Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
372. Ingin Menggantikan


__ADS_3

Saat tiba di Rumah Sakit Faiq dan Izar disambut oleh Oce yang sengaja menunggu mereka di loby Rumah Sakit.


“ Mas Izar...!” panggil Oce sambil melambaikan tangannya.


“ Bu Oce, ngapain di sini. Reno mana...?” tanya Izar.


“ Reno kritis Mas. Dia dibawa ke UGD lagi tadi...,” sahut Oce dengan mimik sedih.


“ Kritis lagi, kok bisa...?” tanya Izar tek percaya karena kemarin Iyaz dan Izar sudah memastikan Reno dirawat di ruang rawat inap sebelum mereka  meninggalkan Rumah Sakit.


“ Kata dokter luka bakar Reno mengalami infeksi Mas...,” sahut Oce sambil mengusap matanya yang basah.


“ Sabar ya Bu. Sekarang Kita jenguk Reno yuk...,” ajak Izar.


“ Iya Mas...,” sahut Oce.


“ Oh iya, kenalin ini Ayah Saya Bu...,” kata Izar yang disambut Faiq dengan menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.


“ Salam kenal Pak. Saya Oce, ibunya Reno. Mas Izar dan Mas Iyaz udah banyak membantu Saya dan Anak Saya


padahal Kami baru aja kenal lho Pak. Dan Saya minta maaf karena Saya udah bikin tulang tangannya Mas Izar retak...,” kata Oce tak enak hati.


“ Gapapa Bu. Itu salah satu resiko jadi cowok. Saya ga masalahin itu kok. Jadi Ibu tenang aja ya...,” sahut Faiq sambil tersenyum.


“ Makasih Pak...,” sahut Oce lega.


“ Sama-sama Bu...,” kata Faiq lalu mengikuti Izar yang berjalan menuju ruang UGD dimana Reno dirawat.


Saat tiba di ruang UGD, Faiq dan Izar langsung bisa menangkap aura negatif yang menyelubungi tubuh Reno. Asap berwarna merah pekat nampak di sekitar kepalanya dan itu menandakan jika Reno ada dalam incaran iblis sembahan Oce.


Faiq dan Izar bergegas mendekati Reno yang terlihat kesulitan bernafas. Mereka menggenggam tangan Reno untuk menenangkannya. Reno terlihat membuka mata lalu menggelengkan kepalanya. Oce pun hanya bisa menangis menyaksikan kondisi Reno yang mengenaskan itu.

__ADS_1


Izar mendekatkan telinganya ke mulut Reno saat ia melihat Reno membuka mulut seolah ingin mengatakan sesuatu.


“ To... long jaga Mami..., ada makhluk ja... hat yang a... kan menya... ki... tinya...,” kata Reno terbata-bata.


“ Bagaimana Kamu tau ada makhluk jahat yang akan menyakiti Ibumu...?” tanya Izar tak mengerti.


“ A... ku me... lihatnya di ka... mar itu kema... rin. Makhluk ja... hat itu u... dah bikin Mami jadi ja... hat ju...ga...,” sahut Reno dengan susah payah.


Saat menyentuh Reno, Izar melihat peristiwa naas yang menimpa Reno di kamar rahasia milik Oce kemarin.


Reno masuk ke dalam kamar rahasia Oce, mengunci pintunya dari dalam, kemudian mulai mengamati semua benda yang ada di kamar itu satu per satu. Setelah lama mencari, akhirnya Reno menemukan sebuah wadah kecil terbuat dari tanah liat dibawah meja sesajen.


Reno meraih wadah kecil itu dan mengerutkan keningnya saat melihat cairan berwarna merah dan berbau busuk di


dalam wadah itu. Reno mengendus cairan itu dan nampak menyeringai karena tak tahan dengan aroma busuk yang menyeruak.


“ Pasti ini darah yang dipake Mami tadi. Aku apain ya darah ini. Harus cepat sebelum terlambat...,” gumam Reno sambil menoleh ke kanan dan ke kiri seolah mencari sesuatu.


dikelilingi bunga tujuh rupa itu dengan hati-hati. Setelah berpikir keras, akhirnya Reno memutuskan membakar darah di dalam wadah kecil itu. Namun karena tak berhasil, Reno pun menggantinya dengan cara memasak darah di dalam wadah kecil itu di atas api lilin.


Dengan sabar Reno meletakkan wadah kecil berisi darah itu di atas lilin. Perlahan darah dalam wadah pun mendidih. Reno nampak menyeringai saat melihat darah dalam wadah kecil itu bergolak. Tak lama kemudian wadah kecil itu meledak hingga menimbulkan suara yang memekakkan telinga.


Darah dalam wadah pun muncrat mengenai tubuh dan kepala Reno. Kemudian api lilin menyambar cairan darah yang mengenai Reno lalu mulai membakarnya. Reno berusaha memadamkan api namun gagal. Ia bahkan merasa api mulai membakar sekujur tubuh dan wajahnya. Hingga Reno mendengar pintu dibuka paksa dan melihat Oce, Iyaz dan Izar yang berdiri di ambang pintu menerobos masuk ke dalam kamar untuk menolongnya. Reno juga melihat jelas Izar membawa seember air yang kemudian disiramkan ke tubuhnya.


Penglihatan Izar berakhir saat gerakan Reno menyadarkan Izar. Ia menatap Reno yang kepayahan itu dengan tatapan iba lalu mengatakan sesuatu.


“ Insya Allah Kami akan membantumu dan Ibumu agar lepas dari kejaran iblis itu...,” sahut Izar lirih namun masih bisa didengar oleh Oce dan Faiq.


“ Jadi Reno diganggu oleh iblis itu Mas Izar...?” tanya Oce yang diangguki Izar.


“ Selamanya persekutuan dengan iblis selalu berakhir dengan kesedihan Bu. Jika ingin mengakhiri semuanya, kadang nyawa Kita lah yang jadi penutupnya...,” kata Faiq.

__ADS_1


“ Saya tau kalo iblis itu ga akan berhenti begitu aja. Tolong bantu Saya ya Pak, Mas. Saya yang akan mengakhiri semuanya karena Saya yang telah memulainya. Saya titip Reno, tolong pastikan dia selamat dari iblis itu nanti...,” kata Oce mengejutka Faiq dan Izar.


Reno yang juga mendengar ucapan Oce pun nampak menggelengkan kepalanya pertanda ia tak setuju dengan keputusan sang mami. Namun Oce mengabaikan gelengan Reno. Ia memeluk Reno dan menciumi wajahnya sebagai salam perpisahan. Setelahnya Oce berjalan keluar kamar meninggalkan Reno, Izar dan Faiq.


\=====


Malam itu kondisi Reno membaik hingga ia dikembalikan ke kamar rawat inapnya semula. Faiq, Izar dan Iyaz ikut


menemani Reno di kamar itu. Sementara Oce sedang menyiapkan semua keperluan Reno sepeninggalnya nanti. Oce menyiapkan semua dokumen yang diperlukan oleh Reno termasuk mewariskan semua hartanya kepada Reno.


Setelahnya Oce kembali ke Rumah Sakit saat jam menunjukkan pukul sebelas malam. Oce berpapasan dengan Iyaz yang baru saja membeli makan malam untuknya, Izar dan Faiq.


“ Mas Iyaz...,” sapa Oce sambil tersenyum.


“ Bu Oce darimana, Reno nyariin Ibu daritadi...,” kata Iyaz.


“ Saya baru aja selesai nyiapin semua kebutuhan Reno saat Saya pergi nanti Mas...,” sahut Oce.


“ Saya udah dengar itu dari Izar tadi. Kenapa Bu Oce ga berusaha bertobat dan justru mau menyerahkan diri menggantikan Reno...?” tanya Iyaz tak mengerti.


“ Percuma Mas. cepat atau lambat iblis itu akan datang juga. Jadi kenapa Saya ga percepat aja supaya Reno aman


dan bisa melanjutkan hidupnya. Lagian Saya ga rela kalo Reno yang harus jadi tumbal. Biar Saya aja yang menggantikannya...,” sahut Oce.


Mendengar jawaban Oce membuat Iyaz tertegun. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain hanya mendukung keputusan Oce.


Perlahan keduanya masuk ke dalam kamar rawat inap Reno. Oce langsung menghambur memeluk Reno yang tengah terpejam itu. Sesekali Oce mengusap matanya yang basah itu dengan punggung tagannya.


“ Setelah ini Kamu bisa hidup normal Reno. Bahagia lah dan jangan  ikuti jejakku. Satu hal yang harus Kau tau, bahwa Aku menyayangimu selamanya. Maafkan Aku karena ga bisa menemanimu lagi. Selamat tinggal Reno...,” bisik Oce sambil menitikkan air mata.


Faiq, Iyaz dan Izar nampak menatap Oce dengan tatapan iba. Ketiganya hanya bisa menunggu Oce selesai berpamitan pada Reno.

__ADS_1


\=====


__ADS_2