Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
277. Menikahi Lizara


__ADS_3

Malini berusaha bangkit sambil memegangi bibirnya yang terluka. Sedangkan tatapan Mama Pieter begitu tajam seolah ingin mengoyak tubuh Malini.


“ Nyonya...,” panggil Malini lirih.


“ Apa saja yang Kau lakukan sampe bikin Ibuku jatuh dan pingsan Malini...?!” tanya mama Pieter lantang.


Malini terkejut. Ia mengira kemarahan mama Pieter karena mengetahui hubungannya dengan Pieter termasuk kehamilannya. Karena Malini ingat betul Pieter keluar dari ruangan saat sang mama menelephonnya tadi. Malini mengira Pieter telah menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan Malini. Ternyata Malini salah duga.


“ Maafkan Saya Nyonya. Saya...,” ucapan Malini terputus saat Pieter memotong cepat.


“ Dia udah teledor jagain Nenek. Makanya pecat aja dia Ma, ga ada gunanya dipertahankan. Bikin susah aja...,” kata Pieter sambil melirik kesal kearah Malini.


Mendengar ucapan Pieter hati Malini sakit bukan kepalang karena Pieter tega melimpahkan kesalahan padanya. Malini hanya mampu menggelengkan kepalanya sambil menangis.


“ Sudah Ma, Kita bahas nanti ya. Yang penting sekarang Ibu udah ditangani sama dokter. Jangan salahin Malini, dia mungkin lagi repot jadi ga tau kalo Ibu jatuh tadi. Kan Kamu juga tau kalo Ibu itu ga sabaran, mungkin dia ngambil sesuatu sendiri tanpa mau nunggu Malini...,” kata papa Pieter menengahi.


“ Tapi Pa...,” ucapan mama Pieter terputus saat sang suami menarik tangannya agar keluar dari ruangan itu.


“ Kenapa Kamu tega bilang kaya gitu Pieter. Kamu tau Aku ga pernah teledor jagain Nenek. Kamu hanya cari alasan supaya bisa lari dari tanggung jawab kan...?” tanya Malini sambil berurai air mata.


“ Kalo iya Kamu mau apa...?” tantang Pieter sambil menatap sinis kearah Malini.


“  Dasar manusia jahat. Aku menyesal udah percaya sama Kamu Piet...,” kata Malini sambil terisak.


Pieter pun tersenyum lalu melenggang keluar meninggalkan Malini dan nek Uli. Malini pun mendekati nek Uli, memperbaiki selimutnya lalu meraih tangannya.


“ Maafin Aku Nek. Aku ga bermaksud bikin Nenek jatuh dan celaka. Aku memang menjalin hubungan sama Pieter dan sekarang Aku hamil. Tapi Pieter ga mau tanggung jawab Nek. Aku jadi bingung harus gimana. Aku ga mungkin pulang dalam keadaan hamil kan Nek. Aku ga mau orangtuaku malu kalo tau Aku hamil tanpa Suami...,” keluh Malini sambil terisak.


Tiba-tiba nek Uli berdehem dan mengejutkan Malini. Ia mengangkat wajahnya lalu tersenyum melihat nek Uli siuman.


“ Nenek...,” panggil Malini.


“ Aku tak menyalahkanmu Malini. Aku pikir Kau tak akan termakan rayuan Pieter. Tapi sudah lah. Aku hanya mohon padamu, jangan buang bayi dalam rahimmu itu. Dia tak berdosa, lahirkan dia. Aku akan membiayai persalinanmu nanti dan kehidupan Anak itu kelak. Tapi berjanji lah, jangan pergi dari ku Malini...,” pinta nek Uli.


Mendengar ucapan nek Uli membuat Malini menangis. Ia seolah mendapat pertolongan di masa sulitnya. Malini pun mengangguk tanda setuju. Nek Uli pun tersenyum lalu memeluk Malini erat.

__ADS_1


\=====


Pesta pernikahan Pieter dan Lizara digelar secara megah di hotel berbintang lima. Saat itu nek Uli terpaksa menggunakan kursi roda karena tak mampu lagi berdiri dalam jangka waktu lama. Malini pun ikut mendampingi nek Uli.


Malini mengenakan tunik longgar dan celana panjang saat menghadiri pesta itu untuk menutupi perut buncitnya. Namun mata jeli Erdi menangkap ada yang berbeda pada Malini.


“ Kamu hamil ya Malini, kok perutmu besar...?” tanya Erdi spontan hingga mengejutkan semua orang termasuk kedua orangtuanya yang ikut menatap lekat kearah Malini.


Malini pun memucat. Tubuhnya gemetar karena ketakutan. Apalagi saat Erdi berjalan mendekat kearahnya dengan tatapan yang menghunus. Malini makin gugup dan bingung.


“ Anak siapa itu Malini...?” tanya Erdi lagi.


“ Cukup Erdi, jangan bikin kacau ya. Acara pernikahan Pieter dan Lizara sebentar lagi dimulai...,” kata sang mama gusar.


“ Tapi Kita harus tau Anak siapa di dalam rahim Malini kan Ma. Siapa tau Anak tersayang Mama itu lah Ayahnya...,” sahut Erdi sambil tersenyum penuh makna.


“ Apa maksudmu Erdi...?!” tanya sang mama.


“ Iya. Anak dalam rahim Malini adalah Anaknya Pieter Ma...,” sahut Erdi hingga membuat semua orang terkejut.


Semua nampak panik. Apalagi di belakang ayah Lizara terlihat Pieter dan Lizara yang tengah melangkah memasuki ruangan itu untuk bersiap-siap. Kedua calon pengantin itu pun terkejut dan saling menatap bingung.


“ Jika yang dikatakan Erdi benar, maka dengan berat hati Kita batalkan saja pernikahan Pieter dan Lizara...,” kata ayah Lizara tegas hingga membuat Pieter dan kedua orangtuanya panik.


“ Ini hanya salah paham Pak. Iya kan Malini...?” tanya mama Pieter sambil menatap Malini.


Malini membisu karena itu lah janjinya pada nek Uli. Namun hal itu justru membuat suasana makin kacau. Orangtua Lizara pun murka dan bersiap meninggalkan tempat itu juga mengakhiri hubungan dengan keluarga nek Uli.


“ Malini memang sedang mengandung Anak Pieter...,” kata nek Uli tiba-tiba.


Semua orang terkejut. Lizara pun langsung menepis tangan Pieter dengan kasar. Sedangkan Erdi nampak tersenyum puas melihat Pieter batal menikahi Lizara.


“ Itu fitnah, Nenek hanya salah ngomong. Maklum lah Nenek kan udah tua, udah pikun...,” kata Pieter.


“ Aku memang tua Pieter, tapi Aku ga pikun. Aku tau Kamu yang menghamili Malini karena Aku pernah melihat Kalian melakukannya...,” sahut nek Uli.

__ADS_1


Ucapan nek Uli membuat Malini malu kemudian menangis. Sedangkan wajah Pieter pun merah padam karena kebusukannya terbongkar di depan semua orang. Lizara maju lalu menampar wajah Pieter.


“ Aku ga sudi punya Suami macam Kau...!” kata Lizara lantang dan membuat Pieter membeku di tempat.


“ Tunggu Sayang, jangan gegabah. Jika Kamu ga jadi menikah sama Pieter, biar Erdi yang menggantikannya. Tolong lah Nak, Kami ga bisa menanggung malu kalo pernikahan ini sampe batal...,” kata mama Pieter menghiba.


“ Apa-apaan sih Kamu Ma...,” kata papa Pieter berusaha menarik tangan istrinya agar menjauh dari Lizara.


Namun langkah mereka terhenti saat Lizara menyanggupi permintaan mama Pieter tadi.


“ Iya Tante. Aku mau menikah dengan Erdi...!” kata Lizara lantang.


Erdi tersenyum penuh kemenangan, Pieter jatuh terduduk, sedangkan kedua orangtua Lizara dan Pieter nampak tertawa sambil mengangguk pertanda setuju.


“ Kalian ga bisa memutuskan ini sepihak. Lizara, Kamu juga ga bisa menikahi Erdi. Kamu ga mencintai dia kan...,” kata Pieter tak terima.


“ Tapi Aku mencintainya Kak...,” sahut Erdi sambil menggenggam tangan Lizara erat.


“ Dan itu cukup bagiku...,” kata Lizara mantap sambil tersenyum tulus kearah Erdi.


“ Sudah cukup. Drama ini sudah selesai. Sekarang sebaiknya Kalian pergi ke gedung utama, pemberkatan pernikahan Kalian akan segera dimulai...,” kata ayah Pieter.


“ Baik Pa. Ayo Sayang...,” kata Erdi sambil menggamit tangan Lizara dan membawanya pergi menuju gedung utama.


Pieter menjerit marah menyaksikan pengantinnya direbut oleh adiknya tepat di hari pernikahannya. Apalagi semua orang meninggalkannya tanpa mau peduli padanya.


“ Kita juga pergi Malini...,” ajak nek Uli sambil menepuk tangan Malini.


“ Baik Nek...,” sahut Malini lalu mulai mendorong kursi roda nek Uli perlahan.


“ Ini gara-gara Kamu Malini. Tunggu saja pembalasanku nanti...,” gumam Pieter sambil mengepalkan tangannya.


Pesta pernikahan tetap berjalan seperti seharusnya. Usai pemberkatan berlangsung, resepsi pernikahan pun digelar di tempat yang sama. Semua tamu yang hadir nampak bahagia menyaksikan kebahagiaan sepasang pengantin itu tanpa tahu jika pengantin pria adalah orang yang berbeda dengan yang tertera di kartu undangan.


\=====

__ADS_1


__ADS_2