
Shera sedang berdiri di teras rumah dengan cemas. Saat itu ia tengah menunggu kedatangan Iyaz dan Fatur. Shera memang sengaja memberi tahu keduanya tentang apa yang kini tengah dihadapi Faiq dan Izar.
Saat Izar dan Faiq pamit padanya untuk menemui Qiana, saat itu lah naluri keibuan Shera merasakan sesuatu yang
buruk akan terjadi pada kedua orang yang sangat ia cintai itu. Karenanya Shera memutuskan mengabari Fatur dan Iyaz.
“ Kenapa Kamu baru ngasih tau sekarang Sher...?” tanya Fatur dari seberang telephon.
“ Maaf Om, Ayahnya anak-anak yang ngelarang Aku ngasih tau Om. Tapi Aku ngerasa ga enak ngeliat mereka pergi tadi...,” sahut Shera.
“ Ga enak kenapa...?” tanya Fatur.
“ Biasanya mereka ngajak Aku, tapi kali ini mereka justru ngelarang Aku ikut Om. Bukannya itu justru malah ada bahaya yang besar ya Om...?” tanya Shera ragu.
“ Kamu betul. Ok, sebentar lagi Om ke sana. Kamu tunggu di rumah dan jangan lakukan apa pun ya Sher...,” pesan Fatur di akhir kalimatnya.
“ Iya Om, makasih...,” sahut Shera meski pun ia tak mengerti apa maksud ucapan Fatur tadi.
Kemudian Shera menghubungi Iyaz yang saat itu tengah dalam perjalanan menuju ke rumahnya. Ikatan batinnya dengan Izar lah yang membawanya pergi bertandang menemui keluarganya. Iyaz tersenyum saat melihat nama sang bunda di layar ponselnya.
“ Assalamualaikum Bunda...,” sapa Iyaz.
“ Wa alaikumsalam, Kamu dimana Nak...?” tanya Shera.
“ Kebetulan Aku lagi di jalan deket rumah Kita nih Bun...,” sahut Iyaz.
“ Alhamdulillah, kalo gitu Bunda tunggu di rumah ya Nak...,” kata Shera mengakhiri percakapan mereka.
Iyaz mengerutkan keningnya karena merasa sikap sang bunda sedikit di luar kebiasaan. Karena khawatir terjadi
sesuatu pada sang bunda, Iyaz pun memacu motornya lebih cepat untuk menemui Shera. Di belakangnya Nuara nampak memeluk erat pinggang sang suami tanpa bertanya apa pun karena yakin telah terjadi sesuatu dengan mertua tercintanya itu.
\=====
Iyaz tiba lebih dulu di rumah. Shera langsung merentangkan tangannya saat Iyaz mendekat kearahnya. Keduanya
saling memeluk erat. Iyaz mengecup kepala sang bunda dengan sayang untuk meredakan kecemasannya.
“ Ada apa Bun, apa Bunda sakit...?” tanya Iyaz dengan lembut.
__ADS_1
“ Ini bukan tentang Bunda Nak, tapi Ayah dan Izar...,” sahut Shera cepat.
“ Ayah sama Izar kenapa Bun...?” tanya Iyaz penasaran.
Saat Shera hendak menjelaskan, mobil Fatur terlihat memasuki halaman rumah. Shera, Iyaz dan Nuara pun menoleh lalu tersenyum.
“ Assalamualaikum...,” sapa Fatur.
“ Wa alaikumsalam...,” sahut Shera, Iyaz dan Nuara bersamaan.
“ Apa kabar Opa...?” sambut Iyaz sambil melangkah menghampiri Fatur yang baru saja membuka pintu mobil.
“ Alhamdulillah baik Nak...,” sahut Fatur sambil memeluk Iyaz dengan erat.
Kemudian Shera dan Nuara menghampiri Fatur lalu mencium punggung tangan Fatur bergantian. Setelahnya Shera memberi tahu apa yang menyebabkan Faiq dan lzar pergi keluar.
“ Jadi Ayah sama Izar pergi ke rumah Qiana Bun...?” tanya lyaz.
“ Iya...,” sahut Shera.
“ Aku tau alamat rumahnya Qiana. Kita ke sana sekarang yuk Opa...,” ajak Iyaz.
“ Bunda juga yakin begitu. Kalian harus hati-hati. Ayah bilang di sana auranya gelap banget...,” kata Shera sambil menatap Iyaz lekat.
“ Rumah kost yang kearah rumah Cici itu kan Bun...?” tanya Iyaz.
“ Iya, yang banyak pohon palem di depan rumahnya...,” sahut Shera.
“ Kalo gitu Kita pergi sekarang Yaz. Kalian tunggu aja di rumah dan bantu dengan dzikir ya...,” kata Fatur yang
diangguki Shera dan Nuara.
Iyaz melajukan mobil sang opa dengan kecepatan tinggi. Hingga dua puluh menit kemudian mereka tiba di rumah
yang dimaksud. Saat itu Iyaz melihat mobil sang ayah terparkir di depan deretan pohon palem yang berjajar rapi di pinggir jalan.
Saat Fatur dan Iyaz turun dari mobil, terdengar ledakan dan siulan aneh dari dalam rumah kost. Keduanya mempercepat langkah mereka kearah pintu gerbang yang terbuka. Mereka melihat Faiq dan Izar ada di tengah kerumunan orang yang sebagian besar adalah wanita.
“ Ayah, Izar...!” panggil Iyaz dengan lantang.
__ADS_1
Faiq dan Izar menoleh sambil tersenyum melihat kehadiran Iyaz dan Fatur. Izar menghampiri kembarannya lalu mereka saling merangkul sejenak.
“ Darimana Kalian tau Aku sama Ayah ada di sini...?” tanya Izar sambil mencium punggung tangan Fatur.
“ Feeling Opa yang nuntun Kami ke sini...,” sahut Iyaz sambil tersenyum.
“ Opa emang hebat...,” bisik Izar bangga.
“ Jadi Aku sama Opa terlambat nih ceritanya...,” kata Iyaz dengan nada menyesal.
“ Siapa bilang. Aku sama Ayah baru pertandingan pembukaan aja Yaz. Nah yang ini yang bakal jadi pertempuran besar Kita kalo makhluk itu benar-benar menampakkan batang hidungnya...,” sahut Izar.
“ Kalo memang pertarungan besar kenapa banyak cewek di sini Zar...?” tanya Iyaz tak mengerti.
“ Ini kan kost an cewek Yaz, jadi wajar kalo banyak cewek di sini...,” sahut Izar cepat.
“ Tapi ga seharusnya mereka di sini Zar. Sebaiknya suruh mereka keluar dari sini supaya ga merepotkan Kita karena harus menyelamatkan mereka yang disandera nanti...,” saran Iyaz.
“ Iyaz betul Nak. Apalagi Opa liat ada laki-laki yang terluka di sana. Apa ga sebaiknya dibawa ke Rumah Sakit dulu...?” tanya Fatur.
Izar mengangguk lalu bergegas menghampiri abi Qiana dan menyampaikan permintaan Fatur. Qiana yang tak sengaja mendengar pembicaraan Izar dengan sang abi pun segera bertindak cepat. Ia memberitahu salah satu teman kost Ratih agar mengajak teman-temannya keluar dari area rumah kost itu.
“ Sebaiknya Kamu ajak teman-teman Kamu menjauh dari sini. Tunggu di luar aja dan ga usah masuk sampe ada perintah Kalian boleh masuk. Ngerti kan...,” kata Qiana.
“ Baik. Terus gimana sama Ratih...?” tanya Fifi.
“ Aku akan mengurusnya. Sekarang cepat bawa mereka keluar...,” sahut Qiana sambil berusaha memapah Ratih dan berjalan keluar dari halaman rumah itu.
Qiana terus melangkah tanpa sekali pun menoleh kearah Izar yang tengah menatapnya. Entah mengapa perasaan kesal Qiana akan sikap dan ucapan Izar selama ini membuatnya enggan menyapa pria yang telah menyelamatkan sahabatnya itu. Sedangkan Izar hanya diam sambil terus menatap Qiana hingga gadis itu keluar melewati gerbang rumah kost.
Melihat Qiana bergerak menjauh, abi Qiana pun bergegas membantu Memed bangkit dan membawanya keluar dari halaman rumah itu.
Setelah memastikan halaman ‘steril’ dari keberadaan manusia lain, maka Faiq dan keluarganya pun nampak membuat formasi khusus. Mereka berdiri di empat sudut halaman dengan sikap siaga penuh. Keempatnya menatap kearah rumah sambil menunggu sesuatu yang besar itu keluar menemui mereka.
Perlahan namun pasti terdengar suara gesekan benda dengan lantai seolah tengah diseret paksa menuju pintu.
Suara benda berat yang ternyata adalah makhluk tak kasat mata berbentuk ular naga berwarna merah itu keluar perlahan dari dalam rumah. Ular naga berukuran raksasa itu nampak menduduki rumah kost itu dengan tubuhnya yang panjang dan besar. Ia mengungkung rumah kost itu hingga rumah kost yang besar itu tenggelam dalam lilitan tubuhnya.
Iyaz dan Izar nampak takjub sesaat melihat kehadiran hewan mitologi itu di depan matanya. Namun sesaat kemudian mereka kembali fokus dan bersiap menghadapi serangan siluman naga merah itu.
__ADS_1
\=====