling belakang. Pandu nampak mendampingi sambil terus berdzikir. Sementara Efliya, Heru, Farah dan Erik ikut menemani Hanako hingga ke Jakarta.


Beruntungnya perjalanan menuju Jakarta berjalan lancar. Hanako yang bertekad melahirkan di Jakarta terlihat tenang walau pun sesekali merintih. Beberapa kali Farah mengecek kondisi Hanako untuk memastikan bukaan jalan lahir bayi Hanako.


“ Gimana Ma...?” tanya Efliya.


“ Masih aman. Tiga jam perjalanan tapi masih bukaan dua...,” sahut Farah berusaha tenang.


“ Kalo bayinya Cici maksa lahir di jalan gimana Ma...?” tanya Efliya lagi.


“ Kita bisa berhenti di Rumah Sakit terdekat dan melahirkan di sana Nak...,” sahut Farah sambil tersenyum.


“ Udah Kamu duduk sini Bun, jangan terlalu cemas kaya gitu. Insya Allah semuanya baik-baik aja kok...,” kata Heru sambil membawa Efliya duduk di kursi.


Melihat kepanikan Efliya membuat Hanako terharu, kedua matanya pun berkaca-kaca. Pandu mengecup ujung mata Hanako saat melihat air mata yang jatuh menitik di sana.

__ADS_1


“ Kamu kuat kan Sayang...,” bisik Pandu.


“ Insya Allah Aku kuat Mas...,” sahut Hanako sambil tersenyum dan diangguki Pandu.


Akhirnya mini bus tiba di Rumah Sakit Firdausi tempat Hanako memeriksakan kehamilannya selama ini. Hanako


langsung dibawa ke ruang bersalin karena saat tiba di sana sudah memasuki bukaan ke tujuh.


Tubuh Hanako yang lemah dibaringkan di atas brankar kemudian didorong perlahan menuju ruang bersalin. Pandu, Farah dan Efliya terus mendampingi Hanako hingga masuk ke ruang bersalin.


Saat menuju ruang bersalin brankar yang ditumpangi Hanako berpapasan dengan brankar pasien lain. Hanako melirik kearah brankar di sampingnya dan mendengar pasien di atas brankar itu menjerit dan menangis sambil meracau.


“ Aku takuuutt..., mereka jahat. Jangan ganggu Aku...!” kata sang pasien yang merupakan anak kecil berusia sepuluh tahun.


“ Sssttt Mika, ga boleh jerit-jerit ya. Ga enak sama pasien lain...,” kata sang ibu menenangkan.


“ Tapi Aku takuutt Bu...,” rengek Mikaila sambil menggenggam jemari sang ibu dengan kuat.


“ Kok Takut sih. Kan Mika baru aja operasi, perbannya aja belum dibuka masa udah bisa ngeliat yang menakutkan. Emangnya Mika ngeliat apa...?” tanya sang ibu dengan suara lembut.


“ Hantu..., ada hantu di sini Bu. Mika takuutt...,” sahut Mikaila sambil menangis.


Sang ibu dan perawat nampak saling menatap bingung. Mikaila adalah pasien yang baru saja menjalani operasi mata. Perban di matanya saja belum dibuka, tapi Mikaila sudah melihat banyak penampakan hantu di sekitarnya. Mikaila ketakutan dan terus menangis hingga membuat sang ibu sedih.


“ Kita bawa Mikaila ke kamarnya dulu ya Bu. Nanti dokter akan datang untuk memeriksa mata Mikaila. Mudah-mudahan ga ada hal buruk yang terjadi sama Mika...,” kata perawat di samping Mikaila.


“ Aamiin, makasih ya Sus...,” sahut ibu Mikaila dengan suara parau.


" Sama-sama Bu...," sahut sang perawat sambil tersenyum.


Saat berpapasan dengan Mikaila, Hanako merasakan hawa mistis yang kuat. Hanako terus menatap brankar yang membawa Mikaila dengan tatapan tak biasa.


“ Kenapa Nak, Kamu liat apa...?” tanya Farah.


“ Itu Oma, ada sesuatu di sana...,” sahut Hanako sambil menunjuk brankar Mikaila yang menjauh.


“ Kali ini Kamu fokus sama bayimu dulu ya Nak, jangan pikirin yang lain...,” kata Farah mengingatkan.


“ Iya Oma, maaf...,” sahut Hanako sambil tersenyum kecut.


Farah mengangguk lalu kembali mengusap perut Hanako yang terlihat mengeras itu dengan hati-hati.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2