Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
154. Drama Pagi


__ADS_3

Izar sedang ada di rumah Efliya karena diminta mengantar Hanako interview di sebuah gedung perkantoran di


Jakarta Pusat. Hanako yang berhasil meraih gelar Sarjana Hukum itu memang tak ingin menunggu lagi untuk bisa bekerja mengamalkan semua ilmu yang diperolehnya di bangku kuliah.


Hanako tampil cantik hari itu. Mengenakan celana kulot warna khaki dengan blazer dan hijab berwarna merah maroon membuatnya terlihat sangat elegan dan dewasa. Ditambah high heel dan tas warna coklat makin mempertegas penampilannya. Sapuan make up tipis di wajahnya sudah mampu membuat wajah cantiknya itu berseri-seri bak bunga.


Izar terpaku sesaat pertama kali melihat penampilan Hanako yang sama sekali berbeda dengan apa yang pernah ia lihat.


“ Ayo buruan Zar, ngapain bengong di situ...?” tanya Hanako sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas.


“ Iya...,” sahut Izar sambil menggaruk kepalanya.


“ Keliatan bingung gitu sih. Kenapa, takjub ya sama penampilanku hari ini...,” goda Hanako sambil tersenyum usil.


“ Iya, Kamu keliatan cantik banget Ci. Mudah-mudahan bukan Om-om yang kepincut sama Kamu nanti ya...,” sahut Izar asal.


Plakk...!


“ Aduh, apaan sih Ci...?!” tanya Izar sambil memegangi kepalanya yang baru saja dipukul oleh Hanako.


“ Kamu tuh kalo ngomong jangan sembarangan ya Zar...!” kata Hanako sambil membulatkan matanya lalu membalikkan tubuhnya dan masuk ke kamar.


Izar melihat ada genangan air di ujung mata Hanako dan Izar tersadar jika telah membuat Hanako tersinggung dengan ucapannya.


“ Eh, Ci. Maafin Aku ya, Aku cuma bercanda kok...,” kata Izar sambil mengejar Hanako yang terlanjur masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu dengan keras.


Keributan kecil yang terjadi antara Hanako dan Izar itu pun menarik perhatian Heru, Efliya dan Haikal yang sedang ada di ruang makan.


“ Ada apa Nak...?” tanya Efliya.


“ Oh, Cici ngambek tuh Bun...,” sahut Izar tak enak hati.


“ Ngambek kenapa lagi...?” tanya Efliya tak mengerti.


Izar tak menjawab namun masih berusaha mengetuk pintu kamar Hanako. Melihat wajah tegang Izar membuat Efliya maklum jika kalimat Izar lah yang telah membuat Hanako marah. Tak ingin Hanako terlambat Efliya pun masuk ke dalam kamar.


“ Kamu gapapa Kak...?” tanya Efliya lembut.


“ Izar tuh Bun. Masa Aku dikatain bakal bikin Om-om kepincut sama dandananku ini. Emangnya Aku cuma pantes sama Om-om...,” sahut Hanako dengan suara bergetar menahan tangis.


“ Ya Allah, masa Izar ngomong kaya gitu...?” tanya Efliya.


“ Iya Bun...,” sahut Hanako sedih.

__ADS_1


“ Izaaarrrr...!” panggil Efliya dengan wajah merah padam dan gigi bergemeletuk.


Suara Efliya terdengar membahana di rumah itu hingga mengejutkan Heru, Haikal dan Izar tentunya.


“ Iya Bun...,” sahut Izar sambil menghampiri Efliya yang berdiri berkacak pinggang di ambang pintu kamar Hanako.


“ Sini Kamu...!” kata Efliya galak.


“ Ada apa sih Bun, marah banget keliatannya...?” tanya Heru.


Efliya tak menjawab pertanyaan suaminya. Ia malah menarik telinga Izar dengan keras sambil memukuli Izar dengan telapak tangannya yang lain hingga Izar meringis kesakitan. Haikal yang melihat hal itu pun tertawa terpingkal-pingkal di samping ayahnya.


“ Ampuuunn Buunn, ampuunn...!” jerit Izar dengan suara keras.


“ Berani-beraninya ngatain Cici kaya gitu. Kamu tau ga kalo omongan itu bisa jadi doa. Dan Bunda ga mau ya punya menantu yang umurnya ga beda jauh sama Ayahnya...!” kata Efliya kesal.


Mendengar ucapan Efliya membuat Heru terkejut lalu menatap Izar dengan tatapan menyelidik. Menyadari tatapan Heru yang tak memihaknya seperi biasa, Izar pun sadar jika kali ini telah salah masuk ke kandang harimau dan berbuat ulah di sana.


“ Iya maaf Bun, maaf. Ampuunn...,” kata Izar sambil mengusap telinganya yang panas akibat jeweran tangan Efliya tadi.


“ Ada apa sebenernya sih Bun...?” tanya Heru tak sabar.


Efliya pun menceritakan apa yang dikatakan Izar tadi dan membuat Heru menatap marah kearahnya. Dengan geram Heru mendekat kearah Izar lalu menamparnya dengan keras hingga membuat semua orang terkejut.


“ Maaf Yah, maaf...,” kata Izar sambil menarik tangan Heru lalu mencium punggung tangan Heru dengan khidmat.


“ Duduk...!” perintah Heru lantang.


Izar pun duduk di kursi sedangkan Heru, Efliya, Hanako dan Haikal berdiri mengelilinginya.


“ Ada hal yang bisa dijadiin bahan buat bercanda dan senang-senang. Tapi banyak hal yang ga bisa dijadiin bahan candaan termasuk soal jodoh dan pekerjaan Izar. Selama ini Kamu menganggap semua hal itu lucu dan mengomentarinya dengan santai tanpa mau tau kalo itu udah bikin orang lain yang mendengarnya tersinggung, termasuk Cici. Kamu liat gimana keadaan Cici sekarang. Dia marah dan mukul Kamu itu wajar karena Kamu udah keterlaluan Izar...!” kata Heru gusar.


“ Iya, maaf Ayah. Aku tau udah kelewatan kali ini. Aku nyesel dan janji ga akan ngulangin kaya gitu lagi...,” kata Izar.


“ Baik. Ayah mau liat bukti bukan janji Izar...!” kata Heru tegas.


“ Siap Yah...!” sahut Izar mantap lalu berdiri dan kembali mencium punggung tangan Heru.


Kemudian Izar menghampiri Efliya, memeluknya erat sambil mencium kepala Efliya dengan sayang.


“ Maafin Aku ya Bun...,” kata Izar yang diangguki Efliya yang juga balas memeluknya erat.


“ Jangan ulangi lagi ya Nak...,” bisik Efliya.

__ADS_1


“ Iya Bun, maaf...,” sahut Izar sambil mengangguk.


Kemudian Izar adu toast dengan Haikal lalu menghampiri Hanako. Keduanya nampak berdiri dan saling menatap sejenak. Hanako terlihat masih marah dan enggan memaafkan Izar. Deheman Heru menyadarkan Hanako jika ia harus mau memaafkan Izar.


“ Kakak...,” panggil Heru mengingatkan.


“ Tapi Izar pasti gitu lagi nanti Yah...,” kata Hanako sambil cemberut.


“ Ga akan. Aku janji ga akan ngatain Kamu dengan hal sensitif kaya gitu lagi. Tapi kalo bercanda soal lain gapapa ya, Aku ga bisa janji kalo soal itu...,” sahut Izar dengan mimik lucu hingga membuat Hanako tersenyum.


“ Ok, deal...,” kata Hanako sambil mengulurkan tangannya.


“ Alhamdulillah..., maafin Aku ya Ci...,” sahut Izar sambil balas menjabat tangan Hanako lalu menariknya ke dalam pelukannya.


“ Hmmm...,” kata Hanako sambil balas memeluk Izar.


Heru, Efliya dan Haikal pun tampak tersenyum melihat Hanako dan Izar kembali akur. Drama pagi ini sedikit berbeda karena menyebabkan kemarahan Heru dan Efliya dan nampaknya itu membuat Izar kapok.


Hanako dan Izar saling mengurai pelukan lalu tertawa bersama. Setelahnya mereka berdua pamit untuk pergi menghadiri panggilan interview di salah satu gedung perkantoran di Jakarta.


“ Hati-hati, ga usah ngebut...,” kata Heru.


“ Siap Yah...,” sahut Izar sambil menstarter motornya.


“ Jangan lupa doa dan dzikirnya ya Kak. Ga usah gugup, lakukan yang terbaik aja dan ga usah mikir macam macam. Hasil akhirnya serahin sama Allah aja nanti...,” kata Efliya sambil mencium kening Hanako.


“ Iya Bun...,” sahut Hanako.


Sesaat kemudian motor pun melaju meninggalkan halaman rumah Heru dan Efliya. Heru merengkuh pundak istrinya sambil tersenyum.


“ Apa Ayah udah cukup tegas tadi Bun...?” tanya Heru.


“ Banget...,” sahut Efliya sambil mengacungkan jempolnya.


“ Mudah-mudahan setelah ini Izar bisa lebih hati-hati kalo komentar...,” kata Heru penuh harap.


“ Aamiin...,” sahut Efliya sambil tersenyum.


“ Biar aku yang ngomong sama Abang nanti soal ini ya Bun...,” kata Heru yang diangguki Efliya.


“ Iya Yah...,” sahut Efliya sambil mengangguk walau pun dalam hati Efliya yakin jika Faiq dan Shera tak akan marah bahkan mendukung tindakan Heru pada Izar tadi.


\=====

__ADS_1


__ADS_2